"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Kadang, kebisingan paling menyakitkan bukanlah suara teriakan, melainkan keheningan yang tercipta saat seseorang yang tulus telah pergi. Di episode ini, Bima akan menyadari bahwa kemewahan yang ia kejar hanyalah sebuah ruang hampa tanpa jiwa. Saat bayang-bayang Hana mulai menghantui setiap sudut rumah, Bima harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia telah menukar berlian dengan kerikil tajam yang kini mulai melukainya."
.
.
Ruang kerja Bima yang luas kini terasa seperti sebuah gua yang dingin. Meski pendingin ruangan disetel pada suhu standar, Bima merasa menggigil.
Ia duduk di kursi kebesarannya, namun tubuhnya terasa kecil, ringkih, dan hancur. Di depannya, layar komputer menampilkan angka-angka saham yang terus memerah, namun fokus matanya justru tertuju pada sebuah sudut di dekat jendela.
Di sana, dulu ada sebuah kursi armchair kecil berwarna krem. Tempat Hana biasanya duduk membacakan buku atau sekadar merajut pakaian bayi sambil menunggunya menyelesaikan pekerjaan kantor hingga larut malam.
Dulu, Bima sering menganggap keberadaan Hana di sana sebagai gangguan. Ia sering membentak Hana, menyuruhnya keluar karena suara gesekan jarum rajut atau sekadar helaan napas Hana dianggap merusak konsentrasinya.
"*Mas, kopi hitamnya diletakkan di sini ya. Jangan terlalu malam tidurnya*," suara lembut Hana seolah terngiang kembali, memantul di dinding ruangan yang kini bisu.
Bima memejamkan mata erat-erat. Keheningan di rumah ini sangat berisik. Suara tawa Clarissa yang samar-samar terdengar dari arah kamar - *sedang melakukan panggilan video dengan entah siapa* - terasa seperti jarum yang menusuk gendang telinganya. Tidak ada ketenangan. Tidak ada kedamaian.
Bima bangkit dari kursinya dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju kursi kosong tempat Hana dulu sering duduk. Ia menyentuh sandarannya yang kini berdebu.
Clarissa tidak pernah menyentuh sudut ini. Pelayan baru pun hanya membersihkan apa yang diperintahkan.
"Hana..." bisik Bima. Suaranya pecah, hilang ditelan sunyi.
Ia teringat malam terakhir sebelum ia mengusir Hana. Hana sedang duduk di sana, memegangi perutnya yang buncit dengan wajah pucat, mencoba tersenyum meski Bima baru saja memakinya karena masalah sepele di kantor.
"*Kenapa aku begitu buta* ?" batin Bima.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka kasar. Clarissa masuk dengan handuk melilit di kepala, wajahnya penuh masker hitam, namun matanya tetap memancarkan ketamakan yang sama.
"Bima! Aku sudah memutuskan. Aku ingin apartemen di pusat kota yang baru dibangun itu. Kau harus membayar uang mukanya sore ini. Aku tidak mau tinggal di sini lagi, ibumu membuatku sesak napas!"
Bima tidak menoleh. Ia tetap menatap kursi kosong itu. "Keluar, Clarissa."
"Apa? Kau mengusirku seperti ibumu? Setelah semua ancamanku tadi?" Clarissa berjalan mendekat, suaranya melengking tajam. "Dengar ya, harga dirimu itu tidak sebanding dengan rahasia perusahaan yang aku pegang. Jangan coba-coba mengabaikanku!"
Bima perlahan memutar tubuhnya. Matanya yang dulu tajam dan penuh wibawa kini tampak kosong, namun ada sisa-sisa api amarah di sana.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari dirimu, Clar? Kau ada di sini, di depanku, tapi rumah ini tetap terasa kosong. Kau berisik, tapi kau tidak pernah benar-benar ada."
Clarissa tertawa sinis. "Oh, jadi sekarang kau mau bermain puitis? Aku tidak butuh cinta picisanmu, Bima. Aku butuh kepastian aset. Bayar uang mukanya, atau besok pagi berita tentang penggelapan pajak Erlangga Group akan menjadi headline!"
