NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 runtuhnya besi hitam

​Kabut tebal yang menyelimuti gerbang Sekte Aliran Abadi perlahan terbuka, menciptakan lorong sempit bagi Su Lang dan anggota barunya untuk masuk. Lin Yue berjalan di belakang dengan langkah tertatih. Matanya yang sembab karena air mata dan angin dingin kini membelalak lebar.

​Dia membayangkan sebuah gubuk reot di puncak gunung yang sunyi. Namun, apa yang menyambutnya adalah sebuah halaman luas yang diselimuti aura spiritual yang hangat. Di tengahnya, sebuah aula megah dari kayu cendana hitam berdiri kokoh, memancarkan wibawa yang membuat lututnya lemas. Di sampingnya, sebuah menara tiga lantai berpendar dengan cahaya kebiruan yang lembut.

​Ini bukan tempat pengasingan. Ini adalah surga tersembunyi.

​"Guru!"

​Dua sosok kecil berlari keluar dari aula. Li Yun, dengan keringat yang membasahi pakaian latihan barunya, dan Xiao Me yang wajahnya berseri-seri. Mereka berhenti mendadak saat melihat wanita asing di belakang Su Lang.

​"Ini Lin Yue," suara Su Lang memecah kecanggungan. "Mulai hari ini, dia adalah bagian dari sekte kita. Dia akan membantu urusan domestik dan logistik."

​Lin Yue, menyadari posisinya sebagai orang asing yang diselamatkan, segera menjatuhkan diri berlutut di atas batu paving yang hangat. "Hamba Lin Yue... terima kasih kepada Tuan Abadi karena telah menyelamatkan nyawa hamba yang rendah ini. Hamba bersedia menjadi sapi atau kuda untuk membalas budi Tuan."

​Su Lang menatapnya datar. "Bangunlah. Di Sekte Aliran Abadi, kita tidak memelihara sapi atau kuda. Kita memelihara kultivator."

​Kata-kata itu menyentak Lin Yue. Dia mendongak, menatap wajah Su Lang yang tenang namun menyimpan kedalaman seperti danau kuno.

​"Xiao Me, bawa Lin Yue ke kamar kosong di pondok murid. Berikan dia pakaian bersih dan makanan. Li Yun, kembali berlatih. Jangan biarkan kedatangan orang baru mengganggu fokusmu."

​"Baik, Guru!" jawab mereka serempak.

​Setelah mereka pergi, Su Lang berdiri sendirian di halaman. Dia menatap ke arah kaki gunung. Matahari sudah tinggi, dan dia tahu waktu sangat krusial.

​Berita kematian Ma Zhen pasti sudah menyebar di kalangan murid Sekte Besi Hitam yang tersisa. Kekacauan akan terjadi. Jika Su Lang terlambat, harta benda di gudang penyimpanan musuh bisa dijarah oleh murid-murid yang berkhianat atau bandit oportunis lainnya.

​"Sistem, tampilkan peta menuju Gudang Rahasia."

​Sebuah jalur merah transparan muncul di pandangannya, menuruni gunung dan mengarah ke lembah di seberang sungai beku, tempat markas besar Sekte Besi Hitam berada.

​Su Lang merogoh sakunya, memastikan kunci perunggu dingin itu masih ada di sana. Dia juga membawa beberapa kantong penyimpanan kosong yang dia ambil dari mayat Ma Zhen kemarin—kantong kain kasar yang telah diberi mantra perluasan ruang sederhana, mampu menampung barang seukuran lemari pakaian.

​"Li Yun!" panggil Su Lang tanpa menoleh.

​Li Yun yang sedang melakukan kuda-kuda di pojok halaman segera menyahut. "Ya, Guru?"

​"Aku akan turun gunung. Jaga sekte. Aktifkan formasi kabut penuh jika ada orang asing yang mendekat. Jangan biarkan siapapun masuk, bahkan jika mereka memohon belas kasihan."

​"Guru akan pergi ke mana?"

​"Mengambil apa yang menjadi hak kita."

​Markas Sekte Besi Hitam dulunya adalah benteng yang membanggakan. Dinding batunya tinggi, gerbang besinya kokoh, dan bendera lambang palu hitam berkibar gagah di setiap sudut.

