NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jejak yang Hilang

Lunaris keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih meneteskan air. Rasa segar dari air dingin sedikit membantunya menjernihkan pikiran yang kusut. Namun, kejutan lain sudah menantinya di atas tempat tidur.

Di sana, terlipat rapi, sudah tersedia satu set pakaian bersih. Sebuah kaos lengan panjang santai berwarna abu-abu dan celana training panjang hitam.

Lunaris mengerutkan kening, mengangkat kaos itu sambil membolak-baliknya. "Dari mana dia dapat baju cewek pas ukuran gue begini di tengah hutan?" Gumamnya curiga.

Namun, kecurigaannya tidak bertahan lama. Mengingat bagaimana Sirius bisa mengubah gaya rambut dan pakaiannya sendiri dalam sekejap mata, memunculkan sepasang baju dan celana sederhana pastilah bukan hal sulit bagi makhluk aneh itu.

Tanpa pikir panjang, Lunaris segera memakainya. Ukurannya pas, dan bahannya lembut, jauh lebih nyaman daripada seragam sekolahnya yang sudah kotor dan robek.

Setelah siap mengenakan sepatu dan membawa tas ranselnya, Lunaris melangkah keluar kamar.

Pemandangan di balik pintu kamar membuatnya tertegun sejenak. Lorong mansion itu luar biasa luas. Lantainya terbuat dari kayu gelap yang kokoh, sementara dindingnya dipenuhi wallpaper bergaya klasik yang sudah mulai mengelupas di sana-sini.

Meski megah, aura keterbengkalaian begitu terasa. Debu tebal menyelimuti sudut-sudut ruangan, dan sarang laba-laba menggantung di antara pilar-pilar tinggi, menandakan tempat ini sudah puluhan —atau mungkin ratusan— tahun tidak tersentuh kehidupan manusia.

Namun, struktur bangunannya masih sangat kokoh, seolah waktu berhenti di tempat ini.

Lunaris berjalan perlahan menuju lantai bawah, menuruni sebuah tangga melingkar yang sangat besar yang dilapisi karpet beludru mahal. Dari ketinggian itu, ia bisa membayangkan betapa megahnya tempat ini di masa kejayaannya. Mungkin dulu tempat ini dipenuhi lampu kristal yang menyala terang dan pesta dansa para bangsawan. Sekarang, hanya ada kesunyian yang dingin.

Sesampainya di lantai satu, langkah Lunaris terhenti.

Di sebuah sudut ruangan yang luas, dekat jendela besar yang tertutup tirai berat, Sirius berdiri mematung.

Pemuda itu berdiri di depan sebuah piano tua berwarna hitam glossy yang tertutup debu. Di atas piano itu, bersandar sebuah lukisan potret wanita dalam bingkai emas yang kusam.

Dalam lukisan itu tampak di wanita memiliki pose yang sama dengan lukisan yang sebelumnya Lunaris lihat di kamar.

Lunaris menyipitkan mata, mencoba melihat lukisan itu lebih jelas. Wanita dalam lukisan itu mengenakan gaun kuno yang indah, namun ada sesuatu yang mengganggu. Bagian wajahnya... hilang.

Kanvas di bagian kepala wanita itu robek kasar, seolah seseorang sengaja mencabik-cabiknya dengan penuh amarah agar wajah sang wanita tidak bisa dikenali lagi.

Sirius menatap lukisan wajah robek itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya tajam, dingin, namun ada kilatan emosi yang tertahan di sana—entah kebencian, kerinduan, atau penyesalan.

"Sirius?" Panggil Lunaris pelan, melangkah mendekat.

Mendengar suara langkah kaki, Sirius langsung memutus kontak matanya dengan lukisan itu. Ia berbalik badan dengan cepat, ekspresinya kembali datar dan angkuh seperti biasa, seolah momen hening tadi tidak pernah terjadi.

