Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Jam sudah menunjukkan pukul 12:30, waktu di mana kebanyakan manusia sudah terlelap dalam tidurnya. Namun sungguh berbeda di tempat ini, di tengah-tengah kota Jogja. lampu berkelap-kelip, dengan di iringi musik yang memekak telinga, namun yang berada di sana tidak terganggu sama sekali, dengan kerasnya musik yang berputar.
Muda mudi berjoget bebas di lantai altar, bau alkohol dan rokok yang sangat menyengat indra penciuman. Di tengah keramaian Dwika tengah duduk bersama wanita cantik dan seksi yang sedang bergelayut manja, di pangkuan nya. Dengan bajunya yang terlalu ketat seolah menjerit, karena tak mampu menampung tubuh gadis tersebut. Membuat beberapa tonjolan pada tubuh wanita Tersebut ter expos dengan transparan. Menyuguhkan ke indahan bagi pria hidung belang.
"Bebe, kenapa baru datang kemari, kemarin kemana saja? Pasti bersama kekasih mu yang buluk, dan kolot itu ya?" Rajuk wanita cantik dan seksi itu.
Dwika segera membujuk wanita seksi tersebut agar berhenti merajuk. "Beb, aku terpaksa, harus menempel pada wanita sok suci itu, jika tidak. Mana mungkin kita bisa happy-happy di tempat ini Bebe! Kamu jangan marah ya! Aku ini kan cinta nya cuma sama kamu!"
Gadis tersebut mendengus kesal, "Buktinya apa? Jika kamu lebih cinta aku dari pada Meisya, aku bukan wanita bodoh seperti Meisya ya!"
Dwika langsung mencondongkan tubuhnya untuk mencium leher jenjang wanita itu, "Buktinya kamu tahu sendiri, aku lebih suka bersama mu, menghabiskan malam panjang bersama dengan mu. Dan membelikan mu apa yang kamu mau, apa itu kurang cukup Bebe? rayu Dwika.
Gadis tersebut adalah sahabat dari Meisya sendiri. Tanpa sepengetahuan Meisya. Dwika dan Chelsea menjalin hubungan diam-diam di belakang Meisya. Padahal hubungan Chelsea dengan Meisya sangat lah dekat. Namun dia tega mengkhianati Meisya hanya demi egonya semata.
*
*
Sementara di Godean Nilam langsung datang ke rumah Nenek Wati, setelah beberapa hari, terus kepikiran dengan identitas Elang. Di dalam kamar Elang mengintip dari celah pintu kayu yang sedikit berlubang. Elang dapat melihat Nilam yang duduk dengan tidak tenang. Elang langsung tersenyum miring. "Mari kita bermain Mommy, seperti dulu, saat mommy mengajak ku bermain peran!"
Nilam sedang mengobrol ringan dengan mbah wati, menceritakan kedatangan Meisya dan Elang ketempat nya, dan menceritakan tentang kecurigaan identitas Elang sebagai putra nya. Mbah Wati segera memanggil elang untuk di ajak berdiskusi, disana pun juga ada Meisya yang kebetulan libur kerja.
Elang ber akting dengan baik seolah dia benar-benar tidak mengetahui segalanya, pandangan nya pada Nilam juga terlihat begitu alami, seolah-olah dia benar-benar tidak mengenal Nilam sama sekali.
"Bagaimana nak, kamu sudah menemukan KTP mu?" Tanya Nilam penuh, harap-harap cemas. Elang menyodorkan sebuah KTP keluaran China, dan foto nya terpampang jelas di sana. Teramat tampan dan gagah. Mbah wati dan Meisya ikut melirik ke arah KTP tersebut, namun sangat di sayangkan mereka berdua, tidak faham sama sekali dengan tulisan tersebut. Namun Nilam berbeda. Dia busa membaca dengan jelas tulisan yang tertera di sana.
"Wajah orang ini seperti ku, tetapi di dalam kartu ini, kenapa bernama Elang bukan Agus?' Tanya Elang seolah tidak mengerti.
Mbah Wati menepuk pelan pundak Elang. "Le, Agus itu, nama yang si mbah kasih ke kamu. Karena waktu itu kan, kamu ndak ingat apa-apa saat kita tanya tentang nama dan asal-usul mu. Dan mungkin saja nama mu memang Elang!"
