Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Tersesat
"Kok bisa gitu ya?" tanya Asep bingung
"Ya udahlah Sep, biarin aja. Yang penting sekarang, kita udah kumpul lagi. Dan ingat, jangan bahas hal ini lagi ma anak-anak." pinta Yanto, Asep mengangguk setuju
Sedangkan di dalam tenda, Kania masih dengan kondisinya yang menggigil kedinginan. Sambil menangis ingin pulang, sehingga Fika terus mencoba membuat sahabatnya itu agar tenang.
Tak lama makan malam pun sudah matang, api unggun pun sudah menyala. Regan memanggil keduanya, Fika membujuk Kania agar mau makan. Hingga akhirnya, mereka berlima makan di depan tenda. Sambil memikirkan, kelanjutan perjalanan mereka. Di situ Yanto meminta maaf pada teman-temannya, karena sudah membawa mereka ke jalur yang salah. Sehingga mereka tersesat, tetapi keempat temannya tak menyalahkan Yanto. Bagi mereka, yang mereka alami adalah musibah.
Makan malam selesai, malam semakin larut. Kelimanya masuk ke dalam tenda, memutuskan akan turun kembali besok kalau hari terang. Di dalam tenda, Yanto tidak bisa tidur. Memikirkan kejadian janggal, yang belum lama ia dan teman-temannya alami. Dimana ketiga temannya, hilang sesaat.
Di tenda satunya, Kania juga tidak bisa tidur. Karena kepikiran nenek bertopi caping, yang membangunkan nya tadi. Akhirnya Kania menceritakan hal itu pada Fika, membuat Fika langsung merinding.
.
Singkat cerita, malam berubah menjadi pagi. Jam setengah lima, Yanto sudah bangun terlebih dahulu. Setelah bangun, ia mengambil kompor portabel dan nesting nya. Untuk membuat kopi, sambil membuat kopi. Yanto melihat-lihat keadaan sekitar, yang dia lihat hanyalah hutan lebat.
Tak lama, Asep keluar dari tenda. Di susul Regan, lalu ketiganya menyiapkan sarapan berupa roti. Setelah sarapan siap, Kania dan Fika terlihat keluar dari tendanya. Kemudian mereka pun memulai sarapan mereka...
"Yan, kita jadi balik turun kan?" tanya Kania
"Iya, pendakian ini kita batalin aja. Lagian persediaan air dan logistik juga tinggal sedikit, takutnya ga cukup kalo kita paksa lanjut." jawab Yanto
Setelah selesai makan, mereka berkemas untuk kembali turun. Ketika berkemas, dari bawah sekilas Kania melihat ada wanita mengenakan topi caping berjalan. Berjalan di antara semak-semak, yang cukup rimbun. Melihat itu, Kania kaget dan mengatakan..
"EH.. SIAPA ITU?" seraya matanya, yang fokus melihat ke aras semak-semak
Spontan keempat temannya, serempak menoleh ke arah Kania. Lalu mereka pun melihat, ke arah yang Kania pandang. Tapi tidak ada siapa-siapa, kembali mereka menatap Kania.
"Ada apa Kan?" tanya Yanto
"Tadi... kayanya ada orang loh di situ." jawab Kania, sambil menunjuk ke arah wanita yang ia lihat tadi.
"Mana? Dimana?" tanya Asep
"Itu di situ, di semak-semak itu." jawab Kania
Asep segera berlari ke aras semak yang dimaksud Kania, sampai di tempat itu. Asep tak melihat ada siapa-siapa, kemudian ia kembali ke tempat teman-temannya.
"Ga ada siapa-siapa Kan" ucap Asep
"Beneran, gue liat ada perempuan di situ." balas Kania kekeh
"Udah udah, cepetan kita berkemasnya. Kita langsung jalan turun habis ini, jangan di tunda lagi." ucap Yanto
Mereka pun melanjutkan berkemasnya, setelah selesai lanjut berjalan turun. Sambil berjalan turun, Kania celingukan melihat sekitar. Untuk mencari wanita bertudung caping, yang tadi sempat dilihatnya. Dan... seketika itu, Kania teringat dengan nenek yang memakai topi, yang sama persis dengan yang di pakai wanita tadi.
Karena Kania tak menemukan wanita itu, akhirnya ia pun mengabaikannya dan terus berjalan turun.
