Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *27
Maklum. Seperti biasa, mulut manusia tidak bisa berhenti bicara. Sedikit saja melihat hal yang berbeda, langsung akan jadi bahas obrolan baik secara sengaja atau tidak. Begitulah lumrahnya mulut manusia.
"Kemarin, ada tamu dari kota yang datang nyariin istrinya Bayu, bukan?" Salah satu ibu-ibu angkat bicara saat berbelanja di warung desa tersebut.
"Iya. Katanya, mantan pacar si gadis kota itu lho." Sambut ibu yang lainnya pula.
"Wah, benarkah?"
Si ibu yang sok tau ibu langsung mengangguk mantap. Seolah, dialah yang paling benar dan paling tahu segalanya. "Iya. Tentu saja benar."
"Ibu tau dari mana?"
"Dari anakku yang tak sengaja mendengarkan obrolan mereka," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Begitulah gosip tentang Rin terus berlanjut. Saat di warung, saat di perkumpulan ibu-ibu yang biasa santai di depan rumah tetangga. Bahkan, saat mereka istirahat bekerja. Pembicaraan tentang Rin yang didatangi oleh Marvel terus jadi buah bibir para ibu-ibu desa tersebut.
Ada yang lebih parah dari hanya sekedar omongan tentang Rin yang kedatangan Marvel. Hal itu berupa fitnahan tentang kesucian Rin.
"Dia kan gadis kota. Hidupnya sudah terbiasa bebas. Gak tahu deh saat menikah dengan Bayu entah murni atau tidaknya lagi." Begitulah kata salah satu ibu-ibu yang tanpa sengaja mulai memancing prihal kesucian Rin saat menikah dengan Bayu.
Mirisnya, ucapan itu malah di sambut dengan hangat oleh ibu yang lainnya. "Iya. Maklum, tinggal di kota. Kebebasan bukan lagi hal yang aneh, bukan?"
"Kasihan Bayu ya. Menikah dengan gadis kota."
"Iya. Padahal Bayu itu pemuda yang baik. Tampan, berbudi, pekerja keras. Pokoknya, dia pria baik-baik yang sangat layak beristrikan gadis yang baik pula."
"Iya. Inilah akibatnya jika keluarga lebih memilih nama dari pada kebahagiaan anak sendiri. Anak yang jadi korbannya."
Mereka bicara seakan merekalah yang paling tahu segalanya. Merekalah yang paling benar saat menjalani hidup. Padahal, orang yang mereka bicarakan sedang menjalani hidupnya dengan bahagia. Tapi mereka yang pura-pura mengetahui segalanya, malah ingin ikut campur dalam perjalanan hidup yang sama sekali tidak mereka jalani.
Gosip merebak dengan cepat. Semerbak bunga yang sedang mekar. Oh tidak. Bukan bunga. Seperti daunan kering yang di makan oleh api. Begitulah gosip itu berjalan.
Tak ayal jika gosip itu sampai ke telinga Melati dengan cepat. Karena gosip itu berjalan seolah di tiup oleh angin. Mela yang sangat suka pada Bayu pun langsung mencari pria tersebut di sawah.
Mela mendatangi sawah saat Bayu sedang membersihkan sawah miliknya dengan santai. "Bayu."
Bayu pun langsung menoleh. "Iya."
"Ada apa, La?"
"Kamu, lagi apa?"
"Seperti yang kamu lihat," ucap Bayu masih santai tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Mm ... bisa kita bicara?"
"Boleh. Bicara saja apa yang ingin kamu bicarakan. Aku akan mendengarkan."
"Ee ... ini ... soal ... Bayu, besok aku akan kembali ke desa sebelah buat mengajar. Bisa kamu antarkan aku tidak?"
Bayu langsung mendongak untuk melihat lawan bicaranya. Tapi, harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dalam hati Mela.
Penolakan Bayu langsung dia terima tanpa basa-basi lagi.
"Maaf, La. Tidak bisa. Aku sibuk akhir-akhir ini. Jadi, tidak bisa ke mana-mana."
Wajah Mela berubah kesal. "Kamu kok langsung nolak sih, Yu? Padahal, aku minta tolong sama kamu itu jarang-jangan. Kenapa tidak kamu pertimbangkan dulu baru nolak?"
"Maaf. Sungguh, aku tidak bisa."
