Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - Don't Speak
Hari ini aku bangun dengan rasa malas yang sulit dijelaskan. Entah karena tubuhku yang masih terasa letih, atau karena aku tahu malam ini keluarga Henry akan datang berkunjung. Jika bukan karena orang tua kami berniat menjodohkan Henry dengan Ana, mungkin aku akan menyambut mereka dengan hati yang senang. Sayangnya, kenyataan tidak seindah itu.
Pagi ini, setelah mandi dan berganti pakaian, aku ikut duduk di meja makan bersama Papa, Mama, dan Ana. Menu sarapan sederhana sudah tersaji.
“Benar kan kalian nggak ada jadwal operasi malam ini?” tanya Mama sambil menatap Papa dan Ana.
“Iya, nggak ada.” jawab Papa tenang.
Ana hanya mengangguk pelan.
“Bagus.” ucap Mama sambil tersenyum tipis.
Aku tidak banyak bicara, hanya menunduk menikmati sarapanku.
“Lia, ingat ya, jangan pasang wajah malas begitu nanti malam. Mama nggak enak sama keluarganya Henry.” ucap Mama mengingatkan.
“Ya.” jawabku singkat.
Ana yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Ma, kenapa sih harus ngundang keluarga Henry makan malam?”
“Mama pengen aja. Udah lama kita nggak kumpul bareng. Sekalian bisa bahas soal perjodohan kamu dan Henry.” jawab Mama dengan nada seolah semua itu hal biasa.
Ana langsung meletakkan sendoknya dengan kasar. “Ma, aku kan udah bilang aku nggak mau dijodohin sama Henry. Aku nggak suka sama dia.”
Mama menghela napas panjang. “Kalau kalian udah menikah, nanti juga akan terbiasa. Rasa suka itu bisa tumbuh, Ana.”
Ana menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. “Itu nggak berlaku buat aku. Sampai kapan pun aku nggak akan suka sama Henry. Karena aku…”
Aku menahan napas. Apakah Ana akan jujur tentang perasaannya pada Julian?
“Karena kamu kenapa?” tanya Mama, menatap Ana penuh selidik.
Ana menunduk sejenak, lalu berkata pelan namun tegas, “Karena aku nggak akan pernah membuka hati untuk Henry.”
“Apa?!” Mama terkejut.
Papa ikut angkat bicara. “Ana… Henry itu pria terbaik buat kamu.”
Ana tersenyum miris. “Terbaik? Kata siapa? Memangnya Papa Tuhan yang bisa menentukan siapa yang terbaik buat aku?”
“Ana!” seru Mama dengan nada meninggi.
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan percakapan mereka.
Ana kembali bersuara, kali ini dengan nada memohon. “Ma, Pa, bisa nggak untuk urusan menikah, aku yang memilih sendiri siapa yang akan jadi suamiku?”
Mama menatapnya tajam. “Memang siapa pilihanmu? Mama nggak mau kamu asal pilih suami. Apalagi kalau dari keluarga yang nggak jelas.”
Ana menggeleng keras. “Aku paling benci kalau Mama selalu menilai orang dari statusnya.”
“Mama hanya ingin kamu mendapat suami yang setara dengan kita.” jawab Mama lagi.
“Setara? Ma, di mata Tuhan kita semua sama. Mau aku nikah sama orang kaya atau miskin, derajatnya sama aja. Justru kalau aku dipaksa menikah sama orang yang nggak aku cintai, aku yang akan menderita.” Ana terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Lagian Mama dan Papa menikah karena saling suka, kan? Kenapa malah jodohin aku sama cowok yang sama sekali nggak aku sukai? Aku nggak pernah minta apa-apa dari kalian. Aku selalu berusaha menuruti semua keinginan kalian. Tapi sekarang? Aku harus menyerahkan hidupku sama orang yang nggak aku cintai.”
Suasana meja makan hening. Mama dan Papa hanya bisa saling pandang.
“Ana…” ucap mereka bersamaan, suara mereka penuh keraguan.
Ana mendesah berat, lalu meletakkan serbetnya. “Aku udah kenyang. Aku mau berangkat.” Ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi.
“Ana…” panggil Mama, tapi Ana tetap melangkah pergi tanpa menghiraukannya.
Aku hanya bisa menatap punggung Ana yang semakin menjauh. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
Siang harinya, aku pergi ke supermarket bersama Mbak Ningsih menggunakan mobil keluarga yang kukemudikan sendiri. Mbak Ningsih duduk tenang di sampingku sambil membawa tas kecilnya.
Baru beberapa kilometer meninggalkan rumah, ponselku yang terletak di cup holder tiba-tiba berdering. Aku melirik sekilas, lalu terbelalak. Nama yang muncul di layar membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Henry.
Ada apa dia menelepon? Untunglah di ponselku, namanya kusimpan dengan aksara Korea, dan foto profilnya bukan fotonya sendiri. Dengan begitu, Mbak Ningsih tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang menghubungiku.
