Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 — Kesombongan
Setelah petir menghantam arena, tempat itu langsung dipenuhi debu tebal akibat ledakan dahsyat.
Orang-orang yang menyaksikannya bereaksi beragam. Ada yang menahan napas penuh kecemasan, ada pula yang tetap acuh karena yakin Xinyi pasti telah mati.
Dari kejauhan, Xun'er menatap ke arah kepulan asap itu dengan wajah tegang. Ia tidak sanggup mengalihkan pandangannya, terus menunggu hingga asap perlahan memudar.
Alis Tetua Miju Xie sedikit berkerut. "Bagaimana bisa," gumamnya.
Angin bertiup pelan, mendorong asap tebal itu pergi sedikit demi sedikit. Perlahan, siluet seorang wanita mulai terlihat. Sosok itu sedang duduk bersimpuh di tengah arena yang retak dan hangus.
Xinyi terbatuk keras. Sesaat kemudian, darah segar menyembur dari mulutnya dan menodai tanah dengan warna merah mencolok.
"Xinyi!" Xun'er yang melihat pemandangan itu hampir kehilangan kendali. Ia melangkah maju dengan panik, nyaris berlari menuju arena.
Namun Yao Li segera menahannya. "Xun'er, jika kau ke sana kau hanya akan mengganggunya."
Xun'er menggigit bibirnya. Ia tak bisa membantah, meski dadanya terasa sesak karena cemas.
Di sebelah mereka, Yuan Xi berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap angkuh. Meski ada perasaan tidak nyaman yang muncul saat melihat kondisi Xinyi, ia tetap mempertahankan sikapnya.
Di sekitar arena, bisikan kembali terdengar. Banyak orang mulai kehilangan harapan. Namun masih ada sebagian kecil yang tetap menatap dengan mata penuh doa.
Di tengah arena, Xinyi gemetar. Tangannya bergetar hebat, tubuhnya terasa lemas, kepalanya berdenyut seakan hendak pecah. Setelah disambar petir itu, pikirannya kacau, sulit untuk fokus.
Kesombongan yang sebelumnya ia miliki hancur hanya oleh satu sambaran petir.
"Mustahil... aku tidak bisa," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia perlahan mendongak. Matanya menatap langit yang masih dipenuhi awan hitam berputar. Ia tahu, petir berikutnya akan segera datang. Dan jika itu terjadi dalam kondisi seperti ini, ia benar-benar akan mati.
"Apa yang harus kulakukan..."
Untuk saat ini ia masih hidup. Namun masa depan terasa gelap. Jika ia tidak melakukan apa-apa, kematian sudah menunggunya.
"Aku tidak mau mati."
Tatapannya kosong, seperti seseorang yang telah kehilangan pegangan. Tubuhnya terasa berat, sulit digerakkan. Ketakutan mencengkeramnya dari dalam.
Dari kejauhan, Miju Xie menghela napas pelan. "Sudah kuduga. Meski ia berhasil pada petir pertama, tapi semangatnya sudah patah, ia punya keraguan. Pada akhirnya ia sama saja seperti yang lainnya... akan mati."
Namun di dalam hatinya, Xinyi masih belum menyerah.
Tangannya perlahan terangkat, seolah ingin meraih sesuatu yang tak terlihat.
"Langit sungguh kejam ternyata..." Ia merasakan ketakutan, amarah, dan rasa kesal bercampur menjadi satu. "Aku tidak ingin mati. Aku belum mengetahui semuanya, aku belum bertemu dengannya."
Tiba-tiba, seluruh tubuhnya mulai bersinar. Mana menyelimuti tubuhnya seperti kabut bercahaya. Dengan susah payah, ia memaksa dirinya berdiri. Meski tubuhnya sakit, meski kakinya gemetar, ia tetap berdiri tegak.
Tangannya mengepal. Tatapannya kembali menajam, terkunci pada langit.
"Hahaha..." tawanya terdengar serak dan berat.
Dari kejauhan, Yuan Xi menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. Perlahan, tangannya yang sebelumnya terlipat di depan dada mulai turun.
"Dia gila," gumamnya.
Bukan hanya dia. Banyak warga desa juga berpikiran sama. Di mata mereka, Xinyi sudah kalah. Menantang petaka petir adalah kesalahan besar. Kesombongan telah menyeretnya ke jurang kematian.
Xun'er meremas tangan kanannya dengan kuat. Ia tahu Xinyi sedang berada di batasnya. Satu sambaran petir lagi dan semuanya akan berakhir.
Itulah yang ada di pikirannya.
Di tengah arena, Xinyi tersenyum pahit ke arah langit. Kedua tangannya kembali terbuka lebar. Sekali lagi, ia berdiri menantang langit, seolah meremehkan kekuatan yang jauh lebih tinggi darinya.
"Langit... aku belum mati—tidak... lebih tepatnya, aku tidak akan mati. Kau tidak bisa membunuhku!" teriakannya menggema di seluruh arena, membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Kepercayaan diri yang berlebihan. Kesombongan yang menentang langit. Menentang sesuatu yang berada jauh di atas manusia.
"Wanita ini... benar-benar meremehkan langit." Miju Xie kembali merasakan ketertarikan muncul di dalam hatinya.
apa ada sejarah dengan nama itu?