Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Sengaja Bertemu
...****************...
Hari-hariku sebagai host live streaming berjalan semakin stabil. Aku mulai akrab dengan teman-teman kerja. Sebagian besar dari mereka sudah menikah, hanya delapan orang yang masih single termasuk aku.
Total karyawan di tempat ini sekitar dua puluh orang, sudah termasuk penjaga toko dan security. Perlahan, rasa asing itu memudar.
Tempat ini yang awalnya terasa seperti persinggahan, kini mulai terasa akrab. Aku mulai betah.
Hari ini sepulang kerja, aku berencana belanja ke supermarket. Sekadar mengisi stok makanan dan camilan untuk sebulan ke depan. Apalagi ini gaji pertamaku rasanya pantas memberi sedikit hadiah untuk diri sendiri. Supermarket itu berada tepat di belakang kantor. Aku cukup berjalan kaki.
Saat sedang memilih barang, tanpa sengaja indra penciumanku menangkap aroma yang terasa… familiar. Harum itu persis seperti yang kucium di alun-alun tempo hari.
Tanganku mendadak terasa dingin, sedikit berkeringat. Dadaku berdebar cepat, tak terkendali. Aroma itu terasa begitu dekat.
Aku menarik napas, berusaha menenangkan diri.
Ah, ini cuma parfum pasaran, batinku. Banyak orang juga memakainya.
Aku memalingkan tubuh, hendak meletakkan barang belanjaan yang sejak tadi kugenggam ke troli belanjaanku.
Dan—
Jrreeeng.
Mataku terbelalak. Tepat di hadapanku.
Benar-benar di hadapanku.
Hana.
Ia sedang memilih sesuatu di rak seberang, fokus dengan barang di tangannya, seolah dunia di sekitarnya tak ada. Dadaku mendadak sesak.
Astaga… apa ini?
Beberapa detik terasa begitu panjang.
Lalu tiba-tiba, Hana menoleh. Mata kami bertemu.
Ia tampak terkejut namun belum sepenuhnya mengenaliku. Aku sendiri mematung, bingung harus bereaksi bagaimana.
Hana sempat menunduk lagi, memperhatikan kotak susu yang sedari tadi ia pegang, seolah mencoba mengingat sesuatu.
Dan entah mengapa, aku akhirnya membuka suara.
“Hana…”
Suaraku terdengar datar, kikuk, penuh ragu.
“Iya?”
Ia menoleh kembali ke arahku. Wajahnya tampak masih berusaha mengingat.
“Raka…?”
Lalu matanya membesar.
“Ach—Raka?!”
Aku terdiam.
Tak kusangka… Ia mengenaliku.
“Hana… kamu sendirian? Atau sama anak?” tanyaku, refleks menoleh ke kanan-kiri mencari sosok yang sempat kulihat tempo hari.
Namun tak ada siapa pun di dekatnya.
“Oh, aku sendiri. Anak-anak belum pulang sekolah. Habis dari sini aku sekalian jemput mereka,” jawabnya santai.
“Kamu sendiri, Ka? Atau sama teman?”
“Aku sendirian, Han.”
“Oh…”
Ia tersenyum lebar.
“Ya ampun, akhirnya kita ketemu juga. Aku bener-bener nggak nyangka.”
Aku ikut tersenyum kecil.
“Aku tahu kamu kerja jadi host,” lanjutnya antusias.
“Beberapa kali aku nonton, bahkan ikut check out juga.”
“Oh iya?” aku terkekeh kecil.
“Terima kasih ya. Maaf kalau host-nya masih membosankan,” kataku setengah bercanda.
“Ah, namanya juga belajar,” katanya ringan.
“Menurutku itu udah cukup bagus kok.”
Lalu ia menatapku sebentar, memberi senyum yang tulus.
“Lanjutin aja, ya. Semoga sukses.” Katanya memberiku semangat.
Walau ini pertemuan pertama kami secara nyata,
Hana membuat semuanya terasa akrab. Seolah jarak tak pernah ada. Mungkin karena terlalu sering berbagi cerita lewat layar, hingga dunia maya perlahan terasa nyata.
Dan akhirnya Hana pamit lebih dulu.
“Ka… aku duluan ya. Takut telat jemput anak-anak.”
“Iya, Hana. Hati-hati di jalan.”
Hana melangkah pergi, perlahan menghilang di antara rak-rak supermarket dan orang-orang yang lalu lalang. Aku masih berdiri di tempat yang sama, mematung beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Bahkan sempat lupa tadi aku hendak membeli apa.
Aku menarik napas pelan, lalu kembali mendorong troli dan melanjutkan belanja. Namun bayangannya tetap ikut berjalan bersamaku, menyelip di antara daftar kebutuhan yang tak lagi terlalu penting.
Pertemuan ini terasa… ringan.
Bukan karena tak ada rasa,
justru karena rasa itu masih ada dan aku menyadarinya.
Dadaku hangat, ada senang yang sulit dijelaskan.
Namun kali ini, tidak disertai keinginan untuk memiliki. Tidak juga diikuti luka yang mengoyak.
Aku tahu, perasaanku belum benar-benar hilang.
Nama Hana masih punya tempat di sudut hati yang tak mudah dipindahkan. Tapi aku juga tahu satu hal perasaan ini harus tahu diri.
Aku tersenyum kecil, lebih pada diriku sendiri.
Mulai hari ini, aku akan berusaha menepikan rasa itu. Menyimpannya rapih.
Karena Hana…hanya boleh menjadi teman.Tidak lebih.