​Namun hari ini, tempat itu tampak seperti bangkai raksasa yang sedang dikerubungi belatung.

​Su Lang berdiri di atas dahan pohon pinus tinggi di tebing yang menghadap ke markas musuh. Dari ketinggian itu, dia bisa melihat asap hitam mengepul dari beberapa bangunan. Bukan asap dapur, melainkan asap pembakaran.

​Teriakan-teriakan marah dan suara dentingan senjata terdengar samar terbawa angin.

​"Tanpa pemimpin, serigala akan memakan sesamanya," gumam Su Lang.

​Dia meluncur turun. Langkah Bayangan Awan membuatnya bergerak tanpa suara, menyatu dengan bayang-bayang sore. Dia tidak masuk lewat gerbang depan yang kini terbuka lebar dan tidak dijaga. Dia melompati dinding samping, mendarat dengan lembut di atap sebuah gudang logistik.

​Pemandangan di bawah sana menyedihkan.

​Para murid Sekte Besi Hitam saling bertarung. Kelompok-kelompok kecil terbentuk, saling berebut senjata, pil, dan uang emas. Mayat-mayat bergelimpangan—bukan dibunuh oleh musuh luar, tapi oleh saudara seperguruan mereka sendiri.

​Su Lang melihat seorang murid senior menikam punggung juniornya hanya untuk merebut sekantong koin perak.

​"Menyedihkan," desis Su Lang. Dia tidak merasa perlu campur tangan. Ini adalah karma mereka.

​Targetnya adalah bangunan paling besar di bagian belakang kompleks: Kediaman Ketua Sekte.

​Su Lang melompat dari atap ke atap. Beberapa murid yang kebetulan melihat bayangan berkelebat di atas kepala mereka hanya sempat mengucek mata sebelum bayangan itu hilang, mengira itu hanya efek asap atau halusinasi ketakutan.

​Saat tiba di depan Kediaman Ketua, Su Lang menemukan situasinya sedikit berbeda. Di sini, pertempuran lebih terorganisir.

​Sekelompok murid elit yang mengenakan jubah hitam dengan garis merah sedang mengepung pintu masuk kediaman. Mereka dipimpin oleh seorang pria muda berwajah licik yang memegang tombak panjang.

​"Minggir!" teriak pria muda itu pada dua penjaga tua yang masih setia berdiri di depan pintu. "Ma Zhen sudah mati! Harta di dalam adalah milik siapa saja yang kuat! Aku, Zhang Luan, adalah murid tertua sekarang!"

​"Pengkhianat!" ludah salah satu penjaga tua. "Ketua baru saja wafat, dan kau ingin menjarah rumahnya? Di mana kehormatanmu?"

​"Kehormatan tidak bisa dimakan!" Zhang Luan mencibir. Dia menghentakkan tombaknya. "Bunuh orang-orang tua bodoh ini!"

​Pertempuran pecah. Zhang Luan berada di Qi Condensation Tingkat 2 Puncak. Tombaknya bergerak cepat seperti ular, dengan mudah menembus pertahanan penjaga tua yang hanya berada di tingkat 1.

​Dalam hitungan detik, kedua penjaga itu tewas.

​Zhang Luan tertawa kemenangan. Dia menendang pintu kediaman hingga terbuka. "Cepat! Cari Kunci Gudang Rahasia! Siapapun yang menemukannya akan mendapat bagian terbesar!"

​Para pengikutnya bersorak dan menyerbu masuk.

​Su Lang mengamati dari bubungan atap dengan tatapan dingin. Kunci itu ada di sakunya. Mereka bisa membongkar seluruh rumah itu sampai rata dengan tanah, tapi mereka tidak akan menemukan apa pun.

​Namun, Su Lang tahu lokasi gudang itu bukan di dalam rumah, melainkan di ruang bawah tanah yang pintu masuknya tersembunyi di balik patung singa batu di taman belakang kediaman. Peta sistem menunjukkannya dengan jelas.

​Sementara Zhang Luan dan anak buahnya sibuk mengacak-acak isi rumah, Su Lang melompat turun ke taman belakang.

​Taman itu sunyi. Salju menutupi bonsai-bonsai yang tak terawat. Di sudut taman, sebuah patung singa batu duduk dengan angkuh.