Aku menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel ke telinga sambil tetap fokus mengemudi.
“Halo, Caca. Ada apa nelpon?” ucapku datar.
— Caca? Hei, ini aku, Henry.
“Oh…” Aku buru-buru mencari alasan. “Mau ngajak nonton? Maaf ya, Ca. Aku nggak bisa. Aku lagi dalam perjalanan ke supermarket buat beli bahan makanan. Malam ini ada acara keluarga.”
—Kamu lagi di jalan ke supermarket?
“Iya.”
—Sama siapa?
“Sama Mbak Ningsih.”
—Oh.
“Ca, kamu cuma mau ngomong itu aja?” tanyaku, berusaha terdengar tenang.
—Sebenarnya aku mau bahas soal nanti malam. Aku agak malas ke rumahmu kalau topiknya lagi-lagi perjodohanku dengan Ana.
Aku terdiam sesaat. Kata-katanya menohok, tapi aku tidak ingin memperpanjang.
“Ya udah ya, Ca. Aku harus fokus nyetir.” ucapku cepat lalu menutup telepon. Aku tidak mau larut dalam perasaan sedih di saat seperti ini.
“Mbak Caca ngajakin nonton, Mbak?” tanya Mbak Ningsih polos.
“Iya.” jawabku singkat.
Setelah itu aku memilih bungkam, hanya fokus pada jalan hingga akhirnya mobilku tiba di supermarket.
Setelah memarkirkan mobil, aku dan Mbak Ningsih turun sambil membawa troli.
“Coba saya lihat daftar belanjaannya, Mbak?” tanyaku.
Mbak Ningsih menyerahkan secarik kertas berisi daftar yang ditulis Mama. Saat mataku menelusuri tulisan di atasnya, aku tiba-tiba terhenti.
Udang.
Aku mendesah pelan, lalu menoleh pada Mbak Ningsih. “Ini kenapa ada udang? Kan Kak Henry alergi seafood. Kita coret aja, jangan dibeli.” Nada suaraku terdengar agak kesal.
Mbak Ningsih menatapku cemas. “Tapi nggak apa-apa, Mbak? Itu kan daftar dari Ibu. Kalau Ibu marah gimana?”
“Saya yang akan tanggung jawab,” jawabku tegas. “Udah, ayo kita mulai cari bahan-bahannya.”
Akhirnya kami berkeliling supermarket, memasukkan bahan demi bahan ke dalam troli. Satu jam kemudian, kami keluar sambil membawa banyak tas belanjaan. Perjalanan pulang berlangsung hening, masing-masing larut dalam pikiran sendiri.
Setibanya di rumah, kami langsung menuju dapur. Mama sedang menunggu di sana.
“Udah lengkap semua belanjaannya?” tanya Mama begitu melihat kami masuk.
“Kecuali udang, semuanya sudah dibeli, Bu.” jawab Mbak Ningsih hati-hati.
“Kenapa udangnya nggak dibeli? Apa lagi kosong?” tanya Mama heran.
Mbak Ningsih tampak ragu menjawab. “Nggak sih, Bu…”
“Emang sengaja nggak beli, Ma.” potongku tiba-tiba.
Mama menoleh padaku. “Kenapa?”
“Kan Kak Henry alergi seafood. Kenapa Mama malah nyuruh beli udang?” tanyaku balik.
Mama mengerutkan kening, seakan lupa. “Emang iya?”
“Iya, Ma. Dulu Mama pernah masak makanan yang ada udangnya, terus Kak Henry makan, langsung gatal-gatal.” jelasku.
Mama akhirnya mengangguk pelan. “Oh iya, Mama lupa. Kok kamu masih ingat sih?”
Aku tersenyum tipis. Tentu saja aku ingat. Semua hal tentang Henry, sekecil apa pun, selalu kuingat.
“Masih, lah. Ingatanku kan tajam,” jawabku sambil menahan perasaan. “Ya udah, aku ke kamar dulu.”
Tanpa menunggu balasan, aku langsung melangkah naik ke lantai dua menuju kamarku.
Malam harinya, tepat pukul tujuh, Henry dan kedua orang tuanya datang. Suasana rumah langsung terasa berbeda—hangat sekaligus menegangkan. Ana dan Papa baru tiba satu jam sebelumnya dari rumah sakit, sehingga kami semua sudah lengkap saat duduk di meja makan.
Hidangan yang tersaji merupakan hasil masakan Mama dan Mbak Ningsih, tentu saja dengan sedikit bantuan dariku. Aroma sup hangat, lauk beraneka ragam, dan tumisan sayur memenuhi ruang makan.
Papa duduk di ujung meja, dengan Mama di sisi kanannya. Ana duduk di sebelah Mama, sementara aku di sebelah Ana. Di seberang, Papa Henry duduk di sisi kiri Papa, Mama Henry berhadapan dengan Ana, dan Henry tepat di hadapanku.