Lama berjalan turun, mereka mulai merasa janggal. Karena jalan yang mereka lalui ini, semakin lama semakin sempit dan rimbun. Hingga membuat Yanto, yang berjalan di depan menghentikan langkahnya.
"Bentar-bentar... Perasaan kemarin ga kek gini deh jalannya?" ucap Yanto pada teman-temannya
"Iya Yan, kayanya ini bukan jalan yang kita lewatin kemaren. Soalnya ga sesempit dan serimbun ini, apa kita salah ambil jalan?" jawab Asep, yang jalan di belakang
"Ya udah balik naik dulu" ajak Yanto, meski ia merasa aneh.
Mau tak mau, kelimanya kembali naik ke atas untuk berunding. Sesampainya di tempat yang cukup datar, mereka mencoba mengingat-ingat jalan, yang mereka lewati kemarin. Tapi tak ada satu pun, yang ingat dengan jalan tersebut. Mereka kini kebingungan, karena tak tau harus kemana. Mau jalan turun, jalannya terlihat sangat rimbun. Mau kembali naik ke atas, sudah terlalu jauh.
Melihat keadaan ini, tubuh Kania langsung lemas. Begitu pun yang lainnya, Regan pun memberi usul...
"Gini aja, ini kan gunung. Kita terus jalan menurun aja, terabas semak-semak. Nanti juga sampai di bawah kan?" ucapnya
Mendengar saran Regan masuk akal, mereka menyetujui saran tersebut. Gegas mereka lanjut perjalanan lagi, dengan menerobos semak yang cukup rimbun. Menggunakan sebatang kayu, yang di temukan di jalan tadi. Setelah cukup jauh berjalan menerobos semak, jalan mereka terhenti. Karena di depan mereka kini, adalah jurang yang cukup dalam. Jadi posisi mereka saat ini, sudah berdiri di bibir jurang.
Melihat hal ini, Yanto meminta teman-temannya untuk kembali naik sedikit. Karena takut terpeleset jatuh ke dalam jurang, tentu bisa lain ceritanya. Sesampainya mereka di tempat, yang di rasa aman. Mereka kembali berunding, wajah-wajah cemas tak bisa di sembunyikan.
"Gimana ini, di depan jurang. Kita ga bisa terus jalan turun." ucap Fika
"Ya... mau ga mau, kita balik jalan ke atas lah." jawab Asep lemas
"Hah?! Balik?! Udah sejauh ini, kita balik ke atas lagi?" sahut Regan
"Ya terus mau gimana Gan? Emang lu mau lanjut turun ke jurang?" tanya Asep balik
Mereka berlima terduduk lemas, dengan keadaan seperti ini. Yang ada dalam pikiran mereka, hanyalah pulang... pulang dan pulang...
Melihat hal ini, Yanto mencoba memberi saran...
"Gini aja, melihat kondisi kita yang kek gini. Kalo balik ke atas, kita ga mungkin. Kita jalan aja, susurin bibir jurang. Siapa tau, di jalan kita bisa dapat petunjuk." ucap Yanto
Karena tidak memungkinkan untuk kembali ke atas, mereka menyetujui usulan Yanto. Mereka berjalan pelan dan hati-hati, menyusuri bibir jurang.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan sampai saat ini, mereka masih di dalam hutan rimba. Tanpa ada petunjuk jalan, seolah hutan ini tak memiliki ujung. Karena lelah, mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Ketika tengah beristirahat, Kania kembali menangis ingin segera pulang.
Karena hari sudah mulai akan gelap, Yanto mengajak teman-temannya mencari tempat yang datar. Untuk di gunakan bermalam, dengan sangat terpaksa mereka berdiri dari duduknya.
Setelah beberapa meter berjalan, akhirnya mereka menemukan tempat yang cukup datar. Cukup untuk mendirikan 2 tenda, mereka gegas mendirikan kedua tenda itu. Dengan posisi tenda saling berhadapan, mereka sambung dengan flysheet di tengah-tengahnya. Setelah itu, Yanto mengeluarkan logistik yang tersisa. Agar di masak, untuk makan malam mereka.
(Flysheet adalah lembaran kain khusus yang dipasang sebagai pelindung tambahan di atas tenda atau area terbuka.)
Melihat logistik yang ada di tangannya, Yanto menghembuskan nafas panjang.
"Ini kalau dimakan sekarang, besok mau makan apa?"
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
gasss kasus baru d mulai cussss beraksi