Di koridor luar, Bu Sarah berdiri mendengarkan dengan tangan bersedekap. Ia tidak lagi marah, melainkan sudah sampai pada tahap muak yang luar biasa. Ia memberi isyarat kepada asisten pribadinya yang berdiri di belakangnya.
"Pastikan semua akses komunikasi wanita itu disadap mulai detik ini. Cari tahu siapa pria yang sering ia hubungi di hotel itu. Dan satu lagi..." Bu Sarah menjeda kalimatnya, matanya berkilat dingin. "Siapkan mobil. Kita ke Sukamaju sekarang."
"Tapi Nyonya, Pak Bima tidak tahu Anda akan ke sana," bisik sang asisten.
"Dia tidak perlu tahu. Anakku sedang tenggelam dalam dosanya sendiri. Aku harus memastikan menantu dan cucuku aman sebelum aku menghabisi benalu ini," jawab Bu Sarah tegas.
Bu Sarah melangkah pergi tanpa suara, meninggalkan Bima yang masih berdebat dengan Clarissa di dalam ruangan yang kini terasa seperti medan perang.
Bima akhirnya menyerah dan keluar dari ruang kerja demi menghindari pertengkaran lebih lanjut. Ia menuju dapur, ingin membuat kopi untuk menenangkan sarafnya.
Di dapur, ia terpaku menatap rak bumbu. Hana selalu menyusun semuanya dengan rapi. Sekarang, semuanya berubah.
Ia mencari gula, namun yang ia temukan hanyalah kotak-kotak kosmetik Clarissa yang diletakkan sembarangan di meja dapur.
Bima menyeduh kopi hitamnya. Pahit. Sangat pahit. Persis seperti hidupnya sekarang.
Ia duduk di meja makan sendirian. Dulu, meja ini penuh dengan hidangan hangat. Hana akan duduk di depannya, bercerita tentang tendangan bayi di perutnya dengan mata berbinar.
Bima biasanya hanya menjawab singkat tanpa menoleh dari ponselnya.
Kini, ia memiliki ponselnya, ia memiliki kemewahannya, tapi ia tidak memiliki lawan bicara yang tulus.
Bima teringat video yang dikirim detektif Heru. Hana tertawa bersama dr. Adrian. Senyum itu... senyum yang dulu ia sia-siakan, kini mekar untuk orang lain.
"Aku merindukanmu, Hana," isak Bima tiba-tiba. Air matanya jatuh ke dalam cangkir kopi yang masih mengepul. "Aku merindukan keheninganmu yang menenangkan. Aku benci keheningan ini... keheningan yang penuh dengan suaramu yang meminta ampun di malam aku mengusirmu."
Saat Bima sedang tenggelam dalam tangisnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"*Pak Bima, jangan tertipu. Clarissa tidak hanya mengincar harta Anda. Dia sedang bekerja sama bahkan mempunyai hubungan gelap dengan kompetitor Anda, PT. Wijaya, untuk menjatuhkan Erlangga Group dari dalam*."
Bima tersentak. Ia menghapus air matanya. Apakah ini jebakan? Ataukan ini jalan keluar yang diberikan Tuhan di tengah keputusasaannya?
Ia melirik ke arah kamar, tempat Clarissa mungkin sedang merencanakan kehancurannya. Bima mengambil kunci mobilnya. Ia harus bergerak.
Jika ia ingin kembali pada Hana, ia harus membersihkan sampah-sampah di hidupnya terlebih dahulu, meskipun itu artinya ia harus mempertaruhkan sisa harta yang ia miliki.
Bima melangkah keluar dengan tekad yang baru. Namun, ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, ibunya sedang menempuh perjalanan jauh menuju Sukamaju, membawa misi yang akan mengubah jalannya sejarah penyesalannya.
Apakah Bima akan menemukan bukti perselingkuhan dan pengkhianatan Clarissa di kafe tersebut? Dan bagaimana reaksi Hana saat melihat mertuanya, kini berdiri di depan pintu rukonya dengan penuh air mata?
Ikuti terus kisah Hana dan kehancuran Clarissa!
...----------------...
**To Be Continue** .....
Bima semangat 🔥💪🥰