Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Penawar Sihir
Sintesis dalam Kehampaan
Fajar baru saja menyentuh cakrawala, menyebarkan rona merah pucat yang tampak seperti memar di atas langit ibu kota. Elara berdiri di tengah laboratorium pribadi yang terletak di ruang bawah tanah Paviliun Timur, tempat yang beberapa jam lalu menjadi saksi kesepakatan gelapnya dengan Sekte Void. Udara di ruangan itu masih terasa berat, sisa-sisa aroma belerang dan uap garam purifikasi masih tertinggal, menempel pada dinding-dinding batu yang dingin. Tangan kanannya, yang kini dihiasi pola abu-abu halus mirip rajahan kuno, berdenyut pelan seiring dengan stabilnya energi di level satu koma satu.
"Nyonya, semua bahan yang Anda minta sudah saya susun di meja utama," suara Rina memecah keheningan, meskipun nada suaranya masih menyimpan getaran ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
Elara menoleh perlahan, matanya yang kelabu tampak lebih tajam di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip. "Termasuk bungkusan kecil yang aku bawa sejak kita meninggalkan Asteria, Rina? Yang aku simpan di dasar peti pakaianku?"
"Sudah, Nyonya. Tapi... bukankah itu hanya garam dapur biasa dari dapur istana lama?" Rina meletakkan bungkusan kain lusuh itu di samping cawan perak. "Untuk apa garam dari masa lalu yang pahit itu digunakan dalam ramuan sekuat ini?"
"Kejadian di masa lalu mungkin pahit, Rina, tapi sisa-sisanya sering kali menjadi katalisator paling murni," Elara melangkah mendekat, jemarinya yang panjang mengusap bungkusan kain itu. "Garam ini bukan sekadar bumbu. Ia telah menyerap energi dari tanah Asteria yang asli sebelum kekaisaran ini menginjak-injaknya. Ia memiliki memori tentang struktur molekul yang tidak dimiliki oleh sihir hitam Elena."
"Apakah ini yang Anda sebut sebagai penawar? Sesuatu yang akan melumpuhkan Selir Utama?"
"Lebih dari sekadar melumpuhkan," Elara membuka bungkusan itu. Butiran kristal putih kusam itu tampak kontras dengan garam ungu pemberian sekte yang masih tersisa sedikit di sudut meja. "Elena menggunakan entitas Void untuk menghancurkan. Aku akan menggunakan struktur Void yang sudah aku jinakkan untuk menyerap kekuatannya. Ini bukan hanya penawar, Rina. Ini adalah jebakan sirkuit."
"Anda terlihat sangat yakin, namun tubuh Anda... Anda belum tidur sejak pembicaraan dengan utusan itu. Tangan Anda gemetar lagi."
Elara mengepalkan tangannya, mencoba menghentikan getaran yang merayap di bawah kulitnya. "Rasa sakit adalah pengingat bahwa aku masih hidup, Rina. Jika aku berhenti merasakan sakit, itu artinya aku benar-benar telah menjadi bagian dari kehampaan itu sendiri. Nyalakan tungku pembakarnya. Sekarang."
Rina ragu sejenak sebelum mendekati tungku kecil di sudut ruangan. Begitu api mulai berkobar, Elara tersentak. Pupil matanya melebar, dan untuk sesaat, ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah paviliun. Ia berada di tengah kobaran api yang melalap istana permaisuri sepuluh tahun lalu. Bau daging terbakar, jeritan pelayan yang tak berdosa, dan tawa Valerius yang dingin seolah memekakkan telinganya. Trauma itu datang seperti hantaman fisik, melumpuhkan paru-parunya.
"Nyonya! Elara!" Rina menangkap bahu Elara sebelum wanita itu jatuh ke lantai.
"Matikan... apinya..." Elara mendesis, keringat dingin membanjiri dahinya. "Kecilkan... hanya api biru... aku tidak bisa... melihat lidah api merah itu..."
"Maafkan saya, Nyonya! Saya lupa... saya segera mengecilkannya," Rina dengan panik mengatur aliran mana pada tungku hingga api merah yang menjilat-jilat itu berubah menjadi nyala biru yang tenang dan stabil.
