Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedekatan yang Tak Direncanakan
Setelah pertemuan di danau malam itu, ada sesuatu yang perlahan berubah di antara Lala dan Rendra. Tidak ada pernyataan, tidak pula kesepakatan apa pun. Hubungan mereka tetap bernama pertemanan, namun jaraknya tak lagi sejauh dulu.
Jika sebelumnya mereka hanya bertemu saat circle pertemanan mereka yang lain berkumpul, kini kebersamaan itu hadir lebih sering mulai sepulang kerja hanya untuk makan malam bersama atau sekadar duduk berdua sambil saling mengeluhkan hari yang terasa melelahkan.
Mereka mulai saling terbiasa. Terbiasa berbagi cerita tanpa harus menunggu momen besar. Terbiasa mendengar keluh tanpa merasa sungkan. Dan tanpa disadari, kehadiran satu sama lain menjadi bagian kecil yang menyenangkan di sela rutinitas yang melelahkan.
Pada suatu siang, saat jam istirahat kantor tiba, Lala memilih tidak turun ke kantin seperti biasanya. Hari itu ia membawa bekal dari rumah nasi hangat, lauk sederhana, dan sambal favorit buatan mamanya. Ia duduk sendiri di pantry, menikmati makan siangnya sambil sesekali menggeser layar ponsel, menonton video random dari salah satu platform.
Baru beberapa suap, layar ponselnya menampilkan notif WhatsApp.
Rendra:
La, lo hari Minggu ini udah ada agenda belum?
Lala mengunyah pelan, lalu membalas santai.
Lala:
Minggu kosong sih. Rencananya mau males-malesan di rumah wkwk.
Tak sampai semenit, balasan dari Rendra muncul lagi, seolah sudah menunggu jawaban itu.
Rendra:
Nah daripada leha-leha ga ngapa-ngapain, mending lo ikut gue.
Alis Lala sedikit terangkat. Ia berhenti makan sejenak.
Lala:
Ikut ke mana?
Beberapa detik kemudian, jawaban singkat muncul, tapi cukup membuat Lala terdiam.
Rendra:
Nikahan Shila.
Lala refleks menurunkan ponselnya, menatap kosong ke arah dispenser pantry. Jantungnya berdegup kecil, antara kaget dan tidak percaya. Ia kembali menatap layar.
Lala:
Serius lo mau dateng?
Balasan Rendra kali ini terasa lebih ringan, bahkan disertai nada mengejek yang sudah Lala kenal betul.
Rendra:
Gue gentle, ga kaya lo yang takut dateng ke nikahan mantan.
Lala mendengus kecil.
Lala:
Gue bukan takut yaa. Gue emang ada agenda lain waktu itu, makanya ga dateng!
Belum sempat Lala menyimpan ponselnya, layar kembali menyala kali ini panggilan masuk dari Rendra. Dengan setengah malas, setengah penasaran, Lala mengangkatnya.
“Halo,” jawabnya sambil melanjutkan makan.
“Lo lagi istirahat kan?” suara Rendra terdengar santai di seberang.
“Iya, dan lo ganggu makan siang gue,” balas Lala datar.
Rendra tertawa kecil. “Sorry deh kalo ganggu.”
Lala tak menjawab, hanya terdengar suara sendok mengenai kotak makan.
“Gue serius, La,” lanjut Rendra, nadanya berubah sedikit lebih pelan. “Please temenin gue dateng.”
Lala terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, memikirkan permintaan itu sambil menatap
bekalnya yang hampir habis.
“Yaudah,” akhirnya ia berkata. “Gue temenin.”
“Serius?” suara Rendra terdengar lega.
“Iya. Tapi ga ada dress code aneh-aneh kan? Gue males kalo ribet.”
“Tenang, ga ada,” jawab Rendra cepat.
“Pokoknya lo dandan rapi aja. Nanti gue jemput ke rumah. Sekalian gue berangkat dari rumah nyokap.”
“Oke, sip,” jawab Lala singkat.
“Yaudah, lanjutin makan lo,” kata Rendra. “Selamat makan.”
Telepon pun terputus.
Lala menatap ponselnya beberapa detik setelah layar kembali gelap. Ia kembali menyuap makanannya, kali ini dengan senyum kecil yang bahkan tak ia sadari muncul di wajahnya.
—-
Tak terasa tiga hari berlalu sejak percakapan itu. Hari Minggu pun tiba, namun entah mengapa pagi terasa sedikit berbeda bagi Lala.
Di depan cermin kamarnya, Lala berdiri cukup lama. Ia memerhatikan pantulan dirinya sendiri, memastikan tak ada yang terasa berlebihan atau justru kurang. Setelah beberapa detik menimbang, ia mengangguk kecil pada bayangannya sendiri, seolah meyakinkan diri bahwa penampilannya sudah cukup.
