Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 **Lanka Tau Ila Bertransmigrasi**
Di sebuah ruangan yang elegan namun terasa dingin, seorang pria setengah baya menatap tuannya dengan tatapan penuh keraguan. Ia baru saja mendengar sebuah pengakuan yang di luar nalar manusia normal.
"Apakah itu semua dapat dipercaya, Tuan Muda?" tanya pria itu dengan suara rendah, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia terima.
Lanka menatap sengit pada anak buahnya. Tatapannya tajam seolah bisa menusuk siapa saja yang meragukan kata-katanya. "Kau menganggap gadisku seorang pembual?" tanyanya dengan nada sinis yang dingin.
Pria setengah baya itu seketika gelagapan, ia menunduk dalam karena takut. "T-tidak, Tuan Muda. Bukan begitu. Tapi... apakah benar-benar dapat dipercaya bahwa di dunia zaman sekarang seseorang bisa melakukan transmigrasi?"
"Bisa, jika yang di Atas sudah berkehendak," ucap Lanka singkat namun penuh penekanan. Baginya, tidak ada yang mustahil jika itu menyangkut Ila.
"Menurut cerita novel yang sering saya baca mengenai transmigrasi, biasanya pemeran aslinya memilih mati karena tidak sanggup menjalani hidup, sehingga masuklah roh lain untuk menggantikannya," jelas pria itu panjang lebar. Ia masih merasa ini seperti cerita fiksi, namun ia sendiri yang tadi menguping percakapan rahasia antara Ila dan Galenio di ruang kepala sekolah. "Tapi saya bingung... kenapa gadis Tuan memilih 'pergi' padahal dia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya?"
Lanka menghela napas berat, ada kilat penyesalan yang melintas di matanya. "Ini semua salahku karena terlambat menyuruhmu untuk mengawasi gadisku. Jika saja aku menyuruhmu menjaga gadisku sejak SMP, mungkin sekarang dia tidak akan pergi." Lanka menjeda kalimatnya, suaranya terdengar lirih. "Waktu SMP dia sering dibully habis-habisan sehingga mentalnya terganggu. Hingga akhirnya, dia memilih pergi dari raganya dan jiwanya digantikan oleh orang lain."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Tuan Muda," hibur pria itu. "Lalu... apakah Anda masih mencintai gadis itu setelah tahu bahwa jiwanya sudah berbeda?"
"Walaupun rohnya sudah digantikan orang lain, aku akan tetap mencintainya. Jiwa yang sekarang justru lebih hidup," tegas Lanka tanpa keraguan sedikit pun. "Tetap awasi dan jaga gadisku. Jangan sampai kejadian pembullyan saat SMP terulang lagi. Apalagi sekarang gadisku terlalu polos dan lugu, dia mudah dimanfaatkan."
"Baik, Tuan Muda. Tapi... kenapa sampai sekarang Anda belum mengungkapkan perasaan Anda?" tanya pria itu penasaran.
Lanka tersenyum tipis, menatap ke luar jendela. "Dia baru kelas X SMA. Dia masih sangat kecil, ditambah lagi dia begitu polos. Dia tidak akan paham tentang cinta yang kuungkapkan jika aku mengatakannya sekarang."
"Tidak ada salahnya mencoba, Tuan Muda. Bukankah gadis Anda sendiri yang mengatakan bahwa jantungnya sering berdebar jika berada di dekat Anda? Itu berarti dia juga memiliki perasaan terhadap Anda."
Lanka terdiam sejenak. Ingatan saat Ila mengaku merasa berdebar di dekatnya membuat senyumnya merekah lebar. "Sebentar lagi... aku akan mengatakan perasaanku padanya," ucapnya penuh janji.
'My little girl,' batin Lanka penuh obsesi dan kasih sayang.
...****************...
Sementara itu, suasana di kediaman keluarga Bryan mendadak riuh.
"Abang-abangg kembarrr... Ila kembaliii!" teriak Ila dengan suara melengking menggemaskan begitu ia menginjakkan kaki di ruang tamu. Tanpa melepas sepatu dengan benar, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Sayang, jangan berlari!" Lagi-lagi Zeline menegur putrinya yang tidak bisa diam itu.
Bryan terkekeh melihat semangat putrinya yang berkobar hanya untuk menemui abang-abangnya. "Dia sangat bersemangat, Sayang," bisik Bryan pada istrinya sambil merangkul bahu Zeline.
Zeline ikut terkekeh, namun matanya menatap Ila dengan tatapan sendu yang sulit diartikan. "Aku tidak menyangka putri kita bisa jauh berbeda dari yang dulu. Ini masih sulit dipercaya," ungkap Zeline jujur. Ia merasakan perbedaan aura yang sangat besar pada diri Ila.
"Memang sulit dipercaya, tapi itulah yang sebenarnya terjadi sekarang. Dia yang sekarang adalah kebahagiaan kita," sahut Bryan bijak.
Ila terus berlarian di lantai bawah, mencari keberadaan Elzion dan Alzian. Karena tidak menemukan siapa pun, ia segera memacu kaki mungilnya menuju lantai atas.
