NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: tamat
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang di Meja Makan

Malam itu, kediaman Adiwangsa tampak begitu tenang. Aroma sup ayam jahe dan tumis brokoli bawang putih menyeruak dari arah dapur, memenuhi ruang makan yang elegan dengan nuansa hangat. Katya, dengan celemek merah muda yang membungkus tubuh rampingnya, sedang menata piring dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Arkan baru saja terlelap setelah sesi dongeng panjang bersama Donny, dan Aisha sedang asyik dengan buku mewarnainya di ruang tengah.

Bagi Katya, momen-momen seperti inilah yang membuktikan bahwa keputusannya untuk menerima pinangan sahabat ayahnya adalah takdir terindah. Donny, pria yang dulu ia panggil 'Om', kini adalah pelabuhan terakhirnya. Pria itu tidak hanya memberikan keamanan finansial, tetapi juga cinta yang dewasa dan stabil.

"Mas, makanannya sudah siap!" seru Katya lembut ke arah ruang kerja Donny.

Tak lama, Donny muncul. Kemeja kerjanya sudah diganti dengan kaos polo santai, namun wibawanya sebagai pemimpin perusahaan besar tidak pernah luntur. Ia mendekati Katya, melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, dan mendaratkan kecupan ringan di pelipisnya.

"Harum sekali. Kamu masak sendiri lagi?" tanya Donny dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Tentu saja. Spesial untuk suamiku yang sudah bekerja keras hari ini," jawab Katya manja.

Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap. Suara bel gerbang depan berbunyi nyaring, diikuti oleh suara Bi Ijah yang tampak bingung berbicara dengan seseorang di pintu depan. Tak lama, Bi Ijah masuk ke ruang makan dengan wajah pucat.

"Maaf, Tuan... Nyonya... ada seorang anak muda di depan. Dia... dia memaksa masuk. Katanya dia punya urusan mendesak dengan Tuan Donny," lapor Bi Ijah terbata-bata.

Donny mengerutkan kening. "Urusan bisnis? Jam segini? Suruh dia datang ke kantor besok pagi, Jah."

"Tapi Tuan... dia bilang ini bukan soal bisnis. Dia bilang ini soal... keluarga."

Katya dan Donny saling berpandangan. Belum sempat Donny beranjak, sosok itu sudah melangkah masuk melewati Bi Ijah. Ia adalah seorang pemuda berusia sekitar awal dua puluh tahunan. Parasnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan mata elang yang sangat mirip dengan... Donny. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans, pembawaannya angkuh namun tenang.

Pemuda itu berhenti tepat di ujung meja makan, menatap hidangan rumahan di atas meja dengan senyum sinis yang menyakitkan mata.

"Wah, makan malam keluarga yang sangat menyentuh," suara pemuda itu terdengar berat dan penuh sarkasme.

Donny membeku. Garpu yang tadinya ia pegang terlepas begitu saja, denting logamnya terdengar nyaring di atas lantai marmer. Wajah Donny yang biasanya tenang kini berubah pucat pasi, matanya membelalak seolah melihat hantu dari masa lalu.

"Ardiansyah?" bisik Donny dengan suara yang hampir tidak keluar.

Katya merasakannya. Ada getaran hebat di tangan Donny yang masih memegang pundaknya. "Mas? Siapa dia? Rekan bisnismu?" tanya Katya dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Ia merasakan firasat buruk yang merayap di tengkuknya.

Pemuda yang dipanggil Ardiansyah—atau Ian—itu tertawa pendek. Ia melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Katya dan menatap langsung ke mata Donny. "Kenapa, Pa? Terkejut melihatku masih hidup? Atau terkejut karena aku tahu di mana tempat persembunyianmu bersama... istri barumu ini?"

Kata 'Pa' atau 'Papa' menghantam dada Katya seperti gada besi. Dunia seolah berhenti berputar. Katya menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Mas... apa maksudnya ini? Papa? Dia memanggilmu Papa?"

Donny tidak menjawab. Ia tampak sedang berjuang mengatur napasnya. Keringat dingin mulai muncul di keningnya.

"Perkenalkan, Tante," Ian menoleh ke arah Katya. Matanya menyapu penampilan Katya dari bawah ke atas dengan tatapan meremehkan. "Namaku Ardiansyah. Tapi teman-temanku memanggilku Ian. Aku putra kandung Donny Adiwangsa dari mendiang Marina, istri pertamanya yang 'terlupakan'."

Katya merasa kakinya lemas. Ia harus berpegangan pada pinggiran meja makan agar tidak jatuh. Selama ini, Donny bercerita bahwa ia pernah menikah namun tidak memiliki keturunan dari pernikahan pertamanya. Donny bilang Katya adalah satu-satunya wanita yang memberinya anugerah anak.

