Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETUNJUK
Aku yang sudah agak lama termenung sendirian di ruang tamu, mulai merasakan kantuk datang. Tapi aku tak beranjak ke dalam kamar untuk tidur. Aku memilih untuk merebahkan tubuhku di kursi ruang tamu yang panjang.
Beberapa saat aku masih memikirkan keadaan Farhan. Dan akhirnya aku membaca do'a, dan mengucap sebuah kalimat yang sudah biasa aku ucap saat ingin bertemu dengannya. Bertemu dengan Dayang Putri.
"Dayang Putri, tolong hadir dalam mimpiku..."
Dan aku pejamkan kedua mataku. Akhirnya aku bisa terlelap. Dengan membawa semua kemelut dalam hati. Namun kali ini bercampur juga dengan amarah yang tiba-tiba terasa dalam hatiku...
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
"Dayang Putri... Di mana kamu?"
Aku mencari Dayang Putri, melihat ke kanan dan ke kiri. Posisiku masih di ruang tamu. Masih di atas kursi panjang. Namun aku berada di dalam dimensi mimpi yang bertemu dengan dimensi ghoibku.
"Aku di sini Nisa..." terdengar jawaban Dayang Putri dari arah yang entah dari mana. Sosoknya tak muncul, hanya suaranya yang begitu jelas terdengar.
"Kenapa tak muncul di hadapanku Dayang Putri?"
"Aku tak ingin menemui dirimu dengan kondisi hatimu yang bercampur amarah." jawabnya.
"Dari mana Dayang Putri tau hatiku ada rasa amarah sekarang?"
"Aku selalu tau hatimu Nisa. Dan tidak tepat amarahmu ditujukan padaku."
Aku diam sejenak. Di tengah kekosongan ruang mimpi ghoibku itu. Aku bagaikan mengobrol dengan sosok yang sangat dekat, namun tak ada wujudnya di hadapanku.
"Nisa... Aku tau bahwa ---" belum selesai Dayang Putri berucap, aku segera menyela perkataannya,
"Kenapa tidak memberi tauku?! Kenapa tidak hadir sebelum Farhan menghilang?!"
"Nisa..."
"Apa Dayang Putri juga menyalahkan aku?!"
"Nisa... Kamu seharusnya ---" belum selesai lagi Dayang Putri berucap, aku menyela lagi,
"Aku seharusnya mengantarkan dia pulang sampai ke rumah kan?!"
Dayang Putri terdiam...
"Aku memang salah! Dan Dayang Putri juga menyalahkanku sekarang?! Baik, aku terima!"
Suasana alam mimpi ghoibku itu terasa menjadi hening. Sangat hening. Seolah amarahku menguasai sekitar.
"Apakah kamu benar sosok perewangan yang baik untukku?! Nyatanya saat aku sudah berniat baik mengantarnya pulang, tapi memang dia sendiri yang ingin pulang ke rumah, Dayang Putri tak memberi tau kalau akan terjadi sesuatu seperti ini!!"
Aku seperti meluapkan amarahku pada Dayang Putri. Padahal aku tak melihat sosoknya.
Beberapa saat kemudian, setelah aku menghela napas, masih dengan perasaan marah sedikit, akhirnya Dayang Putri menjawab.
"Semua amarahmu itu tak sepantasnya kau lampiaskan padaku Nisa."
Kali ini, aku yang terdiam mendengar jawaban Dayang Putri.
"Dan satu hal lagi, aku menemani hidupmu bukan sebagai pengendali segalanya. Bukan pula pengendali hatimu! Ingat itu baik-baik Nisa!"
Ucapannya kali ini seperti kesal dengan sikapku.
"Apa hanya karena satu persoalan seperti ini, lalu hatimu dengan mudah dikuasai amarah?" ucapnya padaku. Aku tertunduk menatap kedua kakiku yang terlihat samar-samar.
"Apa hanya karena ke dua orang tua anak kecil itu menyalahkanmu, lalu kamu menyalahkan aku?" tambahnya.
Aku termenung mendengarnya...
"Nisa... Jika memang kamu tak berbuat salah, maka berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Apakah kamu akan membawa rasa dendam masa lalu atas kejadian yang menimpa Bapakmu?!"
"Diam! Jangan bawa kejadian masa lalu itu Dayang Putri!" jawabku agak sedikit membentak.
Lalu... Tiba-tiba... Sosok Dayang Putri muncul dengan perlahan tepat di hadapanku. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, aku melihat Dayang Putri dalam penampilan yang sangat berbeda.
