Setelah ibu mertuanya meninggal, Zara Hafizah dihadapkan pada kenyataan pahit. Suaminya, yakni Jaka telah menceraikannya secara tiba-tiba dan mengusirnya dari rumah. Zara terpaksa membesarkan anaknya yang masih berusia 6 tahun, seorang diri
kehidupan Zara semakin membaik ketika ia memutuskan hijrah dan bekerja di Ibu Kota.
Atas bantuan teman dekatnya,
Suatu hari, Zara bertemu dengan Sagara Mahendra, CEO perusahaan ternama dan duda dengan satu anak. Sagara sedang mencari sosok istri yang dapat menjaga dan mencintai putrinya seperti ibu kandungnya.
Dua orang yang saling membutuhkan tersebut, membuat kesepakatan untuk menikah secara kontrak.
Sagara membutuhkan seorang istri yang bisa menyayangi Maura putrinya dengan tulus.
Dan Zara membutuhkan suami yang ia harap bisa memberinya kehidupan yang lebih baik bagi dirinya serta Aqila putrinya.
Bagaimanakah perjalanan pernikahan mereka selanjutnya, akan kah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aqila mendadak sakit
Langit yang berwarna jingga dan merah, menjelang magrib, menandai akhir dari hari yang panjang dan melelahkan. kali ini Zara telah selesai melakukan aktivitas bekerja, dan ia mulai pergi meninggalkan area Hotel dengan wajah yang lelah tapi lega. Meskipun hari ini Suasana nya sangat berbeda, hanya Ibu Mitha lah yang selalu setia menemani nya selama ia bekerja.
Setibanya di rumah dewi, Zara merasa heran, biasanya Aqila selalu datang menyambutnya, ia pun buru-buru mencari keberadaan putrinya. Sedangkan Dewi sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu karena adanya suatu hal penting yang sangat mendesak, tadinya Dewi ingin menunggu Zara tiba di rumah, karena Dewi sangat mengkhawatirkan Aqila yang sejak dari tadi siang selalu terlihat murung.
Dan Dewi pun buru-buru menghubungi Zara yang pada saat itu posisi nya masih di jalan menuju pulang dengan menggunakan ojeg online, karena di jam seperti itu, pastinya ia akan terjebak oleh arus jalan lalu lintas yang telah macet total
Saat Zara menuju kamar tidurnya, Zara terkejut melihat Aqila meringis kesakitan bahkan sampai guling-gulingan di atas ranjang tempat tidur. Sontak Zara menjerit histeris sambil memanggil nama Aqila.
"Lala, kamu kenapa?"
"Sakit Bun, perut Lala sakit sekali!" pekiknya dengan posisi memegang perutnya di bagian sebelah kiri.
"Kita ke dokter ya Nak, Bunda tidak tega melihatmu kesakitan seperti itu!" tanpa berfikir panjang, Zara bergegas membawa aqila ke rumah sakit dengan langsung menggendongnya.
Zara sempat kebingungan saat dirinya mencari kendaraan menuju rumah sakit.
"Loh Zara, anakmu kenapa?" tanya Mpok Surti tetangga nya Dewi dan ia cukup mengenal Zara.
"Lala Mpok, perutnya sakit dan wajahnya pucat sekali!" jawab Zara sangat panik.
"Yasudah Ra, biar anak Mpok yang anter ya!" kemudian Mpok Surti buru-buru memanggil anak bujang nya.
Dengan perasaan cemas nya, Zara menunggu anak Mpok Surti.
Beruntungnya tidak butuh waktu lama, anak Mpok Surti datang sambil mengeluarkan motor matic nya.
"Bunda, sakit Bun! Perutku sakit sekali!" rengek Aqila yang terus-terusan memegang perutnya.
"Ayo Mba cepetan naik, kasihan Lala, sudah kesakitan seperti itu!" ujar Dika, anak dari Mpok Surti.
Zara pun bergegas naik motor sambil menggendong Aqila.
