NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH KEPUTUSAN

Satu minggu berikutnya...

Aku yang sudah berbicara dan berdiskusi dengan bapakku, dan juga mendapatkan pengajaran dari Dayang Putri, juga beberapa saran dan dukungan juga dari dua sahabatku (Dinda dan Ningrum), akhirnya aku membulatkan tekad untuk menerima tawaran Ustadz Furqon.

Tapi sekali lagi, hari ini, aku meminta izin yang lebih kuat pada bapakku sendiri. Sebelum aku menuju ke rumah Ustadz Furqon sebagai langkah memberikan jawaban.

"Pak..." panggilku saat melihat bapak sedang menanam beberapa tanaman bunga di depan teras.

"Apa anakku sayang?" jawabnya sambil menggali tanah, kemudian menanam.

"Aku hari ini mau ke rumah Ustadz Furqon, mau kasih jawaban ke beliau."

"Oh, ya udah... Gak apa-apa. Mau kesana jam berapa?"

"Pengennya sih sekarang Pak... Tapi nanti dulu deh..."

"Kenapa? Kok ditunda?" tanya bapak, ia berhenti menanam dan menatapku sambil berjongkok.

"Gak apa-apa Pak..."

"Kenapa hayo? Masih ada rasa ragu?"

"Enggak kok Pak, cuma... Aku mau minta izin sekali lagi sama Bapak buat kasih jawaban ke Ustadz Furqon. "

Bapak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sedikit...

"Haduh... Nisa, Nisa... Kamu tuh udah berapa kali ngomong terus, minta izin terus, kapan kamu putuskan sendiri toh?"

"Hehehe... Biar lebih afdhol kan Pak..."

"Iya... Tapi kan Bapak udah kasih jawaban yang sama terus ke kamu... Bapak izinkan, Bapak restui kamu buat ke Jawa Timur. Karena kamu diminta untuk jadi pembina asrama di pondok pesantren Ustadz Furqon." jelas bapak sambil kembali menanam bunga.

"Tapi... Benerkan Bapak ridho dan ikhlas kalo aku pergi jauh? Ini pertama kalinya loh Pak, aku ninggalin Bapak sendirian di rumah dengan jarak yang jauh banget."

Bapak kembali berhenti menanam, dan menatapku lagi.

"Iyaaa... Anakku sayaaang... Harus berapa kali sih Bapak jawab begitu?"

"Hehehe... Biar aku semakin mantap hatinya Pak. Dan juga biar semakin berkah nanti aku jalani tugas baruku di tempat jauh itu..."

"Haduh... Nisa, Nisa... Udah sana, ke rumah Furqon aja. Kasih jawaban. Gak enak kamu nunda jawaban lebih dari seminggu gini."

"Iya deh Pak... Aku berangkat dulu ya..."

Akhirnya, aku sekali lagi mendapatkan kepastian dukungan dari bapak yang membuat hatiku semakin mantap mengambil keputusan besar untuk hidupku.

Aku segera bersiap untuk menuju ke rumah Ustadz Furqon.

Ku gowes sepeda kesayanganku, dengan kecepatan sedang saja. Kulewati beberapa rumah, kusapa beberapa warga yang berpapasan denganku.

Terasa udara pagi di hari minggu ini lebih sejuk dan seperti ada energi positif yang mengalir dalam tubuhku.

Matahari yang bersinar cerah terasa hangat menyentuhku. Suara kicauan burung-burung di pepohonan sekitar jalan semakin membuat syahdu kondisi pagi ini.

"Assalamu'alaikum..." ucapku saat sampai di depan rumah Ustadz Furqon.

"Wa'alaikumsalam... Siapa ya?" Bu Fatimah menyahut dari dalam.

"Ini saya Bu, Nisa..."

Selang beberapa detik kemudian, ia keluar dan segera menyambutku dengan hangat.

"Eh, Nisa... Ayok masuk dulu..."

"Hehe, iya Bu."

Aku pun masuk dan langsung diminta untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Bu, Ustadz ada?"

"Ada kok, cuma lagi sholat Dhuha dulu sebentar."

"Oh gitu, iya Bu."

"Eh Nis, kamu mau minum es cincau gak? Kebetulan kemarin saya bikin es cincau loh..."

"Wah... Ibu bisa bikin es cincau juga ternyata..."

"Ah, baru belajar kok Nis. Tapi enak kok, hehe... Gak gagal walau baru pertama kali coba bikin. Mau ya?"

"Hehehe... Boleh Bu, kalau masih ada."

"Banyak kok, tenang aja. Ya udah, Ibu ambilin dulu ya... Tunggu..."

"Iya Bu, terima kasih sebelumnya."

"Iya, sama-sama."