Dayang Putri mengenakan kain jarik batik berwarna merah, pakaian kembennya pun berwarna merah. Bukan hijau. Dan kedua matanya yang berwarna hijau cerah itu, pun berubah menjadi warna merah cerah.
Aku yang melihatnya seperti itu, merasakan aura kemarahan yang besar darinya. Seketika itu juga, kemarahan dalam diriku mereda.
"Nisa... Penampilanku akan selalu sama dengan aura dalam dirimu. Jika aku muncul dihadapanmu dengan seperti ini, berarti hatimu sedang tak baik-baik saja." ucapnya sambil berdiri, menatap tajam wajahku dengan sorot matanya yang berwarna merah cerah itu.
"Nisa... Jangan pernah hatimu kau biarkan dikuasai dendam dan amarah. Jika kamu tak ingin aku seperti ini saat menemuimu." tambahnya.
Seketika itu juga, aku kembali menundukkan kepala. Terasa kesedihan dalam hatiku. Mulai berkaca-kaca rasanya kedua mataku.
"Maafkan aku Dayang Putri... Maafkan aku... Hiks hiks..."
Mulai aku menangis di hadapannya.
"Aku hanya ingin Bapakku sembuh. Dan aku ingin orang yang telah berbuat jahat mendapatkan balasan yang setimpal. Ditambah lagi... Hiks hiks... Atas kejadian Farhan menghilang. Apa kamu tak tau, bagaimana orang tuanya menyalahkan aku? Hiks hiks..."
Dayang Putri masih berdiri menatapku tajam.
"Apakah kamu tak tau? Bagaimana perasaanku selama setahun ini? Aku melihat orang-orang disekitarku mulai banyak berbeda sikapnya padaku dan Bapak? Hiks hiks..."
Masih diam saja Dayang Putri.
"Aku tak melakukan kesalahan Dayang Putri! Bapakku juga tak melakukan kesalahan! Huhuuu... Hiks... Huuuhuuuhuuu..." pecah tangisanku.
"Aku hanya ingin membantu kesembuhan Pak Handoyo! Tapi kenapa malah aku dan Bapak yang diincar? Dan kenapa malah orang-orang tampak menjauhi aku dan Bapak? Kenapa? Ditambah lagi Farhan, aku sudah berbuat baik mengantar dia pulang... Tapi kenapa orang tuanya menyalahkan aku?! Bagaimana selanjutnya? Apa kata orang lain tentangku setelah kejadian ini?" semuanya terasa aku luapkan.
"Nisa..." ucap Dayang Putri lembut, "Ingatlah, setiap orang yang berbuat jahat kepada orang lain, pasti akan mendapat balasan. Dan setiap orang yang berbuat baik kepada orang lain, pasti akan mendapat balasan juga. Yang jahat dibalas jahat. Yang baik dibalas baik." jelasnya.
"Tapi... Hiks hiks... Kenapa aku yang berbuat baik malah dibalas jahat?" tanyaku.
"Itu bukanlah sebuah balasan Nisa. Tapi itu adalah ujian bagimu. Ujian bagi tirakatmu." jawabnya.
"Aku tau, kamu kuat Nisa..." tambahnya.
Aku mengangkat wajah, menatap Dayang Putri...
Dan kali ini, sosoknya sudah berubah seperti yang selama ini aku kenal. Menjadi sosok Dayang Putri dengan selendang kuning keemasan, kemben hijau, kain jarik batik cokelat, dan kedua matanya yang berwarna hijau cerah.
Dayang Putri tersenyum dengan wajahnya yang cantik...
"Nisa... Ingatlah... Tirakatmu jika semakin kuat, maka aku pun semakin kuat. Dan tentu ujian bagimu semakin berat. Tapi aku tau, kamu bisa menjadi orang yang baik, dan akan berbuat baik lebih banyak untuk orang lain." jelasnya.
Dayang Putri berjalan perlahan mendekatiku. Dan duduk di samping kananku. Dia rangkul tubuhku. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Dan aroma bunga kantil yang selalu menenangkanku, tercium.
"Nisa... Aku akan bantu kamu untuk membawa anak itu keluar dari alam ghoib."
Aku yang mendengar ucapan itu, sedikit merasa heran.
"Apa... Maksudnya Dayang Putri?" tanyaku menyusul.
"Anak itu masih ada. Hanya saja dia tersesat. Dan ada yang menyesatkan jalannya sebelum ia sampai di rumah."
"Siapa yang membuatnya tersesat sebelum sampai rumah Dayang Putri?"
"Apakah kamu ingat dengan sosok anak kecil yang kau temui di pemakaman itu?"
Saat Dayang Putri bertanya seperti itu, seketika itu juga aku langsung teringat dengan satu nama...
GILANG.