Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 percakapan yang mengubah
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 5: Percakapan yang Mengubah
Senin pagi, pengumuman mengalun dari speaker sekolah saat jam istirahat pertama.
"Untuk semua siswa kelas 12, minggu depan Sabtu akan ada kegiatan bakti sosial bekerja sama dengan Pesantren Putri Al-Hikmah. Kita akan membagikan sembako ke warga kurang mampu di daerah Cicadas. Bagi yang berminat, silakan daftar di ruang OSIS sebelum Rabu sore. Terima kasih."
Alek yang sedang tiduran di bangku langsung terbangun. Jantungnya berdegup.
**Pesantren Al-Hikmah.**
Riki yang duduk di belakang langsung nyeletuk. "Wah, bareng pesantren. Lo mau ikut, Lex?"
"Mikir dulu."
"Biasanya lo paling males ikut kegiatan sosial gini. Tumben."
Alek tidak menjawab. Pikirannya melayang. Ini kesempatan. Kesempatan untuk... apa? Ketemu santriwati bertas cokelat yang entah itu Khansa atau bukan? Ngobrol? Kenalan?
"Tapi kalau bukan dia gimana?" pikir Alek ragu.
Tapi hatinya sudah memutuskan.
***
Rabu sore, Alek berdiri di depan meja pendaftaran OSIS. Selembar kertas putih dengan daftar nama. Sudah ada sepuluh nama tertulis.
Tangannya melayang di atas kertas, memegang pulpen.
"Gue serius mau ikut?"
Dia teringat kata-kata pemilik warung: *"Harus resmi, Mas. Atau masuk Islam dulu."*
"Ini kan kegiatan sosial. Resmi. Bukan stalking lagi," kilahnya pada diri sendiri.
Dia menulis namanya.
**Alexander Panjaitan - XII IPA 2**
Selesai. Tidak bisa mundur lagi.
***
Jumat malam, Dimas menghubungi Alek.
"Lex, besok sore ada evaluasi geng. Lo dateng kan?"
Alek tersentak. Besok sore? Itu hari Sabtu. Hari bakti sosial.
"Eh, Bang... gue besok ada kegiatan sekolah. Wajib. Kalau nggak ikut, nilai gue turun."
"Kegiatan apa?"
"Bakti sosial. Bagi-bagi sembako."
Hening sejenak di telepon.
"Lo? Bakti sosial?" suara Dimas penuh curiga.
"Iya, Bang. Gue dipaksa sama guru."
"...Oke. Tapi minggu depan lo harus full ke geng lagi. Gue mulai bosen sama alasan-alasan lo akhir-akhir ini."
"Siap, Bang. Maaf."
Telepon diputus. Alek menghela napas lega sekaligus was-was. Dimas mulai curiga. Tapi dia tidak punya pilihan.
***
Sabtu pagi, jam tujuh. Alek sudah sampai di sekolah dengan motor. Dia datang memakai kaos hitam polos dan celana jeans—penampilannya yang paling "aman" untuk acara sosial.
Di halaman sekolah sudah berkumpul lima belas siswa. Riki datang dengan sepeda motor, nyengir lebar.
"Eh, lo beneran dateng!"
"Emang kenapa?"
"Ya biasa aja sih. Cuma... unusual."
Alek tidak menanggapi. Matanya sudah sibuk memantau gerbang sekolah, menunggu rombongan pesantren.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil pick-up masuk. Di belakangnya turun sekitar sepuluh santriwati, semua berpakaian putih-putih dengan cadar hitam. Mereka membawa kardus-kardus sembako.
Jantung Alek berdegup keras. Matanya mencari tas punggung cokelat.
Ada. Salah satu santriwati membawa tas cokelat.
"Itu dia... atau bukan?" Alek tidak yakin.
Pak Hendra, guru pembimbing, mulai memberikan arahan.
"Baik, anak-anak. Kalian akan dibagi menjadi kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua siswa SMA dan dua santriwati."
Alek mendengarkan dengan tegang.
"Kelompok 1: Rina, Tono, Santriwati Salma, dan Santriwati Zahra."
"Kelompok 2: Dedi, Sinta, Santriwati Nabila, dan Santriwati Fitri."