​Su Lang mendekat. Dia melihat ada celah kecil di mulut singa itu, seukuran kunci perunggu yang ia miliki.

​Dia memasukkan kuncinya.

​Klik.

​Suara mekanis berat terdengar dari bawah tanah. Patung singa itu bergeser ke samping dengan suara gemuruh pelan, menyingkap sebuah tangga batu gelap yang mengarah ke bawah.

​Suara gemuruh itu sayangnya terdengar sampai ke dalam rumah.

​"Suara apa itu?!" teriak Zhang Luan dari dalam.

​Su Lang tidak menunggu. Dia melesat masuk ke dalam lorong gelap itu.

​"Taman belakang! Ada jalan rahasia!" teriak salah satu murid Zhang Luan.

​Su Lang menuruni tangga dengan cepat. Udara di bawah sini lembap dan berbau logam tua. Dia menjentikkan jarinya, memantik sedikit Qi api untuk menerangi jalan. Lorong itu berakhir di sebuah pintu besi tebal yang dipenuhi ukiran rune pertahanan.

​Rune itu berpendar merah saat mendeteksi kehadiran Su Lang. Jika dipaksa, pintu ini akan meledak dan meruntuhkan lorong.

​Tapi Su Lang punya kuncinya. Dia menempelkan kunci perunggu itu ke pusat pintu. Cahaya merah berubah menjadi hijau.

​Kreeek...

​Pintu terbuka.

​Mata Su Lang berbinar melihat isinya.

​Ini bukan gudang harta karun kekaisaran, tentu saja. Tapi bagi sekte kecil seperti Aliran Abadi yang memulai dari nol, ini adalah rejeki nomplok.

​Rak-rak kayu berjejer rapi.

​Di rak sebelah kiri: Batu Roh. Ada sekitar tiga peti kecil. Su Lang membukanya. Cahaya redup memancar keluar. Batu Roh Tingkat Rendah. Dia menghitung cepat. Sekitar 300 butir. Jumlah yang cukup untuk menghidupkan formasi sekte selama setahun penuh atau membeli bahan bangunan mahal.

​Di rak tengah: Senjata. Kebanyakan adalah senjata tingkat fana (besi biasa), tapi ada tiga senjata tingkat Spirit (Roh) kelas rendah. Sebuah pedang panjang, sepasang belati kembar, dan sebuah tameng punggung kura-kura.

​Di rak kanan: Herbal dan Pil. Ini yang paling berharga. Kotak-kotak giok menyimpan tanaman obat yang dikeringkan. Ginseng Salju, Bunga Api Hantu, dan Rumput Tulang Besi. Semuanya adalah bahan dasar untuk ramuan penguat tubuh.

​"Cepat! Ambil semuanya!" Su Lang tidak membuang waktu. Dia menyapu rak-rak itu, memasukkan semuanya ke dalam kantong penyimpanan spasial dan inventaris sistemnya.

​[Memperoleh: 320 Batu Roh Rendah]

[Memperoleh: Pedang Angin Dingin (Tingkat Kuning Rendah)]

[Memperoleh: 50 kotak herbal campuran]

​Saat dia sampai di ujung ruangan, dia melihat sebuah kotak hitam kecil yang diletakkan terpisah di atas meja batu. Kotak itu tidak terkunci, tapi tertutup debu tebal, seolah Ma Zhen sendiri jarang menyentuhnya.

​Su Lang membukanya.

​Di dalamnya, tidak ada emas atau permata. Hanya ada sebuah pecahan logam hitam yang bentuknya tidak beraturan, seukuran telapak tangan. Permukaannya kasar, seperti meteorit.

​Namun, saat Su Lang menyentuhnya, Sistem berbunyi keras.

​[Peringatan! Mendeteksi fragmen artefak kuno.]

[Analisis: Pecahan Kuali Penempa Surga (1/9).]

[Efek Pasif: Meningkatkan tingkat keberhasilan pembuatan pil dan senjata sebesar 5% jika berada di dekatnya.]

​Jantung Su Lang berdegup kencang. "Pecahan Kuali Penempa Surga?"