Hampir tiga puluh menit, kini Zara dan Aqila tiba di salah satu rumah sakit yang cukup terkemuka di negeri ini, karena hanya rumah sakit itulah yang jaraknya lebih dekat, namun yang terpenting Lala bisa segera di tindak oleh Dokter
Kini Zara di temani oleh Dika, sedari tadi Dika terus saja memperhatikan Zara yang terus saja mondar mandir di depan ruang IGD. Zara terlihat begitu cemas akan kondisi Lala.
'Yaa Rabb, tolong lindungilah selalu Aqila, angkatlah penyakitnya!' doanya dalam hati.
Sekitar hampir satu jam, akhirnya Dokter yang memeriksa Aqila memanggil Zara, ada hal penting yang ingin di bicarakannya, sedangkan Dika memilih untuk tetap setia menunggu Zara di ruang tunggu IGD, baginya bisa sedekat ini dengan Zara sungguh kesempatan yang sangat langka, siapa sangka jika Dika selama ini diam-diam telah menaruh hati terhadap Zara, namun ia tidak berani untuk mengutarakannya, hanya saja, Dika selalu bersikap baik terhadap Aqila.Menurutnya itu adalah cara terampuh untuk menaklukan ibunya, yakni dengan cara mendekati anaknya terlebih dahulu.
"Baiklah Ibu Zara, dengan berat hati saya menyampaikan berita kurang baik ini kepada anda, dimana saat ini kondisi putri anda telah mengalami tidak berfungsinya ginjal di bagian sebelah kiri!"
Kata-kata yang di lontarkan oleh sang dokter, sudah seperti sebuah petir yang menghantam hatinya. Aqila adalah satu-satunya keluarga yang Zara miliki, yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya, kini saat Aqila di diagnosa memiliki penyakit seperti itu. Zara merasa seperti sedang berada di dalam sebuah keadaan yang tidak nyata, di mana segalanya menjadi gelap dan tidak berarti untuknya.
Zara hanya bisa menangis menahan rasa sakit di dadanya, baginya mengapa cobaan hidup nya tidak pernah ada habisnya?
"tapi Dok, kenapa putriku bisa terkena penyakit seperti itu? Padahal Aqila jarang sekali jajan sembarangan, dan aku pun selalu menjaga pola makannya." ucapnya masih tidak percaya.
"Sebenarnya ini, Bukanlah dari faktor makanan, Bu! Tapi ada faktor lainnya, dulu saat pasien di lahirkan, usia kandungan ibu sudah berapa bulan?" tanya sang Dokter.
Zara pun kembali mengingat momen dimana pada saat itu Kakanya melahirkan Aqila karena kondisi dan keadaan, ketika itu Kak Nabila jatuh ke dalam parit di belakang rumah, sehingga mengalami pecah ketuban, dan pada saat itu usia kandungannya masih genap tujuh bulan.
"Waktu itu usia kandunganku tujuh bulan Dok, dan Putriku lahir karena keadaan yang memaksa nya untuk segera di lahirkan, memangnya dari situ bisa berpengaruh dok?" tanya nya berbohong soal dirinya yang telah melahirkan Zara.
Kemudian Dokter pun mulai menjelaskan semuanya.
"Jadi begini Ibu Zara, pada saat ibu melahirkan pasien dalam keadaan prematur, ada salah satu organ di dalam tubuhnya belum bisa berfungsi secara maksimal, dan sepertinya ada kelainan terhadap salah satu ginjal putri anda, dan baru terasanya saat ini!"
Mendengar perkataan dari Dokter, Zara hanya bisa terduduk lemas.
"Lantas apakah putriku bisa di sembuhkan Dok?" tanya kembali Zara yang tetap berusaha tegar.
"50:50 jawabannya Bu, dan hanya dengan melakukan operasi transplantasi ginjal yang bisa menyelamatkan hidupnya." cakapnya membuat Zara masih tidak percaya dengan keadaan ini, rasanya cobaan ini begitu berat untuknya dan juga Aqila.