"Kau lama sekali. Siput saja mungkin bisa sampai ke kota duluan," Sindirnya dingin, mengabaikan tatapan penasaran Lunaris pada lukisan di belakangnya.

"Kaki gue masih sakit jadi belum bisa gerak cepet. Gue baru aja mau nanya, itu lukisan sia—"

"Ayo pergi sekarang." Potong Sirius cepat, langsung berjalan melewati Lunaris menuju pintu besar mansion tanpa menoleh lagi.

Lunaris mendengus kesal. "Dasar makhluk aneh sok misterius," gumamnya. Ia melirik sekilas ke arah lukisan wajah robek itu sekali lagi, mengangkat bahu tak acuh, lalu berlari kecil menyusul Sirius. Toh, itu bukan urusannya.

Sementara itu, suasana di kantor kepolisian pusat kota terasa begitu menyesakkan bagi Aaron. Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu mendinginkan kepala pemuda itu yang rasanya nyaris meledak.

BRAK!

Hentakan keras telapak tangan Aaron menghantam meja kayu berlapis kaca itu dengan kuat, menimbulkan suara gaduh yang membuat beberapa petugas menoleh kaget. Namun, Aaron tidak peduli. Rasa sopan santunnya sudah menguap sejak satu jam yang lalu, digantikan oleh kepanikan yang mencekik.

"Tolong, harap tenang. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah," Ujar petugas polisi bertubuh gempal di hadapannya. Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan lambat yang menyebalkan, lalu kembali membolak-balik berkas laporan dengan tempo yang seolah sengaja diperlambat.

"Sesuai prosedur, pencarian orang hilang baru bisa dilakukan secara intensif setelah ada bukti kuat adanya tindak kriminal atau jika korban sudah hilang lebih dari waktu tertentu. Ini baru satu hari. Mungkin temanmu itu cuma main ke rumah kerabat, menginap di rumah pacar, atau sedang menenangkan diri. Anak muda zaman sekarang kan biasa begitu, kabur sebentar kalau lagi ada masalah," Jawab polisi itu santai, nadanya terdengar meremehkan, seolah Aaron adalah anak kecil yang kehilangan kucing peliharaan.

Rahang Aaron mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya memerah, bukan karena tangis, tapi karena amarah dan kurang tidur yang parah.

"Menenangkan diri apanya?!" sergah Aaron, suaranya meninggi, bergetar menahan ledakan emosi. Ia mencengkeram tepi meja erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Teman saya sudah hilang hampir dua hari, Pak! Bukan dua jam!"

Aaron menunjuk jam dinding yang berdetak monoton di dinding kantor. "Dia menghilang sejak jam istirahat kemarin. Saya sudah mencoba mencari dan menghubunginya, ponselnya mati total! Dan bapak menganggap jika ini hanya masalah sepele, bagaimana saya tidak emosi?!"

Napas Aaron memburu. Bayangan kejadian kemarin kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyakitkan.

Kemarin siang, saat bel masuk berbunyi setelah jam istirahat, bangku Lunaris kosong, gadis itu tidak datang ke kelas. Awalnya, Aaron berpikir gadis itu mungkin masih di UKS karena kakinya yang sakit. Namun, hingga pelajaran dimulai pirasatnya mulai tidak menentu, Lunaris juga tak kunjung muncul ke kelas.

Perasaan tidak enak mulai merayapi hati Aaron saat melihat tas Lunaris masih ada di sana, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar dan akan segera kembali.

Lalu karena perasaan Aaron semakin tidak karuan ditambah dia juga melihat bangku Bracia Emmeline dan Tessa juga kosong, maka Aaron pun memutuskan untuk mencari Lunaris.

Aaron takut terjadi apa-apa pada Lunaris dan itu bisa saja berhubungan dengan Bracia dan teman-temannya.

Aaron ke seluruh sudut sekolah. Yang pertama Aaron datangi adalah UKS, pemuda itu sangat berharap jika Lunaris masih ada di sana.

