SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHAT DENGAN SAHABAT
"Kamu gak papa aku tinggal sendiri?" tanya Sakti yang mau ganti baju dulu, dia gak bawa baju ganti dan mau cek anak-anak Iswa juga. Kasihan kalau dua bocil itu tak ada yang memperhatikan.
"Gak pa-pa, Bang. Habis ini Elin ke sini," ujar Iswa terharu dengan kepeduliaan Sakti yang tak hanya memikirkan dirinya, juga memikirkan anak-anaknya.
"Oke, mau nitip apa?" tanya Sakti sembari memakai jaket, Iswa hanya menggeleng karena ia sudah titip banyak pada Elin.
Tak sampai 10 menit setelah Sakti keluar, Elin datang, dengan membawa beberapa kantong makanan. Sembari mengomel, Elin mengeluarkan roti, susu, dan juga camilan buat Iswa. "Asam lambung gak boleh makan buah banyak-banyak, jadi makan roti sama susu saja, kalau gue tara, sushi dan juga ramen pedas kesukaan kita, tapi sayang lo gak boleh," ucap Elin, Iswa hanya cemberut, wanginya ramen langsung memenuhi ruangan.
"Makanan di rumah sakit membosankan tahu, Lin. Duh pengen banget lagi," ucap Iswa yang ngiler dengan ramen siap makan milik Elin.
"Makanya kalau kerja tuh ingat makan, udah gue pesenin tinggal makan doang aja ribet, kambuh kan aslam mu," omel Elin, mulai menyumpit ramen tersebut.
"Kayaknya lo butuh suasana baru!" lanjut Elin dengan mulut kepedasan.
"Ya tapi gak masuk rumah sakit juga, kasihan anak-anak!" ucap Iswa sedih bila harus jauh dari anak-anak.
"Cari pacar baru napa, Wa!" ceplos Elin, sudah lama jomblo siapa tahu dengan punya pacar ada semangat buat makan, memang Iswa kalau sudah terlalu fokus bekerja selalu mengakhirkan makan, padahal tinggal makan doang. Kalau punya pacar apalagi suami kan bisa disuapin. Cieleh.
Ngomong-ngomong soal pacar atau suami, Iswa pun menceritakan mimpi dan sikap Sakti, bahkan dia sampai bimbang, karena memang sejak Sakti duda, dia yang banyak bantu Iswa dan anak-anak.
"Sesuai dugaan gue waktu itu kan, Wa. Lo kemungkinan dinikahi Sakti, lah gimana pas suami lo meninggal dia perhatian banget sampai sama Queena gendong terus sama Sakti, sempat gue mikir kayaknya dia calon suami lo, eh ternyata dia udah nikah, sekarang kalian jomblo gas ajalah, udah baik banget dia!"
"Gak semuda itu, Lin. Gue gak punya rasa sama dia, meskipun dia baik dan perhatian terutama sama anak-anak. Terlebih bagaimana pandangan orang, mantan istri Bang Sakti pernah menuduh kita selingkuh, kalau aku sampai nikah sama Sakti, jelas dugaan mantan istrinya benar dong. Gue gak mau, saat gue nikah ada hati perempuan yang tersakiti," ucap Iswa.
"Lo emang perempuan baik sih, Wa. Lo gak memikirkan hidup lo sendiri, bahkan mantan istri Sakti juga kamu hargai perasaannya," ucap Elin yang tahu perjalanan Iswa sejak kuliah dulu.
"Mama dan papa juga berharap kita nikah, beliau memikirkan siapa yang akan bantu aku dan anak-anak saat beliau gak ada, dan kali ini kejadian, Bang Sakti yang bantu aku!"
Elin tertawa, melihat Iswa mulai bimbang. "Jadi janda bingung, jadi perawan juga bingung ditanya kapan nikah mulu, sebel gue!"
Giliran Iswa yang tertawa ngakak, "Lo nikah sama Bang Sakti gimana, Lin. Kan lumayan gue, dua anak gue disayang sama popo sama istrinya," ujar Iswa berniat kembali menjodohkan.
