NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesal

SEMINGGU KEMUDIAN

[Aya, istirahat siang nanti aku jemput di kantor. Papa mau ketemu membicarakan masalah resepsi. Aku sudah menjelaskan permintaan mu, tapi Papa bersikeras ingin bicara lagi denganmu. ]

Aya menghela nafas.

Memasukkan ponsel ke tasnya dan menyalakan motor.

"Umi, Aya berangkat ya. Assalamu'alaikum. "

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati, Nak. "

Haura menggeleng, itu salam ketiga kalinya yang di ucap Aya pagi itu. Sejak sarapan, ia terus uring-uringan setelah membuka ponsel. Haura merasa itu pasti karena pesan dari Rama.

Baru seminggu menjadi istri, Aya sudah lebih banyak menghela nafas.

"Umi Haura, kenapa itu Aya? Kayaknya lagi bad mood, " tanya pelanggan setianya Eko, pekerja sawit yang selalu membeli nasi campur di warungnya.

"Mungkin lagi banyak kerjaan Mas, " jawab Haura seadanya.

"Aya itu umur berapa si Umi? Sudah punya pacar belum? Sama Saya mau? biar ada yang manjain. "

Haura tertawa ringan, "Mana tahan Mas Eko sama dia. Umurnya saja sudah dua puluh tahunan, tapi tingkahnya masih kayak anak belasan tahun."

Eko mengangguk, "Sudah punya pacar tapi Umi?" tanyanya lagi masih penasaran.

"Anaknya mau langsung nikah, Mas. Dilarang sama almarhum Abanya Pacaran. Kasihan Abanya di kubur."

Eko merapatkan mulutnya, tak berani bertanya lebih banyak. Apalagi menawarkan diri jadi suami. Eko masih sadar diri, dia cuma perantau yang menjadi pekerja kasar di ladang sawit.

***

Rama bergegas kembali ke rumah sakit. Ada hal lain yang mau Jaka bicarakan padanya pagi ini.

Semalam, ia banyak bicara dengan papanya, termasuk soal resepsi pernikahan yang ditunda.

TOKTOK TOK CEKLEK

Rama masuk, menatap Papanya yang sedang bicara serius dengan Pak Budi Manajer departemen umum dan keuangan PT UTAMA JAYA.

"Jadi begitu Pak Budi. Bapak bersiap saja, SK pengangkatan Bapak akan segera di selesaikan hari ini juga. Saya minta bantuannya dalam beberapa hari ini sempatkan untuk pengalihan tugas pada Rama."

"Baik, Pak Jaka. Saya akan siapkan hal-hal yang di butuhkan. Terima kasih sekali, Bapak mengabulkan pengajuan Saya, bahkan lebih dari yang Saya harapkan."

Jaka mengangguk sambil tersenyum.

"Mas Rama, silahkan duduk Saya sudah mau pamit."

Budi bangkit dari kursi dan berdiri di samping kursi.

"Terima kasih, Pak Budi, " sahutnya sungkan.

"Rama, Papa sudah bicara dengan Pak Abdul. Beliau sudah memberikan rekomendasi hasil mentoringmu selama menjadi Asisten Manajer Marketing setahun ini. Untuk selanjutnya, kamu akan mengambil alih posisi Pak Budi di Manajer Umum dan Keuangan. Beliau akan Papa tugaskan sebagai kepala cabang di Tenggarong sesuai pengajuan Beliau. "

"Wah, selamat Pak Budi atas promosinya, " ujar Rama sambil menjabat tangan Budi.

"Selamat juga untuk Mas Rama, di promosikan Manajer Umum dan Keuangan. Saya siapkan proses pengalihannya dengan teman-teman, saya tunggu Mas Rama di kantor besok, " sahut Budi.

"Siap, Pak. "

"Baik, Pak Budi mungkin itu saja. Kalau ada apa-apa segera hubungi Iwan. Saya akan tetap standby ponsel kalau ada hal yang mendesak. Pastikan semua peralihan selesai ya, Pak. "

"Baik, Pak Jaka. Kalau begitu Saya mohon pamit. Mari, Mas Rama."

Budi berlalu dari ruang inap.

"Pa, ini bukannya terlalu cepat? setidaknya dua tahun lah Rama di Marketing."

"Tidak apa-apa, marketing bisa sambil jalan. Yang penting kamu sudah di kenal investor kita selama jadi asisten setahun kemarin. Kamu butuh waktu juga memahami bagian Umum dan keuangan. Setidaknya 1 tahun di posisi ini sebelum Papa ajukan namamu ke dewan direksi dan komisaris."

