Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Dua Kepingan Hati Yang Sama- sama Berjuang
Di dalam tenda medis darurat yang berjarak ribuan mil dari tanah air, waktu seolah berhenti berputar. Udara di Sudan malam itu tidak memberikan ampun, panas dari sisa siang hari tadi, masih terasa menyengat. Seakan bersaing dengan hawa pengap dari mesin-mesin tank baja yang menderu rendah di sudut ruangan.
Lettu Inf. Erlaga Patikelana masih terbaring kaku. Tubuhnya yang atletis kini tampak ringkih di balik selimut putih rumah sakit lapangan yang kasar. Bahu kirinya yang luka oleh serpihan ledakan dan lengan kanannya yang ditembus timah panas telah melalui prosedur operasi darurat yang mencekam selama empat jam.
Dokter bedah militer bekerja dalam tekanan tinggi, di bawah ancaman serangan susulan yang sewaktu-waktu bisa kembali pecah di luar garis pertahanan.
Erlaga berada di ambang batas antara kesadaran dan kegelapan total. Dalam batinnya yang paling dalam, ia sedang bertempur dalam perang yang jauh lebih sunyi daripada kontak senjata di Darfur. Ia tidak lagi memikirkan strategi perang atau perintah komandan. Yang ia rasakan hanyalah denyut nyeri yang hebat, yang merambat dari saraf-sarafnya menuju otak, seolah mengingatkannya bahwa nyawanya sedang bergantung pada seutas benang tipis.
Tangan kanannya yang terbebat kasa putih bergerak sangat pelan, nyaris tak kentara. Jemarinya yang kaku mencoba meraba ke arah dada, memastikan benda logam yang selalu menjadi jangkarnya masih ada di sana.
Dog tag identitas militernya beradu pelan dengan separuh liontin hati yang ia selipkan di sana. Bunyi "klenting" halus itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar di tengah hiruk pikuk rumah sakit lapangan.
Bagi Erlaga, bertahan hidup saat ini bukan lagi sekadar tugas negara. Ia merasa memiliki hutang yang belum lunas. Hutang penjelasan, hutang permintaan maaf, dan hutang akan separuh hati yang ia patahkan secara sepihak.
Di dalam kegelapan yang mengepung kesadarannya, ia tidak lagi memanggil nama itu dengan lantang. Namun, di dalam relung hatinya, wajah seorang gadis dengan hijab hijsu sage itu muncul sebagai satu-satunya alasan baginya untuk terus menarik napas, sekecil apa pun itu.
"Tahan, Letnan. Kamu harus kuat," bisik seorang perawat yang sedang mengganti kantung infus.
Erlaga tidak menjawab. Ia hanya mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Menahan rasa sakit yang masih menjalar di sekujur badan. Keringat dingin bercampur debu gurun membasahi dahinya. Ia sedang melakukan perjuangan paling sulit dalam hidupnya, yakni perjuangan untuk tidak menyerah pada kegelapan.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, jam dinding di kamar Syafina menunjukkan pukul dua pagi. Syafina masih duduk di meja belajarnya, menatap layar laptop yang menampilkan draf tugas kuliahnya yang baru selesai separuh.
Matanya perih, tapi bukan karena kantuk. Ada rasa gelisah yang tidak bisa ia definisikan, sebuah getaran aneh yang merayapi hatinya sejak mendengar berita semalam.
Ia mendengar suara mobil papanya memasuki garasi. Dallas dan Syafana serta sang adik bungsu, Syafini telah pulang dari rumah Pak Erkana. Syafina mematikan lampu meja, berpura-pura sudah tidur agar tidak perlu berinteraksi dengan siapa pun. Ia belum siap mendengar detail lebih lanjut tentang "Erlaga anak teman Papanya" itu.
Suara langkah kaki Dallas terdengar berat menaiki tangga. Diikuti dua derap langkah kaki lainnya. Di balik pintu kamarnya, Syafina mendengar percakapan lirih antara papa dan mamanya di lorong.
