NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Kos

Setelah drama gelembung sabun di vila Puncak yang berakhir dengan rompi asisten Aruna seberat lima kilogram karena menyerap air sabun, van hitam agensi akhirnya berhenti di ujung gang kosan Aruna. Jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul 22:30.

"Majikan, apakah Anda yakin sistem pertahanan Anda cukup kuat untuk menghadapi Unit Mbak Widya dalam kondisi basah kuyup seperti ini?" tanya Javier cemas. Ia masih memakai kacamata renang birunya di dahi, sebuah kebiasaan pasca syuting yang sulit dihilangkan.

Aruna memeras ujung rompinya yang meneteskan busa ke karpet mobil.

"Javi, kalau aku nggak masuk sekarang, besok barang-barangku bakal jadi monumen di pinggir jalan. Kamu pulang ya, jangan lupa hapus memori soal bak mandi tadi!"

Javier meraih tangan Aruna sejenak, mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Sistem saya tidak mengenal tombol delete untuk momen seindah itu. Semoga sinkronisasi pintu gerbang Anda berhasil."

Aruna turun dari mobil dengan langkah mengendap-endap seperti ninja yang gagal audisi. Masalahnya, setiap langkah Aruna mengeluarkan suara ceplas-ceplos dari sepatunya yang kemasukan air sabun.

Plok. Cring. Plok. Cring.

"Aduh, sepatuku kenapa bunyinya kayak bebek lagi konser sih!" bisik Aruna panik.

Ia sampai di depan pagar besi kosan yang sudah digembok rantai kapal. Aruna melihat sekeliling. Sepi. Hanya ada suara jangkrik dan sayup-sayup suara TV dari kamar Mbak Widya yang letaknya tepat di atas gerbang.

Aruna mencoba memanjat. Baru saja satu kakinya menginjak jeruji pagar, sebuah lampu sorot yang sepertinya hasil modifikasi dari lampu stadion menyala tepat ke arah wajahnya.

"SIAPA ITU?! MALING?! APA KUNTILANAK LAGI MAGANG?!" sebuah suara menggelegar membelah keheningan malam.

Itu Mbak Widya. Beliau berdiri di balkon lantai dua, mengenakan daster motif macan tutul yang sangat intimidatif, rambutnya dibungkus roll besar, dan di tangannya ada sebuah sapu lidi yang dipegang seperti pedang samurai.

"M-mbak... ini Aruna, Mbak," cicit Aruna sambil silau menatap lampu sorot itu.

"Aruna?! Jam berapa ini?! Kamu pikir ini asrama bebas hambatan?! Dan kenapa kamu bau mawar basi bercampur cendana?! Kamu habis ritual di kuburan mana?!"

Mbak Widya turun tangga dengan langkah yang membuat bumi berguncang.

Mbak Widya membuka gembok gerbang dengan kasar. Begitu gerbang terbuka, beliau langsung mengendus udara di sekitar Aruna.

"Bau sabun mahal... tapi kok kamu basah kuyup begini? Kamu habis nyebur ke kolam air mancur bundaran HI?!" selidik Mbak Widya, matanya menyipit menatap rompi asisten Aruna yang masih berbusa.

"Anu, Mbak... tadi ada kecelakaan kerja. Saya... saya jatuh ke bak mandi saat lagi benerin kabel maket klien," bohong Aruna, berharap Mbak Widya tidak tahu kalau klien nya adalah idola paling tampan se Asia.

"Alasan! Kamu pasti habis pacaran di bawah hujan tapi hujannya air sabun, kan?!"

Mbak Widya berkacak pinggang.

"Denger ya, Aruna. Peraturan adalah peraturan. Karena kamu telat 30 menit, denda kamu adalah... bersihin semua lumut di bak mandi umum kosan besok pagi! Dan jangan harap bisa masuk kalau nggak bawa uang kosan bulan depan yang nunggak itu!"

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan sport berwarna merah menyala berhenti tepat di depan gerbang. Kaca jendela terbuka, menampakkan Dante dengan gaya cool yang dipaksakan.

"Aruna? Kok basah begini? Tadi aku lewat perpustakaan nyari kamu buat revisi maket, ternyata kamu udah pulang," ujar Dante sambil turun dari mobil, membawa sebuah jaket denim mahal di tangannya.

"Pakai ini, Ar. Nanti kalau kamu masuk angin, siapa yang mau ngerjain bagian rendering kelompok kita?"

