NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: CAKRAWALA YANG ASING DAN PERUT YANG KOSONG

Malam pertama di atas kapal feri adalah sebuah siksaan yang tidak pernah dibayangkan Jonatan sebelumnya. Jika di Oetimu ia terbiasa dengan panas yang membakar, di tengah laut ia harus berhadapan dengan angin yang tajam seperti sembilu, menembus celah-celah besi dek luar tempat ia menggelar tikar plastik tipis. Bau solar yang pekat bercampur dengan aroma muntah dari penumpang lain di sekitarnya menciptakan atmosfer yang menyesakkan.

Jonatan mencoba memejamkan mata, namun setiap kali kapal menghantam gelombang besar, seluruh badannya ikut bergetar. Bunyi lambung kapal yang beradu dengan air terdengar seperti dentuman raksasa yang sedang marah. Di sekelilingnya, ratusan orang bernasib serupa—pekerja migran, pedagang antar-pulau, dan orang-orang malang yang hanya mampu membeli tiket kelas ekonomi paling bawah—tidur berdesakan seperti sarden.

Ia menarik sarung pemberian ibunya lebih tinggi, hingga menutupi telinga. Sarung itu masih berbau sabun batangan murah dan asap dapur rumahnya. Sebuah bau yang mendadak membuatnya merasa sangat kecil dan sendirian.

"Baru pertama kali, ya?"

Sebuah suara serak membuyarkan lamunannya. Jonatan membuka mata dan melihat seorang lelaki paruh baya dengan kulit yang lebih gelap darinya duduk bersandar pada tumpukan kardus di sampingnya. Lelaki itu sedang melinting tembakau dengan tangan yang hanya memiliki empat jari.

Jonatan mengangguk pelan. "Iya, Bapak. Baru pertama kali keluar pulau."

Lelaki itu terkekeh, asap rokoknya langsung hilang disapu angin laut. "Jangan panggil Bapak. Panggil saja Om Simon. Aku sudah puluhan kali naik kapal ini. NTT ke Jawa, Jawa ke Kalimantan, lalu balik lagi. Laut ini sudah seperti jalan setapak di depan rumahku."

Jonatan bangkit, duduk bersila untuk mengusir kantuk yang tidak nyaman. "Om mau ke mana?"

"Surabaya. Cari kerja di pelabuhan. Katanya ada proyek bongkar muat besar-besaran," jawab Om Simon sambil menatap ke arah kegelapan laut yang pekat. "Kau sendiri? Mau jadi kuli juga?"

"Saya mau sekolah, Om. Ke universitas."

Lelaki itu terdiam sebentar, lalu menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa hormat, tapi lebih banyak rasa kasihan di sana. "Sekolah ya? Bagus. Tapi ingat, Nak, di Jawa nanti, orang tidak akan peduli seberapa pintar kau di kampungmu. Mereka akan melihatmu dari caramu bicara, caramu berpakaian. Kau punya nyali untuk itu?"

Jonatan terdiam. Pertanyaan itu seperti gema dari suara ayahnya. "Saya tidak punya pilihan lain, Om. Nyali adalah satu-satunya barang yang tidak perlu saya beli."

Om Simon tertawa pendek, lalu merogoh kantong kemejanya yang kumal. Ia mengeluarkan sepotong biskuit keras yang sudah hancur ujungnya. "Makan ini. Perut kosong itu musuh utama di laut. Kalau kau muntah, kau akan kehilangan tenaga, dan kalau kau kehilangan tenaga, kau akan kehilangan harapan sebelum sampai di pelabuhan."

Jonatan menerima biskuit itu. Rasanya tawar, namun ia mengunyahnya dengan khidmat. Di tengah malam yang dingin itu, biskuit hancur dari seorang asing terasa seperti perjamuan mewah.

Saat fajar mulai menyingsing di cakrawala, langit berubah warna menjadi ungu kemerahan yang magis. Jonatan berdiri di pagar kapal, menatap matahari yang muncul dari perut laut. Ini adalah matahari yang sama dengan yang membakar ladangnya di Oetimu, tapi di sini, matahari itu tampak berbeda. Ia tampak seperti sebuah gerbang emas yang luas.

