Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingkar
Celine membuka ponselnya berulang kali meski tak ada notifikasi yang muncul. Tapi layar itu tetap kosong, pesan terakhir yang ia kirim hanya menampilkan tulisan read tanpa ada balasan.
“Mungkin dia benar-benar sibuk,” gumam Celine pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri untuk kesekian kali bahwa semua baik-baik saja.
Ia melirik jam tangan, jarum panjang sudah melampaui angka dua belas berkali-kali, pukul 20.00 WIB.
Tok… tok… tok…
Ketukan pintu membuat Celine menoleh. Maria, sang pemilik butik sekaligus perancang gaun masuk dengan raut wajah segan.
“Maaf, Bu… apakah sudah bisa dimulai?” tanyanya hati-hati. Jam kerja mereka sudah jauh lewat dari waktu seharusnya.
Celine berdiri, tersenyum meminta maaf. “Maria, bisa kah kita menunggu satu jam lagi? Maaf sekali harus merepotkanmu. Aku akan membayar biaya tambahan untuk waktumu yang terbuang.”
Maria mengangguk sopan. “Baik, Bu. Panggil saya kapan pun Tuan Ethan sudah datang.”
“Terima kasih atas pengertianmu, Maria.”
“Dengan senang hati, Bu Celine.”
Maria keluar meninggalkan ruangan, lalu menutup pintu dengan pelan. Celine menghela napas, kembali duduk di sofa putih itu. Tatapannya beralih pada gaun pengantin yang terpasang di manekin lounge VIP. Gaun itu adalah impiannya sejak lama. Sekarang impian itu tinggal satu langkah lagi, namun langkah itu tidak bisa ia ambil sendiri.
Ia tersenyum tipis, meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku yakin kau akan datang, Ethan.”
Sementara itu, pria yang sedang ia tunggu sedang duduk di kursi kayu ruang tamu rumah yang terlalu sederhana untuk pria yang dibesarkan dengan kemewahan. Kayu tua yang ia duduki mengeluarkan derit halus, berjuang menahan bobot dan proporsi tubuhnya.
Cantika muncul dari dapur membawa secangkir teh hangat.
“Silakan diminum, Pak,” katanya pelan, meletakkan teh itu di atas meja dengan hati-hati.
“Tidak perlu repot.” jawab Ethan. Nadanya tidak setajam biasanya, lebih rendah dan lunak.
“Sama sekali tidak merepotkan, Pak. S-saya hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuan Bapak hari ini,” katanya dengan suara bergetar. Ia melirik ke pintu kamar tempat adiknya terbaring. “Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Bapak.”
Ethan menatapnya sesaat, ada perasaan iba yang menjalar dalam hatinya.
“Ya,” katanya singkat.
Suara itu, entah bagaimana membuat ketegangan yang sejak tadi mengikat bahu Cantika mengendur. Ia mengangguk sopan lalu hendak duduk di kursi seberangnya. Naasnya, kakinya tersandung ujung kaki kursi tanpa sengaja. Tubuh ringan itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan Ethan.
Tangan Ethan refleks terangkat menahan lengannya.
Waktu seakan berhenti sesaat. Cantika terpaku, wajah pria itu begitu dekat. Aroma tubuhnya yang maskulin memenuhi indra penciumannya. Garis rahang yang tegas, bulu mata gelap dan hidung yang tinggi. Ketampanannya dari jarak sedekat ini membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“…”
Dering ponsel berbunyi memecah keheningan. Cantika tersentak lalu mundur cepat dengan wajah yang memerah hebat.
“M-maaf, Pak. Sungguh saya tidak sengaja.”
Ethan berdehem, merapikan jasnya lebih presisi. “Tidak masalah,” ujarnya tenang.
Cantika menggigit bibir bawahnya. Sikap pria itu membuat dadanya berdebar menjadi sebuah ketertarikan yang muncul seperti benih liar di tanah kering. Ia tidak memahaminya, tapi perasaan ini nyata.
Ethan menyalakan ponsel, wajahnya seketika memucat. Layar penuh notifikasi mengingatkannya pada pesan-pesan yang terbaca tetapi belum ia balas. Hingga ia membaca pesan terakhir yang membuat atmosfer di ruang kecil itu seperti membeku.
Aku lelah…
Wajah Ethan menegang panik. Ekspresi yang jarang ia izinkan muncul.
“Sial,” gumamnya.
“Aku pergi… jaga dirimu.”