Bu Fatimah langsung menuju ke dapur. Aku tetap menunggu di ruang tamunya. Memandangi beberapa bingkai foto di dinding, sambil merasakan sedikit gugup untuk memberikan jawaban bahwa aku bersedia menerima tugas sebagai pembina asrama kelak.

Tak lama, Bu Fatimah kembali ke ruang tamu sambil membawa segelas berukuran cukup besar. Terlihat benar-benar menggugah seleraku es cincau di dalam gelas itu.

"Naaah... Ini dia es cincaunya..." ucapnya sambil menaruh gelas itu di atas meja.

"Waaah... Masya Alloh..." jawabku sambil berekspresi sumringah dan memang benar-benar tergugah seleraku.

"Ini namanya es cifat..."

"Eh? Kok itu namanya Bu?"

"Iya... Es cincau Fatimah... Hehehe..."

"Owalah... Hehehe... Bisa aja Ibu kasih nama." jawabku sambil terkekeh kecil.

"Ayok-ayok... Cobain..."

"Iya... Nisa coba ya Bu..."

Aku mengambil es cincaunya, dan Bu Fatimah tampak menantikan bagaimana komentar dariku tentang rasanya.

Aku coba dahulu satu suapan sendok, dan... Masya Alloh... Terasa sangat segar dan manisnya pas, bercampur dengan santannya yang gurih. Serta rasa dari cincaunya yang membuat tenggorokan sejuk seketika.

"Gimana Nis? Enak gak?"

"Waaah... Bu... Ini mantep banget sih... Enak banget..." jawabku sambil memberikan jempol.

"Hehehe... Suka gak kamu?"

"Dijamin Bu, saya pasti suka banget. Ini sih kalo Ibu jualan, pasti laris banget deh Bu."

"Hehe... Bisa aja ah kamu Nis. Tapi boleh juga tuh ide kamu."

"Hehehe..."

Aku kembali meminum es cincau itu dengan lahapnya.

Ditengah asyiknya kami berdua mengobrol tentang es cincau itu, Ustadz Furqon akhirnya keluar juga dari dalam kamarnya. Dia sudah selesai sholat dhuha.

"Gimana? Enak gak rasanya Nis?" tanya Ustadz Furqon saat melihatku lahap dan hampir setengah gelas sudah mau habis.

"Eh, Ustadz, hehehe... Enak banget!"

Aku yang agak malu dilihat olehnya, menaruh gelas di atas meja. Segera aku tutup mulutku yang masih mengunyah cincau dengan tangan kananku. Sambil agak tersenyum malu aku.

"Udah, ditelan dulu, gak usah buru-buru..." kata Ustadz Furqon sambil duduk di sebelah istrinya yang sedari tadi sumringah mendengar komentarku yang positif tentang es cincau buatannya itu.

Dan aku pun sudah siap untuk menyampaikan maksud dan jawabanku.

"Em, Ustadz, Bu Fatimah, saya pagi-pagi dateng ke sini lagi, maksudnya mau kasih jawaban."

"Em gitu... Jadi gimana jawabanmu Nis?" tanya Ustadz Furqon.

"Insya Alloh, saya siap Ustadz."

"Alhamdulillah..." jawaban Ustadz Furqon dan Bu Fatimah berbarengan dengan ekspresi bahagia keduanya.

"Kamu udah dapet izin dari Bapakmu?"

"Udah Ustadz, Alhamdulillah, setelah seminggu ini saya diskusi, ngobrol panjang lebar, minta pendapat sama saran dari Bapak, akhirnya keputusan saya siap buat menerima tawaran jadi pembina asrama nanti."

"Alhamdulillah... Terima kasih Ya Alloh..." respon Ustadz Furqon sambil mengusap wajahnya, tanda bersyukur mendengar jawabanku.

"Berarti Pak, nanti di sana tinggal cari yang bisa nemenin Nisa di asrama putrinya. Kan gak mungkin dia sendirian tugasnya." kata Bu Fatimah kepada suaminya itu.

"Iya Bu, nanti pasti kan banyak juga yang harus bertugas di sana. Apalagi kan ini urusan pondok pesantren. Mendidik anak orang." jawab Ustadz Furqon.

"Ya udah Nis, terima kasih ya, kamu udah yakin buat menerima tawaran saya."

"Iya Ustadz, sama-sama. Justru saya yang terima kasih, soalnya udah dikasih kepercayaan buat jadi salah satu bagian dari tenaga di pondoknya Ustadz nanti."

"Iya Nis, sama-sama juga..."

Akhirnya... Aku merasakan lega dan juga bangga pada diriku sendiri. Aku bisa membuat keputusan besar pertama dalam hidupku...

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!