Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dongeng sebelum tidur
Lampu kamar menyala temaram, cukup untuk menerangi dua sosok yang berbaring berdampingan di atas kasur kecil. Elora menyandarkan punggungnya ke dinding, sementara Romi sudah meringkuk manja di sisinya, memeluk bantal lusuh kesayangannya.
“Cerita dong, Kak,” pinta Romi dengan suara mengantuk.
Elora tersenyum kecil. Tangannya terulur mengambil sebuah buku dongeng dari pangkuan adiknya. Sampulnya berwarna biru tua, sedikit pudar, dengan ilustrasi seorang laki-laki bermata terpejam mengenakan jubah putih. Judulnya tercetak dengan huruf keemasan yang mulai memudar: Pangeran Tidur.
Elora mengernyit pelan.
“Aneh…” gumamnya tanpa sadar.
Romi menoleh. “Kenapa, Kak?”
“Kak El taunya cuma ada Putri Tidur,” jawabnya jujur. “Ini… Pangeran Tidur.”
Romi terkikik kecil, lalu duduk setengah bangun. “Kakak lucu. Ya beda dong. Kalau ini pangeran.”
Elora menghela napas pelan, lalu menatap adiknya lebih serius. “Dari mana kamu dapat buku ini, Romi?”
Bocah enam tahun itu tampak berpikir sejenak, lalu menjawab polos, “Tadi sore, waktu main petak umpet. Aku sembunyi di gudang belakang.”
“Gudang?” Elora mengernyit. Ia tahu gudang panti jarang dibuka, bahkan anak-anak biasanya dilarang masuk ke sana.
“Iya,” lanjut Romi antusias. “Di lantai, di balik kardus tua, ada buku ini. Aku tanya ke ibu panti. Katanya nggak tahu itu punya siapa, tapi aku boleh ambil kalau mau.”
Kalimat itu justru membuat dada Elora terasa sedikit menghangat dan aneh di saat bersamaan. Ada rasa heran yang tak bisa ia jelaskan. Namun melihat mata Romi yang berbinar penuh harap, ia menepis perasaannya.
“Ya sudah,” ucap Elora lembut. “Kita baca ya.”
Ia membuka halaman pertama. Kertasnya terasa agak kasar, seperti buku lama yang sudah melewati banyak tangan. Tulisan di dalamnya rapi, seolah dicetak dengan sangat hati-hati.
Elora mulai membaca dengan suara pelan, berirama, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.
“Di sebuah kerajaan yang tak tercatat di peta mana pun, hiduplah seorang pangeran yang tertidur ..bukan karena sihir, bukan pula karena kutukan…”
Romi mendengarkan dengan mata setengah terpejam, senyum kecil terukir di wajahnya.
“…Ia tertidur karena jiwanya terlalu lelah untuk bangun. Tubuhnya terbaring di dunia nyata, sementara kesadarannya terjebak di dunia lain yang sunyi.”
Elora berhenti sejenak. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada sesuatu dari cerita itu yang terasa… dekat. Terlalu nyata untuk ukuran dongeng anak-anak.
Ia melirik Romi. Adiknya sudah memejamkan mata, napasnya mulai teratur.
Elora tersenyum kecil, lalu melanjutkan membaca hingga suaranya makin pelan, nyaris berbisik. Hingga akhirnya ia menutup buku perlahan, memastikan Romi benar-benar tertidur.
Namun saat Elora hendak meletakkan buku itu di meja kecil di samping ranjang, jemarinya terhenti.
Di halaman terakhir yang terbuka, ada satu kalimat pendek yang membuat napasnya tercekat.
“Dongeng ini akan menemukan pembacanya, tepat saat dua dunia saling mendekat.”
Elora menutup buku itu dengan cepat. Ia menggeleng pelan, mencoba menertawakan kegelisahannya sendiri.
“Hanya dongeng,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun entah kenapa, malam itu, Elora tidur dengan mimpi yang berbeda.
Langkah kaki Elora terasa ringan saat ia berdiri di tempat itu.
Sebuah taman yang tak pernah ia lihat sebelumnya, namun entah mengapa terasa begitu akrab. Hamparan bunga berwarna-warni membentang sejauh mata memandang. Kelopaknya berkilau seolah menyimpan cahaya sendiri, bergerak lembut tertiup angin yang sejuk dan wangi.
Tak ada matahari di langit. Namun anehnya, segalanya tetap terang. Cahaya lembut turun dari langit berwarna biru pucat keperakan, seperti fajar yang tak pernah benar-benar berubah menjadi siang.
“Elora…” gumamnya pelan, menyebut namanya sendiri, memastikan ia masih sadar.
Di hadapannya, sebuah sungai kecil mengalir tenang. Airnya jernih, memantulkan warna bunga dan langit, menciptakan kilau keemasan yang menenangkan. Saat Elora mendekat, ia bisa mendengar gemericik air yang lembut, seperti alunan lagu pengantar tidur.
“Aku… bermimpi?” tanyanya pada udara.
Namun semua terasa terlalu nyata. Rumput di bawah telapak kakinya terasa dingin dan lembut. Angin menyentuh kulitnya dengan hangat yang menenangkan, bukan seperti angin mimpi yang biasanya hambar.
Elora melangkah pelan menyusuri taman itu. Setiap langkahnya seolah dituntun, meski ia tak tahu ke mana. Di antara bunga-bunga tinggi, ia melihat bangku batu putih di tepi sungai.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Seorang laki-laki duduk membelakangi Elora. Rambutnya hitam, sedikit panjang, tergerai rapi. Tubuhnya tinggi, dibalut pakaian sederhana berwarna terang. Ia duduk diam, menatap aliran sungai seolah sedang menunggu sesuatu… atau seseorang.
Jantung Elora berdegup lebih cepat.
“Apa aku sendirian di sini?” suaranya nyaris berbisik.
Seolah mendengar, laki-laki itu perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Mata itu—tenang, dalam, dan menyimpan kesunyian yang panjang. Bukan tatapan orang asing, melainkan tatapan seseorang yang telah menunggu terlalu lama.
“Elora,” ucap laki-laki itu lembut, menyebut namanya dengan begitu yakin.
Elora tertegun. Napasnya tercekat.
“Kamu… siapa?” tanyanya pelan.
Laki-laki itu tersenyum tipis. Senyum yang indah, namun sarat dengan kesepian.
“Aku,” katanya lirih, “Arelion.”
Ucapannya lembut, dengan tatapan yang begitu dalam seolah mampu menembus pikiran Elora.
Kulitnya pucat nyaris tak bercela, sementara garis wajahnya tegas dan tenang.
Laki-laki itu tampak seperti tokoh dalam novel..
terlalu sempurna untuk nyata,
dan terlalu nyata untuk sekadar mimpi.
Di kejauhan, bunga-bunga bergoyang lebih kencang, seolah taman itu ikut bernapas. Sungai berkilau lebih terang,memantulkan cahaya langit yang tak memiliki matahari.
Dan tanpa Elora sadari, dua dunia yang selama ini terpisah… oleh tidur dan kesadaran, oleh nyata dan mimpi…perlahan mulai bersentuhan.