Berhadapan langsung dengan Henry membuatku serba salah. Aku berusaha menunduk, berpura-pura sibuk merapikan sendok, padahal jantungku berdebar tak karuan. Beberapa hari lalu, Henry menyatakan perasaannya padaku. Dan kini, kami duduk di satu meja.
“Wah, makanannya kelihatan enak sekali,” puji Tante Cyntia, Mama Henry, sambil tersenyum ramah. “Fira, ini masakan siapa? Ada masakan Ana juga?”
Mama terkekeh kecil. “Ini masakanku, dibantu Mbak Ningsih dan Lia. Ana baru pulang satu jam yang lalu. Biasalah, rumah sakit selalu sibuk.”
“Oh begitu ya? Kamu pasti capek, ya, Na?” tanya Tante Cyntia penuh perhatian.
“Udah biasa, Tante. Namanya juga dokter.” jawab Ana datar.
“Iya, Ana memang sibuk banget. Kadang aku khawatir sama kesehatannya.” tambah Mama.
Aku merasakan sesuatu menusuk hatiku. Mama terdengar begitu khawatir pada Ana, sementara aku… rasanya jarang sekali mendapatkan perhatian serupa.
“Eh, Lia.” Suara Om Haris, Papa Henry, memecah lamunanku. “Katanya ide produk baru di perusahaan kita dari kamu, ya?”
Aku langsung tersentak. “Eh? Ah… iya, Om.”
“Kenapa kamu memilih ide itu?” tanyanya serius.
Aku menarik napas, lalu menjawab mantap, “Soalnya aku suka Korea, Om. Sekarang kan banyak orang yang suka juga. Di drama-drama Korea, adegan makanannya selalu ditampilkan dengan sangat menarik sampai bikin penonton tergoda. Aku pikir, kenapa nggak coba menghadirkan makanan Korea dengan harga yang lebih terjangkau, supaya bisa dinikmati semua kalangan? Nah, kenapa tteokbokki dan jjajangmyeon? Karena keduanya sederhana, gampang dikenali, dan sering banget muncul di drama.”
Om Haris tersenyum puas. “Wah, hebat banget. Kamu bisa melihat peluang pasar dari pengalaman pribadi. Itu bagus.”
“Terima kasih, Om.” jawabku sambil tersenyum malu-malu.
Aku menangkap perubahan di wajah Mama setelah pujian itu. Ia langsung menimpali, “Lia memang suka Korea. Aku sampai pusing mengikutinya. Kalau sudah bicara pakai bahasa Korea, rasanya nggak ada habisnya.”
Mama menoleh ke Papa, seolah meminta pembenaran. “Iya kan, Pa?”
Papa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya, betul. Bikin pusing.”
“Lia, kamu bisa bahasa Korea?” tanya Tante Cyntia, terlihat tertarik.
“Bisa sedikit, Tante. Tapi belum fasih. Yang fasih itu Caca.” jelasku.
“Caca siapa?” tanya Tante Cyntia penasaran.
“Anak R&D, Ma.” sahut Henry cepat.
“Wah, bagus banget kalau di perusahaan ada dua orang yang bisa bahasa Korea, jadi suatu saat kalau mau kerja sama dengan pihak Korea, kita nggak perlu repot cari penerjemah.” ucap Om Haris.
“Kerja sama dengan pihak Korea, Om?” tanyaku, agak terkejut.
Om Haris mengangguk mantap. “Iya. Sebenarnya Om sudah lama kepikiran mau collab dengan pihak luar negeri, tapi bingung harus mulai dari mana. Setelah dengar penjelasanmu tadi, Om jadi semakin yakin. Mungkin kita bisa coba collab dengan Korea.”
“Papa yakin?” Henry menatap ayahnya.
“Yakin.” jawab Om Haris penuh keyakinan.
Aku hampir tidak bisa menahan senyumku. Bekerja sama dengan perusahaan Korea? Itu terdengar seperti mimpi bagiku.
Namun kebahagiaan itu seketika runtuh ketika Mama tiba-tiba membuka suara.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal kerja sama… bagaimana dengan rencana perjodohan Henry dan Ana?”
Aku langsung menoleh cepat. Begitu juga Henry. Kami berdua saling pandang, sama-sama terkejut dengan cara Mama menyinggungnya di tengah suasana makan malam.
“Jadi dong, Fir…” sahut Tante Cyntia dengan semangat.
“Tapi tunangan saja dulu,” potong Om Haris. “Henry masih banyak urusan di perusahaan. Perusahaan juga lagi sibuk.”
Papa ikut menimpali, “Aku setuju. Rumah sakit juga lagi padat-padatnya. Ditambah cuaca yang tidak menentu, banyak pasien masuk. Jadi lebih baik bertahap saja.”
“Oke, kalau begitu tunangan dulu,” kata Mama tegas. “Bagaimana kalau satu bulan lagi?”
Suasana meja makan seketika membeku.
“APA?!” seruku, Henry, dan Ana bersamaan.