NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 : Badai yang kembali datang

Alena akhirnya tiba di rumah sang bunda sesuai dengan janjinya. Sebelum jam makan siang.

Begitu tiba di pagar pintu. Ia langsung disambut hangat oleh ibunya yang berlari ke arah pagar dan dengan tak sabar membukanya.

"Alena, Ibu kangen banget!" Wanita yang sudah sepuh itu segera memeluk sang puteri dengan rasa suka cita.

Alena membalas pelukan sang bunda dengan erat. Keduanya saling melepas rindu di luar.

"Bu, Kak Alena nya dikasih masuk dulu dong." Seorang wanita muda terlihat keluar dari dalam rumah dan berjalan menghampiri keduanya.

"Oh iya ya, Ibu sampai lupa." Wanita itu segera tertawa dan melepaskan pelukannya. "Yuk masuk dulu, Len," ujarnya kemudian ia beralih menatap Alea yang sedari tadi memperhatikan saja.

"Aduh, cucu Ibu, sini digendong!" Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Alea yang disambut dengan suka cita.

Mereka pun masuk ke dalam dengan wajah ceria.

.

.

Sementara Arinta yang sedang dalam perjalanan di mobil menuju ke kantor barunya tiba-tiba di telepon oleh Melinda.

"Ada apa lagi, kenapa kamu masih telepon aku?" Ujar Arinta dengan nada dingin.

"Oh, enak banget ya. Setelah semuanya, kamu senang-senang bahagia di sana sementara aku di sini dihujat!" Melinda mendengus. Ia terdengar marah.

"Lho, kenapa kamu ngomong kayak gitu sekarang sih? Bukannya kamu sendiri yang janji?" Arinta tentu tak terima dengan sikap Melinda yang seakan sedang menuntutnya.

"Itu dulu, sekarang aku berubah pikiran!" Jawab Melinda yang langsung membuat Arinta berpikiran macam-macam.

Apa yang akan dilakukan oleh wanita ini? Ujarnya cemas.

"Kamu jangan main-main ya, Mel!" Arinta memberi peringatan keras.

"Liat aja, kamu pikir bercanda? Selamat menikmati waktumu dengan Alena selagi kau bisa!" Balas Melinda penuh dengan nada ancaman. Setelahnya komunikasi pun terputus.

Arinta berteriak kesal di dalam mobilnya, baru menyadari Melinda itu ternyata ular yang berbisa. Jujur saja ancaman wanita itu membuatnya cemas. Bagaimana kalau dia mengadu? Padahal hubungannya dengan Alena baru saja membaik.

.

.

Sementara Alena tengah duduk di ruang tamu, berkumpul bersama keluarganya. Dia sedang bahagia. Sudah lama ia tak merasakan kebersamaan keluarga seperti ini, apalagi belakangan dia cukup stress dengan segala permasalahan yang terjadi di rumah-tangganya.

"Ya udah, kalian ngobrol-ngobrol dulu, Ibu mau masak buat makan siang!" Wanita itu pun beranjak dari ruang tamu menuju dapur. Masakannya memang belum selesai tadi.

"Put, Bisa bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Alena tiba-tiba kepada sepupu perempuannya itu.

"Boleh teh, mau bicara di mana?" Tanya Putri dengan sopan.

"Di teras belakang saja," jawab Alena cepat.

"Oh, ya sudah." Putri dengan sigap segera berdiri dari bangkunya, begitu pun dengan Alena.

"Bi, jaga Alea di sini ya. Saya mau ke belakang dulu," ucapnya kepada Yani yang sedang sibuk mengeluarkan beberapa mainan Alea.

"Iya, Bu...," jawab Yani hanya menatap sekilas lalu mengangguk dan fokusnya kembali kepada Alea yang sedang asik bermain Lego.

.

.

Keduanya duduk di teras halaman belakang rumah yang cukup nyaman meski tak terlalu luas. Di sana ada dua bangku berwarna putih menghadap depan dengan meja bundar kecil. Pada bagian pojok kanan terdapat kolam ikan dengan air mancur mini dan dikelilingi taman bunga skala sederhana yang hanya berukuran 2x2 meter lengkap dengan lampu tamannya yang tak terlalu besar.

Lalu pada bagian sisi kiri ada kandang burung merpati yang panjang dari ujung mentok sampai ke ujung.

"Di sini gak banyak berubah ya ternyata," ucap Alena dengan senyum tipis saat duduk di sana dan mengawasi suasana sekitar.

