Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Yang Akhirnya Keluar
Hujan turun pelan sore itu, membasahi jalanan dengan ritme yang tidak terburu-buru. Tapi di kepala Senja, semuanya justru terasa terlalu cepat.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya sendiri. Matanya sedikit sembab, entah karena kurang tidur atau terlalu banyak pikiran. Ia menyalakan keran air, membasuh wajahnya, berharap air dingin bisa menenangkan sesuatu di dalam dadanya.
Tapi tidak.
Ponselnya kembali bergetar.
Raka. Lagi.
“Sen, kita bisa ketemu bentar nggak? Aku cuma mau ngobrol.”
Kali ini, Senja tidak langsung menolak. Ia menatap pesan itu cukup lama, sampai hujan di luar terdengar semakin jelas. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghindar seperti biasa. Tapi ada bagian lain—yang lebih lelah—yang ingin semuanya selesai.
Ia membalas.
“Oke. Di kafe biasa.”
Kafe itu hampir kosong. Hanya ada dua orang lain di sudut ruangan, dan suara hujan yang memukul kaca jendela jadi latar yang anehnya pas.
Raka sudah duduk lebih dulu. Begitu melihat Senja masuk, ia langsung berdiri kecil, refleks.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Senja tersenyum tipis. “Kamu juga.”
Mereka duduk saling berhadapan. Ada jarak satu meja kecil, tapi rasanya seperti jarak yang jauh lebih besar dari itu.
Beberapa detik pertama hanya diisi suara hujan dan bunyi sendok yang menyentuh cangkir.
Akhirnya Raka membuka suara.
“Sen… aku ngerasa kamu udah bukan kamu yang dulu.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat di dada Senja.
Ia menunduk, menatap permukaan kopi yang mulai dingin. Tangannya sedikit gemetar.
“Aku juga ngerasa gitu,” jawabnya lirih.
Raka terdiam. “Maksudnya?”
Senja menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin bersembunyi di balik jawaban aman.
“Aku capek, Rak. Tapi bukan capek fisik. Aku capek sama pikiranku sendiri. Capek pura-pura baik. Capek jadi versi diriku yang orang lain harapkan.”
Raka menatapnya serius. “Kamu ngerasa terpaksa sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Senja mendongak.
“Bukan sama kamu,” katanya cepat. “Sama diriku. Sama peran yang aku mainin tiap hari. Aku ngerasa kosong, tapi juga penuh. Aku nggak ngerti kenapa.”
Suara Senja mulai bergetar. Bukan karena menangis, tapi karena menahan terlalu lama.
“Aku ngerasa kehilangan diriku sendiri, Rak. Dan yang paling aku takutin… aku nggak tahu cara balikinnya.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Senja, bukan dengan bingung, tapi dengan sesuatu yang lebih berat—takut.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang dari awal?” tanyanya pelan.
Senja tersenyum pahit. “Karena aku sendiri nggak sadar. Aku kira ini cuma fase. Cuma capek. Cuma bad mood.”
Ia menatap Raka lurus-lurus.
“Tapi sekarang aku sadar… ini lebih dari itu.”
Hujan di luar semakin deras. Di dalam kafe, suasana justru terasa terlalu sunyi.
Raka menghela napas panjang. “Jadi… aku masih bagian dari hidup kamu nggak, Sen?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya tidak.
Senja membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dadanya terasa sesak. Ia ingin bilang iya. Tapi ia juga tidak ingin berbohong.
“Aku nggak tahu,” jawabnya jujur.
Dan kejujuran itu terdengar lebih menyakitkan daripada penolakan.
Raka menunduk, tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Oke,” katanya pelan. “Setidaknya sekarang aku tahu. Lebih baik sakit karena jujur, daripada tenang karena bohong.”
Senja menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, tapi juga rasa lega.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi diam.
Dan untuk pertama kalinya juga, ia sadar:
Kadang, mengatakan yang sebenarnya tidak langsung menyelesaikan masalah.
Tapi membuka pintu ke masalah yang lebih besar.