NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7) KEMBALI PULANG

Suara mesin kereta api yang bergetar meramaikan stasiun Gambir pada sore hari yang mendung. Rayyan Adinata menarik tas kopernya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih sedikit terasa kaku akibat operasi tulang yang baru saja ia jalani tiga bulan lalu di Singapura. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak lebih tenang, dengan bekas luka kecil di dahinya yang masih sedikit terlihat jika diperhatikan dengan seksama.

"Akhirnya pulang juga," bisiknya pelan, melihat sekeliling stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Ia baru saja menyelesaikan masa pemulihan setelah mengalami kecelakaan motor saat pulang dari praktikum di rumah sakit rujukan kampus. Kedua orang tuanya, yang selalu protektif, memutuskan untuk mengirimkannya ke Singapura untuk mendapatkan perawatan terbaik, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kampus di Jakarta.

Ketika ia keluar dari stasiun, ia melihat mobil keluarga yang sudah menunggunya di depan pintu keluar. Ibunya, Dr. Siti Nurhaliza, seorang dokter kandungan yang terkenal di kota itu, berdiri dengan wajah yang penuh senyum dan mata yang berkaca-kaca. Ayahnya, Bapak Hadi Adinata, seorang pengusaha properti, berdiri di sebelahnya dengan tatapan yang penuh kebanggaan.

"Rayyan, sayangku!" teriak Ibunya dengan senyum lebar, langsung berlari mendekat dan membungkusnya dalam pelukan yang erat. "Kamu sudah besar sekali dan sehat kembali. Mama sangat merindukanmu!"

"Aku juga merindukanmu, Ma," jawab Rayyan dengan senyum hangat, memeluk ibunya kembali. Ia kemudian melihat ayahnya dan memberikan sapaan dengan tangan yang kuat. "Apa kabarmu, Pa? Kamu kurus sedikit ya."

"Kamu yang sudah kurus karena harus menjalani diet ketat selama perawatan," jawab Ayahnya dengan senyum tipis. "Kita sudah siapin makanan kesukaanmu di rumah. Mari kita pulang segera, ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan."

Rayyan merasa sedikit heran dengan nada suara ayahnya yang serius, tapi ia tidak terlalu berpikir panjang. Ia naik ke dalam mobil dan mulai bercerita tentang pengalamannya di Singapura, tentang dokter-dokter yang merawatnya, dan tentang betapa ia merindukan kehidupan kampusnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Namun, satu nama selalu muncul dalam pembicaraannya – Sea.

Sea adalah mahasiswi tahun kedua di fakultas yang sama, adik fakultasnya yang selalu membuat hatinya berdebar kencang setiap kali bertemu. Ia pertama kali bertemu dengan Sea saat ia sedang mengajar praktikum dasar untuk mahasiswa baru. Sea yang selalu aktif bertanya dan menganggunya dan juga sering bilang bahwa dirinya teman masa kecil yang harus di kejar lantaran sekarang ia sangat tampan dan semakin rupawan, memiliki pandangan yang unik tentang kedokteran, dan wajahnya yang ceria selalu mampu menghangatkan hari-hari yang penuh dengan buku dan praktikum yang melelahkan.

Sebelum ia mengalami kecelakaan, mereka sudah mulai sering bertemu – baik untuk belajar bersama di perpustakaan kampus, maupun sekadar minum kopi di kedai kecil dekat kampus setelah jam kuliah. Rayyan merasa bahwa ada ikatan khusus antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan senior dan junior. Ia berencana untuk menyatakan perasaannya pada Sea segera setelah ia kembali dari Singapura.

Setelah sampai di rumah, Rayyan disambut dengan aroma makanan yang menggugah selera – rendang padang kesukaan nya, sayur lodeh, dan nasi putih hangat. Mereka makan bersama di meja makan keluarga yang besar, dengan percakapan yang hangat dan penuh keceriaan. Namun, setelah makan dan ketika Ibunya sudah membersihkan meja, Ayahnya menyuruh Rayyan untuk duduk di ruang tamu bersama mereka.

