Kultivator Pengembara 2

Kultivator Pengembara 2

Bab 1: Terpuruk di Lumpur, Bangkit sebagai Iblis

​Di tepian terpencil Benua Gagak Hitam, sebuah wilayah yang gersang dan penuh dengan energi alam yang tipis, berdirilah kediaman Keluarga Xiao.

Meskipun hanya dianggap sebagai keluarga kecil di peta kekuatan besar, bagi warga setempat, mereka adalah penguasa yang tak tersentuh.

​Namun, di dalam salah satu kamar di paviliun belakang yang terabaikan, aroma lapuk dan debu menjadi saksi bisu lahirnya kembali sebuah entitas yang seharusnya telah musnah.

​Jian Feng, sang kultivator ranah Puncak Abadi yang baru saja menelan pahitnya dikhianati takdir, kini terperangkap dalam raga Xiao Feng—tuan muda ketiga yang malang.

Sudah dua puluh empat jam ia mendiami tubuh ini, dan setiap detiknya terasa seperti penghinaan bagi jiwanya yang agung.

​"Tubuh yang menyedihkan... Meridian yang tersumbat, otot yang layu, dan perut yang keroncongan," desis Jian Feng.

Matanya yang tajam menatap telapak tangannya yang kurus. "Satu hari penuh aku di sini, dan tak ada satu pun manusia yang datang membawakan makanan. Bahkan, memori pemilik tubuh ini pun menolak untuk bangkit. Apa raga ini begitu membenciku hingga ia mengunci rahasianya sendiri?"

​Kebungkaman kamar itu terasa seperti jeruji besi.

Menyadari bahwa ia dikurung dari luar, harga diri Jian Feng sebagai penguasa langit bergejolak.

Ia tidak akan membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam kotak kayu ini.

​BRAAK!

​Ia menghantamkan kakinya ke pintu kayu yang sudah rapuh tersebut.

Meskipun tubuhnya lemah, ia tahu titik tumpu gravitasi yang tepat.

​"Buka, keparat! Siapa pun yang ada di luar, buka pintu ini sekarang juga!" teriaknya, suaranya parau namun membawa nada otoritas yang dingin.

​Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa diikuti suara kunci yang diputar.

Seorang pelayan perempuan muda muncul dengan wajah yang memerah karena kesal. Begitu pintu terbuka, ia langsung membentak tanpa rasa hormat.

​"Ada apa denganmu, Tuan Muda Xiao Feng?! Apa kau belum kapok setelah dipukuli oleh Tuan Besar kemarin? Kau ingin mencari masalah lagi?!"

​Jian Feng menyipitkan mata. Ia memindai ekspresi pelayan itu—tidak ada rasa takut, hanya penghinaan yang mendalam.

"​Tuan muda, ya?" batin Jian Feng sinis. "Jadi aku bereinkarnasi ke dalam raga pecundang yang bahkan tidak dihargai oleh pelayannya sendiri? Menarik. Panggung ini benar-benar dimulai dari lumpur terdalam."

​Meskipun ototnya lemah, insting bertarung yang ia asah selama ribuan tahun masih mengalir di jiwanya.

Sebelum pelayan itu sempat mengeluarkan makian berikutnya, Jian Feng bergerak. Gerakannya efisien, tanpa tenaga yang terbuang.

​PLAK!

​Dalam satu gerakan kilat, ia mencengkeram leher pelayan itu dan menghantamkan tubuhnya ke lantai kamar.

Tekanan jarinya tepat berada di saraf yang melumpuhkan gerakan lawan.

​"Mulai detik ini, kau akan menjadi pelayanku, atau kau akan menjadi mayat pertama yang kukubur di halaman ini." bisik Jian Feng sambil meregangkan lehernya yang kaku.

Aura membunuh yang keluar dari matanya membuat suhu di ruangan itu seolah anjlok drastis.