"Iya lah Kak, mana mungkin diubah, si Bapak 'kan udah suka banget sama tamannya, apalagi sama kandang burungnya itu." Putri tertawa sambil menunjuk ke arah burung-burung merpati yang melimpah di dalam kandang tersebut

"Iya sih, tempat ini justru emang Ayah yang desain khusus," balas Alena tertawa kecil. Dia masih ingat saat SMA dulu, ayahnya antusias banget waktu pertama kali nunjukin hasil desain teras belakang ke semua orang rumah. Senyumnya sumringah. Seperti anak kecil yang baru saja memenangkan hadiah undian.

"Hayo, terus mau ngomong apa nih? Kok Teteh jadi ngelamun?" Goda Putri saat mendapati Kakak sepupunya terbengong.

"Ah, gini Put..., sebenarnya aku ingin bicara tapi kamu janji ya, jangan ngomong dulu ini ke Ayah atau Ibu," balas Alena yang nada bicaranya berubah.

"Iya, Putri janji," jawabnya dengan nada serius. "Emangnya ada apa Teh?" Ia bertanya dengan sedikit nada khawatir saat melihat perubahan wajah dan suara Alena tadi.

"Sebenarnya Arinta, dipindahkan ke Bandung karena kasus perselingkuhan, Put...."

Tatapan gadis manis di depannya membulat dan terpaku seolah ia baru saja mendengar hal yang sangat sulit untuk dipercayai.

"Teh..., Mas Arinta, selingkuh...?" Tanyanya dengan nada berbisik lalu mencoba melihat ke belakang, takut-takut ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.

Alena mengangguk lemah sebagai konfirmasi.

"Ya ampun, kok bisa? Kenapa Teteh enggak cerita?" Nada suaranya berubah menjadi prihatin. Reflek dia menggenggam tangan Alena yang berada di atas meja.

"Aku juga baru tahu beberapa Minggu belakangan, Put...," ujar Alena yang tampak memiliki suatu penyesalan.

"Memangnya sudah berapa lama Mas Arinta selingkuh, Teh?"

"Dia mengaku sudah berhubungan selama enam bulan sih...."

"Enam bulan? Itu bukan waktu yang singkat Teh, lalu sekarang gimana? Mas Arinta masih berhubungan sama perempuan itu?"

Pertanyaan dari Putri itu kembali membuat keraguan di dalam hati Alena. Dia sendiri juga tidak tau apakah Arinta benar-benar sudah tidak berhubungan lagi dengan Melinda?

"Enggak tau juga, Put...." Alena menggeleng lemah. Ada suatu kekhawatiran yang jelas tampak di raut wajahnya.

"Loh, gimana sih Teh?? Kok bisa enggak tau?" Putri tampaknya agak mendesak karena melihat sikap ragu-ragu dari Alena.

"Dia janji mau memperbaiki semuanya, Put...," ucap Alena yang sebenarnya memiliki harapan besar pada janji itu. "Makanya dia memutuskan untuk tinggal di Bandung dan membuka lembaran baru," sambungnya menjelaskan mengenai keberadaan mereka yang sesungguhnya di Bandung.

"Terus, Teteh percaya gitu aja?" Balas Putri dengan tajam. "Teh, selingkuh itu kayak penyakit lho. Gak akan bisa berubah kalau belum kena batunya!" Ujarnya dengan sengit. Dia skeptis karena maraknya kasus perselingkuhan yang terjadi dan perempuan yang dipaksa harus bertahan dan berkorban.

"Teteh berharap dia gak kaya gitu, Put...," balasnya masih memiliki keyakinan ini semua masih bisa diperbaiki.

Tapi pikiran itu tak bertahan lama karena sebuah pesan yang tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya.

Ternyata ada sebuah pesan video masuk ke WhatsApp-nya.

Alena awalnya tak berpikir panjang dan mengklik video berdurasi 5 menit itu. Tapi ekspresinya berubah saat video itu terbuka. Sebuah penampakan adegan tidak senonoh dilakukan oleh suaminya sendiri dengan wanita lain yang mirip Melinda.

Reflek tangannya meremas ponsel, napasnya sesak tak beraturan dan dia mulai histeris membuat Putri terkejut.

"Kurang ajar kalian! Kau pembohong Arinta!!" Ujarnya dengan suara keras sambil menangis.

"Teh?? Teteh kenapa?" Putri secara spontan bangun dan memegangi tubuh Alena yang bergetar sambil memegang dan memandangi layar ponselnya.

Putri dengan cepat mengambil ponsel yang berada di tangan Alena itu untuk mengecek, dan tak lama keributan itu tentu memancing orang rumah untuk datang.

Apa yang akan terjadi kalau semua rahasia perselingkuhan Arinta yang sedang ditutupi oleh Alena terbongkar?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!