Mbak Widya menatap Dante dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Lho, lho... jadi ini klien kamu yang bikin kamu basah-basahan? Si ganteng yang mobilnya mentereng ini?!"

"BUKAN, MBAK! BUKAN!" teriak Aruna frustrasi.

Dante tersenyum tebar pesona pada Mbak Widya.

"Halo, Tante cantik. Maaf ya, Aruna telat gara-gara... urusan estetika kelompok kami yang sangat mendalam."

Tiba-tiba, dari balik pohon mangga di seberang jalan, muncul seorang pria dengan hoodie hitam dan masker. Javier ternyata belum pulang. Dia tidak tahan melihat Majikannya diintimidasi oleh daster macan tutul.

Javier berjalan dengan gaya robotik yang sangat kentara, mencoba tetap terlihat anonim tapi gagal karena postur tubuhnya terlalu proporsional.

"Permisi, Unit Pemilik Kos," suara Javier diredam masker, tapi tetap terdengar merdu.

"Sistem saya mendeteksi adanya ketidakadilan dalam prosedur jam malam. Keterlambatan asisten saya adalah akibat dari gangguan teknis pada Awan Enkripsi Gelembung di lokasi kerja."

Mbak Widya melongo.

"Ini lagi siapa? Kok suaranya kayak pengisi suara iklan parfum di TV? Kamu temannya Bambang? Kok pake masker malem-malem? Lagi sariawan?"

Javier mendekat, ia menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil kepada Mbak Widya.

"Ini adalah kompensasi atas gangguan frekuensi istirahat Anda. Anggap saja ini sebagai biaya Sinkronisasi Gembok."

Mbak Widya membuka amplop itu, matanya langsung berbinar melihat lembaran uang merah di dalamnya.

"Wah... ini... ini mah bukan cuma buat bayar gembok, buat bayar cicilan kulkas saya juga cukup! Siapa namamu, Mas?"

"Panggil saja saya... Ujang Kacamata," sahut Javier sambil membetulkan kacamata renangnya dari balik hoodie.

"Oalah, Mas Ujang! Ya sudah, Aruna boleh masuk! Besok nggak usah sikat lumut," seru Mbak Widya mendadak ramah lingkungan.

Mbak Widya masuk ke kamarnya untuk menghitung uang "sinkronisasi". Tersisalah Aruna dan Javier di lorong kosan yang remang-remang.

Aruna bersandar di pintu kamarnya yang kayu tripleknya sudah mulai terkelupas.

"Javi, kamu gila ya? Kamu ngasih Mbak Widya berapa?"

Javier melepas maskernya perlahan. Cahaya lampu lorong yang kuning redup jatuh di wajahnya, menciptakan bayangan yang sangat romantis dan intim. Ia melangkah mendekat, mengunci Aruna di antara kedua tangannya yang menempel di pintu.

"Hanya sedikit hasil dari honor Luminous Essence hari ini," bisik Javier.

Ia menunduk, mencium aroma rambut Aruna yang kini sudah tidak lagi bau sabun basi, melainkan aroma manis yang alami.

"Saya tidak tahan melihat Anda diteriaki oleh macan tutul itu hanya karena melindungi saya di bak mandi tadi."

Aruna menatap mata Javier.

"Makasih ya, Jang. Kamu selalu datang di saat yang tepat... dan paling konyol."

Javier tersenyum tipis. Ia merapikan rambut Aruna yang masih sedikit lembap.

"Tidurlah. Lakukan prosedur pengisian daya baterai hati Anda. Besok, jadwal kita adalah pemotretan majalah Idol and Assistant. Saya ingin asisten saya terlihat paling cantik, bukan seperti bebek basah."

Javier mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan hangat di dahi Aruna selama beberapa detik. Kecupan yang terasa seperti janji bahwa sejauh apa pun panggungnya, hatinya akan selalu pulang ke lorong kosan sempit ini.

"Selamat malam, Majikan. Jangan lupa kunci pintu, jangan sampai Unit Dante masuk lewat jendela," goda Javier sebelum ia berbalik dan menghilang dalam kegelapan malam dengan langkah elegan yang sangat tidak cocok untuk gang sempit itu.

Aruna masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan merosot ke lantai sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Di dalam kamar kosannya yang hanya seluas kotak sabun, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ternyata, mencintai seorang idola kloningan gila itu tidak hanya menguras emosi, tapi juga membuat hidupnya yang penuh revisi terasa seperti film drama komedi yang ia harap tidak pernah berakhir.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!