"Oh ya, Aya sudah kamu hubungi? "

"Rama sudah kirim pesan Pa, tapi belum di respon."

"Apa kamu cerita hubunganmu dengan Amel?"

Rama tertunduk, "Hanya sedikit, Pa."

"Pantas saja, wajar Aya jadi ragu. Dia akhirnya terpaksa menikah dengan mu, bukan karena benar-benar tulus."

"Sejak awal dia memang sudah merasa terpaksa. Situasi kita ini hanya membuat dia tak bisa menolak lagi, Pa."

"Rama, coba berpikir lah dari sudut pandang kami sebagai orang tua. Jangan terus menekankan egomu. Kalau kamu tak percaya dengan informasi dari Papa, Kamu periksa sendiri si Amel itu."

Rama terdiam.

***

"Aya, tolong selesaikan input transaksi hari ini ke sistem ya. Pastikan selesai sebelum jam makan siang. Pak Budi butuh laporan keuangan, ada rapat dadakan setelah istirahat siang nanti, " ujar Clara, Kepala Seksi keuangan.

"Baik, Bu."

Aya mempercepat gerakan tangannya menekan mouse dan mengetik angka pada tuts keyboard. Matanya terus menatap layar komputer di hadapannya memastikan tak ada angka yang salah terekam pada sistem keuangan.

DRRT.. DRRT..

DRRT.. DRRT..

Aya menatap ponselnya yang bergetar di atas meja. Panggilan masuk dari Rama.

"Bu, Saya ke toilet sebentar."

Clara mengangguk kecil.

Aya sedikit berlari setelah mengambil ponsel di mejanya.

"Assalamu'alaikum, " jawabnya setengah berbisik.

"Wa'alaikumsalam, pesanku kenapa tak di jawab? " tanya Rama.

"Maaf, kelupaan. Lagi banyak kerjaan. Ada apa? " tanya Aya dingin.

"Jam dua belas tepat tunggu Aku di luar kantor. Papa mendesakku membawamu ke rumah sakit nanti."

"Iya, in syaa Allah."

"Ya sudah aku tutup telponnya."

"Hmm.. assalamu'alaikum."

Aya buru-buru mematikan telpon dan kembali ke ruangannya.

"Aku harus jawab apa nanti kalau ditanya pak Jaka ya?" gumamnya lirih.

Drrrt..

Aya membuka pesan masuk dari Rama

[Papa sudah tahu aku menceritakan pacarku padamu. Kalau nanti di tanya, cari alasan lain yang tidak membuatku dalam masalah. ]

Aya menghela nafas.

"Dia sendiri yang buat masalah, kenapa aku yang disuruh mikir cari penyelesaiannya, " gerutunya.

Drrrt..

Pesan masuk dari Karin.

[Aya, aku dengar dari kak Citra, pak Budi bakal di mutasi dan di ganti mas Rama anaknya bos besar. Wah, aku kehilangan penyemangat kerjaku😢]

Aya tercekat. " HAH?? Berarti dia bakal jadi bosku dong?" gumam Aya lirih.

Suara terkejutnya mengganggu konsentrasi Clara.

"Aya, selesaikan tugasmu dulu baru buka ponsel. "

"I.. Iya Bu, maaf. "

Aya buru-buru mematikan ponselnya dan kembali bekerja.

***

"Saat saya sadar, mobil truk di belakang sudah menabrak mobil Saya, Pak. Naas, Mama yang duduk sendiri di belakang jadi korban terparah, " cerita Rama pada Abdul.

"Lain kali hati-hati saat berkendara Ram. Di sini tidak seperti di luar negri. Truk-truk pengangkut sawit itu rata-rata tak layak pakai tapi di paksa beroperasi. Rawan terjadi kecelakaan."

"Betul Pak, Terima kasih sudah mengingatkan. Jadi, bagaimana Pak selanjutnya? "

" Di sini tugasmu sudah selesai, tinggal tunggu SK pengangkatan dan peralihan dengan pak Budi. Profil perusahaan investor akan di kirim Citra ke email mu, bisa sambil kamu pelajari lebih detailnya."

"Baik, Pak. Kalau begitu, Saya ijin ke gedung sebelah bertemu dengan pak Budi. Terima kasih dampingannya selama satu tahun ini Pak Abdul. "

Rama berdiri menjabat tangan Abdul dan berlalu dari ruang kerjanya.