​"J-jangan mendekat! Tolo—"

​Saat pelayan itu hendak memekik, tangan Jian Feng sudah membungkam mulutnya dengan keras.

​"Jangan berisik jika kau masih ingin melihat matahari esok hari," intimidasi Jian Feng terasa nyata. "Setiap kali kau melawan atau tidak menuruti perintahku, aku akan mencabut kuku jarimu satu per satu. Mengerti?"

​Pelayan itu gemetar hebat, matanya membelalak ketakutan melihat sorot mata Jian Feng yang tidak lagi terlihat seperti "sampah" yang biasa ia rundung.

Ini adalah tatapan seekor naga yang terperangkap dalam tubuh cacing.

Jian Feng menyumbat mulut pelayan itu sejenak untuk memastikan ia tidak akan berteriak lagi.

​Setelah keheningan yang mencekam itu berhasil mematahkan mental sang pelayan, Jian Feng melepaskan sumpalan tersebut.

​"Sekarang, pergi ke dapur. Bawakan aku makanan yang layak. Dan yang paling penting, ambilkan beberapa tanaman herbal: Rumput Tulang Besi dan Bunga Pembersih Meridian. Aku butuh itu untuk mengobati tubuhku... dan lukamu."

​"B-baik, Tuan Muda..." Dengan wajah pucat pasi dan kaki yang lemas karena trauma, pelayan itu berlari keluar untuk menjalankan perintah yang tidak berani ia tolak.

​Sambil menunggu, Jian Feng segera duduk bersila di atas lantai.

Ia tidak boleh membuang waktu. Ia memejamkan mata, memusatkan kesadarannya untuk melakukan inspeksi internal.

​Begitu ia melihat ke dalam Dantian-nya, ia hampir ingin mengumpat.

Saluran energinya tersumbat oleh kotoran hitam sisa racun dan makanan berkualitas rendah. Meridannya berkelok-kelok dan penuh hambatan.

"​Dasar raga sampah. Pantas saja kau selalu gagal berkultivasi." gumamnya.

​Ia mulai menarik sedikit demi sedikit energi alam yang tipis di sekitarnya.

Dengan kontrol mikro yang luar biasa, ia memaksa energi itu mengalir melewati saluran-saluran yang tersumbat.

​Ugh!

​Keringat dingin bercampur cairan hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya.

Itu adalah kotoran tubuh yang sudah mengendap bertahun-tahun. Dalam waktu sepuluh menit, Jian Feng berhasil membuka tiga jalur utama meridiannya.

​"Lumayan. Setidaknya sekarang aku punya tenaga untuk tidak jatuh pingsan saat bertarung." gumamnya sambil mengatur napas.

​Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan nampan berisi sepiring makanan dan segenggam tanaman herbal yang diminta.

​"I-ini semuanya, Tuan Muda." ucapnya lirih.

​"Siapa namamu?" tanya Jian Feng sambil mengambil tanaman herbal tersebut.

​"Xi Lian... Tuan Muda."

​Jian Feng tidak membalas. Ia fokus pada tanaman di tangannya.

Dengan sisa Qi yang baru saja ia kumpulkan, ia mengangkat tanaman herbal itu ke udara. Tangannya bergerak dengan pola yang rumit dan elegan.

​"Teknik Penyatuan Kehendak!"

​Cahaya hijau redup muncul dari telapak tangannya.

Tanaman herbal itu mulai layu secara instan, namun esensinya memadat menjadi sebuah butiran bulat berwarna hijau zamrud.

Sebuah pil alkimia mentah namun efektif.

​Keringat membasahi dahi Jian Feng; tubuh ini benar-benar terlalu lemah untuk melakukan alkimia tingkat dasar sekalipun. Ia melemparkan satu pil kecil ke arah Xi Lian.

​"Telan itu. Luka dalam di perutmu akan sembuh, dan itu akan memperkuat fondasimu sedikit. Aku tidak butuh pelayan yang mati di hari pertama aku bangkit."

