Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 PEMBICARAAN SINGKAT
Alex terus menjelaskan rencananya. "Kita harus mulai dengan mengumpulkan bukti tentang Wong dan orang-orang yang membantunya. Aku telah memiliki beberapa informasi tentang salah satu orang yang membantunya, seorang pengacara bernama Marcus."
Steve Lim mengangguk. "Baiklah, apa yang kita lakukan dengan Marcus?"
Alex tersenyum. "Aku akan mencoba untuk menghubungi Marcus dan membuatnya berpikir bahwa kita bisa dipercaya. Aku akan membuatnya percaya bahwa kita bisa membantunya mendapatkan uang yang lebih banyak daripada Wong."
Ruolan Tan memandang Alex dengan skeptis. "Aku tidak yakin itu akan berhasil, Alex. Wong pasti telah memberinya instruksi untuk tidak mempercayai siapa pun."
Alex mengangguk. "Aku tahu, tapi aku memiliki beberapa trik di tangan. Aku akan membuatnya berpikir bahwa kita memiliki informasi yang bisa membantunya, dan dia akan menjadi lebih percaya diri."
Steve Lim memandang Ruolan Tan. "Aku pikir itu bisa berhasil, Ruolan. Kita harus mencoba."
Ruolan Tan mengangguk. "Baiklah, tapi kita harus berhati-hati. Wong tidak akan ragu untuk membunuh kita jika dia tahu apa yang kita lakukan."
Alex tersenyum. "Aku tahu, itulah mengapa kita harus sangat berhati-hati. Aku akan menghubungi Marcus dan membuat rencana untuk bertemu dengannya."
Steve Lim memandang Alex. "Baiklah, kita akan menunggu kabar dari kamu. Semoga berhasil, Alex."
Alex mengangguk dan mengambil ponselnya. "Aku akan menghubungi Marcus sekarang. Tahan posisi, aku akan membuat rencana."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang lembut. "Aku tidak suka ini, Steve. Aku merasa bahwa kita sedang berjalan di atas es tipis."
Steve Lim memegang tangannya. "Aku ada di sini, Ruolan. Aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan melalui ini bersama-sama."
Alex selesai menghubungi Marcus dan memandang mereka berdua. "Baiklah, aku telah membuat rencana untuk bertemu dengan Marcus besok pagi. Dia akan memberiku informasi tentang Wong dan orang-orang yang membantunya."
Steve Lim dan Ruolan Tan mengangguk, siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok.
Keesokan Harinya...
Alex, Steve Lim, dan Ruolan Tan duduk di sebuah kafe kecil di pinggir kota, menunggu Marcus tiba. Mereka berdua sudah tiba lebih awal, mempersiapkan diri untuk pertemuan itu.
"Aku tidak suka ini," kata Ruolan Tan, suaranya lembut. "Aku merasa bahwa kita sedang berjalan ke dalam perangkap."
Steve Lim memegang tangannya. "Aku ada di sini, Ruolan. Aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan melalui ini bersama-sama."
Alex memandang mereka berdua dengan mata yang tenang. "Aku sudah memeriksa Marcus, dia tidak memiliki catatan kriminal. Aku pikir dia aman."
Tiba-tiba, Marcus masuk ke dalam kafe, memandang sekeliling dengan mata yang waspada. Alex mengangkat tangan, dan Marcus mendekati mereka.
"Halo, Marcus," kata Alex, suaranya ramah. "Terima kasih telah datang."
Marcus duduk di seberang mereka, memandang Alex dengan mata yang tajam. "Apa yang kamu inginkan, Alex? Aku tidak memiliki waktu untuk ini."
Alex tersenyum. "Aku tahu kamu sibuk, Marcus. Aku hanya ingin berbicara tentang Wong. Aku tahu kamu bekerja untuknya."
Marcus tidak bereaksi, tapi Alex bisa melihat sedikit perubahan di matanya. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
Alex tersenyum lagi. "Jangan main-main, Marcus. Aku tahu kamu bekerja untuk Wong. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan."