"Kelompok 3: Alexander, Riki, Santriwati Khansa, dan Santriwati Maryam."
**KHANSA.**
Alek hampir lupa bernapas. Jadi... memang ada santriwati bernama Khansa di sini. Tapi apakah dia yang dia cari?
Dua santriwati menghampiri. Salah satunya membawa tas punggung cokelat.
"Assalamu'alaikum," sapa salah satu dengan suara lembut yang Alek kenali.
**Suara itu.**
"Wa'alaikumsalam," jawab Riki. Alek cuma mengangguk kaku.
"Perkenalkan, saya Khansa. Ini teman saya, Maryam."
Alek menatap santriwati bertas cokelat itu. Mata di balik cadar—cokelat kehitaman, jernih, teduh. Sama seperti waktu itu di jalan.
**Ini dia.**
"Gue Riki. Ini Alek," kata Riki sambil menunjuk Alek.
Khansa mengangguk sopan. "Senang berkenalan dengan kalian. Semoga hari ini lancar ya."
Alek masih terpaku. Mulutnya kering. Otaknya blank.
"Iya," jawabnya singkat.
***
Mereka berempat berjalan ke mobil pick-up besar yang sudah diparkir di halaman. Ini mobil bak terbuka yang biasa dipakai untuk mengangkut barang, tapi kali ini dilengkapi bangku kayu panjang di bagian belakang.
"Kelompok 1, 2, dan 3 naik mobil ini. Yang lain mobil satunya," kata Pak Hendra.
Alek, Riki, Khansa, dan Maryam naik ke bak belakang bersama kelompok lainnya. Mereka duduk di bangku kayu yang saling berhadapan. Alek dan Riki di satu sisi, Khansa dan Maryam di sisi seberang—berhadapan langsung, tapi dengan jarak sekitar satu meter.
Mobil mulai berjalan. Angin Bandung pagi itu cukup sejuk.
Untuk pertama kalinya, Alek bisa melihat Khansa lebih jelas—meski tetap dengan batasan yang sopan.
Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Tubuhnya proporsional, tidak kurus tidak gemuk. Cadar hitamnya menutupi seluruh wajah kecuali mata dan sedikit dahi. Gamis putih lengan panjang yang dia pakai terlihat bersih dan rapi, longgar menutupi bentuk tubuh, dipadukan dengan rok panjang putih yang menutupi sampai mata kaki. Di kakinya, sepatu kets putih polos yang sudah sedikit kusam—sepertinya sering dipakai.
Yang paling menarik perhatian Alek adalah tangannya. Jemari lentik dengan kuku pendek bersih, tidak ada cat kuku. Kulitnya putih bersih—terlihat dari tangannya yang lentik dan terawat meski tanpa riasan apapun. Di pergelangan tangan kanannya, ada jam tangan digital sederhana berwarna hitam dengan tali karet. Tidak ada perhiasan apapun—tidak ada gelang, cincin, atau anting.
Tas punggung coklatnya dia peluk di pangkuan. Di tas itu ada gantungan kunci kecil berbentuk mini Al-Qur'an dengan tulisan Arab.
Cara duduknya tenang, punggung tegak tapi tidak kaku. Kakinya rapat, tangan dilipat sopan di atas tas. Sesekali dia menoleh ke samping, menatap jalanan Bandung yang ramai dengan pandangan penuh perhatian.
Matanya—yang hanya itu yang terlihat dari wajahnya—cokelat kehitaman dengan bulu mata panjang alami. Tidak ada maskara, tidak ada eyeliner. Tapi tetap indah. Matanya punya cahaya tertentu. Bukan cahaya fisik, tapi... sesuatu. Ketenangan? Kedamaian? Alek tidak bisa menjelaskan.
"Dia... anggun," pikir Alek. Bukan anggun dalam artian berlebihan seperti model atau artis. Tapi anggun dalam kesederhanaan. Tidak ada yang mencolok, tidak ada yang berlebihan, tapi justru itu yang membuatnya berbeda dari semua cewek yang pernah Alek kenal.
Khansa menoleh, matanya bertemu dengan mata Alek yang dari tadi memperhatikan.
Alek langsung menunduk, pura-pura lihat hape.