Ia kemudian beranjak ke ruang tengah, ikut bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang menonton tv, duduk di sofa sambil sesekali melirik ponsel di tangannya. Rendra sudah mengabari bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Meski mencoba terlihat santai, Lala tak bisa memungkiri ada rasa gugup kecil yang membuatnya tak bisa diam terlalu lama.
Lala mengenakan dress midi berwarna sage green. Sederhana, tanpa banyak detail, dengan potongan yang jatuh mengikuti tubuhnya tidak terlalu ketat, tidak pula longgar. Warnanya memberi kesan tenang sekaligus segar, membuat wajahnya terlihat cerah tanpa usaha berlebihan.
Rambutnya dibiarkan tergerai dengan gelombang halus di bagian ujung, sesekali ia selipkan ke belakang telinga. Riasan wajahnya pun ringan bedak tipis, sedikit blush, dan lipstik bernuansa peach yang memberi kesan hangat. Sepasang anting kecil menghiasi telinganya, nyaris tak mencolok.
Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari depan rumah.
Lala bangkit dan berjalan ke arah pintu. Begitu melihat Rendra berdiri di sana, ia refleks berhenti melangkah.
“Loh… kok bisa sama?” ucap Lala spontan.
Rendra menunduk lalu melirik bajunya sendiri sebelum kembali menatap Lala.
“Ya gue mana tau lo pake warna ini juga,” jawabnya cepat, nada suaranya terdengar tak terima, seolah merasa dituduh sengaja.
Lala melipat tangan di depan dada. “Lo cenayang ya? Sejak kapan?”
Rendra terkekeh kecil. “Yaudah sih. Anggap aja ini bukti,” katanya santai.
“Pertemanan kita tuh udah klop. Warna baju aja bisa sama padahal ga janjian.”
Lala mendengus pelan, menahan senyum yang hampir muncul. Wajahnya sedikit cemberut, meski jelas bukan marah sungguhan.
“Yaudah, ayo,” ujarnya akhirnya. “Pamit dulu.”
Mereka masuk kembali ke dalam rumah. Kedua orang tua Lala masih duduk santai di ruang tengah, menonton televisi. Lala dan Rendra berpamitan dengan kedua orang tua lala.
“Om, Tante, kami berangkat dulu ya,” ujar Rendra.
“Iya, hati-hati di jalan,” jawab ibunya Lala sambil tersenyum.
Setelah berpamitan, mereka melangkah keluar rumah dan menuju mobil Rendra yang terparkir di depan. Kali ini Rendra memilih membawa mobil miliknya. Alasannya sederhana nanti mereka akan mampir ke rumah orang tuanya dan kemungkinan membawa beberapa barang, sesuatu yang jelas tidak memungkinkan jika menggunakan motor.
Perjalanan menuju lokasi pernikahan diisi dengan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh keheningan singkat. Bukan karena tak ada bahan bicara, melainkan karena keduanya sama-sama sibuk dengan pikirannya sendiri. Lala lebih sering menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan akhir pekan, sementara Rendra fokus menyetir, hanya sesekali melirik spion.
Tak lama, mobil Rendra memasuki area gedung pernikahan. Sebuah gedung serbaguna yang cukup besar, dengan karangan bunga ucapan selamat terpampang di depan. Nama pengantin tertulis jelas, lengkap dengan foto prewedding yang terlihat begitu bahagia.
Lala membaca nama itu dalam hati.
Ia menarik napas pelan.
“Parkirnya di sana,” ucap Rendra, suaranya terdengar datar namun terkendali.
Setelah mobil terparkir, mereka turun hampir bersamaan. Suasana di sekitar gedung cukup ramai. Para tamu berdatangan dengan pakaian rapi, sebagian berfoto di depan backdrop, sebagian lain sibuk menyapa kerabat.
Begitu melangkah masuk, aroma bunga bercampur pendingin ruangan langsung menyambut mereka. Musik lembut mengalun pelan, mengiringi langkah para tamu yang bergerak menuju meja penerima tamu.
Lala melirik Rendra sekilas. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang, justru. Ekspresinya sulit dibaca, seolah ia sudah menyiapkan diri sejak awal untuk berada di tempat ini.
“Lo gapapa kan?” tanya Lala pelan, lebih seperti memastikan daripada benar-benar bertanya.
Rendra mengangguk kecil. “Santai aja,” jawabnya singkat.
Mereka mengisi buku tamu lalu berjalan masuk ke dalam ballroom. Di dalam, dekorasi didominasi warna putih dan krem, dengan rangkaian bunga yang tertata rapi di sepanjang jalan menuju pelaminan. Di sana, kedua pengantin duduk berdampingan, tersenyum ramah menyambut tamu satu per satu.
Lala refleks memperlambat langkahnya saat jarak mereka semakin dekat dengan pelaminan. Ia bisa merasakan perubahan kecil pada sikap Rendra, ada sesuatu yang mengeras di bahunya, seperti usaha untuk tetap berdiri tegak.
