Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Tawa Ogi
"Kenalkan ini Dadang, Neng. Dia sahabatku sejak SD. Hubungan kami udah seperti saudara kandung atuh," ucap Ogi memperkenalkan Dadang.
"Kelihatan kok. Kalian kayaknya akrab banget," tanggap Arisa.
"Akrab banget! Ogi bahkan lebih akrab denganku dibanding sama kakak kandungnya sendiri," sahut Dadang. "Kok mau atuh menikah sama Ogi? Dia bau jigong, Neng!" sambungnya. Sontak Ogi langsung mempelototinya.
"Apaan sih kamu, Dang! Malah malu-maluin aku coba," tegur Ogi.
"Bercanda lah, Gi. Dia cuman bau jigong pas baru bangun tidur. Tapi kalau sudah gosok gigi, baunya dijamin hilang," kata Dadang.
"Semuanya juga begitu kali, Dang!" timpal Ogi.
Sementara Arisa tertawa geli menyaksikan perdebatan dua sahabat tersebut. Pembicaraan mereka terus berlangsung. Dadang menyarankan Arisa untuk mampir ke salonnya nanti.
Semuanya berakhir saat Dadang teringat kalau dia harus pergi karena ada janji. Ogi dan Arisa melepas kepergiannya. Dadang tampak beranjak dengan motornya.
"Kau ternyata punya teman yang seru ya, Kang," celetuk Arisa.
"Seru sih seru. Tapi kadang Dadang nyebelin," balas Ogi. Dia dan Arisa duduk bersebelahan di bangku teras.
"Oh iya, Kang Ogi nggak kerja?" tukas Arisa.
"Hari ini adalah libur terakhirku, Neng. Aku meliburkan semua orang selama lima hari. Lagian, sudah beberapa tahun ini kami juga nggak pernah libur. Pesanan kerupuk semakin meningkat dari hari ke hari," jelas Ogi.
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya," tanggap Arisa. Dia memeriksa ponselnya. Jujur saja, semenjak bangun dari tidur tadi dia belum juga bisa terhubung ke internet.
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!" tanya Arisa.
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu," jawab Ogi.
"Apa? Ke tebing?" Arisa terperangah tak percaya. Mulutnya sedikit menganga dan dia sempat tak bisa berkata-kata.
"Kalau mau internet, harus ke desa sebelah. Di sana internet bisa di akses," ungkap Ogi.
"Desa sebelah? Desa tempat kakak dan mantanmu tinggal ya?" tebak Arisa.
Mata Ogi terbelalak. "Loh, Neng Arisa tahu?" tanggapnya heran.
Arisa sigap membekap mulutnya sendiri. Dia tak sengaja keceplosan. "Maaf, Kang. Aku memaksa Teh Asih memberitahuku tentang kakakmu dan Mega. Aku mohon jangan salahkan Teh Asih ya. Aku kok yang memaksanya," ungkapnya.
Ogi mendengus kasar. Dia tersenyum tipis. "Berarti kau pasti sudah tahu ya apa yang terjadi padaku?" tanyanya sembari tertunduk sendu.
"Ya..." Arisa merasa jadi ikut sedih. "Kang Ogi kenapa sih nggak bilang kalau Kang Ogi juga korban pengkhianatan? Aku jadi malu karena bersikap sok tersakiti di hadapanmu. Padahal kayaknya kau lebih tersakiti dibanding aku," lanjutnya.
"Itu karena aku sudah berdamai sama rasa sakit itu, Neng. Aku bahkan sekarang sudah biasa saja pas ketemu Kang Heru dan istrinya," tutur Ogi pelan. Dia tersenyum lembut. Senyuman itu seolah jadi bukti kalau dirinya benar-benar berdamai dengan rasa sakit.
"Kang Ogi kenapa gitu sih? Kalau aku, udah aku maki-maki! Kalau perlu aku tonjok mukanya sampai bonyok," cerocos Arisa dengan mimik wajah kesalnya.
Melihat itu, Ogi terkekeh geli. Wajah kesal Arisa justru membuatnya gemas.
"Kok ketawa sih, Kang! Aku serius kali. Mau aku marahin mereka? Aku siap kok! Anggap aja ini sebagai rasa terima kasihku sama Kang Ogi," tawar Arisa. Namun yang ada tawa Ogi semakin pecah.
"Dih! Akang! Malah tambah ketawa lagi," timpal Arisa.
Dari samping rumah, diam-diam Asih dan Abdi memperhatikan interaksi pengantin baru itu. Keduanya memunculkan kepala dari balik pohon mangga.
“Sanggeus sakitu lilana, ahirna abdi bisa ningali Ogi seuri leupas kitu, (Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa lihat Ogi ketawa lepas begitu,)" komentar Asih.
“Manéhna mémang katingali bagja pisan. Urang doakeun wé muga-muga maranéhna langgeng nepi ka maut misahkeun, (Dia memang kelihatan bahagia sekali. Kita doakan saja mereka langgeng sampai maut memisahkan,)" sahut Abdi.