“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: TEROBOSAN TINGKAT ENAM DAN SEMANGAT BARU
Lima hari di dunia nyata adalah waktu yang singkat bagi manusia biasa, namun bagi Rimba Dipa Johanson, itu adalah kemewahan yang tak ternilai. Dengan rasio waktu di dalam Dimensi Independen, lima hari tersebut bertransformasi menjadi sepuluh tahun masa penempaan. Di dalam dimensi yang sunyi namun kaya energi itu, Rimba tidak hanya melatih otot dan refleksnya. Ia menyelami ribuan kitab digital, mempertajam logika pemrogramannya, hingga mengasah intuisi tempurnya ke titik puncak.
Sepuluh tahun berlalu dalam meditasi dan latihan brutal. Hingga pada suatu titik, Rimba merasakan dinding pembatas di dalam meridiannya mulai retak. Ia berada di ambang pintu Tingkat 6. Namun, Rimba menyadari satu hal: peningkatan ke tingkat ini membutuhkan asupan energi murni yang jauh lebih masif daripada yang bisa disediakan oleh dimensi dalam waktu singkat.
Ia melangkah menuju ruang kontrol utama. "Aether," panggilnya.
Cahaya biru lembut berpendar di sekelilingnya. "Ya, Tuan Rimba?"
"Aku butuh titik dengan konsentrasi Qi Bumi dan Langit paling murni di dunia ini. Bisakah kamu melacaknya?"
Dalam hitungan detik, layar raksasa di ruang kontrol menampilkan peta dunia yang dipenuhi ribuan titik cahaya. Aether menyaringnya hingga menyisakan satu titik terdekat namun berada di luar batas negara Indonesia. "Terdapat sebuah ngarai tersembunyi di negara tetangga, Tuan. Lokasinya sangat terpencil, jauh dari pemukiman manusia, namun memiliki pusaran energi alami yang sangat stabil."
Rimba melihat tampilan visual ngarai itu. Tebing-tebing curam yang diselimuti kabut abadi. "Bisakah kamu memindahkanku ke sana? Aku belum pernah menginjakkan kaki di sana, jadi aku tidak bisa melakukan teleportasi mandiri."
"Tentu, Tuan. Ruang kontrol ini memiliki otoritas pemindahan koordinat global."
"Lakukan sekarang."
Dalam sekejap, pandangan Rimba kabur. Detik berikutnya, udara dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah basah menyambutnya. Ia berdiri di dasar ngarai yang sangat sunyi. Tanpa membuang waktu, Rimba duduk bersila dan melepaskan segel energinya.
---
Ritual peningkatan itu dimulai. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah legam. Awan hitam bergulung-gulung, menciptakan pusaran raksasa tepat di atas kepala Rimba. Petir Surgawi kali ini tidak lagi berwarna biru atau putih, melainkan berwarna ungu gelap yang membawa aura kehancuran.
DUAARR!
Hantaman pertama menghujam tubuh Rimba. Ia tidak bergeming, meski kulitnya mulai retak. Hantaman kedua, ketiga, hingga keenam datang bertubi-tubi. Ini adalah siksaan surgawi yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Namun, Rimba telah menempa mentalnya selama sepuluh tahun. Ia menyerap setiap guncangan petir itu, menjadikannya bahan bakar untuk menempa tulang dan organ dalamnya.
Begitu ritual selesai, Rimba menghilang dari ngarai, kembali ke dimensi dan langsung menceburkan diri ke dalam Telaga Penyelarasan. Di sana, proses pengelupasan tulang lama terjadi. Rasa sakitnya seperti ribuan pisau yang menguliti sarafnya secara bersamaan. Tulangnya hancur lalu tumbuh kembali menjadi Tulang Intan Abadi, sebuah struktur tubuh yang hanya dimiliki oleh para petarung legendaris.
Setelah melewati masa kritis, Rimba bangkit dari telaga. Ia kini resmi menjadi Kultivator Tingkat 6 Rendah atau bagi rimba dia membuat sendiri penamaan tingkatan kekuatannya yaitu v6.1. Kekuatan fisiknya kini mencapai angka fantastis 9,5E13G. Secara teori, ia sudah mampu menantang praktisi Tingkat 12 Tinggi. Kekuatan ini bukan lagi sekadar mengguncang dunia nyata, bahkan di alam dewa sekalipun, Rimba akan dianggap sebagai anomali yang menakutkan.
---
Hari Senin pun tiba. Dunia nyata kembali berputar. Rimba keluar dari dimensi, mengganti pakaiannya dengan seragam kebanggaannya, celana jeans dipotong diatas dengkul, kaos oblong hitam, kemeja flanel berwarna hijau tidak dikancingkan, desert army boots, lalu memacu Harley Davidson-nya menuju kampus. Jam sembilan pagi ini adalah jadwal kuliah pertamanya: Algoritma Dasar dan Pemrograman.
Di parkiran, Rimba turun bersama Cesar yang melompat anggun. Kehadiran mereka masih menarik perhatian, namun Rimba melewatinya dengan senyum sopan. Saat ia memasuki ruang kelas, suasana mendadak senyap. Tiga puluh pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi—kekaguman, rasa ingin tahu, dan sedikit ketakutan.
Ternyata, kelas Teknik Informatika angkatannya didominasi oleh perempuan. Dari tiga puluh mahasiswa, dua puluh di antaranya adalah wanita. Rimba duduk di salah satu kursi kosong di baris tengah.