Elang hanya mengangguk seolah baru mengerti. Sedangkan Nilam, ia memandang Elang dengan dalam, perasaan nya campur aduk menjadi satu, sedih, senang dan hawatir secara bersamaan. Dia ternyata benar-benar elang putranya. Anak yang ia kandung dan lahir kan dengan susah payah. Lalu bagaimana bisa Elang sampai berada di sini?
Tidak mungkin jika Chao Jinggou membiarkan Elang untuk mencari nya. Nilam menjadi curiga dengan mantan suaminya itu. Dan ber perasangka buruk, bahwa apa yang di alami putra mereka adalah ulah nya, agar Elang tidak dapat mengenali nya lagi.
Nilam memeluk tubuh Elang erat. Airmata nya luruh begitu saja, rasa rindu yang teramat besar, yang selama ini hanya bisa di pendam sendiri. Melihat emosi Nilam yang seperti itu, membuat Elang mengeryit heran. Bukan kah mommy nya ini yang dulunya pergi meninggalkan nya begitu saja, lalu untuk apa dia berlagak sedih seperti ini. Atau mungkin karena saat ini ada Nenek wati dan juga Meisya.
"Elang, ini mommy nak, mama kamu. Mbah, Meisya, dia ini, sebenarnya adalah putra ku. Yang ikut mantan suami ku di China. Entah apa yang membawanya ke sini, sehingga bisa sampai seperti ini." Tangis nya, menahan haru.
Elang mencoba melepaskan pelukan itu. "Ibu yakin, bahwa saya adalah putra ibu? Tapi Meisya pernah bilang, ibu ngak punya anak!"
Meisya malah jadi gelagapan sendiri. "Em, Agus, eh Elang , sebenarnya, aku sendiri juga tidak terlalu paham dengan kehidupan tante Nilam di luar negeri. Karena aku hanya mendengar desas desus dari tetangga." kata Meisya dengan perasaan tak enak pada Nilam.
Nilam Tersenyum ke arah Meisya. "Tak apa nak, memang saya yang tidak ingin menceritakan perihal kehidupan saya dulu di China, dan saya membiarkan orang lain ber pendapat lain tentang kehidupan saya."
Setelah percakapan yang lumayan panjang. Nilam meminta agar Elang ikut tinggal dengan nya, dan elang langsung menyetujui nya, bagaimana pun tujuannya datang ke Jogja adalah untuk mencari mommy nya. Sedangkan mbah wati merasa agak sedih. Sebulan bersama dengan Elang, mbah wati sudah terlanjur sayang sama Elang, sudah menganggap Elang seperti cucu nya sendiri.
Elang dan Nilam berpamitan untuk pulang. Dan entah kenapa perasaan Elang menjadi berat, ketika pandangan nya yang tertuju pada Meisya dan mbah wati. Yang sedang mengantarkan kepergian nya. Namun Elang menepis perasaan itu dan tetap bertekad untuk bersama sang mommy.
Mbah wati sedih memandang kepergian Elang, dia terus memandang ke arah Elang dan Nilam pergi, hingga hilang tak terlihat lagi.Meisya segera memeluk Neneknya. "Mbah jangan sedih, nanti kit Mei-mei kalau libur ajak si mbah main ke tempat tante Nilam. Agar mbah bisa ketemu lagi dengan Elang.
Mbah wati menghela nafas berat. "mbah, lebih suka manggil dia Agus mei, Agus itu anaknya baik rajin. Andai saja mei Agus yang menjadi calon suami mu, mungkin jika embah nanti gak ber umur panjang. Mbah akan bisa pergi dengan tenang."
"Hus.. Mbah ini ngomong apa sih? Jangan ngomong seperti itu, mbah itu berumur panjang, lagian Mei-mei gak mungkin sama Elang lah mbah. Kan Meisya sudah punya mas Dwika. Kata Meisya tak suka.
Mbah wati mendengus kasar. "Wes, terserah kamu ae lah mei, toh yang menjalani itu kamu bukan si mbah."
Setelah mengatakan itu, mbah wati segera masuk ke dalam rumah nya, meninggalkan Meisya yang masih di depan rumah.
Meisya menghela nafas berat. Kenapa ya sulit sekali membuat si mbah nya itu, bisa menerima hubungan nya dengan Dwika. Padahal Dwika adalah orang yang baik, lulusan pondok pula
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.