Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perebutan
DOR! DOR!
Dua proyektil melesat dari moncong Glock-17 milik Grace. Dengan tangan kiri yang tetap stabil mengendalikan kemudi Lamborghini yang melaju zig-zag, tangan kanannya melepaskan tembakan presisi. Dua pria yang menjulurkan badan dari jendela SUV musuh terhentak ke belakang, peluru Grace tepat menembus dahi mereka. Mereka tewas sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.
"Grace, awas!" teriak Andreas.
Refleks murni seorang petarung menyelamatkan nyawa Grace. Ia membanting kepalanya ke samping.
SRAK!
Sebutir peluru menyerempet pipi kanannya, merobek sedikit kulit dan meninggalkan goresan tipis yang segera mengeluarkan darah segar.
DOR! DOR!
Grace membalas tanpa ragu. Dua orang lagi lumpuh di kursi belakang SUV tersebut. Napas Grace memburu. Ia melirik indikator peluru di dalam kepalanya, tersisa dua buah. Posisi mobil Lamborghini dengan atap terbuka ini benar-benar sebuah jebakan maut. Mereka terlalu terbuka.
"Sial, Paman Gio benar-benar tidak sabar," geram Andreas. Wajahnya yang rupawan kini mengeras, memancarkan kebencian yang mendalam.
"Grace, kamu tidak apa-apa?" Andreas beralih menatap wajah Grace. Ia melihat cairan merah kental mengalir di pipi mulus pengawalnya itu.
Grace meraba pipinya dengan telunjuk, merasakan sensasi perih yang menyengat saat keringat bercampur dengan luka terbuka itu. "Saya tidak apa-apa, Tuan Muda," dustanya datar. Fokusnya tetap pada jalan raya di depan.
"Di sini kita tidak aman, Tuan Muda. Sebaiknya kita bersembunyi atau segera kembali ke perimeter aman," tegas Grace. Ia segera menekan tombol earpiece-nya. "Tim dua, tim tiga! Blokir jalur keluar tol KM 15. Alihkan perhatian SUV hitam nopol B-****. Sekarang!"
"Kita pulang saja," ucap Andreas tiba-tiba, suaranya terdengar letih dan dingin. "Aku sudah tidak mood untuk berlibur."
Grace tidak membantah. Ia memacu mesin Lamborghini itu hingga batas maksimal, meliuk di antara kendaraan lain menuju Kediaman Hadi di Menteng. Sementara itu, Andreas mengeluarkan ponselnya dan mendial sebuah nomor dengan gerakan cepat.
"Miller, bereskan sampah di tempat yang sudah saya sharelok. Jangan sampai meninggalkan jejak. Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan," ucap Andreas singkat, lalu mematikan telepon secara sepihak.
Hening menyelimuti kabin mobil yang melaju kencang itu. Grace tetap waspada, matanya terus memantau spion, memastikan tidak ada lagi kendaraan yang membuntuti.
"Jangan kaget, Grace. Itu ulah keluarga sendiri," suara Andreas memecah kesunyian, nadanya sinis. "Mereka tidak sabar membuat saya mati hanya untuk mengincar posisi pewaris utama."
Grace hanya diam. Ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus menjadi pendengar yang bisu.
"Ckckck, saya tahu kamu ingin bertanya apa. Karena saya sedang berbaik hati, saya akan menjawabnya," lanjut Andreas sambil menyandarkan kepala. "Pelakunya sudah pasti Paman Gio, adik kandung Papah. Dan tebak apa? Itu direstui oleh Kakek Hadi. Beliau ingin mencari pewaris yang paling kuat dan tak terkalahkan. Jika aku mati, artinya aku lemah. Sesederhana itu logika di keluarga ini."
Lagi-lagi Grace diam.
"Kamu tidak kepo hal lain tentang saya?" tanya Andreas, mulai merasa terganggu dengan kebisuannya Grace.
"Tidak, Tuan Muda."
"Dan kamu tidak ingin tahu kenapa aku baru kembali sekarang?"
"Tidak."
"Grace...!"
"Ya, Tuan Muda."
"Kamu menyebalkan."
"Baik, Tuan Muda."
"Grace, benar-benar ya kamu... You are so damn stubborn!" umpat Andreas dalam bahasa Inggris, merasa frustrasi karena tidak bisa memancing reaksi emosional dari pengawal barunya ini.
Kediaman Hadi – 12.00 WIB
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pilar besar kediaman Hadi. Puluhan pria berseragam jas hitam segera berbaris rapi.
"Selamat datang, Tuan Muda Andreas!" ucap mereka kompak sambil membungkuk dalam.
"Membosankan!" Andreas keluar dari mobil tanpa menunggu pintu dibuka. Ia melangkah lebar menuju pintu utama. "Grace, ikut saya!"
Di dalam rumah yang megah namun terasa dingin seperti museum itu, aroma masakan mahal menguar. Pelayan wanita berseragam rapi menyambut dengan aneka hidangan, namun Andreas melewatinya begitu saja.
