SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUJUK
"Onty, emang benar ya popo kalau menginap di rumah aku bisa punya adik?" tanya Queena serius dengan mata bulat penasarannya. Siswa kelas 1 SD itu terlalu polos untuk dijelaskan, tapi terlalu pintar untuk merekam perkataan yang ia dengar. Si biang kerok hanya menahan tawa sembari mengangguk pelan.
"Bisa dong, nanti ajak mama dan popo tidur sekamar sama kamu dan Athar, dijamin deh Queena bakal punya adik, mau berapa pun dikasih deh, 2 boleh, 5 apalagi, tapi harus bilang ke Oma dan Opa dulu," ujar Elin makin blong. Queena girang. Berbeda dengan Athar.
"Nanti kalau punya adik, aku gak bisa gendong popo dong," ujarnya sedih, namun Elin tak kurang akal. Pernah menjadi guru les privat anak SD sampai remaja, Elin jadi tahu bagaimana membujuk anak seusia itu.
"Kata siapa, kan adik bisa ditaruh stroller, tinggal didorong dijamin gak bakal nangis," ujar Elin layaknya SPG stroller.
"Benarkah?" tanya Athar girang. Sebenarnya Arhar juga suka adik bayi, tapi dia khawatir kalau gak disayang sama poponya, tapi setelah mendapat pencerahan dari Elin, dia setuju dan akan membujuk Popo maupun mama agar pria ganteng itu bisa menginap di rumah ini.
Sedangkan di kamar inap Iswa, Sakti sibuk zoom meeting, meski dia tak masuk tapi tetap saja sibuk mengontrol dari jauh. Sedangkan Iswa, pekerjaannya bisa dihandle oleh Elin. Selama zoom meeting, Sakti menampilkan aura bossy, Iswa menahan tawa, gimana karyawan kantor Sakti ya, tegang sekali pasti. Berbeda dengan kantor Iswa yang disetting kekeluargaan dan kebanyakan bercanda, meski Iswa juga tegas kapan deadline pekerjaan.
"Kenapa?" tanya Sakti yang merasa Iswa sedang menertawakannya.
"Jadi pegawai Abang pasti tegang banget ya, aura bossynya kentara sekali," ledek Iswa.
"Gak juga. Mereka mah suka kalau saya sering ajak meeting, pernah dengar kalau melihat aku itu seperti mood booster bagi mereka," pengakuan Sakti membuat Iswa menoleh sembari pura-pura muntah, dan itu membuat Sakti tertawa. Tak lama, ponsel Sakti berbunyi, sang mama telepon, mungkin sudah kepikiran sejak tadi pagi.
"Bang, masih di rumah sakit?" tanya mama dengan nada tak sabar.
Sakti melirik Iswa sebentar, kemudian mengangguk, "Iya, Ma. Iswa masih belum boleh pulang," ujar Sakti sembari mengarahkan ke Iswa.
"Kasih ponsel kamu, Bang. Mama mau ngomong sama Iswa," ucap mama, kemudian obrolan dengan mertua dan menantu pun terjadi. Dalam obrolan itu, mama bertanya kok bisa aslam naik? Bukannya, Iswa sering dibelikan Elin makan.
"Iya, Ma. Kemarin juga sudah dibelikan Elin makan, cuma kalau sudah lihat laptop dan berkas lupa, Ma, sampai pulang gak aku sentuh. Elin sudah ngomel bahkan mau pesan yang baru tapi aku tolak," lapor Iswa layaknya ke mama sendiri.
"Kamu memang kalau sudah kerja sering lewat makan, gitu kalau anak-anak gak mau makan kamu marahin," Iswa tersenyum saja mendengar omelan dari mertua.
Mengetahui kebiasaan Iswa begitu, Sakti pun berinisiatif mengingatkan bahkan datang ke kantor Iswa setelah ia diperbolehkan pulang. Awalnya Iswa kaget kenapa Sakti sampai datang, bahkan karyawan kantor berdehem dengan kedatangan Sakti, mana terlihat ganteng dan perhatian banget. Elin langsung diintrogasi hubungan Iswa dan kakak iparnya. Mulut si Elin mah tanpa dikasih oli sudah licin aja buat cerita apalagi kalau disuruh mengarang, juara dia. Sehingga, mereka menganggap Sakti dan Iswa mulai menjalin hubungan sejak di rumah sakit itu.