Namun, keindahan itu segera sirna oleh kenyataan perutnya yang mulai melilit. Bekal jagung titi dari ibunya sudah menipis. Ia harus menghemat setiap butirnya. Ia melihat orang-orang di dek atas sedang mengantre makanan dari kantin kapal—nasi putih dengan telur balado yang aromanya terbawa angin hingga ke hidungnya. Jonatan menelan ludah. Ia meraba saku celananya, menyentuh bungkusan uang kumal pemberian ayahnya.

Tidak, batinnya keras. Uang ini untuk pendaftaran. Untuk hidup di minggu pertama. Bukan untuk nasi telur di atas kapal.

Ia meminum air sumur dari botol plastiknya dalam-dalam untuk menipu rasa lapar. Rasa payau air itu mengingatkannya pada sumur di belakang rumah yang mulai mengering. Tiba-tiba, ia teringat buku catatannya. Ia mengambilnya dari tas, mencari halaman kosong, dan mulai menggambar sesuatu. Bukan rumus matematika, melainkan sketsa kasar wajah ayahnya yang sedang memegang cangkul.

Ia ingin merekam rasa sakit ini. Ia ingin ingat bagaimana rasanya lapar di tengah laut, bagaimana rasanya kedinginan di atas besi karatan, dan bagaimana rasanya dipandang rendah oleh petugas kapal yang tadi pagi membentaknya karena ia tidur menghalangi jalan. Semua rasa pahit ini harus ia simpan baik-baik, agar kelak ketika ia merasa lelah di kota besar, ia punya alasan untuk tidak menyerah.

Tiba-tiba, sebuah keributan kecil terjadi di bagian tengah dek. Seorang pemuda seusia Jonatan tertangkap basah mencoba mengambil roti dari tas penumpang lain. Petugas keamanan kapal segera menyeretnya, memakinya dengan kata-kata kasar yang menyebut-nyebut asal daerah mereka.

"Lihat itu," gumam Om Simon yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Jonatan. "Satu orang lapar berbuat salah, seluruh orang Timur kena getahnya. Itulah dunia yang akan kau hadapi, Nak. Mereka hanya butuh satu alasan untuk memandangmu dengan sebelah mata."

Jonatan memperhatikan pemuda yang diseret itu. Wajah pemuda itu penuh ketakutan, namun juga ada guratan lapar yang sangat dalam—lapar yang sama dengan yang dirasakan Jonatan saat ini. Ada rasa perih yang menjalar di dada Jonatan. Ia menyadari bahwa di atas kapal ini, ia bukan lagi seorang individu; ia adalah representasi dari sebuah kaum yang sedang berjuang mencari sesuap nasi.

"Aku tidak akan jadi seperti dia, Om," ucap Jonatan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Bagus. Simpan janji itu," jawab Om Simon. "Surabaya tinggal beberapa jam lagi. Siapkan tenagamu. Pertempuran yang sebenarnya bukan di laut ini, tapi di daratan beton nanti."

Kapal terus melaju, membelah ombak Laut Jawa yang mulai tenang. Jonatan kembali menatap ke depan. Di garis cakrawala, ia mulai melihat bayangan samar-daratan. Hatinya berdegup kencang. Itu adalah Jawa. Tanah impian yang sekaligus menjadi tanah ancaman.

Ia merapikan tas kainnya, mengikat kalung tenun dari ibunya lebih erat di leher. Rasa lapar masih ada, bahkan semakin tajam, tapi Jonatan merasa sesuatu di dalam dirinya telah mengeras. Ia telah melewati malam pertama di pengasingan. Ia telah bertahan dari dingin dan hinaan kecil di atas dek.

Saat peluit kapal kembali meraung, menandakan mereka akan segera bersandar di Tanjung Perak, Jonatan berdiri tegak. Ia tidak lagi menunduk seperti saat ia melewati gerbang sekolah di kabupaten. Ia menatap dermaga yang sibuk itu dengan mata yang tajam.

"Oetimu mungkin jauh di belakang," bisiknya pelan, membiarkan angin laut terakhir menerpa wajahnya. "Tapi Oetimu adalah alasan kenapa aku harus menang."

Jonatan melangkah menuju pintu keluar dek, berdesakan dengan ratusan orang lain yang juga membawa beban mimpi masing-masing. Ia tidak tahu apa yang menantinya di balik gerbang pelabuhan itu, tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan siapa pun mematikan api yang telah ia bawa dari rumahnya yang kering.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!