Beberapa langkah sebelum giliran mereka tiba, Rendra berhenti sejenak.
“Lala,” ucapnya lirih.
“Thank you ya.”
Lala menoleh. “Buat?”
“Buat nemenin,” jawab Rendra singkat, tapi kali ini ia menatap Lala dengan serius.
Lala mengangguk kecil. “Ayo.”
Mereka melangkah maju. Rendra menyalami pengantin pria dengan senyum sopan, mengucapkan selamat dengan suara yang stabil. Saat beralih ke mempelai perempuan, ekspresinya tetap terjaga. tenang, dewasa.
Lala berdiri di sampingnya, memberi ucapan selamat sewajarnya. Ia tak terlalu lama menatap wajah sang pengantin perempuan, tapi cukup untuk menangkap kilasan kebahagiaan yang nyata di sana.
Setelah itu, mereka melangkah menjauh dari pelaminan.
Begitu jarak mereka cukup aman dari keramaian, Rendra menghembuskan napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang berat.
“Lo keren,” ujar Lala akhirnya.
Rendra terkekeh kecil, getir. “Cuma pura-pura.”
Mereka berjalan menuju area kursi tamu, mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Dari kejauhan, tawa, obrolan, dan suara sendok yang beradu dengan piring terdengar samar. Di tengah semua itu, Lala menyadari satu hal kehadirannya di sini bukan sekadar menemani, tapi menjadi penyangga yang tak diucapkan.
Dan entah sejak kapan, posisi itu terasa semakin berarti.
Acara berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Setelah menyantap hidangan dan berbasa-basi seperlunya dengan beberapa tamu yang dikenali Rendra, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Begitu melangkah keluar dari ballroom, suasana langsung berubah. Udara malam menyambut dengan lebih longgar, lebih jujur. Lampu-lampu gedung menyala temaram, sementara suara musik dari dalam perlahan meredup di balik pintu kaca yang tertutup.
Lala menarik napas panjang.
“Capek juga ya, ketemu orang banyak” ujarnya ringan, sekadar memecah hening.
“Iya,” jawab Rendra. Kali ini nadanya terdengar lebih santai dibanding saat di dalam tadi.
Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, seolah tak ingin terburu-buru mengakhiri hari.
“Lo nyesel ga dateng?” tanya Lala akhirnya. Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa persiapan.
Rendra berhenti melangkah. Lala ikut berhenti dan menoleh ke arahnya.
Rendra menghela napas, menatap lurus ke depan, bukan ke arah Lala.
“Enggak,” katanya setelah jeda singkat.
“Berat sih iya. Tapi nyesel enggak.”
Lala mengangguk pelan. Ia tak menyela, membiarkan Rendra melanjutkan jika memang ingin.
“Gue kira gue bakal lebih… ancur,” lanjut Rendra, suaranya lebih rendah.
“Tapi ternyata enggak. Mungkin karena gue udah capek duluan.”
“Capek?” tanya Lala lembut.
“Capek berjuang sendirian,” jawabnya jujur.
Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Lala merasakannya bukan sebagai pengakuan dramatis, tapi sebagai sisa luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Lo tau ga,” ucap Lala pelan, “dateng ke sini hari ini tuh bukti kalo Lo udah jauh lebih kuat dari yang Lo kira.”
Rendra menoleh ke arah Lala, kali ini benar-benar menatapnya.
“Menurut Lo?”
“Iya,” jawab Lala mantap. “Orang yang masih belum selesai sama masa lalunya ga bakal sanggup berdiri setenang itu.”
Rendra tersenyum kecil. Bukan senyum lebar seperti biasanya, tapi senyum yang tulus.
“Gue ga nyangka Lo bakal ngomong gitu.”
“Ya masa gue bilang, ‘sabar ya Ren, jodoh ga kemana,’” balas Lala santai.
Rendra tertawa kecil, lebih lepas. “Nah itu baru bikin gue nyesel dateng.”
Mereka kembali berjalan. Mobil Rendra sudah terlihat tak jauh di depan. Sebelum membuka pintu, Rendra berhenti lagi.
“La,” panggilnya.
“Hmm?”
“Makasih ya. Bukan cuma hari ini. Tapi belakangan ini.”
Lala terdiam sebentar, lalu mengangguk.
“Sama-sama.”
Rendra membuka pintu mobil, memberi isyarat agar Lala masuk lebih dulu. Saat mesin dinyalakan dan mobil mulai melaju meninggalkan gedung, Lala melirik spion lampu gedung pernikahan itu perlahan menjauh, mengecil, lalu menghilang di tikungan.
Dan untuk pertama kalinya, Rendra merasa beberapa hal memang harus ditinggalkan, supaya yang baru punya ruang untuk tumbuh.
semangat kak... salam dari Edelweiss...