Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Malam semakin larut, namun udara di dalam rumah itu terasa lebih dingin daripada es. Araluna tidak bisa menerima kenyataan bahwa esok pagi, sosok kaku yang sangat ia cintai itu akan dibuang ke Surabaya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Luna membuka jendela kamarnya perlahan agar tidak menimbulkan derit suara sedikit pun.
Gadis itu nekat memanjat balkon, berjalan mengendap-endap di atas tepian tembok yang licin karena sisa hujan, menuju balkon kamar Arsen. Ia tidak peduli jika ia terpeleset; rasa takut kehilangan Arsen jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematian.
Sampai di depan pintu kaca balkon Arsen, ia mengetuknya dengan sangat pelan. "Kak, buka..." bisiknya dengan suara serak.
Celah pintu terbuka. Arsen muncul dengan wajah yang hancur, matanya yang biasa dingin kini memancarkan keputusasaan. Begitu kaki Luna menginjak lantai kamar, gadis itu langsung menghambur, memeluk Arsen dengan kekuatan penuh, seolah-olah jika ia melepasnya sedikit saja, Arsen akan menguap tertiup angin.
"Maafin gue kak... lo jadi gini karena gue..." Luna terisak di dada Arsen, membasahi kaos pria itu dengan air matanya. "Gue yang narik lo ke jurang ini. Seharusnya lo tetep jadi kakak tiri yang kaku aja, nggak usah peduliin gue..."
Arsen terdiam sejenak, lalu ia membalas pelukan itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Luna. "Jangan ngomong gitu, Lun. Gue yang sadar, gue yang mau. Gue nggak menyesal sedikit pun," bisik Arsen dengan suara rendah yang bergetar.
Menyadari bahwa ini mungkin malam terakhir mereka bisa bersentuhan, suasana yang tadinya penuh kesedihan mendadak berubah menjadi sangat intens. Arsen melepaskan pelukannya, menatap wajah Luna yang sembab di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Sifat kakunya benar-benar hilang, digantikan oleh gairah yang bercampur dengan rasa sakit yang mendalam.
Arsen menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya, lalu mencium bibirnya dengan sangat dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti ucapan selamat tinggal sekaligus janji setia. Ciuman itu tidak lagi lembut; itu adalah ciuman yang haus, menuntut, dan penuh dengan keputusasaan.
Luna membalasnya dengan sama agresifnya. Ia menarik Arsen menuju ranjang, seolah ingin merekam setiap inci tubuh pria itu ke dalam ingatannya. Di atas sprei yang dingin, mereka kembali bersatu. Malam ini, adegan itu terjadi lagi, namun dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih panas dan lebih panjang.
Setiap sentuhan Arsen di kulit Luna terasa seperti api yang membakar rasa takut mereka. Arsen menjelajahi tubuh Luna dengan penuh damba, memberikan tanda-tanda yang lebih permanen sebagai bukti bahwa Luna adalah miliknya. Luna mengerang tertahan, mencengkeram bahu Arsen yang kokoh, membiarkan dirinya tenggelam dalam gairah yang seolah tidak ada ujungnya.
"Gue bakal balik buat lo, Araluna," gumam Arsen di sela napasnya yang memburu, saat ia memberikan sentuhan paling intim yang pernah mereka lakukan. "Jangan pernah berani lirik cowok lain di sini, atau gue bakal bener-bener jadi setan buat mereka."
Luna hanya bisa mengangguk pasrah, tubuhnya melengkung mengikuti setiap gerakan Arsen. Di dalam kamar yang terkunci itu, mereka seolah mencoba menghentikan waktu. Mereka bercinta seolah-olah hari esok tidak akan pernah datang, seolah-olah dengan bersatunya tubuh mereka, jarak Jakarta-Surabaya bisa mereka lipat menjadi nol.
Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring dengan napas yang masih tersengal, kulit mereka masih bersentuhan, berkeringat di bawah selimut yang sama. Arsen memeluk Luna dari belakang, mencium bahunya yang terbuka berkali-kali.
"Lo harus janji satu hal, Kak," bisik Luna sambil menoleh sedikit. "Jangan biarin Papa atau kakek jodohin lo sama cewek Surabaya. Kalau gue denger lo deket sama cewek lain, gue bakal nekat lari ke sana dan bikin keributan lebih parah dari ini."
Arsen terkekeh rendah, suara tawa yang paling sedih yang pernah Luna dengar. "Hati gue udah lo kunci di sini, Lun. Gue bakal jadi robot kaku lagi di sana, cuma buat nunggu waktu gue bisa balik ke lo."
Subuh mulai membayang di ufuk timur. Arsen membantu Luna kembali ke jendela balkonnya. Sebelum Luna benar-benar pergi, Arsen menarik tangannya dan memberikan sebuah cincin perak yang selama ini ia pakai.
"Pake ini. Kalau lo kangen, liat ini," ucap Arsen.
Luna memanjat kembali ke kamarnya dengan hati yang hancur namun penuh janji. Ia melihat mobil travel yang menjemput Arsen sudah sampai di depan rumah. Perpisahan ini nyata, namun Araluna tahu, api yang mereka nyalakan semalam tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh jarak sejauh apa pun.
Perpisahan yang sangat panas namun emosional! Arsen pergi membawa janji, Luna tinggal dengan kenangan 🌚💔