​Xi Lian menelan pil itu dengan ragu, namun segera merasakan aliran hangat yang menenangkan di perutnya. Rasa sakitnya menghilang seketika.

​"Pergilah. Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang terjadi di sini hari ini." perintah Jian Feng tegas.

​Setelah Xi Lian pergi, Jian Feng menatap sisa pil di tangannya.

"Dengan pil ini, aku akan lebih mudah mengendalikan Xi Lian. Aku butuh mata dan telinga di keluarga busuk ini."

​Ia menyimpan pil sisanya, lalu mulai menyantap makanannya dengan rakus. Ia butuh energi, ia butuh kekuatan.

Musim kedua dalam hidupnya baru saja dimulai, dan ia bersumpah, siapa pun yang menuliskan nasib buruk ini akan membayar setiap tetes penderitaannya.

Terpopuler

Comments

Adibhamad Alshunaybir

Adibhamad Alshunaybir

mantap kak author lanjutkan up nya

2026-02-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Terpuruk di Lumpur, Bangkit sebagai Iblis
2 Bab 2: Gelang Pelindung
3 Bab 3: Kalah
4 Bab 4: Guntur Emas
5 Bab 5: Manipulasi Sang Pion
6 Bab 6: Perpustakaan Terlarang
7 Bab 7: Perpustakaan Terlarang II
8 Bab 8: Tarian Maut di Hutan
9 Bab 9: Dasar kau ini
10 Bab 10: Penyatuan Roh
11 Bab 11: Bandit bodoh
12 Bab 12: Untung besar
13 Bab 13: Kota Gagak hitam
14 Bab 14: Bertemu lagi
15 Bab 15: Di mulainya pertandingan
16 Bab 16: Lumayan kuat
17 Bab 17: Keluarga?
18 Bab 18: Kemenangan telak
19 Bab 19: Balas dendam
20 Bab 20: Tubuh Baru
21 Bab 21: Aku Pulang!
22 Bab 22: Melodi Terakhir di Bawah Pohon Oak
23 Bab 23: Apa kabarnya Petir kecil?
24 Bab 24: Kedai
25 Bab 25: Gelas teh
26 Bab 26: Hajar terus
27 Bab 27: Tukang angkut
28 Bab 28: Melamun
29 Bab 29: Taruhan ya?
30 Bab 30: Kehilangan akal
31 Bab 31: Monster tangan banyak
32 Bab 32: Tangguh juga
33 Bab 33: Skin baru
34 Bab 34: Satu atau sekaligus?
35 Bab 35: Tamu ya?
36 Bab 36: Kolam cermin jiwa
37 Bab 37: Realistis yang terganggu
38 Bab 38: Kelopak bunga
39 Bab 39: Aku harus pergi
40 Bab 40: Permainan sederhana
41 Bab 41: Meditasi panjang
42 Bab 42: Dasar anak muda
43 Bab 43: Otakmu di mana?
44 Bab 44: Bertamu dulu
45 Bab 45: Aku Pinjam SELAMANYA
46 Bab 46: Di mana INI? oh TERSESAT!
47 Bab 47: Minum DULU
48 Bab 48: Darah
49 Bab 49: Sang Pembantai
50 Bab 50: Zzzzz!!!
51 Bab 51: Santai dulu AH!
52 Bab 52: Hening
53 Bab 53: Rasa kehilangan tidak akan pernah hilang
54 Bab 54: Artefak surgawi
55 Bab 55: Pertumpahan darah!!!
56 Bab 56: Roh Leluhur
57 Bab 57: Kehampaan
58 Bab 58: Monolog di ujung eksistensi
59 Bab 59: Kemunculan
60 Bab 60: Kita bertemu lagi
61 Bab 61: Benang Jiwa
62 Bab 62: Semut
63 Bab 63: Pertemuan kembali
