NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Sang Dewa

Setelah kebisingan di kampus mereda, malam di Reykjavik kembali ke setelan aslinya, sunyi dan beku.

Di dalam penthouse mewahnya yang berdinding kaca setinggi langit-langit, Zane baru saja menyelesaikan makan malamnya yang sepi. Ia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berpendar pucat di bawah langit malam Islandia.

​Zane menyesap kopi hitamnya, dan saat uap panas menyentuh wajahnya, pikirannya terseret kembali ke hiruk-pikuk Manhattan beberapa bulan lalu.

​Kilas-Balik

​Di New York, Zane tidak sendirian. Ada Phoenix. Mereka bukan sekadar sahabat, mereka adalah saudara yang tidak sedarah, tumbuh besar di lingkungan elit yang sama, dan berbagi segalanya. Sampai akhirnya, seorang gadis bernama Kharel Renaud masuk ke dalam lingkaran mereka saat SMA.

​Mereka menjadi trio yang tak terpisahkan. Namun, di balik tawa bertiga itu, ada rahasia yang mulai tumbuh. Phoenix, si pria yang biasanya tangguh, berubah menjadi sosok yang lembut dan penuh bunga saat membicarakan Kharel. Setiap hari, telinga Zane panas mendengar Phoenix memuja Kharel.

​"Dia berbeda, Zane. Aku akan menyatakan perasaan padaku setelah ujian akhir," kata Phoenix kala itu dengan mata berbinar.

​Zane mendukungnya. Ia tulus ingin melihat saudaranya bahagia. Namun, Phoenix terlalu takut. Ia pengecut dalam urusan hati dan terus menunda, hingga sebuah malam di musim panas mengubah segalanya.

​Kharel mendatangi Zane sendirian. Di bawah lampu kota New York, Kharel mengungkapkan kebenaran yang menghancurkan, bukan Phoenix yang ia inginkan, melainkan Zane.

​"Aku mencintaimu, Zane. Bukan Phoenix," ucap Kharel malam itu.

​Zane membeku. Ia menolak, tentu saja. Baginya, kesetiaan pada Phoenix adalah harga mati. Namun, Phoenix terlanjur melihat mereka malam itu. Kesalahpahaman membakar segalanya. Phoenix merasa dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai. Persaudaraan belasan tahun itu hancur dalam semalam karena satu perasaan yang tidak tepat sasaran.

​Zane tidak ingin melawan. Ia tidak ingin memperebutkan Kharel, tapi ia juga tidak bisa mengembalikan Phoenix yang dulu.

​Zane menghela napas panjang, memutus ingatan pahit itu. Demi mengakhiri kerumitan ini, ia mengambil keputusan gila. Ia meninggalkan universitas ternama di New York yang sebenarnya adalah milik keluarganya sendiri—warisan turun-temurun dari sang kakek.

​Ia memilih Islandia. Tempat paling jauh yang bisa ia pikirkan untuk menghilang. Ia ingin mengubur identitas "Dewa Manhattan" dan hidup sebagai pria dingin yang urakan, berharap dinginnya Islandia bisa membekukan rasa bersalahnya pada Phoenix.

​Ia menyentuh tato kupu-kupu di belakang telinganya. Tato yang ia buat sesaat sebelum meninggalkan New York. Simbol transformasi... atau mungkin simbol pelarian dari kepompong masa lalu yang menyesakkan.

​"Kau pikir kau bisa lari, Zane?" bisiknya pada diri sendiri.

​Tiba-tiba, ponselnya berdenting. Sebuah notifikasi pesan masuk dari akun media sosialnya. Bukan dari Phoenix, bukan juga dari Kharel.

​Itu adalah balasan pesan dari sebuah akun yang baru saja ia sadari, Salena B. Ashford.

​Zane menyeringai tipis. Mungkin, gadis Islandia yang kaku dan menganggapnya alay itu adalah satu-satunya gangguan yang ia butuhkan untuk melupakan rasa sakit di New York.

Zane meletakkan cangkir kopinya di atas meja marmer, lalu merebahkan tubuhnya di sofa kulit yang dingin. Jemarinya menyentuh permukaan kulit di belakang telinganya, tepat di atas tato kupu-kupu yang masih terasa sedikit sensitif.

Tato itu adalah tanda pengingat. Sebuah simbol bahwa Zane yang lama, yang terjebak dalam drama cinta segitiga di New York, sudah mati, dan kini ia mencoba terbang bebas seperti kupu-kupu, meskipun harus bermigrasi ke negeri es yang asing.

Ia meraih ponselnya. Jika Salena saja bisa terjaga sampai jam dua pagi untuk mengintip dunianya, kenapa dia tidak melakukan hal yang sama? Lagi pula, Zane butuh pengalihan. Dan gadis Islandia yang galak itu adalah hiburan terbaik yang ia miliki saat ini.

"Mari kita lihat seberapa sempurna hidupmu, Nona Ashford," gumamnya sinis.

Zane mulai menelusuri akun milik Salena. Berbeda dengan akunnya yang penuh dengan adrenalin dan gaya hidup jet set yang liar, profil Salena adalah definisi dari keteraturan.

Foto-fotonya didominasi warna putih, biru pucat, dan abu-abu. Salena berpose di galeri seni, di depan gedung-gedung bersejarah Reykjavik, atau sedang memegang buku di perpustakaan kampus yang tampak sangat tenang.

Ada banyak foto-foto dia saat menerima penghargaan debat internasional, foto saat ia menjadi pembicara muda di forum bisnis, dan foto bersama keluarganya yang terlihat sangat formal—seperti lukisan abad pertengahan yang kaku.

Zane berhenti pada satu foto. Salena sedang berdiri di pinggir tebing dengan latar belakang laut Atlantik yang berombak besar. Rambut pirang platinanya tertiup angin, menutupi sebagian wajahnya. Di foto itu, Salena tidak terlihat galak, ia terlihat... kesepian.

"Jadi ini yang kau sembunyikan di balik topeng Ketua Dewan Murid mu?" Zane memperbesar foto itu.

Zane menyadari satu hal. Salena sangat berusaha keras untuk terlihat sempurna karena dia adalah wajah dari dinasti Ashford. Setiap postingannya terasa seperti laporan kerja, bukan sebuah kenangan. Tidak ada foto tertawa lepas, tidak ada foto makanan yang berantakan, dan tentu saja tidak ada tato.

Zane tersenyum tipis. Ia menemukan sebuah celah. Salena bukan membencinya karena dia urakan, Salena membencinya karena Zane adalah segala hal yang tidak berani dilakukan oleh Salena. Zane adalah kekacauan yang bebas, sementara Salena adalah keteraturan yang terpenjara.

"Kau butuh sedikit warna dalam hidupmu yang membosankan ini, Salena," ujar Zane pelan sambil menaruh ponselnya di dada.

Ia membayangkan wajah kesal Salena besok saat dia menunjukkan bahwa dia juga sudah mengunjungi profil gadis itu. Jika Salena menganggapnya alay, maka Zane akan menjadi orang paling alay yang akan terus mengganggu ketenangannya sampai tembok es di hati Salena retak.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍

1
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!