"Mas... katakan ini bohong. Kamu bilang kamu tidak punya anak lain selain Arkan dan Aisha," suara Katya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Donny akhirnya bersuara, namun nadanya penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Katya, dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku... aku akan menjelaskannya."

"Menjelaskan apa, Pa?" potong Ian dengan nada tinggi. "Menjelaskan kenapa kau mengirimku ke sekolah asrama di Swiss sejak usia sepuluh tahun? Menjelaskan kenapa kau hanya mengirimkan uang tanpa pernah datang menjengukku, bahkan saat Ibu meninggal? Atau menjelaskan kenapa kau menyembunyikan eksistensiku dari istri mudamu ini seolah-olah aku adalah aib?"

Suasana di ruang makan menjadi sangat mencekam. Aisha yang mendengar keributan itu berlari masuk ke ruang makan, memegang bonekanya dengan erat. "Ayah... siapa kakak itu?" tanya Aisha polos.

Melihat Aisha, kemarahan di mata Ian semakin menyala. Ia melihat sebuah kehidupan sempurna yang selama ini tidak pernah ia miliki. Sementara ia kedinginan di negeri orang dengan hati yang hancur, ayahnya di sini sedang bermain rumah-rumahan dengan wanita yang usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahun darinya.

"Keluar, Ian! Kita bicara di ruang kerja!" bentak Donny, mencoba mengambil kendali situasi.

"Kenapa? Takut rahasiamu terbongkar lebih banyak lagi di depan mereka?" Ian justru menarik kursi makan dan duduk dengan santai, seolah ia adalah pemilik rumah tersebut. Ia mengambil sepotong roti dan mengunyahnya dengan kasar. "Masakan istrimu lumayan, tapi baunya hambar. Sama seperti kehidupan pernikahan kalian yang penuh kepalsuan."

Katya merasa hatinya robek. Ia bukan wanita yang lemah, tapi kenyataan bahwa suaminya menyimpan rahasia sebesar ini—seorang anak manusia, seorang putra—adalah pengkhianatan yang tak terbayangkan. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Mas Donny... semua yang dia katakan... apakah itu benar?" tanya Katya sekali lagi, menuntut kejujuran.

Donny menunduk, tidak berani menatap mata istrinya yang sembab. "Ya, Katya. Ian adalah anakku. Aku merahasiakannya darimu karena... karena hubunganku dengan ibunya dulu sangat rumit, dan aku ingin melindungimu dari konflik masa lalu."

"Melindungiku? Atau melindungi reputasimu?" Katya tertawa miris. Ia melepaskan celemeknya dan melemparkannya ke lantai. Rasa mual mendadak menyerang perutnya. Kebahagiaan yang ia bangun selama beberapa tahun terakhir terasa seperti istana pasir yang tersapu ombak dalam hitungan detik.

Ian berdiri, menyadari bahwa misinya untuk merusak suasana malam itu telah berhasil. Ia berjalan mendekati Katya yang masih terpaku di tempatnya. Donny mencoba menghalanginya, namun Ian dengan gesit menghindar.

Ia berdiri tepat di samping Katya. Aroma parfum maskulin yang tajam masuk ke indra penciuman Katya, sangat kontras dengan aroma kehangatan rumah yang tadi ia rasakan. Ian mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Katya, memberikan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Katya berdiri.

Donny mencoba meraih lengan Ian, tapi pemuda itu menepisnya dengan kasar. Mata Ian yang gelap terkunci pada mata Katya yang penuh luka.

Dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti desisan ular namun terdengar sangat jelas di telinga Katya, Ian berbisik:

"Nikmati sisa waktumu di rumah ini, Tante Katya yang cantik... Karena aku datang bukan hanya untuk menuntut pengakuan. Aku datang untuk mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku. Warisan, perusahaan, dan rumah ini... Aku akan memastikan kalian tidak menyisakan apa pun."

Ian memberikan senyum miring yang penuh kemenangan sebelum berbalik dan melangkah pergi keluar rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Donny yang terduduk lemas di kursi dan Katya yang merasa dunianya benar-benar telah runtuh.

1
Agriphina Amoretta
keren 👍😍
Luwi Utami
maju terus.. restu udah di depan mata Donny.. usia bukan jd masalah dlam. suatu hubungan..
Luwi Utami
menarik sih judulnya.. baru mulai baca.. seru juga mnikah sm sahabat ayahnya
Perempuan
Ceritanya cukup mendebarkan
Perempuan
Gak ada kelanjutannya yaa?
Erna Na
sangat Bagus
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
Alvaraby: 👌👌👌 ok lanjut kak bacanya. selamat menikmati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!