​Nama itu terdengar sangat dominan. Benda ini pasti bukan berasal dari wilayah pinggiran seperti Pegunungan Utara. Bagaimana Ma Zhen bisa memilikinya? Mungkin dia menemukannya tanpa tahu fungsi aslinya, hanya menyimpannya karena materialnya yang keras.

​Su Lang segera menyimpannya ke dalam inventaris sistem, di slot paling aman.

​Tiba-tiba, dia mendengar langkah kaki berlarian menuruni tangga.

​"Di sini! Pintunya terbuka!" Suara Zhang Luan terdengar menggema.

​Su Lang berbalik, menghadap pintu besi yang terbuka. Dia sudah selesai menjarah. Gudang itu kini kosong melompong, hanya menyisakan rak-rak berdebu.

​Zhang Luan dan lima pengikutnya muncul di ambang pintu, napas mereka memburu. Mata mereka langsung menyapu ruangan.

​Kosong.

​Kekecewaan di wajah Zhang Luan berubah menjadi kemarahan saat melihat satu-satunya orang yang berdiri di sana. Seorang pemuda berjubah abu-abu dengan tangan di belakang punggung, menatap mereka dengan ketenangan yang meresahkan.

​"Kau!" Zhang Luan menunjuk tombaknya. "Siapa kau?! Di mana harta Sekte Besi Hitam?!"

​"Sudah diamankan oleh pemilik barunya," jawab Su Lang santai.

​"Pemilik baru? Omong kosong! Kau hanya pencuri kecil!" Zhang Luan berteriak. "Saudara-saudara, bunuh dia! Geledah mayatnya! Harta itu pasti ada di kantong penyimpanannya!"

​Keenam orang itu menerjang maju. Ruangan itu sempit, tidak banyak ruang untuk menghindar. Bagi orang biasa, ini adalah jebakan maut.

​Tapi bagi Su Lang, ini adalah lorong kematian bagi musuhnya.

​"Kalian datang di saat yang tepat," kata Su Lang. "Aku baru saja ingin mencoba pedang baru."

​Dia mengeluarkan Pedang Angin Dingin yang baru saja dia jarah. Pedang itu lebih ringan dan tajam daripada pedang kabut atau sekop kayunya.

​Zhang Luan menusukkan tombaknya. Tusukan Ular Berbisa!

​Su Lang tidak mundur. Dia melangkah maju, memiringkan kepalanya sedikit. Mata tombak itu mendesing melewati telinganya.

​Dengan gerakan Langkah Bayangan Awan yang dipadukan dengan ruang sempit, Su Lang bergerak seperti air yang mengalir di celah bebatuan. Dia menepis batang tombak dengan tangan kirinya, lalu mengayunkan pedang di tangan kanannya secara horizontal.

​Sring!

​Kepala tombak Zhang Luan terpotong putus.

​"Apa?!" Zhang Luan terbelalak melihat senjata andalannya menjadi tongkat kayu tumpul.

​Sebelum dia sempat bereaksi, pedang Su Lang sudah berbalik arah. Bukan menebas, tapi menusuk.

​Ujung pedang menembus bahu kanan Zhang Luan, memaku tubuhnya ke dinding batu di belakangnya.

​"Arghhh!"

​Kelima murid lainnya berhenti mendadak, ketakutan melihat pemimpin mereka dilumpuhkan dalam satu gerakan.

​Su Lang melepaskan gagang pedangnya, membiarkan Zhang Luan tergantung di dinding. Dia menatap kelima murid lainnya.

​"Ada dua pilihan," suara Su Lang bergema di ruang bawah tanah itu. "Satu, kalian maju dan menyusul Tetua Ma di neraka. Dua, kalian pergi dari sini, tinggalkan sekte ini, dan jangan pernah kembali ke dunia kultivasi sebagai bandit."

​Kelima murid itu saling pandang. Mereka melihat kekuatan Su Lang yang mengerikan (Qi Condensation Tingkat 3 dengan teknik yang unggul). Mereka menjatuhkan senjata mereka.

​"Kami pergi! Kami pergi!"

​Mereka berlarian kembali ke atas, meninggalkan Zhang Luan yang mengerang kesakitan sendirian.