"Kondisi Erlaga masih kritis. Tapi, sudah melewati masa operasi pertama. Erkana bilang, Laga itu keras kepala, persis ayahnya. Dia pasti bertahan," suara Dallas terdengar letih.
"Semoga saja, Pa. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Erlaga. Kasihan Fina juga kalau nanti tiba-tiba harus menghadapi situasi ini," sahut Syafana pelan.
Syafina mendengus pelan di balik selimutnya. "Kenapa harus kasihan padaku? Aku kan tidak kenal dia," batinnya ketus. Ia merasa kesal karena semua orang seolah-olah menghubungkan nasib pria di Sudan itu dengan dirinya, padahal ia sudah mati-matian meyakinkan diri bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda.
Setelah suasana rumah kembali sunyi, Syafina bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju lemarinya dengan langkah pelan. Tangannya membuka laci paling bawah, tempat kotak cokelat itu bersembunyi di balik tumpukan kain.
Ia mengeluarkan kotak itu.
Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, liontin hati yang patah itu berkilat, seolah mengejek penyangkalan yang sedang ia bangun. Syafina menatap benda itu dengan tatapan tajam, hampir seperti rasa benci.
"Siapa pun kamu yang sedang bertaruh nyawa di Sudan sana, aku berdoa kamu selamat. Sebagai sesama manusia, aku tidak ingin kamu tinggal nyawa," bisiknya pada kegelapan kamar.
"Tapi jangan harap... jangan pernah berharap kalau kamu adalah orang yang sama dengan pria pengecut yang meninggalkanku di kedai bakso itu. Karena pria itu sudah mati di hatiku sejak hari itu."
Syafina tiba-tiba merasakan dadanya sesak, tapi ia menolak untuk menangis lagi. Ia merasa harga dirinya terlalu tinggi untuk ditukarkan dengan rasa sedih bagi pria yang identitasnya pun ia masih ragukan.
Baginya, Erlaga yang ia temui di pujasera adalah sebuah kesalahan kecil dalam hidupnya, sedangkan Erlaga anak teman papanya adalah beban harapan keluarganya yang ingin ia hindari.
Dengan gerakan kasar, ia memasukkan kembali liontin itu ke dalam kotaknya. Ia tidak hanya menyimpannya, ia mendorong kotak itu ke sudut paling gelap di dalam laci, lalu mengunci laci tersebut dan menyembunyikan kuncinya di dalam sebuah buku tebal.
"Aku tidak akan peduli lagi denganmu, Kak. Tugasku hanyalah melupakanmu," gumamnya tegas.
Ia kembali ke tempat tidur, memejamkan mata dengan paksa.
Namun, di tengah usahanya untuk terlelap, bayangan mobil navy yang melaju menjauh di parkiran kedai bakso kembali muncul. Di saat yang sama, ia membayangkan debu gurun yang beterbangan di atas tenda medis yang ia lihat di berita. Dua bayangan itu saling tumpang tindih, memperlihatkan sebuah kenyataan pahit yang terus coba ia ingkari.
Di ribuan kilometer sana, Erlaga baru saja berhasil melewati puncak masa kritisnya. Detak jantungnya di monitor mulai stabil.
Sementara di sini, Syafina baru saja memulai masa kritis bagi hatinya sendiri, sebuah masa di mana ia harus memilih untuk terus berbohong pada diri sendiri atau mulai menerima bahwa takdir sedang mempermainkannya dengan cara yang paling kejam.
Malan ini, mereka berdua sedang tidak baik-baik saja. Erlaga sedang bertaruh nyawa di tengah panasnya Afrika, sedangkan Syafina sibuk membohongi perasaannya sendiri di balik dinginnya kota Bandung.
Di antara jarak ribuan mil itu, hanya doa-doa tulus yang saling menyapa di tengah langit malam, satu-satunya jembatan bagi dua kepingan hati yang masih enggan untuk saling jujur.