NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Cahaya dari Sanubari

Suasana di dalam kamar VIP itu begitu sepi, hanya menyisakan bunyi bip yang teratur dari monitor jantung di samping tempat tidur. Rian masih belum pergi dari posisinya di sudut ruangan. Bayangannya terlihat tinggi tertimpa lampu tidur yang redup. Matanya terus terdiam melihat wajah Aruna. Ia seolah takut jika ia berkedip sedetik saja, Aruna akan menghilang lagi.

​Tiba-tiba, sebuah fenomena aneh terjadi.

Kalung liontin perak yang melingkar di leher Aruna. Simbol dari Hutan Sanubari yang misterius mulai mengeluarkan sinar cahaya biru pucat yang sangat lembut. Rian terdiam, ia mengucek matanya, mengira itu hanya ilusi akibat kelelahannya yang luar biasa. Namun, cahaya itu nyata. Pendarannya merambat dari liontin, menyusuri selimut, hingga menyentuh kulit pucat Aruna.

Seketika, suhu di ruangan itu berubah menjadi sejuk, seharum aroma tanah sehabis hujan di tengah hutan. Rian menahan napas saat melihat luka di balik perban Aruna seolah berdenyut mengikuti cahaya dari liontin tersebut. Energi dari Sanubari tidak membiarkan tuannya menderita lebih lama lagi.

Detik berikutnya, jemari Aruna bergerak kecil. Kelopak matanya yang lentik bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan.

"Aruna...?" bisik Rian, suaranya tercekat di tenggorokan.

Pandangan Aruna awalnya terlihat kosong dan kabur, namun saat matanya menangkap sosok tegap Rian yang berdiri di sisinya, sorot matanya mulai fokus. Cahaya dari liontin perak itu meredup perlahan, kembali menjadi kalung perak biasa, namun keajaibannya sudah bekerja. Aruna menarik napas panjang, bukan napas sesak seperti sebelumnya, melainkan napas yang dalam dan tenang.

​"Rian..." suara Aruna terdengar sangat tipis, hampir seperti hembusan angin, namun bagi Rian itu adalah melodi terindah yang pernah ia dengar.

Rian segera mendekat, ia berlutut di samping tempat tidur agar sejajar dengan posisi Aruna. Tangannya bergerak ingin menyentuh, namun ia ragu. Tangannya menggantung di udara, mendadak merasa terlalu kasar untuk sekadar menyentuh kulit Aruna yang terlihat seputih porselen.

​"Aku di sini, Aruna. Jangan banyak bicara dulu," ucap Rian lembut. Matanya yang biasa tajam dan dingin kini mendadak luluh. Ada genangan bening yang tertahan di pelupuk mata Rian sebuah tanda lega yang tak mampu ia suarakan.

Aruna mencoba tersenyum kecil, meskipun bibirnya masih terlihat sangat kering. Matanya beralih ke liontin perak di dadanya, lalu kembali menatap Rian. Ia tahu, Sanubari telah menyelamatkannya, tapi ia juga tahu bahwa pria di hadapannyalah yang telah bertarung nyawa demi membawanya sampai ke tempat ini.

​"Terima... kasih," gumam Aruna lemah.

Rian menggeleng cepat, ia meraih tangan Aruna dan menggenggamnya dengan sangat hati-hati. "Jangan berterima kasih. Tugasku belum selesai. Tidurlah lagi, aku tidak akan pergi ke mana-mana."

​Malam itu, batas antara pengawal dan majikan perlahan menghilang. Lewat genggaman tangan yang erat, sebuah janji tanpa kata telah terucap. Bahwa apa pun yang datang menerjang, mereka akan menghadapinya bersama. Dan di dalam diri Aruna, kekuatan Ruang Ajaib Sanubari mulai menyatu kembali dengan aliran darahnya, bersiap menghadapi badai yang dibawa oleh kepulangan Tristan.

Genggaman tangan Rian terasa hangat, namun ada getaran lain yang lebih dalam dari sekadar tugas seorang penjaga. Aruna merasakan ibu jari Rian mengusap lembut punggung tangannya, seolah pria itu sedang memindahkan sisa energinya agar Aruna cepat pulih.

Tatapan mata Rian yang biasanya sedingin es, kini berubah menjadi sangat lembut dan penuh kekhawatiran. Aruna bisa merasakannya. Ada sesuatu di balik sorot mata itu yang memberitahunya bahwa Rian mencintainya jauh melampaui urusan pekerjaan.

Namun, bukannya merasa tenang, dada Aruna justru mendadak terasa sesak. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyelinap di benaknya.

Jangan lagi... batin Aruna menjerit pelan.

Bayangan Tristan mendadak muncul seperti mimpi buruk yang belum usai. Dulu, Tristan juga memberikan perhatian yang sama manisnya, namun berakhir dengan pengkhianatan yang hampir menghancurkan hidupnya. Luka fisik di perutnya mungkin bisa sembuh berkat keajaiban liontin Sanubari, tapi luka di hatinya masih terlalu perih untuk percaya pada perasaan baru.

Aruna perlahan menarik tangannya. Gerakan itu sangat kecil, tapi sanggup membuat Rian segera menarik diri. Ia tersadar telah melampaui batas, dan dengan canggung membiarkan tangan Aruna terlepas dari jemarinya.