Di ruang utama, seorang wanita paruh baya berdiri tegak. Miranti, ibu kandung Andreas. Wajahnya cantik namun kaku, auranya memancarkan otoritas yang absolut. Tanpa sepatah kata pun sambutan untuk anaknya, Miranti berjalan mendekati Grace.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Grace, tepat di sisi yang tidak terluka. Grace tidak bergerak satu inci pun. Kepalanya hanya sedikit terlempar ke samping, namun ia segera kembali ke posisi tegap.
"Mommy! Apa yang Mommy lakukan? Kenapa menampar Grace?" Andreas berteriak, ia melangkah maju menghalangi ibunya.
"Itu hukuman buatnya, Andre! Dia hampir membuatmu dalam bahaya dengan membawamu pergi dari jalur protokol. Seharusnya dia dihukum cambuk!" ucap Miranti dengan nada tinggi.
"Mommy, jangan keterlaluan. Andre yang memintanya pergi! Andre yang suntuk, Mom!"
"Tapi dia dibayar sebagai profesional! Dia tidak seharusnya menuruti kemauan konyolmu jika itu melanggar tanggung jawab keselamatannya!" balas Miranti tajam.
"Nyawa Andre tidak lebih dari seekor tikus yang tinggal menunggu ajal di rumah ini, Mom! Di mana pun Andre berada, Paman Gio selalu mengincar. Tapi Mommy menutup mata, Mommy melarang Andre melawan!" Andreas membalas dengan kemarahan yang meluap.
PLAK!
Miranti menampar anaknya sendiri. Suasana mendadak hening.
"Mommy tampar Andre? Tampar lagi, Mom. Tampar!" Andreas menyodorkan pipinya dengan mata berkaca-kaca karena amarah dan kekecewaan. "Mommy lebih peduli pada aturan keluarga daripada keselamatan mental anak Mommy sendiri!"
"Bawa wanita ini ke ruang bawah tanah," perintah Miranti pada kepala pelayan, mengabaikan teriakan Andreas. "Berikan dia lima kali cambukan sebagai pengingat akan tugasnya."
"Mom, jangan!" Andreas mencoba menahan, namun Miranti memerintahkan pengawal internal untuk menahan Andreas.
Grace menatap Andreas sekilas, memberikan kode kecil agar pria itu tidak memperkeruh suasana. Ia tahu, di dunia seperti ini, hukuman adalah bagian dari kontrak. Ia melangkah dengan tenang mengikuti kepala pelayan menuju ruang bawah tanah, meninggalkan Andreas yang meronta dalam kemarahan yang tak berdaya.
...*************...
Jenewa, Swiss – 16.00 Waktu Setempat
Di sebuah kantor mewah dengan pemandangan pegunungan Alpen yang tertutup salju, Zavian duduk berhadapan dengan Tuan Besar Hadi, kakek dari Andreas. Pertemuan itu berjalan sangat sukses. Hadi memuji ide-ide inovatif Zavian di bidang industri kimia.
"Luar biasa, Zavian. Hanya dalam satu bulan, perusahaan rintisanmu ini sudah menunjukkan grafik yang fantastis. Aku tidak salah menaruh investasiku padamu," ucap Hadi sambil membereskan beberapa dokumen.
Saat Hadi menggeser sebuah map, sebuah foto tua terjatuh ke lantai. Zavian secara refleks mengambilnya. Di foto itu, tampak seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan seseorang yang Zavian kenal.
"Maaf, Tuan Hadi. Apakah ini cucu Anda?" tanya Zavian sopan.
Hadi menatap foto itu dengan mata yang mendadak redup. "Bukan. Itu putri bungsuku, Althea. Istriku mengandungnya di usia senja. Kami memiliki anak laki-laki pertama, ayah Andreas, saat kami masih sangat muda. Lalu setelah puluhan tahun, Althea lahir sebagai anugerah tak terduga."
Zavian mengamati foto itu lebih teliti. "Dia cantik sekali. Di mana dia sekarang?"
Hadi menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah menindih bahunya. "Dia dinyatakan meninggal lima belas tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil yang juga menewaskan istriku. Mobil mereka terjun ke sungai yang arusnya sangat deras. Jasad istriku ditemukan, tapi Althea... dia hilang. Kemungkinan hanyut terbawa arus."
Zavian merasa iba. "Saya turut berbelasungkawa, Tuan."
"Terima kasih, Zavian. Jika saja dia masih hidup, mungkin dia berumur sekitar dua puluh tahun sekarang. Pasti dia secantik ibunya," gumam Hadi dengan suara bergetar.
Zavian terdiam.
Mungkinkah? batin Zavian.
Zavian menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, Zavian. Jangan mengarang cerita," gumamnya dalam hati. Namun, bibit rasa penasaran itu mulai tumbuh.