64 Bab 64: Ketajaman
65 Bab 65: Omong kosong!
66 Bab 66: Kematian di depan mata
67 Bab 67: Mimpi yang sederhana
68 Bab 68: Kultivator Pengembara
69 Bab 69: Mungkin
70 Bab 70: Tulang akar langit
71 Bab 71: Mimpi yang pasti terwujud
72 Bab 72: Serangga pengganggu
73 Beb 73: Pena Kuno
74 Bab 74: Mencapai ranah berikutnya
75 Bab 75: Tersiksa
76 Bab 76: Menganggu berarti mati!
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1: Terpuruk di Lumpur, Bangkit sebagai Iblis
2
Bab 2: Gelang Pelindung
3
Bab 3: Kalah
4
Bab 4: Guntur Emas
5
Bab 5: Manipulasi Sang Pion
6
Bab 6: Perpustakaan Terlarang
7
Bab 7: Perpustakaan Terlarang II
8
Bab 8: Tarian Maut di Hutan
9
Bab 9: Dasar kau ini
10
Bab 10: Penyatuan Roh
11
Bab 11: Bandit bodoh
12
Bab 12: Untung besar
13
Bab 13: Kota Gagak hitam
14
Bab 14: Bertemu lagi
15
Bab 15: Di mulainya pertandingan
16
Bab 16: Lumayan kuat
17
Bab 17: Keluarga?
18
Bab 18: Kemenangan telak
19
Bab 19: Balas dendam
20
Bab 20: Tubuh Baru
21
Bab 21: Aku Pulang!
22
Bab 22: Melodi Terakhir di Bawah Pohon Oak
23
Bab 23: Apa kabarnya Petir kecil?
24
Bab 24: Kedai
25
Bab 25: Gelas teh
26
Bab 26: Hajar terus
27
Bab 27: Tukang angkut
28
Bab 28: Melamun
29
Bab 29: Taruhan ya?
30
Bab 30: Kehilangan akal
31
Bab 31: Monster tangan banyak
32
Bab 32: Tangguh juga
33
Bab 33: Skin baru
34
Bab 34: Satu atau sekaligus?
35
Bab 35: Tamu ya?
36
Bab 36: Kolam cermin jiwa
37
Bab 37: Realistis yang terganggu
38
Bab 38: Kelopak bunga
39
Bab 39: Aku harus pergi
40
Bab 40: Permainan sederhana
41
Bab 41: Meditasi panjang
42
Bab 42: Dasar anak muda
43
Bab 43: Otakmu di mana?
44
Bab 44: Bertamu dulu
45
Bab 45: Aku Pinjam SELAMANYA
46
Bab 46: Di mana INI? oh TERSESAT!
47
Bab 47: Minum DULU
48
Bab 48: Darah
49
Bab 49: Sang Pembantai
50
Bab 50: Zzzzz!!!
51
Bab 51: Santai dulu AH!
52
Bab 52: Hening
53
Bab 53: Rasa kehilangan tidak akan pernah hilang
54
Bab 54: Artefak surgawi
55
Bab 55: Pertumpahan darah!!!
56
Bab 56: Roh Leluhur
57
Bab 57: Kehampaan
58
Bab 58: Monolog di ujung eksistensi
59
Bab 59: Kemunculan
60
Bab 60: Kita bertemu lagi
61
Bab 61: Benang Jiwa
62
Bab 62: Semut
63
Bab 63: Pertemuan kembali
64
Bab 64: Ketajaman
65
Bab 65: Omong kosong!
66
Bab 66: Kematian di depan mata
67
Bab 67: Mimpi yang sederhana
68
Bab 68: Kultivator Pengembara
69
Bab 69: Mungkin
70
Bab 70: Tulang akar langit
71
Bab 71: Mimpi yang pasti terwujud
72
Bab 72: Serangga pengganggu
73
Beb 73: Pena Kuno
74
Bab 74: Mencapai ranah berikutnya
75
Bab 75: Tersiksa
76
Bab 76: Menganggu berarti mati!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!