NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin yang Tak Lagi Diam

Reyd berdiri di balkon asrama barat, jemarinya mencengkeram pagar batu.

Angin berputar pelan di sekelilingnya: bukan sihir, melainkan reaksi alami dari emosinya yang tidak lagi terkendali.

Dorna tidak bergerak sendiri.

Kesimpulan itu sangat jelas.

Skenario di rumah kaca, waktu yang terlalu tepat, kehadiran Jizz sebagai penyelamat, semuanya terlalu rapi untuk kebetulan.

Dan yang paling membuat Reyd marah bukanlah kebohongan Dorna,

melainkan fakta bahwa Lein dijadikan alat.

“Sudah cukup bagiku menahan diri” gumamnya.

Ia berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor.

***

Jizz sedang berada di halaman latihan kecil, sendirian. Ia melatih kontrol mana; gerakan sederhana, rapi, nyaris tanpa suara.

Angin berhenti.

Terlalu tiba-tiba.

Jizz membuka mata.

Satu langkah sebelum ia menoleh, tekanan udara menghantam tanah di depannya, memecahkan batu tanpa menyentuh tubuhnya.

Reyd berdiri beberapa meter jauhnya.

Wajahnya dingin.

“Jangan dekati Lein lagi,” katanya pelan.

Jizz mengangkat kedua tangannya, telapak terbuka. “Aku tidak bermaksud menyakitinya.”

“Tidak perlu omong kosong,” balas Reyd. “Kau cukup memainkan orang lain, hanya demi kepentinganmu.”

Udara bergetar.

Angin berkumpul di sekitar Reyd. Tipis, tajam, dan terkendali dengan susah payah.

Beberapa murid berhenti melangkah di kejauhan.

“Ini Academy,” kata Jizz tenang. “Serangan tanpa duel resmi akan berakhir buruk.”

“Ancaman sosial juga serangan, bukan?” jawab Reyd. “Dan kau melakukannya dengan rapi.”

Jizz menatap Reyd lama, lalu menghela napas kecil. “Aku hanya menjalankan perintah.”

Kalimat itu membuat angin berdesing lebih keras.

“Perintah siapa?” tanya Reyd tajam.

Jizz tidak menjawab.

Keheningan menegang, udara terasa menekan paru-paru.

Satu dorongan lagi dan angin itu akan berubah menjadi bilah.

Tiba-tiba.

“Reyd!”

Suara itu memecah segalanya.

Lein berlari ke halaman, napasnya terengah. Wajahnya pucat pasi.

“Berhenti,” katanya. “Tolong, tahan dirimu.”

Angin bergetar… lalu mereda.

Reyd menoleh. “Lein, menjauhlah.”

“Aku baik-baik saja,” potong Lein. “Tapi ini bukan caranya kamu membelaku.”

Ia berdiri di antara mereka: kecil, namun tegak.

“Jika kamu menyerangnya,” lanjut Lein pelan, “mereka akan punya alasan membuatmu terpojok.”

Reyd menutup mata untuk sesaat.

Angin menghilang.

Jizz menurunkan tangannya, menatap Lein dengan ekspresi sulit dibaca. “Kau tidak tahu seberapa banyak mata yang mengawasimu.”

“Aku tahu itu,” jawab Lein. “Itulah sebabnya aku tidak ingin ada yang terluka disini.”

Jizz tersenyum tipis 'bukan kemenangan, melainkan pengakuan. “Kau berbeda dari yang kukira, Roselein.”

Reyd melangkah ke depan satu langkah. “Ini peringatan terakhir.”

Jizz mengangguk kecil. “Aku mengerti.”

Raksha, di dalam Lein, berbisik lirih:

Jika penjaga mulai marah,

maka badai besar tidak lagi jauh.

***

Ruang penahanan disipliner Academy Magica tidak gelap, namun terasa dingin.

Dinding batu putihnya dipenuhi rune penekan mana: tidak menyakitkan, hanya membuat sihir terasa jauh, seolah berada di balik kabut tebal. Di ruangan itu, Reyd Aclica duduk bersandar pada bangku batu, kedua tangannya terlipat, tatapannya kosong menembus udara.

Tiga hari.

Itulah keputusan dewan disiplin.

Bukan hukuman berat, kata mereka.

Tetapi peringatan.

Namun bagi Reyd, ini adalah pertama kalinya ia dikurung bukan oleh musuh, melainkan oleh aturan yang selama ini ia hormati.

Langkah kaki pelan terdengar di luar rune penghalang.

Reyd menoleh.

Lein berdiri di balik garis cahaya sihir, mengenakan seragam Academy. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak lelah... namun matanya jernih.

“Reyd…” suaranya pelan.

Penjaga rune memberi isyarat singkat, lalu menjauh beberapa langkah.

“Kamu seharusnya tidak ke sini,” kata Reyd akhirnya.

“Aku diizinkan menemuimu,” jawab Lein. “Tapi cuma sebentar saja.”

Ia melangkah mendekat, berhenti tepat sebelum garis sihir. Tangannya menggenggam ujung lengan bajunya.

“Maaf, ya” katanya lirih. “Semua ini karena aku, aku beban bagimu.”

Reyd menghela napas kecil, lalu tersenyum samar. “Aku memilihnya sendiri.”

Lein menggeleng. “Kalau aku tidak mencolok, kalau aku tidak dekat denganmu... mungkin.”

“Roselein.” Reyd memotong lembut. “Aku tidak menyesalinya.”

Ia bangkit berdiri. Rune di dinding berkilau samar saat ia mendekat.

“Aku hanya marah,” lanjutnya. “Karena kamu diperlakukan seperti ancaman, padahal kamu hanya ingin hidup tenang.”

Kata-kata itu membuat dada Lein terasa sesak.

“Aku juga tidak mengerti,” bisiknya. “Kenapa aku diawasi. Kenapa setiap langkahku terasa salah. Aku hanya ingin belajar. Hanya ingin mencari jawaban.”

Ia menunduk pelan.

“Aku tidak tahu siapa yang menginginkanku di Academy ini. Tapi rasanya seperti ada yang menunggu aku melakukan kesalahan.”

Dalam keheningan itu, suara lain muncul... halus, hampir tak terdengar.

Raksha berucap di dasar jiwanya:

Mereka tidak mencurigaimu sebagai gadis.

Mereka merasakan bekas luka kekuatan.

Lein mengepalkan tangannya.

“Aku takut,” akunya. “Bukan pada mereka. Tapi pada diriku sendiri.”

Reyd terdiam, lalu mengangkat tangannya "berhenti tepat sebelum menyentuh penghalang.

“Kalau kamu takut,” katanya pelan, “aku akan tetap di sisimu. Bahkan kalau itu berarti ditahan seperti ini lagi.”

Lein menatapnya, matanya bergetar.

“Jangan, ya” katanya cepat. “Aku tidak ingin kamu terluka karenaku lagi.”

Reyd tersenyum lebih jelas kali ini. “Maka berhentilah merasa bersalah pada dirimu sendiri.”

Mereka berdiri saling berhadapan, dipisahkan oleh cahaya tipis, namun terasa lebih dekat dari sebelumnya.

“Aku akan keluar tiga hari lagi,” lanjut Reyd. “Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi pelindungmu meskipun aku pangeran sekalipun.”

Lein mengangguk pelan.

"Aku akan menunggumu, Reyd."

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!