"Anjir, ketahuan," batinnya panik.
Tapi Khansa hanya tersenyum tipis—terlihat dari matanya yang menyipit—lalu kembali menatap jalan.
***
Mereka sampai di Gang Mawar. Sebuah gang sempit dengan rumah-rumah sederhana yang cat temboknya sudah mengelupas. Anak-anak kecil berlarian di gang.
Kelompok Alek mendapat tugas membagi sembako ke lima rumah.
Di rumah pertama, seorang ibu muda dengan dua anak balita membuka pintu.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Khansa lembut. "Kami dari SMA Kristen Immanuel dan Pesantren Al-Hikmah. Ada sembako untuk Ibu."
"Masya Allah, alhamdulillah! Terima kasih, Nak!" ibu itu hampir menangis.
Alek mengangkat kardus, membawanya masuk. Dua anak balita menatapnya dengan mata berbinar.
"Kakak, itu apa?" tanya anak kecil itu.
"Beras, mie, minyak. Buat makan kalian," jawab Alek.
"Wah! Makasih, Kak!"
Alek tersenyum tipis—sesuatu yang jarang dia lakukan.
***
Rumah kedua dan ketiga berjalan lancar. Tapi di rumah keempat, mereka bertemu dengan situasi yang berbeda.
Seorang nenek tua, mungkin usia 70-an, membuka pintu dengan tongkat. Wajahnya keriput, punggungnya bungkuk. Rumahnya sangat kecil—hanya satu kamar.
"Assalamu'alaikum, Nek," sapa Khansa lembut.
"Wa'alaikumsalam, Nak..." suara nenek itu parau.
"Ini ada sembako untuk Nenek. Semoga bermanfaat."
Nenek itu matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah... terima kasih, Nak. Semoga Allah berkahi kalian."
Alek meletakkan kardus di dalam rumah. Dia melihat sekeliling—tidak ada apa-apa. Hanya kasur tipis, satu kompor kecil, dan beberapa piring.
"Nenek tinggal sendirian?" tanya Khansa.
"Iya, Nak. Anak-anak sudah punya keluarga sendiri. Jarang pulang."
Khansa duduk di samping nenek, memegang tangannya. "Nenek kuat ya. Semoga Allah selalu jaga Nenek."
"Aamiin, Nak. Kamu anak yang baik."
Alek berdiri di dekat pintu, mengamati. Ada sesuatu yang menusuk dadanya. Nenek ini hidup sendirian. Tidak ada yang peduli. Tapi dia masih kuat, masih tersenyum.
Setelah pamit dari rumah nenek, mereka berjalan menuju rumah kelima. Di tengah jalan, Khansa tiba-tiba berkata,
"Mas Alexander, terima kasih sudah mau ikut hari ini."
Alek menoleh. "Kenapa terima kasih?"
"Karena... tidak semua orang mau peduli sama orang lain. Apalagi orang yang tidak dikenal."
Alek terdiam. "Gue... ini juga pertama kali sih."
"Masya Allah. Semoga jadi awal yang baik."
Mereka berhenti sejenak di pinggir gang. Riki dan Maryam sudah jalan duluan.
"Khansa," Alek memanggil—untuk pertama kalinya.
Khansa menoleh. "Ya, Mas?"
"Lo... maksud gue, kamu nggak capek apa hidup kayak gini? Selalu mikirin orang lain?"
Khansa tersenyum—terlihat dari matanya yang menyipit. "Justru ini yang bikin saya nggak capek, Mas."
"Maksudnya?"
"Kalau kita cuma mikirin diri sendiri, hati jadi hampa. Tapi kalau kita berbagi... rasanya... penuh. Ada ketenangan yang nggak bisa dijelaskan."
Alek menatap Khansa lama. "Gue... baru ngerasain itu hari ini."
"Alhamdulillah," Khansa tersenyum lagi. "Itu tandanya hati Mas masih hidup."
"Maksudnya?"
"Banyak orang hidupnya jalan, tapi hatinya mati. Nggak bisa ngerasain sedih orang lain. Nggak bisa ngerasain bahagia saat nolong. Tapi kalau Mas masih bisa ngerasain, berarti hati Mas masih hidup. Masih bisa diselamatkan."