Elara menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang menggila. Ia menyandarkan punggungnya pada meja laboratorium yang dingin, membiarkan suhu batu itu menenangkan sarafnya. Dilema martabatnya bergejolak hebat di dalam dada. Ia merasa rendah karena harus gemetar di hadapan elemen yang kini menjadi sumber kekuatannya. Bagaimana mungkin seorang ratu yang ingin menggulingkan kaisar bisa takut pada percikan api kecil?
"Anda tidak perlu melakukannya sendiri jika itu menyiksa Anda," bisik Rina, matanya berkaca-kaca.
"Tidak ada orang lain yang bisa menyentuh sirkuit energi ini tanpa hancur menjadi abu, Rina," Elara berdiri tegak kembali, meski wajahnya masih sepucat kertas. "Ambilkan ekstrak mandrake dan campurkan dengan darah hitam yang aku simpan di botol kristal semalam. Kita tidak punya waktu. Matahari sudah mulai meninggi, dan Panglima Vane tidak akan menunggu."
"Bagaimana jika ramuan ini justru merusak jiwa Anda? Anda bilang penggunaan sihir ini mengikis jiwa."
"Jiwa Aurelia sudah terkikis sejak hari ia dibakar hidup-hidup. Yang tersisa sekarang adalah mekanisme pembalasan dendam," Elara mengambil cawan perak dan mulai memasukkan butiran garam Asteria ke dalamnya. "Garam ini akan bertindak sebagai jaring. Saat sihir hitam Elena mencoba masuk ke dalam sistemku, garam ini akan mengikat molekul energinya dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk Void-ku."
"Jadi, Anda tidak menetralkannya? Anda memakannya?"
"Aku memanfaatkannya," Elara menuangkan cairan mandrake yang telah bercampur darah ke dalam cawan. Reaksi itu menimbulkan suara mendesis yang tajam, seperti suara ular yang terpojok. "Inilah solusi ketiga. Elena pikir dia meracuniku, sekte pikir mereka mengendalikanmu. Mereka tidak tahu bahwa aku sedang membangun mesin di dalam nadiku sendiri."
"Apakah ini alasan Anda meminta saya menyiapkan laboratorium yang begitu tersembunyi?"
"Benar. Istana ini penuh dengan telinga, Rina. Bahkan dinding-dinding ini bisa berbisik pada Valerius jika kita tidak hati-hati. Terutama setelah dia memberikan jabatan Pemegang Segel Rahasia padaku. Dia pikir dia memberiku kehormatan, padahal dia memberiku akses untuk menghancurkan fondasi kekuasaannya."
"Tapi kaisar... dia tampak begitu terobsesi pada Anda. Semalam dia terus menanyakan keadaan Anda pada penjaga paviliun."
"Obsesinya adalah penyakit, bukan cinta," Elara mengaduk ramuan itu dengan batang perak, matanya fokus pada pusaran cairan yang mulai berubah warna dari ungu menjadi bening keperakan. "Dia merindukan Aurelia, namun dia mencintai kekuasaan yang ia dapatkan dengan membunuhnya. Aku hanya menggunakan wajah ini sebagai cermin untuk memperlihatkan kegilaannya."
Tangan Elara kembali gemetar saat ia harus menuangkan tetes terakhir dari esensi Void yang telah dimurnikan. Setiap tetes yang jatuh ke dalam cawan seolah menarik paksa energi dari dadanya. Ia merasakan jiwanya sedikit demi sedikit terasa hampa, digantikan oleh kedinginan yang absolut. Inilah harga yang harus dibayar; setiap inci kemajuan kekuatannya berarti kehilangan satu inci kemanusiaannya.
"Selesai," bisik Elara saat ramuan itu akhirnya stabil. Cairan itu kini bening sepenuhnya, namun jika dilihat dari sudut tertentu, tampak ada kilatan cahaya perak yang bergerak-gerak di dalamnya. "Bawa botol kecil ini. Ini adalah senjata kita yang paling kuat, Rina. Lebih tajam dari pedang mana pun di gudang senjata Panglima Vane."
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Nyonya?"
"Bersihkan dirimu. Kita akan pergi ke taman. Aku harus menunjukkan pada Panglima Vane bahwa jabatan yang kuterima bukan sekadar pemberian cuma-cuma dari kaisar yang sedang mabuk asmara," Elara mengambil botol itu dan menyembunyikannya di balik sabuk gaunnya. "Dan siapkan mentalmu. Kaelen mungkin akan ada di sana, dan aku harus memastikan dia tidak merusak rencanaku dengan kesetiaannya yang terlalu impulsif."
