Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Hampir Terlihat
Badai bisnis memang mulai mereda.
Harga saham perlahan stabil.
Media berhenti menyerang.
Investor kembali duduk manis.
Di atas kertas, Kevin menang.
Tapi hidup… tidak pernah sesederhana grafik naik dan turun.
Beberapa minggu kemudian.
Siska mulai merasa sesuatu yang aneh.
Kevin memang pulang tepat waktu.
Ia makan malam bersama.
Ia tersenyum pada Cantika.
Tapi matanya…
Masih menyimpan beban.
Suatu malam, setelah Cantika tidur, Siska memergokinya duduk sendirian di ruang kerja.
Lampu hanya menyala satu.
Laptop terbuka.
Tapi Kevin tidak mengetik apa-apa.
Ia hanya diam.
“Kamu mikir apa?” tanya Siska lembut dari ambang pintu.
Kevin tersentak kecil, lalu tersenyum tipis.
“Nggak mikir apa-apa.”
Siska berjalan mendekat.
“Kamu kalau bohong, alis kananmu naik sedikit.”
Kevin terdiam.
Ketahuan.
“Aku cuma kepikiran…” Kevin akhirnya bicara pelan.
“Kalau dia belum selesai.”
Siska tahu siapa yang dimaksud.
Pria itu.
Dalang lama yang masih menyimpan dendam.
“Kamu takut dia menyerang lagi?” tanya Siska.
Kevin menggeleng.
“Aku takut aku berubah lagi.”
Kalimat itu membuat Siska terdiam.
Kevin menatapnya dalam.
“Kalau tekanan makin besar… aku takut kembali jadi Kevin yang dulu. Yang dingin. Yang keras. Yang nggak peduli perasaan kamu.”
Siska menelan ludah.
Luka lama memang sudah sembuh.
Tapi bekasnya masih ada.
Siska duduk di kursi seberangnya.
“Kamu tahu kenapa aku dulu pergi?” tanyanya pelan.
Kevin terdiam.
“Bukan cuma karena miskin,” lanjut Siska.
“Tapi karena aku merasa sendirian meski tinggal serumah.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Kevin mengepalkan tangan pelan.
“Aku nggak mau itu terjadi lagi,” bisiknya.
Siska berdiri, lalu berjalan memutar meja dan memeluknya dari belakang.
“Kalau kamu mulai berubah… aku bakal tarik kamu pulang.”
Kevin tersenyum kecil.
“Paksa?”
“Paksa,” jawab Siska mantap.
Keesokan harinya, kejadian kecil justru memicu sesuatu.
Cantika tampil menari di acara sekolah.
Kevin sudah janji datang.
Tapi satu jam sebelum acara, telepon dari kantor masuk.
“Pak, ada pergerakan saham mencurigakan lagi!”
Kevin menatap jam.
Acara mulai 30 menit lagi.
Suara panik dari seberang telepon terus mendesak.
Ini penting.
Sangat penting.
Kevin berdiri terpaku beberapa detik.
Lalu ia teringat sesuatu.
Suara kecil yang pernah berkata:
Jangan lama-lama ya, Papa.
Kevin menarik napas panjang.
“Saya akan tangani nanti. Bekukan transaksi sementara sesuai prosedur.”
“Tapi Pak—”
“Itu perintah.”
Ia mematikan telepon.
Untuk pertama kalinya, ia memilih tidak langsung berlari ke medan perang.
Di aula sekolah, lampu panggung menyala terang.
Anak-anak berdiri berbaris dengan kostum warna-warni.
Siska melihat Kevin masuk dan duduk di sampingnya.
“Kamu datang,” bisiknya lega.
Kevin mengangguk pelan.
“Aku janji.”
Musik mulai.
Cantika muncul di barisan tengah.
Gerakannya tidak sempurna.
Ia bahkan sempat salah langkah.
Tapi ketika matanya menemukan Kevin dan Siska di bangku penonton—
Ia tersenyum lebar.
Senyum bangga.
Senyum percaya.
Dan di detik itu, Kevin tahu—
Keputusan tadi tidak salah.
Malamnya, setelah Cantika tertidur dengan medali kecil di tangannya, Kevin berdiri di balkon lagi.
Siska menyusul.
“Masalah kantor gimana?” tanyanya.
Kevin menatap langit.
“Masih ada pergerakan aneh. Tapi nggak separah dulu.”
Siska mengangguk.
“Kamu menyesal nggak tadi nggak ke kantor?”
Kevin tersenyum kecil.
“Kalau aku ke kantor, mungkin aku menang satu langkah di bisnis.”
Ia menoleh pada Siska.
“Tapi aku kalah satu langkah sebagai ayah.”
Angin malam berhembus lembut.
Siska menggenggam tangannya.
“Kamu nggak lagi jadi Kevin yang dulu,” katanya pelan.
Kevin terdiam.
Mungkin benar.
Ia masih ambisius.
Masih keras dalam bisnis.
Tapi sekarang—
Ia tahu batas.
Dan tepat saat suasana terasa tenang…
Ponselnya bergetar.
Pesan anonim masuk.
Hebat. Kamu memilih keluarga hari ini.
Kevin membeku.
Pesan kedua menyusul.
Tapi sampai kapan kamu bisa menyeimbangkan keduanya?
Senyum Kevin perlahan memudar.
Siska melihat perubahan itu.
“Siapa?”
Kevin menunjukkan layar ponselnya.
Siska menelan ludah.
Permainan ini…
Belum selesai.
Kevin menggenggam ponselnya erat.
Kali ini, ia tidak marah.
Tidak panik.
Ia hanya menatap lurus ke depan.
Jika seseorang ingin menguji batasnya—
Maka ia akan membuktikan satu hal.
Ia bisa menjadi pebisnis yang kuat…
Tanpa kehilangan dirinya sebagai suami dan ayah.
Dan jika harus memilih lagi—
Ia sudah tahu jawabannya.