"Lantas berapa biaya untuk transplantasi ginjal Dok?"tanyanya kembali, sambil meremas kedua tangannya karena jujur saja saat ini seluruh tubuhnya tengah gemetar
"Kurang lebih tiga sampai empat ratus juta, dan rumah sakit ini tidak bisa mengcover biaya transplantasi ginjal dengan asuransi swasta maupun pemerintah, hanya saja yang bisa di cover oleh pihak asuransi adalah saat pasien harus melakukan cuci darah, empat kali dalam satu bulan.
"Empat ratus juta Dok? Dan barusan Dokter bilang bahwa putriku harus melakukan tindakan cuci darah?" Zara benar-benar serasa kembali di sambar petir mendengar penjelasan dari sang Dokter.
"Betul sekali Bu, agar ginjal putri ibu bisa berfungsi dengan baik karena pada dasarnya, tubuh manusia itu membutuhkan dua ginjal, mengapa putri ibu harus melakukan cuci darah? Yang pertama adalah untuk mengeluarkan limbah beracun dalam darah, yang kedua untuk mengurangi gejala gagal ginjal seperti sesak, mual dan juga muntah, dan yang ketiga untuk mengatur keseimbangan elektrolit dan cairan dalam tubuh pasien."
Penjelasan dari Dokter yang menangani Aqila cukup bisa di mengerti oleh Zara, ia pun akan berusaha mati-matian mencari dana untuk biaya transplantasi ginjal putri tercintanya.
Saat Dewi mendapatkan berita tentang sakitnya Aqila yang secara tiba-tiba, ia benar-benar merasa sangat syok di buatnya, ia pun bergegas langsung pergi ke rumah sakit setelah ia pulang dari tempat ia bekerja.
Sedangkan Dika yang tadinya berniat untuk menemani Zara, kini kandas setelah Zara memintanya untuk segera pulang, mengingat besok Dika harus kembali bekerja, dan Zara tidak mau sampai Dika tidak masuk bekerja gara-gara dirinya, tidak lupa Zara mengucapkan banyak terimakasih kepada Dika karena sudah menolong nya.
Setelah kepergian Dika tidak lama kemudian Dewi tiba di rumah sakit,sambil membawa makanan di dalam kantong kresek.
Ia bergegas menuju kamar rawat inap pasien khusus anak-anak.
Dan akhirnya Dewi menemukan kamar yang ia cari, di lihatnya Zara sedang duduk termenung sambil menatap putrinya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang pasien.
"Ra!" ucap Dewi dan langsung memeluk Zara.
"Wi, Lala Wi..!" tiba-tiba Zara menghentikan perkataan nya.
"Lala kenapa Ra? Ayo ceritakan lah padaku!"
Akhirnya Zara menceritakan apa yang telah terjadi terhadap Aqila.
"Apa? Pasti ada kesalahan Ra, tidak mungkin Lala mengalami sakit ginjal, usianya masih kecil!" jawabnya ya tidak percaya.
"Tapi ini nyata Wi, ternyata Aqila sudah memiliki kelainan ginjal sejak ia baru lahir, hanya saja pada saat Aqila lahir secara prematur, tidak menunjukan gejala apapun Wi semuanya terlihat normal saja, dan menurut Dokter, memang akan terasa dampaknya setelah beberapa tahun kemudian!"
"Lantas berapa biaya untuk transplantasi ginjalnya Aqila Ra?"
Zara langsung terdiam, ia malah kembali menangis sampai terisak, bibirnya gemetar saat ia harus menyebut kan angka yang sangat fantastis.
"Tiga sampai empat ratus juta Wi!"
Mendengar perkataan dari Zara, sontak Dewi tercekat, ia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang telah di katakan oleh Zara barusan.
"Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu Ra?"tanya Dewi sambil memijit pelipis kepalanya.
"Entahlah Wi, aku bingung harus mencarinya kemana!" jawabnya sembari menghela nafas panjangnya.
Bersambung...
sabar saga tunggu halal 😁