Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Kepala Ammar
Sedari muda, Ammar bukan tipe laki-laki yang mau mendengarkan keluh kesah seorang perempuan. Termasuk Leticia istrinya.
Egois ... Iya memang, Ammar Rasyid dengan segala yang dimilikinya. Sudah lazim menjadi laki-laki yang mementingkan diri sendiri, walaupun dengan pasangannya sekalipun.
Lahir dengan sendok emas dan tak pernah merasakan kekurangan sedari lahir. Ammar tumbuh dengan rasa empati terhadap perempuan yang minim. Berbeda dengan teman laki-laki, itupun dia cukup selektif memilih mana yang boleh dekat dengannya. Ammar menetapkan batas tinggi.
Tapi entah mengapa, dia sangat penasaran dengan masa lalu istri barunya. Perempuan langka di masa serba bebas seperti sekarang.
Nina bukan perempuan jelek, malah untuk ukuran standar negara ini. Nina termasuk ideal. Postur tubuh tidak terlalu tinggi atau pendek, kulit kuning Langsat, hidung sedang, mata bulat, bulu mata lentik, bibir merah muda alami. Intinya segala hal yang ada di wajah Nina, terasa pas. Cantik sekaligus manis. Apalagi setelah istrinya itu membuka penutup di kepalanya, rambut hitam, lurus sepunggung. Lalu tadi ketika tanpa sengaja Ammar melihat dua gundukan di balik bath rob, itu terlihat padat dan sepertinya pas di genggamannya.
Sebenarnya isi kepala Ammar sudah sangat berisik agar segera menarik tali yang melilit pinggang ramping istrinya itu. Dia penasaran isi didalamnya.
Bagaimana perutnya? Bentuk pinggul, atau bahkan pusat segala tempat sensitif yang dimiliki Nina.
Sisi Liar Ammar membayangkan betapa sempit dan basahnya perempuan yang sudah menjanda lebih dari empat belas tahun itu. Di benar-benar penasaran.
Bahkan ketika mendengar Nina bercerita, Ammar sesekali menelan ludahnya. Saat netranya menangkap leher jenjang, gundukan di balik bath rob, dan yang terakhir tentu pinggulnya. Bagaimana jika kedua tangan Ammar memegangnya dan mencengkeramnya?
Nina tak tau, jika isi kepala Ammar sudah dipenuhi hal-hal kotor. Tentang style apa saja yang akan mereka lakukan nanti, atau dimana tempat keduanya bercinta.
Sofa yang sedang mereka duduki, kitchen island, foyer, tangga yang menuju kamarnya, dinding kaca yang memperlihatkanp00 pemandangan kota, kamar Ammar atau mungkin berendam bersama di Jacuzzi.
Bahkan karena isi kepalanya yang begitu berisik itu, Ammar sama sekali tak fokus mendengarkan keseluruhan kisah hidup perempuan yang duduk berjarak satu meter darinya.
Yang Ammar tangkap, Nina dulu dilecehkan oleh teman sekolahnya dan berakhir hamil, sehingga terpaksa putus sekolah saat kelas dua SMA.
Usia yang masih labil, membuat Nina dan mantan suaminya sering terlibat cekcok. Apalagi tak ada rasa cinta diantara keduanya. Sehingga rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan.
Lalu sejak perceraian itu, Nina mati-matian mencari uang guna memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Saking sibuknya, Nina sama sekali tak berpikir untuk mencari suami baru. Dia juga tertutup dan menolak setiap lelaki yang dekat dengannya.
"Jadi Tuan, bisakah kita mengikuti aturan yang tertulis di surat kontrak saja?" Dari semua cerita panjangnya, intinya Nina menolak Ammar dalam urusan ranjang.
Ammar tak menjawab, dia masih fokus dengan gerak bibir merah muda itu yang sekarang sedikit terbuka. Beberapa saat lalu, dia merasakannya. Manis ...
"Halo Tuan!" Nina melambaikan tangannya. Lelaki di depannya saat ini, sepertinya sedang melamun. "Apa anda mendengar saya?" Nina perlu menegaskan, dia benar-benar tak mau ditiduri suami kontraknya.
Mata hitam legam itu berkedip cepat, ini berguna agar pikiran waras Ammar kembali. "Yah ... Aku dengar." Dia tidak berdusta, telinganya memang menangkap apa yang dikatakan Nina. Tapi masalahnya, pikirannya hanya fokus dengan fantasi soal perempuan ini.
"Syukurlah," Nina bernapas lega. "Jadi anda mau kan, esok melakukan prosedur inseminasi?" Tatapnya penuh harap.
