NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan

James yang otaknya sudah dipenuhi kabut emosi dan nafsu yang tersumbat tidak bisa lagi berpikir jernih. Provokasi Hazel mengenai serangga dan janji suci itu benar-benar menghancurkan ego maskulinnya.

Dengan langkah kasar, ia menarik salah satu siswi dari kelas bawah yang kebetulan lewat ke dalam gudang peralatan olahraga di gedung belakang yang sudah sepi.

Di sana, di antara tumpukan matras yang berdebu, James melepaskan hasratnya dengan brutal. Ia membayangkan wajah Hazel saat ia menyentak, melampiaskan rasa frustrasinya karena tidak bisa menyentuh miliknya sendiri.

Tepat saat James sedang merapikan ikat pinggangnya dengan napas yang masih memburu, pintu gudang terbuka sedikit. Zacky berdiri di sana sambil bersandar, menyalakan rokok dengan ekspresi bosan yang dibuat-buat.

"Sudah selesai pelepasannya, James?" tanya Zacky sinis.

James mendengus, menyugar rambutnya yang berantakan. "Gadis itu... lehernya ada bekas merah, Zack. Sialan! Aku ingin membunuh siapa pun pria yang berani menyentuhnya."

Zacky mengeluarkan asap rokok dari mulutnya, lalu menatap James dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia memutuskan untuk menjalankan rencananya sendiri mengadu domba anggota geng agar ia bisa mengambil keuntungan.

"Kau curiga pada siapa?Aiden? Ken? Tidak mungkin, dia terlalu dingin untuk menyentuh wanita mana pun," bohong Zacky dengan lancar. "Tapi... tidakkah kau curiga pada Marius?"

James menghentikan gerakannya. "Marius? Dia sahabatku sendiri."

"Sahabat tidak menjamin apa-apa, James," bisik Zacky, mendekat dan menepuk bahu James.

"Kemarin di kantin, aku melihat Marius menatap Hazel sangat lama. Tatapannya bukan tatapan biasa. Itu tatapan lapar. Dan kau tahu kan, Marius punya jari yang hampir sama panjangnya denganmu?"

James mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Benih kecurigaan yang ditanam Zacky mulai tumbuh subur di kepalanya yang sudah kacau.

"Marius brengsek..." geram James.

Zacky tersenyum licik di balik asap rokoknya. Ia berhasil membelokkan kecurigaan James dari Kenneth sang penguasa yang sebenarnya kepada Marius. Ini akan membuat geng mereka retak, dan Zacky sangat menikmati kekacauan itu.

Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh lebih mewah dan tenang, Hazel sedang berada di dalam pelukan Kenneth. Mereka berada di dalam mobil Kenneth yang diparkir di perbukitan menghadap lampu-lampu kota Queenstown yang berkelap-kelip.

Hazel menyandarkan kepalanya di bahu Kenneth, jemarinya bermain dengan kancing kemeja pria itu. "Kau tahu, Ken? James mulai gila. Dia sangat frustrasi melihat tanda yang kau berikan."

Kenneth mengecup puncak kepala Hazel, tangannya mengelus pinggang Hazel dengan posesif.

"Biarkan dia gila. Itu baru permulaan, Hazel. Aku ingin dia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam sebelum aku memberinya pukulan terakhir."

"Zacky melihat kita tadi pagi, Ken," bisik Hazel, jemarinya memutar-mutar kerah kemeja Kenneth. "Aku bisa merasakannya. Dia bukan tipe pria yang mudah dikelabui seperti James."

Kenneth menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap paha Hazel. Ia mendongak, matanya berkilat dingin. "Biarkan saja. Tikus seperti Zacky hanya akan bergerak jika dia merasa punya keuntungan. Dia tidak akan berani bicara pada James jika dia masih ingin melihat matahari besok di New Zealand."

Kenneth kemudian menarik Hazel lebih dekat, membuat napas mereka beradu. "Tapi kau benar, permainan mata kita mungkin terlalu berisiko. Haruskah kita membuatnya lebih... privat malam ini?"

Hazel menyeringai, tangannya meraba rahang tegas Kenneth. "James mengajakku ke villa danau akhir pekan ini. Dia ingin mengawasiku. Apa kau akan datang, sang penguasa?"

"Dia tidak akan berani menyentuhmu selama aku masih bernapas. Sekarang, lupakan mereka. Katakan padaku, apa kau masih ingin mencoba jari pria lain setelah apa yang kulakukan padamu di perpustakaan tadi?"

Hazel mendongak, menatap mata Kenneth yang gelap dan penuh tuntutan, lalu menarik kerah baju Kenneth untuk menciumnya. "Hanya milikmu, Ken. Hanya milikmu yang bisa membuatku berteriak seperti itu."

Zacky bukanlah orang bodoh. Di balik sifatnya yang licik dan oportunis, ia adalah seorang pengamat yang tajam. Saat ia berdiri di gudang olahraga melihat James yang frustrasi, otaknya bekerja cepat menghubungkan titik-titik yang selama ini terlewatkan.

Zacky teringat kembali pada momen di markas semalam bagaimana Kenneth menatap tajam ke arahnya saat ia menyebut tubuh Hazel enak. Ia juga teringat bagaimana Kenneth dan Hazel menghilang di jam yang hampir bersamaan hari ini.

Dan yang paling mengunci teorinya: permainan mata antara Kenneth dan Hazel di koridor tadi pagi. Tatapan itu bukan tatapan dua orang yang tidak saling kenal, melainkan tatapan dua orang yang baru saja berbagi rahasia yang sangat intim.

Zacky menarik kesimpulan yang membuat bulu kuduknya meremang sekaligus membuatnya bersemangat, Tanda merah di leher Hazel adalah milik Kenneth Karl Graciano.

"Kenapa diam saja, Zack?" tanya James kasar, membuyarkan lamunan Zacky. "Kalau benar Marius yang melakukannya, aku akan mematahkan jari-jarinya malam ini juga!"

Zacky menatap James dengan tatapan kasihan yang disembunyikan. Ia sadar, jika ia memberitahu James bahwa pelakunya adalah Kenneth, James mungkin akan mati saat itu juga atau yang lebih buruk, Kenneth akan melenyapkan Zacky karena sudah membongkar rahasianya.

Zacky tersenyum licik. Ia memutuskan untuk tetap menggunakan Marius sebagai tumbal, sambil menyimpan rahasia Kenneth sebagai kartu as untuk memeras atau mengendalikan situasi nanti.

"Sabar, James," ujar Zacky sambil menepuk dada James. "Jangan gegabah. Biarkan Marius merasa aman dulu. Kita awasi mereka di pesta akhir pekan nanti di villa pinggir danau. Di sana, semua orang akan mabuk, dan pengkhianat biasanya akan menunjukkan wajah aslinya."

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰 😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!