"Mas Rama, selamat ya promosinya. Email yang di minta pak Abdul sudah saya kirimkan, barusan. "

"Oke, Citra. Terima kasih ya."

"Mas Rama, tidak ada acara perpisahan departemen ni?"

"Iya, Mas.Traktir dong."

"Oke, nanti saya kabari ya. Saya juga belum resmi menjabat. Lagi pula masih harus bolak balik rumah sakit."

"Oh iya, semoga segera pulih untuk Pak Jaka dan Bu Harum ya, Mas. "

"Aamiin. Terima kasih semua. Saya pamit ya."

Rama bergegas keluar dari gedung besar ke gedung sebelah yang lebih kecil. Ia melirik jam di tangan kirinya yang mengarah ke angka sebelas.

"Ada satu jam tersisa sebelum kembali ke rumah sakit, " gumamnya.

CEKLEK

"Selamat Siang, " sapanya saat memasuki ruang kerja umum dan keuangan.

Beberapa karyawan yang duduk di dekat pintu masuk, menyapanya sambil berdiri.

"Eh, itu mas Rama bukan?" bisik staf keuangan lain yang duduk tak jauh dari meja Aya.

Rama mengedarkan pandangannya mencari sosok Aya yang ternyata duduk di meja paling sudut.

Aya masih tak acuh karena terlalu fokus menatap layar.

"Mas Rama, mau ketemu Pak Budi? " tanya Clara yang baru keluar dari ruang kerja Manajer umum dan keuangan.

"Oh iya, mau koordinasi sebentar, " sahutnya.

"Silahkan, Mas. " Clara bergeser sambil menahan pintu masuk.

"Terima kasih, Bu Clara. "

Rama masuk ke ruangan itu.

"Bu Clara, tumben orang marketing ke sini. Ada apa Bu? " tanya Santi yang sibuk berbisik sejak tadi.

"Mas Rama? Dia calon bos kita yang baru kata pak Budi. Mampir koordinasi sebentar dengan beliau. "

Santi nampak sumringah mendapat kabar itu. Ia saling goda dengan Mira yang juga tak kalah heboh.

"Aya, sudah diinput semua?" tanya Clara.

"Oh iya sudah Bu, bisa di tarik datanya untuk laporan, " sahut Aya.

Ia menyalakan lagi ponselnya, khawatir Rama mengirim pesan.

"Aya, kamu dengar tadi kata bu Clara?" bisik Mira.

Aya menggeleng bingung.

"Mas Rama, dari kantornya Karin bakal jadi bos baru kita. Tuh orangnya ada di ruangan pak Budi. "

"Ooh, " sahut Aya santai.

"Yah, dia cuma Oh. Ga seru kamu, Ya, " gerutu Mira.

Aya menyeringai, 'Kalian belum tahu aja asli orangnya gimana, ' batinnya.

Aya teringat kejadian yang membuatnya kesal seminggu terakhir ini.

Sehari setelah pernikahan, Aya sempat menginap di rumah Rama. Malam itu, mereka bertengkar hebat di kamar, karena Rama tak menepati janjinya.

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama sambil berjalan menuju pintu.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih

Baru sehari, Rama sudah melupakan permintaannya. Aya kecewa, tapi ia hanya bisa mengingatkan Rama akan janjinya itu.

Keesokan harinya, Aya kembali ke rumah uminya. Tak ada drama tangisan, hanya kekesalan yang masih membekas.

Paginya, Rama tak melihat Aya sama sekali di rumahnya. Ia baru tahu, kalau pagi-pagi sekali Aya pamit pulang ke rumahnya tanpa alasan pada Bi Asih. Rama menyesal sudah berkata kasar pada Aya dan berusaha membujuknya kembali ke rumah, tapi Aya masih menolak.

Meski begitu, Rama tetap menghubunginya. Memintanya sesekali menengok Harum ke rumah sakit.

Aya patuh, tapi lebih karena nasihat uminya. Bukan karena bujukan Rama.

"Aya, Umi paham kamu kesal dengan sikap Rama. Tapi kamu tetap wajib bersikap baik pada kedua orangtuanya. Pergi tengok ibu mertuamu ya, " bujuk umi nya hari itu.

Sampai hari ini, Rama masih tak enak dengan Aya. Aya perlahan melunak, tapi masih belum mau kembali ke rumah itu. Entah kapan dia berhasil dibujuk.

Kalau bukan karena pak Jaka ingin bertemu dan bicara, mungkin dia akan terus menghindar dari Suaminya.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!