"Di usia gue 27 tahun, gue sih mau aja, tapi Bang Saktinya mau gak? Hatinya buat lo banget juga," ujar Elin ceplas-ceplos.
"Gue sebenarnya malas banget punya suami, karena gak mungkin ada yang seperti Kaisar, yang pengertian sama gue, dan sefrekuensi."
"Udah dibilang enak single, lebih bebas! Mungkin lo sedang capek aja sih, Wa. Karena pasangan juga bukan prioritas lo, makanya saat lo drop ada Sakti, lo jadi bimbang, aslinya lo menikmati sekali jadi janda. Bukan janda gatal sih," kalau saja tidak sedang makan ramen, mungkin mulut Elin sudah ditampol bantal oleh Iswa. Ya kali dia jadi janda gatal, naudzubillah.
Elin menemani Iswa sampai Sakti dan kedua anaknya datang, mereka menyapa Elin dan memeluk tante centilnya itu, dekat sekali mereka pada Elin, toh gadis jomblo itu sering menginap di rumah mereka juga.
"Oma sama Opa telepon terus tadi pagi, Ma. Sampai kita hampir telat ke sekolah," ujar Athar yang langsung minta peluk sang mama.
"Abang kasih tahu mama?" tanya Iswa karena ia gak mau membuat mama dan papanya khawatir.
"Enggak!" jawab Sakti yang menata makan siang di meja.
"Oma cuma ngecek aja, Ma. Terus tanya mama kamu mana kok pagi kalian bisa pegang HP? Terus aku menangis. Cerita deh kalau mama masuk rumah sakit," ujar Queena. Iswa mengangguk paham.
Elin pun memotret dari tempat duduknya saat Sakti menyuapi Athar dan Queena, meskipun mereka tadi sudah makan catering sekolah, tetap saja anak Iswa kalau disodori makan, mau aja, apalagi real food begitu.
Terlihat seperti keluarga bahagia ya.
Begitu tangan usil Elin update status WA, iseng aja, tak peduli yang melihat nanti berkomentar apa.
"Queena, lapar banget kayaknya?" sindir Elin sembari menggelengkan kepala melihat Sakti kesusahan menyuapi dua ponakannya, baru juga menyuapi Athar eh Queena bilang Aaa, sampai Sakti sendiri belum makan.
"Aku paling suka disuapi Popo!" ujar Queena.
"Aku juga," nih bocil ikut-ikutan sang kakak.
"Ya udah bawa popo kamu pulang saja, biar nyuapin 3 kali sehari," Sakti dan Iswa langsung menatap gadis clamitan itu, dan Elin hanya nyengir.
"Aku sih sering ajak popo ke rumah nginep tapi mama yang gak boleh, aku juga pengen tidur di samping mama, kakak, sama popo," ujar Athar dengan polos.
"Padahal mama dan popo kan kakak adik ya, gitu mama melarang popo menginap," lanjut Queena. Maklum anak sekecil itu masih belum tahu istilah bukan muhrim, Iswa hanya diam diroasting anaknya sendiri begini.
Sedangkan Elin tertawa ngakak, "Kalau popo kamu menginap di rumah kamu, bisa-bisa Athar punya adik," Iswa dan Sakti langsung kompak.
"Eliiiiiin," teriak keduanya kompak. Sedangkan pelaku bermulut rem blong itu hanya tertawa ngakak.
"Ayo popo kalau mama sudah sehat, popo menginap biar aku punya adik," Queena yang semangat karena dia anak cewek sampai sekarang suka sekali bermain anak-anak an dengan boneka. Sakti sampai terbatuk, Elin langsung dilempar bantal oleh Iswa.
"Ngomong yang benar," ujar Iswa sebal.
Elin pamit menjelang maghrib, dia bersedia menjaga Queena dan Athar, alhasil malam ini dia menginap di rumah Iswa.
"Gak usah diantar, Pak Sakti, saya bawa mobil kok," ujar Elin kepedean, padahal Sakti juga gak ada niatan mengantar dia. "Tolong jaga teman aku ya, Pak. Lagi galau soalnya, mau nikah lagi atau enggak," ujar Elin yang langsung dipelototi oleh Iswa.
eh kok g enak y manggil nya