"Jenderal Kaelen hanya ingin melindungi Anda."
"Perlindungannya bisa menjadi penghalang jika dia bertindak tanpa aba-aba dariku," Elara melangkah menuju tangga keluar, tongkat kayu hitamnya mengetuk lantai batu dengan irama yang mantap. "Di dunia yang dingin ini, Rina, hanya mereka yang bisa menahan diri yang akan menang. Dan aku telah belajar menahan rasa sakit selama sepuluh tahun."
Gema Langkah di Taman Asteria
Udara pagi di taman istana terasa seperti bilah es yang mengiris kulit, namun Elara tetap melangkah dengan dagu terangkat tinggi. Gaun peraknya yang berat menyapu rumput yang masih berselimut embun, menciptakan jejak basah di belakangnya. Di balik saku gaunnya, botol kecil berisi penawar perak yang baru saja ia selesaikan di laboratorium bawah tanah terasa hangat, seolah berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Stabilitas energinya yang berada di level satu koma satu memberinya ketajaman indra yang luar biasa; ia bisa mendengar desah napas para penjaga yang bersembunyi di balik semak-semak dan merasakan getaran energi logam yang berasal dari arah gazebo utama.
"Nyonya, Panglima Vane sudah menunggu. Dia tidak sendirian," bisik Rina yang berjalan dua langkah di belakangnya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pagi.
"Aku tidak mengharapkan dia datang sendirian, Rina. Pria seperti Vane selalu membutuhkan saksi untuk setiap intimidasi yang dia lakukan," jawab Elara datar.
Saat mereka mencapai area gazebo yang dikelilingi oleh bunga-bunga Asteria yang mulai layu, sosok Panglima Vane tampak berdiri tegak dengan baju zirah logamnya yang berkilat. Di sampingnya, berdiri dua perwira tinggi faksi militer lama yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan Elena di istana. Kehadiran mereka menciptakan aura tekanan yang berat, sebuah upaya untuk mengecilkan martabat Elara sebagai mantan tawanan.
"Anda tepat waktu, Penasihat Elara. Atau haruskah saya memanggil Anda dengan sebutan Pemegang Segel Rahasia yang terhormat?" Vane berucap dengan nada sarkasme yang kental, matanya yang tajam menguliti penampilan Elara yang tampak rapuh namun tenang.
"Panggil aku dengan sebutan yang membuat mulutmu merasa paling nyaman, Panglima," Elara berhenti tepat tiga langkah di hadapan Vane. Ia tidak membungkuk. "Aku berasumsi Anda membawa daftar inventaris logistik yang saya minta, bukan hanya membawa aura logam yang menyesakkan ini."
Vane tertawa kasar, suara yang terdengar seperti gesekan pedang tumpul. "Anda memiliki nyali yang besar untuk ukuran seseorang yang baru saja keluar dari sel penjara. Apakah Anda pikir dengan membongkar beberapa angka di buku kas, Anda bisa mengendalikan militer kekaisaran?"
"Aku tidak ingin mengendalikan militer Anda, Vane. Aku hanya ingin memastikan militer Anda tidak membusuk dari dalam karena keserakahan yang tidak perlu," Elara menatap perwira di samping Vane. "Logistik di perbatasan utara menyusut sepuluh persen setiap bulannya, sementara pasokan kristal mana untuk pasukan elit Jenderal Kaelen selalu terlambat. Apakah itu bagian dari strategi perang, atau sekadar cara untuk memberi makan ambisi Elena?"
"Beraninya kau menyebut nama Selir Utama dengan nada seperti itu!" salah satu perwira menghardik, tangannya sudah memegang gagang pedang.
"Tahan senjatamu, Perwira. Kecuali kau ingin Valerius tahu bahwa kau menarik pedang di hadapan penasihat pribadinya," Elara mengalihkan pandangannya kembali pada Vane. "Mari kita bicara dengan logika. Elena dipenjara karena sihir hitamnya mulai menggerogoti stabilitas istana. Jika kalian terus mengikatkan diri pada kapal yang tenggelam, kalian hanya akan ikut terseret ke dasar kehampaan."
"Elena memiliki sesuatu yang tidak kau miliki, Elara. Kekuatan yang bisa membuat musuh berlutut tanpa perlu bicara," desis Vane, ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu lengan. "Lalu, apa yang kau tawarkan selain ancaman dan angka-angka membosankan?"