Alek tercenung. Kata-kata itu menohok.
"Diselamatkan dari apa?"
"Dari kegelapan, Mas."
Hening sejenak.
"Khansa... lo percaya nggak, kalau... orang yang udah terlanjur jahat, masih bisa berubah?"
Khansa menatap mata Alek. "Saya percaya. Selama dia masih hidup, selalu ada kesempatan untuk berubah. Allah Maha Pengampun. Pintunya selalu terbuka."
Alek merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Hangat. Sesak. Seperti ada yang mencair.
"Tapi... gue udah terlalu jauh masuk ke... kegelapan."
"Nggak ada yang terlalu jauh, Mas. Bahkan orang yang paling jahat sekalipun, kalau dia mau bertobat, Allah terima. Ada hadits yang bilang, kalau dosa seseorang setinggi gunung, tapi dia bertobat dengan tulus, Allah ampuni semua."
Alek terdiam panjang.
"Lo... yakin?"
"Saya yakin. Karena Allah lebih sayang sama kita daripada ibu kandung kita sendiri."
Alek tidak bisa menjawab. Ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya.
***
Setelah selesai di rumah kelima, mereka kembali ke sekolah. Di perjalanan pulang, Alek diam saja. Pikirannya penuh dengan kata-kata Khansa.
*"Hati Mas masih hidup. Masih bisa diselamatkan."*
Apa benar?
Sampai di sekolah, mereka menyerahkan laporan. Saat hendak berpisah, Khansa membungkuk sopan.
"Terima kasih untuk hari ini, Mas Alexander, Mas Riki. Semoga Allah berkahi kalian."
"Sama-sama," jawab Riki ramah.
Alek cuma mengangguk kaku. Mulutnya kering. Dia ingin ngomong sesuatu—tapi tidak tahu harus ngomong apa.
Khansa dan Maryam kembali ke rombongan pesantren, naik mobil pick-up, lalu pergi.
Alek berdiri di tempat, menatap mobil itu sampai hilang dari pandangan.
"Lo kenapa, Lex?" tanya Riki.
"Nggak apa-apa."
"Lo... suka sama dia kan?"
Alek menoleh tajam. "Nggak."
"Bohong. Gue liat cara lo ngeliatin dia. Dan gue denger obrolan lo tadi. Lo tuh... berubah, Lex."
Alek tidak bisa menjawab.
Karena mungkin Riki benar.
Hari ini, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Bukan cuma soal suka atau nggak suka.
Tapi soal... pertanyaan.
Pertanyaan yang belum pernah dia tanyakan sebelumnya:
**Siapa gue sebenarnya? Dan apa yang gue mau dari hidup?**
***
Malam itu, Alek tidak bisa tidur. Dia berbaring di kasurnya, menatap langit-langit.
Pikiran terus berputar.
Khansa bilang: *"Hati Mas masih hidup."*
Tapi apa benar? Selama ini dia merasa... kosong. Hidupnya cuma berantem, balapan, berontak. Tidak ada makna.
Tapi hari ini... saat dia lihat nenek tua itu tersenyum, saat dia lihat anak-anak kecil senang dapat sembako... ada sesuatu yang berbeda.
Ada rasa... puas. Tenang.
"Apa ini yang Khansa maksud?" pikirnya.
Dia teringat lagi kata-kata Khansa: *"Nggak ada yang terlalu jauh. Pintunya selalu terbuka."*
Apa benar dia bisa berubah?
Apa benar dia bisa keluar dari kegelapan?
Alek menutup mata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—sejak lama sekali—dia... berdoa.
Bukan doa Kristen yang diajarkan di gereja.
Bukan doa apa-apa.
Hanya... bisikan hati.
*"Kalau memang ada... tolong tunjukin jalan. Gue... udah lelah."*
Dan entah kenapa, setelah berdoa itu, hatinya sedikit lebih ringan.
***
**Bersambung ke Bab 6...**
*Kadang, perubahan besar dimulai dari percakapan sederhana. Dari kata-kata yang tidak sengaja menyentuh hati yang terluka. Dan dari pertanyaan kecil: "Apakah aku bisa berubah?"*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg