NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Bulan Ke Delapan - Niat Ibu Kai Melamar Yuki

Malam semakin larut, dan rumah itu kembali diselimuti keheningan yang tenang. Kai masih duduk di ruang keluarga, pikirannya berkelana pada kata-kata ibunya. Rencana pernikahan itu terasa seperti sesuatu yang besar bukan menakutkan, tapi penuh tanggung jawab. Ia menatap jendela, melihat pantulan dirinya sendiri, lalu menghela napas panjang seolah sedang menyusun keberanian.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki pelan terdengar dari tangga. Yuki muncul, menggendong Ai yang setengah terbangun karena haus. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya masih terlihat lelah, tapi lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.

“Maaf… aku dengar Ai merengek,” katanya lirih.

Kai segera berdiri. “Biar aku bantu.”

Ia menyiapkan air hangat, menyerahkan botol pada Yuki, lalu berdiri sedikit menjauh, memberi ruang. Ai minum dengan tenang, matanya setengah terpejam. Setelah selesai, Yuki menepuk punggung kecil itu perlahan sampai napasnya kembali teratur.

“Terima kasih,” ucap Yuki pelan.

Kai mengangguk. “Kau juga harus istirahat.”

Yuki tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Sejak di sini… semuanya terasa lebih aman.”

Ada jeda di antara mereka. Kai ingin mengatakan banyak hal, tapi memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Yuki… kalau suatu hari nanti kau merasa siap… aku ingin kau tahu, rumah ini bukan hanya tempat singgah. Kau dan Ai… kalian diterima.”

Yuki menatap Kai, sedikit terkejut, lalu menunduk. “Aku tahu. Dan… aku sangat berterima kasih. Tanpa kalian, aku tidak tahu harus ke mana.”

Kai mengusap tengkuknya, canggung. “Aku tidak ingin kau merasa berutang apa pun. Aku hanya… ingin kalian aman.”

Yuki mengangguk. “Aku mengerti.”

Di ambang pintu, Ibu Kai mengamati mereka dengan senyum lembut. Ia tidak menyela, hanya merasa lega melihat jarak di antara mereka semakin tipis, bukan karena paksaan, tapi karena kepercayaan yang tumbuh pelan.

“Sudah larut,” ucap Ibu Kai akhirnya. “Besok kita bicarakan hal-hal ringan saja. Yuki, kau butuh tenaga. Kai, kau juga.”

Kai dan Yuki sama-sama mengangguk. Yuki membawa Ai kembali ke kamar, sementara Kai kembali ke ruang keluarga. Sebelum naik, Yuki berhenti sejenak, menoleh. “Kai… terima kasih… untuk hari ini.”

Kai tersenyum kecil. “Sama-sama. Selamat malam.”

Malam itu, masing-masing dari mereka tidur dengan pikiran yang berbeda, tapi perasaan yang sama ada sesuatu yang sedang tumbuh bukan terburu-buru, bukan dipaksa melainkan hadir perlahan, mengisi ruang-ruang yang dulu kosong. Dan di rumah itu, di antara napas kecil Ai yang teratur dan keheningan yang hangat, masa depan mulai terasa tidak lagi menakutkan, melainkan… mungkin.

***

Keesokan paginya, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela kamar Yuki. Ai masih tertidur pulas di sisinya, napas kecilnya teratur. Yuki bangun lebih dulu, merapikan selimut, lalu menggendong Ai dengan hati-hati. Ada rasa damai yang jarang ia rasakan belakangan ini bukan karena semua masalahnya sudah hilang, melainkan karena ia tidak lagi sendirian menghadapinya.

Di luar kamar, Ibu Kai sudah menunggu dengan senyum hangat. “Pagi, Yuki. Sudah sarapan?”

“Belum, Bu,” jawab Yuki pelan. “Ai baru saja bangun sebentar, lalu tidur lagi.”

“Bagus. Ayo ke ruang makan. Kita bisa bicara sebentar,” ucap Ibu Kai sambil mengulurkan tangan, membantu Yuki berjalan pelan agar tidak membangunkan Ai.

Mereka duduk berhadapan di meja makan. Asisten meletakkan teh hangat dan sarapan ringan, lalu pergi, memberi ruang bagi mereka berdua. Ibu Kai memandang Yuki dengan tatapan lembut namun penuh kesungguhan.

“Yuki,” katanya pelan, “aku ingin bicara dari hati ke hati. Tidak sebagai ibu Kai saja, tapi sebagai seorang ibu yang peduli padamu dan Ai.”

Yuki menegakkan punggung, sedikit gugup. “Iya, Bu… aku dengarkan.”

Ibu Kai menghela napas pendek. “Sejak kau dan Ai datang ke rumah ini, kami melihat banyak perubahan pada Kai. Ia jadi lebih tenang, lebih peduli, dan lebih sering tersenyum. Itu bukan hal kecil. Ayahnya dan aku… kami bersyukur.”

Yuki menunduk, mengusap rambut Ai. “Kai sudah banyak menolong kami, Bu. Aku tidak akan pernah melupakannya.”

“Karena itu,” lanjut Ibu Kai, “kami punya niat baik. Kami ingin melamarmu secara terhormat, untuk Kai. Bukan karena kewajiban, bukan karena rasa kasihan. Tapi karena kami ingin kau dan Ai punya tempat yang aman, jelas, dan dihormati. Dan karena kami melihat… perasaan itu tumbuh di antara kalian, meski kalian berdua sama-sama berhati-hati.”

Yuki terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba terasa penuh. Ia mengingat hari-hari ketika Kai menemaninya saat cemas, cara Kai menggendong Ai dengan sabar, dan bagaimana rumah ini memberinya kembali rasa aman.

“Bu…” Yuki menelan ludah, matanya berkaca-kaca. “Aku… aku tidak pernah membayangkan bisa berada di titik ini. Setelah semua yang terjadi, aku hanya ingin Ai aman. Tapi di sini… aku merasa dihargai. Diperlakukan seperti manusia, bukan beban.”

Ibu Kai meraih tangan Yuki, menggenggamnya lembut. “Kau bukan beban. Sejak awal, kau adalah tamu yang kami jaga. Dan sekarang… kami ingin kau menjadi keluarga.”

Yuki menarik napas dalam, lalu tersenyum senyum yang jujur dan lega. “Kalau itu niat keluarga… aku menerimanya, Bu. Dengan satu permintaan.”

“Apa itu, Nak?”

“Aku ingin semuanya berjalan pelan-pelan. Aku ingin memastikan Ai tetap tenang, dan aku juga ingin jujur pada perasaanku sendiri. Tapi… aku mau menerima lamaran keluarga Kai.”

Wajah Ibu Kai langsung berseri. “Tentu. Kita lakukan dengan cara yang paling baik dan paling menghormati perasaanmu.”

Yuki mengangguk, air mata haru jatuh tanpa ia sadari. “Terima kasih, Bu… karena tidak pernah memaksaku. Karena mau menerima kami apa adanya.”

Ibu Kai tersenyum, mengusap punggung tangan Yuki. “Terima kasih juga karena kau berani membuka hati lagi. Itu tidak mudah.”

Saat itu, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Kai berhenti di ambang pintu ruang makan, sedikit ragu melihat mereka berdua tampak serius. “Aku… mengganggu?”

Ibu Kai menoleh dan tersenyum lebar. “Tidak. Justru tepat waktu.”

Yuki menatap Kai, lalu berkata dengan suara pelan tapi mantap, “Kai… aku sudah bicara dengan Ibu. Aku… menerima niat baik keluargamu.”

Kai terdiam beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Lalu, perlahan, senyum muncul di wajahnya bukan senyum lebar, tapi hangat dan tulus. “Terima kasih, Yuki. Aku janji… aku akan menjaga kalian.”

Ai menggeliat kecil di pelukan Yuki, lalu membuka mata sebentar. Kai mendekat, menyentuh tangan mungil itu dengan hati-hati. “Kita akan lakukan semuanya dengan baik,” katanya pelan, lebih seperti janji pada dirinya sendiri.

Ibu Kai berdiri, menatap mereka berdua dengan mata berbinar. “Baik. Kita mulai langkah ini dengan tenang. Yang penting, kalian bahagia.”

Di pagi yang sederhana itu, tanpa gemerlap atau sorak-sorai, sebuah keputusan besar diambil bukan karena tekanan, melainkan karena kepercayaan dan kehangatan yang tumbuh pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yuki merasa masa depan tidak lagi menakutkan, melainkan… layak diperjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!