Tapi yang Aaron dapat hanya dokter Sarah yang sedang membereskan beberapa barang. Saat Aaron bertanya, wanita itu ikut bingung karena Lunaris sudah pergi ke kelas sejak jam istirahat.

Dari UKS Ia berlari menyusuri lorong-lorong sepi, memeriksa perpustakaan, kantin belakang, rooftop, hingga gudang olahraga. Nihil. Tidak ada jejak Lunaris di mana pun.

Bahkan saat Aaron tidak sengaja bertemu dengan Bracia dan teman-temannya, Aaron curiga jika hilangnya Lunaris berhubungan dengan Bracia.

Aaron sudah berusaha mendesak gadis cantik itu untuk mengatakan dimana Lunaris, tapi akhirnya mereka malah bertengkar dan Aaron sama sekali tidak mendapatkan petunjuk dimana Lunaris.

Rasa takut itu berubah menjadi teror saat sekolah usai dan Lunaris tetap tidak kembali untuk mengambil tasnya.

Aaron tahu betul siapa Lunaris. Gadis itu bukan tipe pembangkang yang akan bolos tanpa kabar, apalagi meninggalkan barang-barangnya begitu saja. Lunaris adalah gadis yang hidupnya sudah cukup berat apalagi setelah kematian ibunya.

Dia tidak punya tempat pelarian. Dia tidak punya kerabat lain di kota ini.

"Saya tau betul jika teman saya bahkan tidak memiliki kerabat dekat selain mendiang ibunya, jadi 'main ke rumah kerabat' tidak mungkin, Pak! Itu tanda bahaya! Dia sendirian, dia perempuan, dan sekarang entah berada dimana" Desak Aaron lagi, suaranya mulai serak karena frustrasi. "Jika bapak lupa kita kita sedang diteror pembunuh berantai yang sudah menghabisi banyak nyawa termasuk ibu dari teman saya yang saat ini hilang. Apa Bapak harus menunggu sampai mayatnya ditemukan dulu baru mau bergerak?! Atau kalau bapak ingin meminta bayaran, saya akan bayar berapapun asal teman saya cepat ditemukan!"

Petugas itu menghela napas panjang, akhirnya meletakkan pulpennya. Ia menatap Aaron, melihat kepanikan yang tulus dan murni di mata pemuda itu. Bukan sekadar drama remaja, ada ketakutan akan kehilangan yang mendalam di sana.

"Kami butuh tindakan sekarang! Lunaris tidak punya siapa-siapa lagi selain ibunya yang baru dua hari lalu. Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia karena kalian lambat bertindak dengan alasan prosedur sampah ini, saya bersumpah akan menuntut kepolisian ini sampai ke atasan kalian!" ancam Aaron, tak main-main.

Mendengar ancaman dan melihat kegigihan Aaron, juga karena cukup mengenal Aaron sebagai anak tunggal dari keluarga Luxe yang terpandang. Petugas itu akhirnya luluh. "Baik, baik. Kami mengerti kekhawatiranmu. Saya akan masukkan laporannya ke prioritas patroli siang ini. Kami akan coba sebar fotonya ke unit lapangan."

Aaron mengusap wajahnya kasar, sedikit lega meski rasa putus asa masih mencengkeram dadanya. "Tolong, Pak. Lakukan dengan serius. Saya takut jika Lunaris benar-benar dalam bahaya."

Setelah urusan administrasi selesai, Aaron melangkah gontai keluar dari kantor polisi. Matahari siang yang terik menyengat kulitnya, kontras dengan hatinya yang terasa dingin dan kosong. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel mahalnya. Ada puluhan panggilan keluar ke nomor Lunaris yang tidak tersambung. Mengabaikan panggilan tidak terjawab dari ibunya dan juga Bracia.

Namun, bukan hanya Aaron yang sedang dilanda kecemasan luar biasa.