Elara merasakan botol penawar di sakunya bergetar, merespons energi logam yang terpancar dari zirah Vane. Ini adalah momen untuk menerapkan solusi ketiga. "Aku menawarkan kelangsungan hidup. Sihir hitam Elena telah meninggalkan residu pada kalian semua. Aku bisa merasakannya. Energi logammu mulai terkontaminasi, Vane. Tidakkah kau merasa sendimu mulai kaku setiap kali matahari terbenam?"
Wajah Vane mendadak berubah pucat. Rahasia tentang kesehatan fisiknya yang menurun akibat paparan energi Void Elena adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh tabib pribadinya. "Bagaimana kau...?"
"Aku adalah Pemegang Segel Rahasia. Rahasia tubuhmu tidak lebih sulit untuk dibaca daripada buku kas yang kau sembunyikan," Elara mengeluarkan botol bening keperakan itu, menunjukkannya di depan mata Vane. "Ini adalah penawar yang aku sintesis sendiri. Ia tidak hanya menetralkan korosi Void, tapi juga memurnikan sirkuit energi logammu."
"Kenapa kau memberikan ini padaku setelah kau menghancurkan sekutuku?"
"Karena aku membutuhkan militer yang kuat untuk menjaga perbatasan, bukan jenderal yang sekarat karena pengkhianatan selirnya sendiri," Elara menyodorkan botol itu. "Ambil ini sebagai tanda bahwa aku lebih berguna sebagai sekutu daripada sebagai musuh. Tapi ingat, setiap tetes yang kau minum adalah hutang budi yang akan aku tagih saat waktunya tiba."
Vane menatap botol itu dengan keraguan yang mendalam, lalu menatap mata Elara yang kelabu dan dingin. Di sana, ia tidak melihat kebencian, melainkan kalkulasi yang absolut. Dengan tangan gemetar, ia menerima botol tersebut. "Kau adalah wanita yang sangat berbahaya, Elara. Jauh lebih berbahaya dari apa yang pernah dibayangkan Elena."
"Bahaya adalah masalah persepsi, Panglima. Sekarang, berikan daftar logistik itu padaku dan pastikan pasukan Kaelen mendapatkan hak mereka sebelum matahari terbenam besok," perintah Elara dengan nada komandan yang tidak terbantah.
Vane memberikan sebuah gulungan perkamen dengan kasar sebelum memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur. Begitu mereka menjauh, Elara merasakan lututnya melemas. Ia harus bersandar pada pilar gazebo agar tidak jatuh. Penggunaan energi untuk mendeteksi kontaminasi pada Vane tadi telah menguras sisa tenaganya.
"Nyonya! Anda baik-baik saja?" Rina segera menopang lengan Elara.
"Aku baik-baik saja... hanya sedikit lelah," bisik Elara. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Pola abu-abu itu tampak sedikit lebih gelap. Ia telah berhasil menjinakkan militer untuk sementara, namun harga yang harus dibayar adalah pengikisan jiwanya yang semakin nyata.
"Tapi Nyonya, mengapa Anda memberikan penawar itu pada musuh? Bukankah itu senjata Anda?"
"Itu adalah senjata, Rina. Senjata yang membuat mereka bergantung padaku. Tanpa penawar itu, Vane akan mati dalam hitungan bulan. Kini, dia harus memastikan aku tetap hidup dan berkuasa agar dia bisa terus mendapatkan penawarnya," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Inilah cara kita bermain di istana ini. Kita tidak menghancurkan musuh dengan pedang jika kita bisa membuat mereka menjadi anjing penjaga yang setia."
"Anda sangat cerdas, tapi Anda menyiksa diri sendiri."
"Pembalasan dendam memang tidak pernah menjanjikan kenyamanan, Rina. Ayo pergi. Masih banyak yang harus disiapkan untuk rencana Kaelen malam nanti. Kita tidak boleh membiarkan dia bertindak gegabah setelah melihat pergerakan militer pagi ini."
Elara melangkah meninggalkan taman, mengabaikan keindahan bunga Asteria yang dulu sangat ia cintai. Baginya, keindahan hanyalah ilusi yang menutupi kebusukan dunia. Ia telah memilih jalannya—menjadi penawar yang beracun, menjadi cahaya yang menelan kegelapan, dan menjadi permaisuri yang akan menulis ulang sejarah dengan tangannya yang menghitam.