​"Aruna? Ada yang sakit?" tanya Rian dengan raut wajah yang kembali tegang, siap memanggil dokter.

Aruna menggeleng lemah, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela yang menampilkan langit malam Jakarta. "Aku cuma... merasa lelah, Rian. Benar-benar lelah."

Rian terdiam di tempatnya. Ia cukup peka untuk menyadari ada tembok tinggi yang baru saja dibangun Aruna di antara mereka. Ia tahu Aruna sedang menarik diri. Rian sadar, musuh yang paling sulit ia hadapi bukan hanya penjahat di luar sana, tapi trauma masa lalu yang masih mengikat hati Aruna.

​"Istirahatlah," kata Rian pelan. Ia bangkit berdiri dan kembali mundur ke sudut ruangan yang gelap, memberikan ruang yang dibutuhkan Aruna. "Aku akan tetap di sini. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang."

Aruna memejamkan mata, merasakan kehangatan liontin peraknya yang masih berdenyut di atas dada. Ia ingin sekali mempercayai Rian, tapi rasa takut dikhianati lagi masih terlalu besar. Tanpa ia ketahui, di luar sana, kebebasan Tristan sudah mulai membawa ancaman baru yang akan menguji seberapa kuat pertahanan yang ia buat.

***

Pintu kamar rawat inap tiba-tiba terbuka perlahan, menghilangkan suasana canggung yang sempat menyelimuti Rian dan Aruna. Pak Baskara melangkah masuk dengan raut wajah yang tetap waspada, namun matanya langsung berbinar saat melihat Aruna sudah benar-benar sadar.

​"Aruna... syukurlah kamu sudah sadar," ucap Pak Baskara dengan nada lega yang tulus.

Rian segera berdiri tegak, kembali ke mode profesionalnya sebagai pengawal, seolah-olah momen emosional beberapa saat lalu tidak pernah terjadi. Pak Baskara mendekat ke sisi tempat tidur, membawa sebuah tas kerja kulit yang terlihat tebal.

​"Maaf saya harus mengganggu waktu istirahat kamu,Aruna. Tapi keadaan tidak memungkinkan kita untuk menunda lebih lama," kata Pak Baskara sambil mengeluarkan sebuah map cokelat yang sempat tertunda pembacaannya saat di kantor waktu itu.

Aruna mencoba duduk dengan dibantu bantal yang ditumpuk oleh Rian. "Tentang Sanubari, Pak?" Aruna bertanya dengan suara yang tak terdengar dan serak, seolah kata-kata itu harus ia paksa keluar dari tenggorokannya yang masih kering.

Pak Baskara mengangguk, lalu ia meletakkan dokumen itu di hadapan Aruna. "Ini adalah dokumen kedua yang diwasiatkan oleh almarhumah ibu Anda. Dan ini..." Pak Baskara mengeluarkan beberapa lembar berkas tambahan yang berisi foto-foto dan laporan singkat. "Ini adalah laporan mengenai pembebasan Tristan pagi tadi."

Nama itu disebut, dan Aruna bisa merasakan dadanya berdenyut sakit. Bukan karena luka fisiknya, melainkan karena rasa muak.

​"Tristan sudah keluar?" Aruna menatap berkas itu dengan tangan gemetar.

​"Ya, Aruna. Dia menggunakan celah hukum dan bantuan dari pihak luar untuk bebas lebih cepat," jelas Pak Baskara dengan nada serius. "Kamu harus sangat berhati-hati. Tristan sudah mulai mendekati rumah sakit tadi, dan beruntung Rian berhasil menghalanginya. Dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan, terutama setelah ia tahu bahwa kunci Sanubari benar-benar ada pada kamu."

Rian yang berdiri di kegelapan sudut ruangan hanya terdiam, namun rahangnya mengeras. Ia memperhatikan bagaimana raut wajah Aruna berubah pucat saat mendengar kabar itu.

"Dokumen yang belum sempat saya bacakan ini berisi tentang rincian aset tersembunyi Sanubari yang hanya bisa diakses dengan liontin Anda," lanjut Pak Baskara. "Tristan tahu tentang aset ini. Itulah alasannya dia begitu berambisi untuk kembali ke hidup Anda. Dia bukan mencari Anda, Aruna, dia mencari apa yang Anda kenakan di leher itu."

Aruna menyentuh liontinnya dengan erat. Rasa takut yang tadi sempat muncul karena perhatian Rian, kini berganti menjadi kewaspadaan yang tajam. Ternyata benar, dunia luar jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.

​​"Rian," Pak Baskara menoleh ke arah pemuda itu dengan tatapan tajam. "Aku tidak mau tahu caranya, perketat penjagaan dua kali lipat. Siapa pun yang berani mendekati pintu ini tanpa izin dariku. Termasuk mereka yang mengaku keluarga jauh Adiwangsa. Usir atau lumpuhkan segera. Mengerti?"

"Saya mengerti, Pak," jawab Rian pendek namun tegas.

Aruna menatap dokumen di depannya, lalu beralih menatap punggung Rian yang berjaga di dekat pintu. Di tengah ancaman Tristan yang kembali membayangi, ia menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa ia percayai saat ini hanyalah pria yang baru Saja ia tolak genggamannya.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!