"Abang El!" Ila menerjang masuk ke kamar Elzion, namun ruangan itu tampak rapi dan kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dengan bibir mengerucut, ia keluar dan beralih ke kamar di sebelahnya.
"Abang Al!" panggil Ila.
Alzian yang sedang bersantai di balkon kamarnya menoleh saat mendengar suara cempreng adiknya. Ia tersenyum lebar melihat wajah ceria itu muncul di ambang pintu balkon. Alzian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar saat Ila berlari kencang ke arahnya.
Hap!
Alzian menangkap tubuh mungil itu dengan sigap dan membawanya ke dalam gendongan koala. "Udah pulang, hm?" Alzian mendaratkan ciuman sayang di pipi chubby Ila yang terasa dingin terkena AC mall.
Ila mengangguk lucu, melingkarkan lengan mungilnya di leher Alzian dengan erat. "Abang El mana?" tanya Ila mencari keberadaan kembaran Alzian.
"Elzion sedang keluar," ucap Alzian singkat. Ia kemudian membawa Ila keluar dari kamar untuk menemui orang tua mereka yang masih di bawah.
"Kemana?" tanya Ila ingin tahu.
"Jalan sama pacarnya mungkin," sahut Alzian asal. Ia sebenarnya tidak tahu pasti ke mana kembarannya itu pergi, mengingat Elzion seringkali pergi tanpa pamit jika sedang merasa kesal atau sekadar ingin mencari angin.
Ila memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lucu, matanya mengerjap mencoba mencerna kata asing yang baru saja didengarnya. "Pacar apa?" tanyanya dengan nada polos yang sanggup membuat siapa pun luluh.
Alzian terkekeh melihat ekspresi bingung adiknya. Ia mengeratkan sedikit gendongannya sebelum menjawab. "Kamu masih kecil, belum saatnya kamu mengetahui apa itu pacar," ucap Alzian sambil menarik hidung Ila dengan gemas hingga memerah sedikit. Ila tidak marah, ia justru terkikik lucu merasakan cubitan ringan di hidungnya.
Alzian menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati karena Ila masih setia berada dalam gendongan koalanya. Sesampainya di lantai bawah, suasana hangat keluarga menyambut mereka.
"Ayahhh!" panggil Ila dengan suara riang. Ia kemudian merosotkan diri dari gendongan Alzian, berusaha turun dengan kaki-kaki mungilnya yang lincah.
Alzian dan Bryan (sang Ayah) hanya bisa terkekeh melihat pemandangan itu. Cara Ila turun dari gendongan benar-benar seperti anak kecil yang sedang tidak sabar ingin mendapatkan mainan baru. Begitu kakinya menapak lantai, ia langsung berlari kecil menuju ke arah sang Ayah.
"Mana?" Ila menghentikan langkahnya tepat di depan Bryan. Ia menengadahkan kedua telapak tangan mungilnya dengan wajah penuh harap, seolah sedang meminta setumpuk harta karun.
"Apa?" ujar Bryan pura-pura tidak mengerti. Ia ingin menggoda putri kecilnya itu sedikit lebih lama lagi.
Ila seketika mencebikkan bibirnya, membuat wajahnya terlihat sepuluh kali lebih lucu dan menggemaskan. "HP baru Ila," tagihnya dengan nada yang dibuat sedih agar sang Ayah luluh.
Bryan tidak bisa menahan tawa lebih lama lagi. Ia mengeluarkan kotak ponsel tersebut dan menyerahkannya kepada sang putri. "Ini, Sayang."
Mata Ila berbinar terang. Ia segera menghampiri Alzian yang berdiri tak jauh dari sana untuk memamerkan harta barunya. "Abang, look! HP Ila berwarna biru, terlihat cantik kan?" Ila menunjukkan bagian belakang ponselnya yang sudah terbalut softcase biru pilihannya tadi.
Alzian tersenyum tulus, ia mengusap lembut rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Iya, cantik... seperti kamu," ucapnya pelan.
Pujian itu sukses membuat pipi Ila merona. "Ila cantik, hihi," ia terkikik sendiri, merasa sangat bangga dengan pujian dari abangnya.
"Bisa gunainnya, hm?" tanya Alzian. Ia sadar meskipun ini zaman modern, adiknya yang polos ini mungkin akan bingung dengan fitur-fitur ponsel pintar terbaru.
Ila menunduk sedikit, jarinya meraba permukaan layar yang masih dingin itu. "Tidak, Abang," lirihnya pelan, merasa sedikit malu karena tidak tahu cara menyalakannya.
"Nanti Abang yang ajarin ya," ucap Alzian menawarkan bantuan dengan sabar.
Mendengar itu, semangat Ila kembali berkobar. Ia mengangguk dengan sangat antusias. "Terima kasih, Abang! Sayang Abang banyak-banyak!" ucapnya dengan gaya khas anak kecil yang tulus.
Bryan dan Alzian hanya bisa kembali terkekeh. Ruang tamu itu kini penuh dengan suara tawa. Mereka berdua merasa bahwa kehadiran Ila yang baru ini benar-benar membawa warna cerah yang tak ternilai di dalam rumah mereka.