​Su Lang mencabut pedangnya. Zhang Luan jatuh merosot ke lantai, memegangi bahunya yang berdarah.

​"Kau... kau Su Lang... Ketua Sekte Aliran Abadi..." desis Zhang Luan, akhirnya mengenali wajah yang menjadi mimpi buruk Ma Zhen.

​"Ingatanmu bagus," kata Su Lang. Dia membersihkan darah di pedangnya dengan ujung jubah Zhang Luan. "Sekte Besi Hitam sudah tamat, Zhang Luan. Gudang ini kosong. Ma Zhen mati. Tetua Ma mati. Kau tidak punya apa-apa lagi."

​Su Lang berjalan menuju pintu keluar.

​"Tunggu!" teriak Zhang Luan dengan putus asa. "Bunuh aku! Jika kau membiarkanku hidup seperti ini, tanpa senjata dan terluka, musuh-musuhku di luar sana akan menyiksaku sampai mati!"

​Su Lang berhenti sejenak, tapi dia tidak menoleh.

​"Itu bukan urusanku. Itu adalah harga yang kau bayar untuk jalan yang kau pilih."

​Su Lang menaiki tangga, meninggalkan kegelapan ruang bawah tanah di belakangnya. Di luar, hari sudah mulai senja. Kekacauan di markas Sekte Besi Hitam semakin parah. Api mulai melahap bangunan utama.

​Su Lang meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Dia bergerak cepat menembus hutan, mendaki kembali menuju Puncak Qingyun. Kantong penyimpanannya berat berisi harta, tapi hatinya ringan.

​Malam itu, di Aula Utama Sekte Aliran Abadi.

​Su Lang menumpahkan isi kantong penyimpanannya di atas meja panjang. Kilauan Batu Roh dan aroma herbal memenuhi ruangan.

​Li Yun dan Xiao Me menatap dengan mulut terbuka. Bahkan Lin Yue, yang pernah melihat kekayaan saat bekerja di kota besar, terkejut melihat jumlah batu roh sebanyak itu.

​"Ini... banyak sekali, Guru," bisik Li Yun.

​"Ini adalah darah kehidupan sekte kita untuk tahun depan," kata Su Lang. Dia membagi tumpukan itu.

​"Li Yun, ambil 50 Batu Roh. Gunakan untuk mempercepat kultivasimu di dalam Menara Pengumpul Qi. Jangan hemat energi. Kita punya banyak sekarang."

​Li Yun menerima kantong itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Guru!"

​"Lin Yue," panggil Su Lang.

​Wanita itu maju dengan hormat.

​Su Lang mengambil sebuah kotak giok berisi Bunga Api Hantu dan menyerahkannya, beserta sebuah gulungan bambu yang dia temukan terselip di rak buku Ma Zhen—Resep Pil Penahan Yin.

​"Tubuh Yin Murni-mu adalah bakat, tapi juga kutukan. Jika tidak dikelola, rasa dingin di tubuhmu akan membunuhmu sebelum kau berusia 25 tahun. Herbal ini dan resep ini bisa membantumu."

​Mata Lin Yue berkaca-kaca. Dia tahu kondisinya, dan dia tahu betapa mahalnya obat untuk penyakitnya. Dia tidak menyangka Su Lang akan memberikan harta jarahan itu padanya begitu saja.

​"Tuan... Hamba tidak tahu bagaimana harus membalas..."

​"Cukup dengan setia," potong Su Lang. "Dan masaklah sesuatu yang enak. Aku lapar."

​Suasana haru itu pecah menjadi senyum kecil. Xiao Me tertawa riang.

​Su Lang mengambil sisa batu roh dan pecahan logam hitam itu untuk dirinya sendiri. Dia berjalan keluar menuju teras, menatap bulan yang bersinar terang di atas lautan kabut.

​Pondasi ekonomi sudah ada. Pondasi pertahanan sudah ada. Anggota sekte mulai tumbuh.

​Namun, di dalam inventarisnya, Pecahan Kuali Penempa Surga bergetar pelan, seolah merespons sesuatu yang jauh di langit, atau mungkin... sesuatu yang terkubur jauh di dalam gunung ini.

​Perjalanan Su Lang baru saja beranjak dari tahap bertahan hidup menuju tahap misteri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!