Di sudut lain kota, di sebuah bangunan toko bunga sederhana. Nyonya Lyn sedang berdiri gelisah di depan etalase kacanya.

Siang ini, wajah Nyonya Lyn pucat pasi. Tangannya yang keriput gemetar saat merangkai bunga mawar putih pesanan pelanggan, hingga duri mawar itu menusuk jarinya.

"Au!" Pekiknya pelan, menatap butiran darah yang muncul di ujung telunjuknya. Perih, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi.

Pikirannya melayang pada Lunaris yang sampai sekarang masih belum pulang

Sudah dua hari lampu teras rumah Lunaris tidak menyala. Sudah dua hari jendela kamarnya tertutup rapat sejak pertemuan terakhir mereka Jum'at pagi kemaris sebelum gadis itu berangkat sekolah.

"Lunaris... Kuharap kau tidak melakukan sesuatu yang salah," bisik Nyonya Lyn dengan mata yang tidak terbaca.

Kekhawatiran Nyonya Lyn bukan tanpa alasan. Tadi pagi, saat ia hendak berangkat ke toko bunganya, ia melihat pemandangan yang membuatnya merinding.

Langit di atas rumah Lunaris tampak lebih gelap dari biasanya, padahal di tempat lain matahari bersinar cerah. Dan yang membuatnya ketakutan adalah suara kaok kasar yang bersahut-sahutan.

Tiga ekor burung gagak hitam berukuran besar terbang berputar-putar rendah tepat di atas atap rumah Lunaris.

Burung-burung pembawa firasat itu tidak sekadar lewat. Mereka bertengger di pagar rumah Lunaris, menatap kosong ke arah jendela kamar gadis itu seolah sedang menanti sesuatu. Atau... menandai sesuatu.

Orang tua zaman dulu selalu bilang, jika gagak berputar di atas rumah seseorang, itu pertanda petaka. Pertanda kematian atau hilangnya sebuah jiwa.

Firasat buruk langsung menghantam dada Nyonya Lyn. Ia merasa sesak, seolah ada tangan dingin yang meremas jantungnya.

Namun pikiran itu seketika buyar saat suara telponnya berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk.

Nama Aaron tertera disana, langsung saja wanita tua itu mengangkat telponnya.

"Halo? Nyonya Lyn?"

"Aaron... bagaimana, Nak? Apa polisi sudah menemukan Lunaris?" Tanya Nyonya Lyn.

Di seberang telepon, Aaron terdengar lelah. "Belum, Nyonya. Tapi mereka sudah menerima laporannya. Patroli akan mulai mencari. Nyonya tenang saja, ya. Jangan banyak pikiran, ingat kesehatan Nyonya."

"Bagaimana aku bisa tenang, Aaron..." Nyonya Lyn menatap ke arah luar jendela, ke arah di mana satu ekor gagak masih bertengger diam disebut pohon oak di depan tokonya. Burung itu seakan balas menatap nyonya Lyn. "Firasatku buruk sekali akhir-akhir ini...."

"Saya janji, Nyonya," suara Aaron terdengar berat namun penuh tekad. "Saya akan menemukannya. Saya tidak akan pulang sebelum membawa Lunaris kembali. Nyonya Lyn tunggu saja, biar saya yang cari Lunaris."

Sambungan telepon terputus. Aaron menatap layar ponselnya yang menggelap, lalu menatap langit kota yang mulai mendung.

"Lunaris... lo di mana sebenernya?" batinnya menjerit, memanggil nama gadis itu dalam diam. "Tolong bertahanlah. Gue pasti nemuin lo."

Tanpa membuang waktu lagi, Aaron menyalakan mobil Jeep Rubicon miliknya. Ia tidak akan menunggu polisi. Ia akan kembali mencari ke tempat dimanapun mungkin Lunaris bisa ditemukan.

Aaron tidak akan menyerah untuk menemukan Lunaris.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!