NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Hening Hutan

Setelah berminggu-minggu membelah samudra yang ganas, kapal layar suku duyung itu akhirnya merapat di pesisir Benua Langit Barat.

Daratan ini terasa berbeda; udaranya lebih berat dengan energi Qi yang padat, dan pepohonannya menjulang tinggi seolah ingin menusuk langit.

​Malam itu, mereka memutuskan untuk bermalam di dalam hutan lebat sebelum mencari kota terdekat.

Api unggun berkertak pelan, memecah kesunyian malam. Lu Feng, yang kelelahan karena harus menjaga kemudi kapal selama sisa perjalanan, sudah mendengkur keras di balik sebatang pohon besar, botol arak kosong masih berada di pelukannya.

​Jian Yi duduk di dekat api, mengasah belati kecil dengan tenang. Di seberangnya, Ling'er duduk bersila.

Cahaya api unggun menari-nari di wajahnya yang kini dewasa sempurna. Garis wajahnya yang elegan, hidungnya yang bangir, dan bibirnya yang ranum menciptakan siluet yang begitu mempesona.

Ia bukan lagi "pedang" yang bisa ia simpan di saku; ia adalah kehadiran yang mendominasi batin Jian Yi.

​Jian Yi menghentikan kegiatannya, lalu menatap Ling'er cukup lama hingga gadis itu menoleh.

​"Kenapa? Kau terpesona melihatku?" goda Ling'er dengan suara dewasanya yang lembut namun penuh percaya diri.

​Jian Yi menghela napas, menyandarkan punggungnya pada akar pohon. "Kau memang sangat cantik, Ling'er. Mungkin wanita tercantik yang pernah kulihat di seluruh Benua Timur hingga ke sini."

​Pipi Ling'er merona tipis mendengar pujian jujur itu. Namun, Jian Yi melanjutkan dengan nada sedikit geli.

​"Tapi jujur saja... aku sebenarnya lebih suka kau yang dulu. Yang pendek, imut, dan punya pipi seperti bakpao yang bisa kucubit kapan saja. Kau yang sekarang terasa terlalu... agung. Aku jadi rindu memanggilmu Bakpao Kecil tanpa harus merasa bersalah karena menatap wanita dewasa."

​Ling'er terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil—suara tawa yang merdu namun penuh tantangan.

Ia berdiri dan melangkah perlahan mendekati Jian Yi, lalu berlutut di depannya.

Aroma wangi mutiara dan embun pagi yang melekat pada tubuhnya membuat jantung Jian Yi berdegup kencang.

​"Jadi kau rindu meremas pipiku, atau kau rindu meremas... hal lain?" Ling'er berbisik, matanya yang perak berkilat nakal di bawah cahaya bulan.

​Jian Yi sedikit tersedak. "Aku hanya jujur bahwa kau menggemaskan saat pendek."

​Ling'er mencondongkan tubuhnya ke arah Jian Yi, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter.

Ia tidak lagi malu-malu seperti saat mabuk racun tempo hari. Keberaniannya kini sejalan dengan kedewasaan raganya.

​"Jika kau benar-benar menginginkan sisi 'menggemaskanku' kembali, atau sekadar ingin aku tetap di sisimu seperti dulu..." Ling'er mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh bibir Jian Yi dengan lembut. "...ada harganya, Tuan Besar."

​"Harga?" Jian Yi menaikkan sebelah alisnya.

​"Cium aku," tantang Ling'er. "Tiga kali. Di sini, sekarang juga. Jika kau melakukannya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mengubah wujudku kembali menjadi imut sesekali hanya untukmu. Tapi jika tidak, aku akan tetap seperti ini dan membiarkanmu merasa canggung selamanya."

​Jian Yi menatap mata Ling'er, mencari jejak keraguan, namun yang ia temukan hanyalah gairah dan ketulusan.

Atmosfer di hutan itu mendadak menjadi sangat panas, jauh lebih panas dari api unggun di depan mereka.

​Perlahan, tangan Jian Yi meraih tengkuk Ling'er, menariknya mendekat.

​Ciuman pertama. Singkat namun lembut, hanya pertemuan permukaan bibir yang membuat aliran listrik merambat ke seluruh saraf mereka. Jian Yi bisa merasakan bibir Ling'er yang sangat lembut.

​Ciuman kedua. Kali ini lebih lama. Jian Yi mulai mencicipi rasa manis yang murni dari bibir sang pusaka. Ling'er mendesah pelan, tangannya mencengkeram jubah Jian Yi, menarik pria itu agar tidak ada lagi jarak di antara mereka.

​Ciuman ketiga. Ini bukan lagi sekadar perjanjian. Jian Yi membenamkan jemarinya di rambut perak Ling'er, menciumnya dengan dalam dan penuh rasa memiliki.

Ling'er membalasnya dengan keberanian yang membuat napas Jian Yi memburu. Gejolak dari Kristal Api di tubuh Ling'er menyatu dengan Qi Grand Master Jian Yi, menciptakan harmoni energi yang luar biasa di tengah hutan sunyi itu.

​Beberapa saat kemudian, Jian Yi melepaskan ciumannya, dahi mereka masih bersentuhan. Napas keduanya tersengal.

​"Tanggung jawabmu... semakin besar, Jian Yi," bisik Ling'er dengan suara parau, wajahnya memerah sempurna.

​Jian Yi tersenyum tipis, kali ini senyum yang penuh dengan kasih sayang. "Aku tidak keberatan memikul tanggung jawab ini selamanya."

​Di balik pohon besar, Lu Feng sedikit membuka satu matanya, menyeringai lebar sambil tetap berpura-pura mendengkur. "Akhirnya bocah itu berani juga." batinnya senang.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!