NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Ternyata masalah yang kemarin belum selesai bagi Deo dan dua orang tuanya. Buktinya, pagi buta mereka datang ke rumah Vania. Laki-laki yang telah mengecewakan Vania itu hanya memasang wajah datar tanpa sedikitpun besuara. Justru mamah dan papah Deo yang angkat bicara supaya masalahnya diselesaikan dengan baik dan damai.

" Kami minta maaf kepada Vania, Bu Sarah dan Pak Edwin atas kesalahan Deo, anak kami. Saya sudah menegur Deo agar bisa menjaga hati saat berjauhan dengan Vania. Saya yakin, hubungan yang dijalani anak saya dan Vania sebagai pasangan menunjukkan betapa seriusnya Deo kepada Vania," mamah Deo pun melirik ke arah Vania. " Vania, tante mohon jangan gegabah mengambil keputusan sendiri untuk membatalkan pernikahan kalian," sambung ibu Deo.

"Saya dan istri saya sebenarnya sama dengan Vania, kami kecewa bberat dan sakit hati dengan nak Deo ini. Terutama saat kami mendengar podcast Deo yang membahas soal mahar. Saya bisa saja menuntut Deo atas pencemaran nama baik keluarga saya, tapi saya masih ingat kebaikan bapak dan ibu. Saya menghormati keputusan Vania untuk mengakhiri hubungannya dengan nak Deo dan membatalkan pernikahan mereka," jelas Edwin.

Vania menatap Deo dengan tatapan penuh kekecewaan dan amarah, namun laki-laki itu hanya membalas dengan wajah datar yang seolah-olah tidak terpengaruh. Laki-laki itu tidak terlihat merasa bersalah atau menyesal. Di ruang tamu yang sunyi ini, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak lambat, menambah ketegangan yang sudah terasa. Vania mencoba menelan kekecewaannya, merasakan berat di dadanya semakin menumpuk.

"Deo, kamu tidak punya apa-apa untuk dikatakan?" tanya Vania dengan suara yang tenang.

Deo hanya menghela napas, mengalihkan pandangannya ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian dari situasi yang memanas. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Vania," jawabnya akhirnya, suaranya datar tanpa emosi.

Mendengar jawaban itu, Vania menghela napasnya. Dia menggertakkan giginya, berusaha keras untuk mengontrol emosinya. Vania kembali menatap Deo sejenak, kemudian tatapannya beralih pada kedua orang tua Deo.

" Vania lihat yang berjuang agar Vania dan Deo kembali cuma om dan tante, bukan Deo sendiri. Sedangkan Deo terlihat datar dan pasrah, seolah tidak peduli dengan hubungan kami. Seharusnya kalau Deo benar-benar mencintai saya, Deo memperjuangkan hubungan ini."

Deo menoleh." Aku sudah banyak berjuang untuk kamu Vania, kurang apa lagi?" kilah Deo terlihat panik.

" Berjuang katamu? yang ada kamu tuh bikin repot!"

"Loh, justru kamu yang bikin repot dirimu sendiri, kenapa jadi menyalahkan aku? Aku gak minta kamu buat ngikutin aku sampai segitunya. Kamu nyuruh orang biar bisa nguntit aku kan?"

Vania berdecak." Aku belum pernah sama sekali nyuruh orang lain buat ngikutin kamu. Selama ini aku percaya sama kamu. Tapi beruntungnya banyak orang yang sayang sama aku, mereka berinisiatif membongkar kelakuan kamu dibelakangku. mereka gak mau aku menyesal telah memilih kamu sebagai pasangan. Om dan Tante lihat sendiri kan Deo selalu mengelak. Sepertinya Andra memang tidak berniat untuk meneruskan hubungan ini."

"Deo!" tegur papah Deo, pria itu menggelengkan kepala melihat sikap putranya.

Deo beranjak dan meninggalkan ruang tamu dlam kondisi emosi, laki-laki itu mengibaskan jaketnya karena kegerahan menghadapi Vania.

" Setelah ini kamu playing victim ke orang-orang dan bersikap seolah kamu adalah korban. Setelah itu kamu memanfaatkan situasi ini untuk jadi terkenal," sindir Vania.

" Udah Vania, jangan seperti itu," tegur mamahnya.

Bayangan Deo sudah tidak terlihat lagi di ruangan. Kepergian laki-laki itu di susul oleh kedua orang tuanya. Perasaan Vania bercampur aduk, ia merasa lega, marah dan kecewa secara bersamaan. Kedua orang tuanya tidak menyangka, kisah cinta anaknya kan berakhir mengecewakan seperti ini.

Vania memainan jari-jarinya mewakili perasaan yang bercampur aduk. " Laki-laki mana lagi yang harus aku percaya selain papahku?"

---

Sepanjang perjalanan mengendarai motor, Vania kembali teringat selama ini yang memberitahu tentang sikap Deo yang bermain di api di belakangnya adalah penggemarnya sendiri. Mereka tidak rela jika Vania meneruskan hubungan dengan Deo yang berani mendua di belakangnya. Meski Vania sedikit melamun, namun ia masih tetap bisa fokus pada jalan di depannya.