"Rayyan, anakku," mulai Bapak Hadi dengan nada yang serius, menyilangkan tangan di dadanya. "Kita punya berita penting untuk kamu. Sebenarnya, ini sudah direncanakan sejak lama, tapi kita menunda pengumumannya sampai kamu pulih sepenuhnya."

Rayyan merasa hati nya sedikit berdebar kencang. Ia melihat ibunya yang sedang menahan senyum, dan ada sesuatu di ekspresi wajahnya yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Ma dan Pa sudah menjodohkanmu dengan anak sahabat mama dari kecil, Amara Zahra," ucap Ibunya dengan senyum yang semakin lebar. "Amara kini juga sedang menempuh pendidikan kedokteran di kampus yang sama denganmu, kan? Dia tahun ketiga di Fakultas Kedokteran Gigi. Kamu pasti pernah melihatnya di kampus."

Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar otak Rayyan. Ia tidak bisa mempercayakan apa yang didengarnya. Jodoh? Setelah semua yang ia rasakan terhadap Sea?

"Tidak mungkin, Ma! Pa!" katanya dengan suara yang sedikit meninggi, berdiri dengan cepat dari kursinya. "Kamu tidak bisa melakukan itu padaku! Aku sudah punya seseorang yang aku suka!"

"Kamu masih muda, Rayyan," jawab Ayahnya dengan nada yang tenang tapi tegas. "Kita sudah mengenal keluarga Amara sejak lama. Ayahnya adalah teman bisnis saya yang paling dipercaya, dan Amara adalah anak yang baik, cerdas, dan sesuai dengan nilai-nilai keluarga kita. Ini adalah perkawinan yang sempurna untuk masa depanmu."

"Tapi aku tidak mencintainya, Pa!" kata Rayyan dengan suara yang penuh emosi. "Aku menyukai Sea – Sea Satuan, adik fakultasku. Kamu harus mengerti bahwa aku tidak bisa hanya menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai!"

Ibunya menghela napas dengan kesusahan. "Kita sudah tahu tentang Sea, Rayyan. Ia adalah putri keluarga Satuan yang kaya raya, tapi kamu harus paham bahwa hubungan antara kamu dan dia tidak akan pernah disetujui oleh masyarakat kita. Selain itu, keluarga Satuan memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan kita. Ini bukan hanya tentang cinta, anakku – ini tentang masa depan keluarga dan nama baik kita."

"Kamu salah besar, Ma!" jawab Rayyan dengan suara yang semakin keras. "Sea bukan hanya orang kaya atau putri keluarga besar. Ia adalah seseorang yang luar biasa – cerdas, baik hati, dan selalu peduli dengan orang lain. Ia ingin menjadi dokter bukan karena ingin mendapatkan uang atau nama baik, tapi karena benar-benar ingin membantu orang lain!"

"Aku tidak ingin membicarakan ini lebih jauh lagi, Rayyan," kata Ayahnya dengan nada yang semakin tegas. "Keputusan sudah dibuat. Kamu akan bertemu dengan Amara minggu depan, dan kita akan mulai merencanakan pertunangan kalian. Ini adalah yang terbaik untukmu dan untuk keluarga kita."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rayyan mengambil jasnya dan keluar dari rumah dengan cepat. Ia merasa darahnya membeku karena kemarahan dan kesedihan. Bagaimana bisa orang tuanya membuat keputusan begitu saja tentang hidupnya dan hatinya? Bagaimana bisa mereka menilai Sea hanya dari latar belakang keluarganya?

Ia naik ke dalam mobilnya dan mengemudi dengan cepat menuju arah kampus. Ia tahu bahwa pada hari ini, Sea biasanya berada di perpustakaan kampus untuk menyelesaikan makalah praktikumnya. Ia perlu melihatnya, perlu memberitahukan padanya tentang apa yang baru saja terjadi. Ia perlu tahu apakah perasaannya terhadap Sea juga sama dengan perasaan Sea terhadap dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!