"Bang, anak-anak mulai curiga kita ada hubungan di luar ipar, loh. Please dong, gak usah ke sini, beneran aku bisa makan sendiri, sama Elin juga!" pinta Iswa. Sejak Sakti datang bawa makanan, Iswa tak mau orang lain punya pikiran lebih tentang Sakti, dia juga sudah melarang Sakti ke kantor. Cuma ya gitu, seperti biasa keras kepala Sakti lebih dominan hingga Iswa pasrah.
"Ya semua orang tahu kali, Wa. Kalau aku naksir kamu," ucap Sakti sembari makan jatahnya. Sakti juga ikuta makan, dan dia merasa sangat lahap bila makan siang bersama Iswa.
"Ck, harus berapa kali sih aku bilang. Aku cuma anggap Abang sebagai kakak," ujar Iswa yang tak mau berlebihan dengan Sakti. Makanya khusus siang ini, mereka makan siang di luar, Iswa akan memberikan batasan Sakti untuk kirim makanan ke kantornya. Sungguh tak enak karena semakin hari, Sakti semakin getol untuk membujuk Iswa menjadi istrinya.
Apalagi sepulang umroh, Sakti bilang ke mama dan papa, kalau dia mau menikah lagi hanya dengan Iswa saja. Pikir Sakti dia tak perlu adaptasi berlebihan, karena sudah mengenal perempuan itu. Terlebih, tak perlu meyakinkan orang tua saat mengenalkan seorang menantu.
"Wa, dengarkan aku. Kita menikah tuh bukan karena cinta seperti halnya anak ABG atau pasangan muda. Kita pernah menikah dan punya pengalaman pahit saat berumah tangga. Bagiku kalau kita menikah hanya untuk meneruskan hidup, sebagai teman cerita saja, urusan cinta nomor dua ratus," ujar Sakti, meski tiap hari rasa sayang dan cinta pada Iswa semakin dalam.
"Tapi saat kita menikah, banyak hal yang harus diperhatikan, Bang. Terutama perasaan Sasa, dia pernah menuduh kita selingkuh, dan kita menolak akan hal itu, yakin Abang mau jilad ludah sendiri," ujar Iswa.
"Kita selingkuh kalau setelah aku duda, langsung nikah sama kamu, Wa. Sedangkan perjalananku menjadi single sudah hampir 2 tahun, dan selama 2 tahun itu wajar banyak kejadian yang terjadi di luar kendali kita," ujar Sakti logis. Namun, Iswa masih kekeh untuk menerima Sakti.
Kadang Iswa sampai emosi kalau Queena dan Athar merengek Poponya buat nginep di rumah, Elin dan kedua mertua Iswa sering mengompori kedua anak itu agar Sakti menjadi papa bagi mereka, bukan untuk menggantikan Kaisar, melainkan untuk menjaga mama dan mereka saja. Kejadian yang diungkit saat Iswa sakit itu, emosi mereka dipermainkan, kalau ada popo tentu Iswa tak sibuk kerja, oleh sebab itu Queena dan Athar hampir setiap hari membahas Popo.
Bagi Iswa apa kata dunia kalau dia menikah dengan Sakti, meski sejak meninggalnya Kai dulu banyak orang yang memprediksi Iswa akan menikah dengan Sakti, karena banyak kolega papa yang belum tahu saat itu Sakti sudah menikahi Sasa. Tapi, dia tak mau menyakiti Sasa, ia masih yakin kalau Sasa masih cinta dengan Sakti, tiap hari bertemu ya kali rasa cinta itu memudar, meski Sakti dengan tegas sudah tidak punya rasa pada Sasa.
Sedangkan Sasa sendiri, mulai enjoy dengan kehidupannya sekarang. Ia bahagia meski tak punya pasangan, kadang apa yang yang kita cintai justru menjadi beban hidup. Dengan ikhlas melepas Sakti, Sasa akhirnya bisa meyakinkan diri bahwa level cinta tertinggi adalah melepasnya untuk bahagia di jalan yang mereka pilih, meski tanpa kita.