" Kami sayang kak Vania, kami gak rela kalau seandainya kak Vania jatuh ke pelukan orang yang salah. Kami melakukan ini semua karena kami peduli pada kak Vania," ucap para penggemarnya Vania yang masih ia ingat sampai hari ini.

Merenungi semua yang terjadi, Vania yang ingat sebuah kalimat. Katanya sebelum menikah pasti ada saja ujian besar yang menimpa setiap pasangan, entah ekonomi yang menurun, orang tua yang tiba-tiba berubah pikiran, sifat buruk pasangan yang mulai terlihat juga ujian lainnya. Dan Vania sudah melewati ujian itu, dimana Tuhan menunjukkan bagaimana Deo yang sebenarnya sebelum pernikahan berlangsung.

Rasa sakit masih begitu membekas di hati Vania, apalagi saat dia mendengar rekaman suara antara Deo dan temannya. Dalam rekaman itu Deo mengatakan kalau dia masih belum bisa melupakan Karina sebagai masa lalunya, laki-laki itu masih mencintainya. Selama ini Vania hanya di jadikan pelarian, sikap baik dan keromantisannya seolah hanya tameng untuk menutupi perasaan Deo yang sebenarnya. Dada Vania terasa sesak mengingat isi rekaman itu, apalagi Deo merupakan cinta pertamanya. Ia belum pernah mencintai laki-laki manapun, dan keinginannya dulu hanya ingin mencintai seseorang selama hidupnya. Sayangnya keinginannya belum terkabul, ia malah di pertemukan dengan laki-laki seperti Deo, sungguh malang nasibnya.

Vania menghela napasnya begitu merasakan perutnya yang bergejolak karena lapar, untungnya di depan sana ia melihat sebuah kedai yang menjual menu sarapan seperti bubur ayam, nasi uduk dan juga lontong sayur. Vania menghentikan motornya di depan kedai itu dan memarkirkannya di sana, helmnya ia lepas kemudian ia letakkan pada spion motornya. Rambut sebahunya yang berantakan ia rapihkan sebentar, kemudian ia melangkah menuju ke dalam sana.

"Bu, saya pesan bubur ayamnya satu ya, sama air hangat satu."

"Siap neng, tunggu sebentar ya."

Vania mengangguk kemudian duduk di kursi yang berada dekat dengan ibu penjualnya, sejenak ia melihat jam di ponselnya pukul setengah tujuh pagi. Ia pun melihat orang-orang di sekelilingnya yang juga sedang menikmati sarapan. Seorang gadis mengukuhkan segelas air hangat kepada Vania, Vania tidak lupa berterima kasih kepada gadis itu.

Saat ibu penjual tengah menyiapkan pesanan Vania, seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri ibu itu, mata saya mengecek begitu melihat gerak-gerik laki-laki itu yang sepertinya hendak mengambil pesanannya.

" Bu, saya pesan bubur ayamnya dibungkus satu ya. Kalau bisa sekarang Bu, soalnya saya harus antar anak saya sekolah," desak laki-laki itu.

Vania bangkit menghampiri laki-laki yang memakai masker itu. "Maaf pak, tapi saya yang pesan duluan. Jadi pesanan yang ibu buat itu punya saya," ujar Vania.

"Maaf mbak, bisa pesannya buat saya aja? Saya soalnya buru-buru banget."

Karena suasana hati Vania sedang tidak baik, ia pun menatap tajam laki-laki itu lalu berkata. " Tolong ya budayakan antri, saya paling nggak suka sama orang yang ambil antrian orang lain dengan alasan buru-buru," ujar Vania tegas.

"Maaf mas, saya dahulukan pesanan mbak nya dulu ya," ujar ibu penjual.

"Iya." Laki-laki itu memalingkan wajahnya karena kesal juga tangannya yang terlihat terkepal. ' Aku tandai wajahmu!" batin laki-laki itu.

Vania terlihat masa bodo, ia kembali duduk ke kursi tempatnya duduk tadi. Sementara laki-laki itu terlihat menggerutu kesal pada Vania, ingin marah namun laki-laki itu sadar sedang berada di tempat umum. Laki-laki itu terus menatap wajah Vania yang tengah memainkan ponselnya, hingga seorang anak perempuan tiba-tiba menghampirinya.

"Ayah, ayok ke sekolah," ajak anak perempuan itu sambil menarik tangan laki-laki itu.

"Sebentar ya, ayah pesan bubur ayam dulu. Tuh kan, saya bilang juga apa, anak saya pasti minta anter sekolah," kata laki-laki itu.

Vania terlihat tidak peduli dan masih fokus pada ponselnya pun berkata." Ya kan bapak bisa anter anaknya dulu ke sekolah, setelah itu balik lagi ke sini, gitu aja kok repot."

Anak gadis itu seketika menoleh, setelah mendengar Vania berbicara. Gadis kecil itu berbinar begitu melihat Vania.

"Tante Vania!"

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!