Pria di depannya langsung berbalik. "Hai, Rimba. Kenalkan, aku Wahyu," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Rimba," jawabnya ramah. Satu per satu teman sekelasnya mendekat untuk berkenalan. Rimba menyambut mereka dengan hangat, menyadari bahwa merekalah yang akan menjadi rekan seperjuangannya selama empat tahun ke depan.
Tak lama, Pak Ramli masuk. Dosen wali sekaligus pengajar matkul tersebut tersenyum tipis saat melihat Rimba. Ia mulai menjelaskan dasar-dasar algoritma. Sementara mahasiswa lain sibuk mencatat dan mengerutkan kening, Rimba hanya duduk santai. Dengan otak yang sudah ditingkatkan, setiap kata yang diucapkan Pak Ramli langsung terintegrasi sempurna dalam memorinya bagaikan data yang disalin ke hard drive.
Di akhir sesi, Pak Ramli memberikan tantangan. "Saya beri tugas: buatlah program sederhana yang mengimplementasikan algoritma untuk menampilkan jam analog secara real-time dari OS, lengkap dengan jarum jam, menit, dan detiknya. Siapa pun yang bisa menyelesaikannya minggu depan dan berfungsi sempurna, saya anggap lulus mata kuliah ini dengan nilai 'A'. Kalian tidak perlu masuk lagi sampai akhir semester."
Mahasiswa lain mulai berbisik, menganggap tugas itu cukup berat untuk pertemuan pertama. Namun, Rimba tiba-tiba mengangkat tangan. "Kalau selesai sekarang, bagaimana Pak?"
Pak Ramli terangkat alisnya. "Coba kirim ke email saya."
Rimba membuka laptopnya. Jarinya menari di atas keyboard selama kurang dari tiga menit. Klik. "Sudah terkirim, Pak."
Pak Ramli membuka proyektor. Seketika, di layar besar depan kelas, muncul sebuah jendela program dengan grafik jam analog yang sangat halus. Jarum detiknya berdetak presisi mengikuti jam sistem. Kode-kodenya begitu bersih dan efisien.
"Luar biasa," gumam Pak Ramli. "Baik, Rimba. Kamu lulus. Silakan nikmati waktu luangmu, nilai A sudah di tangan."
Seluruh kelas melongo. Ada rasa iri yang positif, namun lebih banyak rasa kagum yang tak terbendung.
---
Setelah kelas berakhir dan berlanjut ke mata kuliah umum, seluruh mahasiswa Informatika tidak langsung pulang. Seorang mahasiswi bernama Nadia maju ke depan kelas.
"Teman-teman, mohon waktunya sebentar. Kita perlu mendiskusikan struktur kelas kita," ujar Nadia lugas.
Hampir semua mata tertuju pada Rimba untuk menjadi ketua kelas. Namun, Rimba langsung melambaikan tangan menolak. "Maaf teman-teman, aku sering punya kegiatan di luar kampus. Aku tidak ingin tanggung jawab kelas ini terbengkalai karena aku jarang hadir. Sebaiknya pilih yang sering stand-by di kampus."
Setelah diskusi singkat, Wahyu terpilih sebagai ketua kelas, Nadia sebagai sekretaris, dan seorang gadis bernama Roro sebagai bendahara.
Nadia kemudian melanjutkan ke poin kedua. "Kampus kita mengadakan Liga Bola Voli antar jurusan. Kita harus mengirimkan perwakilan. Masalahnya, mahasiswa laki-laki kita cuma sepuluh orang. Apakah kita akan ikut atau absen saja?"
Beberapa orang ragu, namun Rimba angkat bicara. "Kalau kita ikut hanya untuk 'memeriahkan' dan sudah mental kalah, lebih baik tidak usah. Buang-buang waktu. Tapi kalau kalian mau ikut dengan semangat juara, aku akan dukung penuh."
Kata-kata Rimba membakar semangat mereka. "Tapi Rim, kita tidak punya pelatih, dan tinggi badan kita rata-rata saja," keluh Wahyu.
Rimba tersenyum. "Hanya aku yang tingginya di atas 180 di sini. Jadi, strategi kita adalah fokus pada defense (pertahanan). Wahyu, tugasmu sebagai ketua adalah cari GOR yang bisa kita sewa selama sebulan penuh untuk latihan tiap hari. Cari juga pelatih profesional."
"Tapi dananya dari mana, Rim? Sewa GOR dan pelatih itu mahal," tanya Roro si bendahara.
"Masalah dana, biar aku yang urus. Aku akan transfer ke kas kelas. Kalian cukup siapkan fisik dan mental untuk latihan berat. Bagaimana?"
Mendengar dukungan finansial yang tak terbatas dari Rimba, suasana kelas meledak oleh kegembiraan. Rasa pesimis berubah menjadi ambisi. Nadia dan Wahyu berjanji akan segera mencari fasilitas latihan terbaik.
Rimba melangkah keluar kelas dengan perasaan puas. Baginya, uang bukan lagi masalah, tapi membangun ikatan dengan teman-teman barunya adalah investasi yang jauh lebih berharga. Di bawah pohon beringin, ia kembali duduk bersama Cesar, menatap masa depan kampus yang kini terasa jauh lebih menarik.