Ammar melongo sejenak, namun segera mengatupkan mulutnya. Tersadar jika Nina salah paham akan sikapnya. Tapi tenang, Ammar ini laki-laki yang memiliki sejuta cara untuk mendapatkan keinginannya. "Sepertinya Damian menempatkan tas kamu di kamar ku."
Nina terlihat terkejut, perempuan yang masih mengenakan bath rob itu mungkin tak menyangka.
"Kamu dengar bukan, tadi Damian mengatakan agar kita melakukan cara alami?" Ammar perlu mengkonfirmasi. Sempat terbesit dalam pikirannya, tidak perlu meniduri istri kontraknya mengingat sebentar lagi dia akan bertemu Leticia. Tapi bayangan bibir manis Nina dan apa yang dikenakan sekarang. Membuat hasrat meniduri istri kontraknya begitu menggebu-gebu. Lihat saja bagaimana celana formal yang dikenakannya, sedari tadi menggembung. Untung saja berwarna hitam sehingga tak terlalu terlihat.
Namun seandainya Nina melihat, apa perempuan ini paham?
Mengingat kedekatan Nina dengan laki-laki terakhir kali adalah sekitar empat belas tahun lalu. Bukan hitungan waktu yang sebentar. Kenapa bisa orang yang sudah mengenal urusan ranjang, bisa tahan selama itu?
Apa mungkin Nina memiliki kelainan?
"Silahkan kamu ambil sendiri." Ammar bangkit dari duduknya, dia harus mulai melancarkan modus guna menjerat perempuan polos ini.
Tidak ada pilihan lain, Nina harus mengikuti si empunya Penthouse menuju lantai atas. Begitu sampai nanti, Nina akan segera mengambil tasnya dan langsung turun ke bawah.
Itu yang ada di pikiran Nina. Sayangnya yang ada di pikiran Ammar bertolak belakang.
Tas milik Nina ditempatkan di lemari paling atas pada ruang wardrobe milik Ammar. Nina yang memiliki postur tubuh mungil tentu saja tak bisa menjangkaunya.
Sementara Ammar, dengan santainya mulai membuka jam tangan dan menempatkan pada tempatnya. Melepas sabuk yang seharian ini melilit pinggangnya.
Ammar berpura-pura tak melihat, dia masih terus melakukan aktivitasnya sendiri. Seperti saat ini dirinya yang sudah menanggalkan kemeja, alhasil dirinya bertelanjang dada. Bermaksud menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis. Tubuh yang digilai para perempuan-perempuan di luar sana.
Lalu celana formal yang sedari beberapa menit lalu, membuatnya sesak. Menyisakan bokser pendek. Ujung tongkat miliknya menyembul dari sana. Ammar meringis, untung saja dia sedang membelakangi istri kontraknya.
"Kenapa anda malah membuka baju?" Nina protes sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Wajahnya merah karena malu.
"Aku akan mandi, jadi sudah seharusnya aku membuka pakaian, bukan?" Ammar tersenyum kecil. Dia masih di posisi yang sama.
"Iya, saya tau. Tapi kan masih ada saya di sini. Apa anda tidak malu?" Nina berbalik, dia membelakangi pria tak tau malu itu.
Kenapa baru hitungan jam keduanya resmi menjadi pasangan suami istri, rasanya begitu menyenangkan?
Ammar berpikir, semakin dia mengenal Nina. Ada sisi menggemaskan dari perempuan asli Indonesia itu. Bagaimana nanti selanjutnya?
Setelah memastikan tongkat miliknya sedikit mengendur, Ammar berbalik dan melangkah ke arah perempuan yang sedang membelakanginya.
"Untuk apa aku malu di depan istriku sendiri." Ammar berbisik. Dia merengkuh pinggang ramping Nina. "Aku akan mandi terlebih dahulu, sebelum nanti kita ..." Dia sengaja menggantung ucapannya, Ammar ingin melihat reaksi istrinya.
Tubuh Nina menegang, dia terkejut dengan tindakan pria itu. "Tadi bukankah anda setuju untuk kita tidak tidur bersama?" Nina mati-matian mengusir rasa gugupnya.
Ammar membalikan tubuh istrinya agar mereka berhadapan. "Apa aku menyetubuhinya?" Tanyanya. "Seingat ku, aku tidak mengatakan iya."
"Tapi tuan ..."
"Lakukan kewajibanmu, sayang ..." Ammar mulai membungkam mulut istrinya. Dia tak ingin lagi mendengar penolakan. Mungkin ini akan menjadi malam yang panjang untuk keduanya.