Marcus memandang Alex dengan mata yang dingin. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku hanya ingin pergi dari sini."
Steve Lim memandang Marcus dengan mata yang tajam. "Jangan pergi, Marcus. Kita belum selesai berbicara."
Marcus berhenti, memandang Steve Lim dengan mata yang waspada. "Apa yang kamu inginkan?"
Alex tersenyum. "Aku ingin tahu tentang Wong. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan. Dan aku ingin tahu bagaimana kamu bisa membantunya."
Marcus memandang Alex dengan mata yang dingin. "Aku tidak akan memberitahu kamu apa pun."
Alex tersenyum lagi. "Aku tahu kamu tidak akan memberitahu kami apa pun. Tapi aku punya cara untuk membuat kamu berbicara."
Marcus memandang Alex dengan mata yang waspada. "Apa yang kamu maksud?"
Alex tersenyum. "Aku punya bukti. Aku punya bukti yang bisa membuat kamu masuk penjara selama-lamanya."
Marcus berhenti, memandang Alex dengan mata yang takut. "Apa yang kamu inginkan?"
Alex tersenyum. "Aku ingin tahu tentang Wong. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan. Dan aku ingin tahu bagaimana kamu bisa membantunya."
Marcus memandang Alex dengan mata yang lembut. "Baiklah, aku akan memberitahu kamu. Tapi kamu harus berjanji untuk melindungi aku dan keluargaku."
Alex tersenyum. "Aku berjanji, Marcus. Aku akan melindungi kamu dan keluargamu. Sekarang, apa yang kamu tahu tentang Wong?"
Marcus mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. "Wong memiliki rencana besar untuk menghancurkan perusahaan Steve Lim. Dia telah mengumpulkan banyak uang dan sumber daya untuk melakukan itu."
Steve Lim memandang Marcus dengan mata yang tajam. "Apa yang dia rencanakan?"
Marcus memandang sekeliling kafe sebelum melanjutkan. "Dia berencana untuk membeli saham perusahaanmu, Steve Lim, dan kemudian mengambil alih perusahaan itu. Dia juga berencana untuk menghancurkan reputasi kamu dan membuat kamu kehilangan segalanya."
Ruolan Tan memandang Marcus dengan mata yang marah. "Bagaimana dia bisa melakukan itu?"
Marcus memandang Ruolan Tan dengan mata yang lembut. "Dia memiliki banyak koneksi dan sumber daya. Dia juga memiliki beberapa orang yang bekerja untuknya di dalam perusahaan Steve Lim."
Alex memandang Marcus dengan mata yang tajam. "Siapa orang-orang itu?"
Marcus memandang Alex dengan mata yang takut. "Aku tidak tahu nama mereka. Wong tidak memberitahu aku tentang itu. Tapi aku tahu bahwa mereka ada di dalam perusahaan Steve Lim."
Steve Lim memandang Marcus dengan mata yang dingin. "Aku akan menemukan mereka. Aku akan menghancurkan Wong dan orang-orang yang membantunya."
Marcus memandang Steve Lim dengan mata yang lembut. "Aku berharap kamu bisa melakukannya, Steve Lim. Aku tidak ingin melihat Wong menang."
Alex memandang Marcus dengan mata yang tajam. "Aku akan memastikan bahwa Wong tidak akan pernah menang. Aku akan menghancurkan dia dan orang-orang yang membantunya."
Marcus mengangguk. "Aku percaya padamu, Alex. Aku akan memberitahu kamu apa pun yang aku tahu tentang Wong."
Alex tersenyum. "Aku menghargai itu, Marcus. Aku akan melindungi kamu dan keluargamu."
Marcus mengangguk dan berdiri. "Aku harus pergi sekarang. Aku tidak ingin Wong tahu bahwa aku berbicara dengan kamu."
Alex mengangguk. "Aku paham. Aku akan menghubungi kamu jika aku membutuhkan informasi lagi."
Marcus mengangguk dan pergi dari kafe, meninggalkan Alex, Steve Lim, dan Ruolan Tan untuk membahas rencana mereka selanjutnya.