"Apa karena istrimu?"
Bayu kembali melihat lawan bicaranya. "Istriku? Kenapa dengannya?"
"Iya, sejak kamu menikah, kamu jadi berbeda."
"Berbeda? Aku rasa tidak. Aku biasa saja."
"Tidak, Bayu. Kamu tidak biasa. Kamu sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Padahal, kita kenal sudah sangat lama. Kita bisa dikatakan hidup bersama sejak kecil. Tapi kamu, setelah kamu menikah, kamu malah mengabaikan aku. Apa bagusnya dia dari pada aku sih, Yu? Kita kenal sudah sangat lama. Harusnya, kamu lebih mengutamakan kenalan lama dari pada orang yang baru kamu kenal."
Mendengar perkataan Mela yang diucapkan dengan nada kesal, plus bicaranya panjang lebar kali tinggi lagi. Bayu langsung menghentikan pekerjaannya. Matanya menatap Mela dengan tatapan agak tidak suka.
"Kamu bicara apa barusan, La? Kamu ... minta aku buat utamakan kamu? Maksudnya bagaimana? Aku harus utamakan kamu dari pada istriku?"
"Bu-- bukan begitu. Aku .... " Gadis itu terlihat serba salah sekarang. Tapi sejujurnya, itulah yang ia inginkan.
"Maaf, Mela. Aku tidak bisa."
"Kenapa tidak? Kita bersama sejak kecil. Aku tahu bagaimana sifat mu. Aku tahu seperti apa kamu. Sedangkan dia, tidak."
"Dia istriku. Walau kami belum kenal cukup lama. Tapi, statusnya berbeda. Dia adalah masa depan yang sedang aku perjuangkan. Sedangkan kita, iya. Kita kenal sejak kecil. Kita bersama dari kecil hingga dewasa. Tapi hubungan kita hanya sebatas teman. Tidak lebih dari itu, Mela."
"Bayu."
"Tidak ada alasan untuk aku lebih mengutamakan hubungan pertemanan kita dari pada hubungan ku dengan istriku, Mela. Aku harap kamu memahami akan hal itu."
"Apa istimewanya dia, Bayu? Gadis kota yang hidup dengan bebas bersama pengaturan kotanya. Kamu tidak tahu apa saja yang telah ia lalui sebelum datang ke desa kita. Mungkin saja dia sudah-- " Mela menggantungkan kalimatnya dengan cepat. Karena saat itu, ia sadar, mungkin, katanya akan menimbulkan masalah jika ia ucapkan.
Dan, benar saja, tatapan Bayu semakin tajam ke arah Mela. "Jangan bicara sembarangan. Jika kamu tanyakan apa istimewanya dia, dia istimewa hanya aku saja yang tau. Sementara pengaturan kota yang kamu katakan, aku rasa, baik gadis desa atau gadis kota, letak sifat manusia itu tetap saja pada sifatnya. Tidak sepenuhnya bermasalah dengan tempat di mana ia tinggal."
Mela semakin kesal akan pembelaan yang Bayu berikan untuk Rin. Perasaan kesal itu semakin tidak bisa ia bendung lagi sekarang. Dia tidak lagi bisa menahan bibirnya untuk tidak menyinggung prihal kedatangan pria kota beberapa waktu yang lalu.
"Bayu sadarlah! Gadis kota yang kamu bela itu, bukankah sedang membuat desa kita ini heboh?"
"Heboh? Apa yang istriku lakukan sampai desa harus heboh karenanya?"
"Bukankah pacar istrimu datang beberapa waktu yang lalu? Desa sudah heboh karena membicarakan dia. Apakah kamu tidak mendengar sedikitpun tentang pembicaraan itu, Bayu?"
Bayu terdiam. Matanya menatap tajam ke arah Mela. Sungguh, kekesalan Bayu mungkin sudah sampai ke ujung rambut. Hanya saja, pria itu sangat pintar untuk menahan emosi agar tidak tumpah sepenuhnya.
"Istriku tidak mengotori nama desa dengan kedatangan orang dari kota itu. Lalu kenapa mereka malah menjadikan istriku bahan omongan? Apakah mereka tidak ada hal lain untuk di bicarakan?"
"Bayu."
"Siapa yang bicara? Aku ingin bertanya secara langsung pada orang tersebut," ucap Bayu pada akhirnya.