Pria itu melangkah cepat menuju pintu. Namun saat pintu terbuka, percikan air melompat, hujan deras menggantung seperti tirai hitam. Tapi hujan tidak bisa menghalangi langkah Montgomey, tanpa menunggu reda ia berlari menuju mobilnya.
Cantika berdiri di ambang pintu, menatap punggung yang menghilang dalam lebatnya hujan.
Punggung itu…
Punggung itu tidak asing, ada sesuatu di dadanya yang berdenyut pelan ketika mencoba mengingatnya. Ia tahu itu bodoh, ia tahu itu mustahil. Namun tetap saja, ia merasakan debaran itu. Ethan Montgomery meninggalkan jejak dalam hidupnya malam ini. Dan mungkin… dalam hatinya.
Ethan memarkir mobilnya di depan butik, hujan masih menetes dari ujung rambut dan bahunya saat ia melangkah masuk. Tulisan close di pintu kaca menghentikan langkahnya. Ia menoleh lebih dalam, lampu yang biasanya terang kini tinggal temaram.
Maria keluar dari pintu samping sambil membawa tas tangannya. Ia terlihat terkejut melihat Ethan muncul di jam selarut ini.
“Tuan Ethan?” suaranya sopan. “Saya kira Anda tidak datang hari ini.”
“Celine?” suara Ethan rendah, menahan rasa tidak sabar yang mulai memanas. “Di mana dia?”
“Bu Celine sudah pulang sekitar satu jam yang lalu. Ia menunggu cukup lama, Tuan.”
Ethan memejamkan mata sesaat, rahangnya mengeras. Ia mengambil ponsel hendak menghubungi Golda, namun layar ponselnya sudah menampilkan panggilan masuk.
Golda.
Ethan menekan tombol hijau tanpa berpikir panjang.
“Selamat malam, Ethan,” suara Golda terdengar cerah. “Bagaimana? Apa kalian sudah selesai fitting? Celine sangat bersemangat sejak pagi. Dia bahkan berangkat demi awal karena tidak ingin membuatmu menunggu.”
Ethan terdiam sebentar sebelum menutup telepon pria itu tanpa mengatakan apa pun. Tidak sopan, ya itu benar. Namun Ethan tidak berada dalam kondisi untuk memikirkan etika malam ini.
Ia kembali menyetir, menyapu jalanan malam dengan sorot mata tajam dan gelap. Setiap detik terasa seperti tudingan bersalah yang menancap di dadanya. Setibanya di mansion Montgomery, Ethan masuk tanpa melepaskan jasnya. Hujan masih menetes dari ujung kain itu, membentuk jejak kaki di lantai marmer.
Serena yang sedang menuruni tangga berhenti saat melihat kakaknya.
“Kak Ethan, kenapa kau berlari? Apa terjadi sesuatu?”
“Di mana Celine?” suara Ethan rendah, namun Serena bisa merasakan sesuatu bergetar di balik ketenangannya. Panik? Kemarahan? Atau keduanya?
Ia mengerutkan kening bingung. “Tidak ada Kak Celine di sini. Bukankah kalian ada janji fitting terakhir? Mama bilang kalian akan…”
“Di mana Papa dan Mama,” potong Ethan, tidak mampu menunggu.
“Mereka sedang di gedung. Grandma ingin melihat langsung aula pernikahanmu. Kau ini bagaimana? Harusnya kau dan Kak Celine juga ada di sana.”
Serena belum selesai bicara ketika Ethan sudah berbalik dan melangkah pergi. Napasnya berat, langkahnya cepat dan penuh tekanan. Celine menunggunya seharian dan ia… sibuk bersama orang lain.
Markas.
Hanya satu tempat yang terlintas di pikirannya. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Celine, Ethan tidak akan memaafkan dirinya. Mobilnya melaju tajam, menembus hujan dan kegelapan. Ethan Montgomery yang dingin dan selalu terkendali, malam ini tampak seperti pria yang baru sadar bahwa ia telah melakukan kebodohan besar.
Berharap Cantika kapok oleh ancaman Rega, kalaupun si Cantika mau mencoba lagi jadi racun untuk si SEthan, berharap Rega juga tidak melupakan dan merealisasikan ancamannya.
Kalau aku sih dukung Cantika,bisa liat juga gimana kata hati Ethan...mau tetap ngurus Cantika atau fokus ke Celine... Rega,kamu ganggu Cantika aja,udah berbinar tuh matanya liat Ethan.akhirnya mewek liat pisau mu 😆😆😆😆
mampus kau 🤣🤣🤣