NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 8

 Setelah bertemu Nabil, Miranda kembali ke rumah. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga sore. Tadinya ia ingin langsung membeli CCTV portable, tetapi niat itu ia urungkan. Ia takut ayah mertuanya marah karena ia terlalu lama meninggalkan rumah. Di rumah itu, hampir setiap langkahnya selalu diawasi.

Miranda sampai di depan gerbang, membuka kunci, lalu melangkah masuk. Rumah tampak lengang. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara langkah kaki. Ruang tengah kosong. Ia langsung menuju kamar Amora.

Baru saja ia membuka pintu, langkahnya terhenti.

Di dekat boks bayi berdiri seorang wanita. Wanita itu membelakangi pintu, sedang membetulkan selimut Amora. Tubuhnya tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, proporsional. Ia mengenakan gamis warna pink muda dan hijab senada. Aroma parfum lembut menyebar di udara.

“Assalamualaikum,” ucap Miranda pelan.

Wanita itu menoleh. Senyumnya merekah, hangat dan menenangkan.

“Waalaikumsalam,” jawabnya lembut.

Miranda memandangi wanita itu dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya cantik, bersih, sorot matanya teduh. Sikapnya anggun, seperti perempuan terdidik dari keluarga baik-baik.

“Mungkinkah ini calon istri Mas Raka,” batin Miranda tiba-tiba.

“Mba Miranda, ya,” sapa wanita itu, membuyarkan lamunannya.

“Ya, saya Miranda,” jawab Miranda sedikit terlonjak kaget. “Mba ini calon istrinya Mas Raka?”

Wanita itu tersenyum lebih lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.

“Bukan, mba,” katanya pelan. “Saya baby sitter yang dipilih Pak Raka.”

Miranda tertegun.

Dari pakaiannya terlihat mahal. Cara bicaranya sopan, penuh tata krama. Tidak ada gugup seperti pekerja baru. Ia tampak percaya diri, berwibawa.

“Perkenalkan, nama saya Nadia, mba.”

Miranda kembali tersadar. Ia menyambut tangan yang terulur. Tangan Nadia terasa sangat lembut, lebih lembut dari tangannya sendiri. Seperti tangan yang tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar.

“Oh, salam kenal, mba,” ucap Miranda.

Belum sempat ia melanjutkan bicara, Amora tiba-tiba menangis. Tangisan itu pecah, nyaring.

Miranda hendak mendekat, tetapi Nadia lebih dulu bergerak.

“Mba, sebaiknya saya saja,” ujar Nadia sopan. “Sepertinya Amora haus.”

Miranda terdiam sesaat, lalu mengangguk. Ia mundur pelan dan berbalik menuju kamarnya. Namun saat melewati dapur, langkahnya melambat.

Ia mendengar suara ayah mertuanya.

“Ingat, kamu harus berpihak pada Rizki, bukan pada Miranda.”

“Ya, Pa,” sahut suara Bi Mirna lirih.

Jantung Miranda berdegup keras. Dadanya terasa sesak. Ia ingin mendekat, ingin mendengar lebih jelas, tetapi langkahnya terhenti.

“Mba Miranda, susunya sudah habis. Di mana ya susunya?” tanya Nadia yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

Miranda tersentak. Tangannya refleks menekan dada.

“Hari ini kenapa aku sering sekali kaget,” gumamnya dalam hati.

Tanpa menjawab, ia melangkah masuk ke kamar Amora. Ia membuka lemari kecil, mengambil beberapa kaleng susu formula.

“Ini, mba. Stok susu Amora di sini. Kalau habis, segera bilang,” ucap Miranda.

“Baik, mba,” jawab Nadia.

Miranda memperhatikan Nadia membuatkan susu. Gerakannya cekatan, rapi, tanpa canggung.

“Aku terlalu curiga,” batinnya. “Tidak semua tangan lembut itu malas.”

Ia keluar dari kamar Amora dan masuk ke kamarnya sendiri. Kamar itu terasa asing. Kasur yang selama ini ia tiduri tiba-tiba terasa dingin, seolah bukan lagi miliknya.

Kasur yang mungkin sebentar lagi akan ia tinggalkan.

Miranda duduk di tepi ranjang. Dahinya mengernyit.

“Mang Narno sudah ditekan sama Rizki,” gumamnya pelan sambil mengetuk-ngetukkan jari di paha.

“Bi Mirna ditekan oleh Ayah Anton.”

“Kenapa mereka seperti sedang bersekongkol melawanku.”

“Apakah aku ini ancaman buat mereka.”

“Padahal kalau mereka tidak suka, usir saja aku.”

Hatinya terasa perih. Meski berusaha tegar, rasa sakit itu tetap merembes pelan-pelan.

“Sepertinya aku tidak punya satu pun sekutu di rumah ini.”

Ia menghela napas panjang.

“Bagaimanapun aku harus mendapatkan bukti perselingkuhan Rizki.”

“Kalau dia benar selingkuh, aku akan pergi.”

“Kalau dia tidak selingkuh, aku akan bertahan.”

Miranda berdiri. Ia meraih ponselnya dan mulai menyusun rencana.

Pertama, ia harus membeli CCTV portable dan memasangnya di beberapa titik.

Kedua, ia harus mencari waktu yang tepat. Rumah harus dalam keadaan kosong. Mang Narno dan Bi Mirna jelas tidak bisa diandalkan. Mereka berada di bawah tekanan.

Dan sekarang ada orang baru.

Nadia.

Belum jelas perempuan itu berpihak pada siapa.

Azan berkumandang lembut dari masjid dekat rumah. Setelah suara itu selesai menggema, Miranda menunaikan salat Asar dengan hati yang masih gelisah. Ia menutup sajadah perlahan, lalu melangkah menuju dapur.

Di sana, Bi Mirna sedang mencuci peralatan masak di depan wastafel.

“Bi, apa kabar?” tanya Miranda pelan.

Bi Mirna menoleh sekilas. Dalam pandangan singkat itu, Miranda menangkap raut takut yang cepat disembunyikan.

“Baik, Neng,” jawab Bi Mirna, lalu kembali membelakangi.

Miranda memperhatikan. Air masih mengalir deras, padahal tidak ada lagi piring atau wajan yang dicuci.

“Apa lagi yang dicuci, Bi?” tegur Miranda halus.

Bi Mirna terlonjak kaget. Tangannya buru-buru menutup keran.

“Tadi saya habis cuci tangan, Neng,” katanya terbata.

Miranda mendekat, meletakkan tangannya di pundak Bi Mirna. Tubuh perempuan itu gemetar, seperti orang yang sedang menyimpan ketakutan.

“Bi, ada hal yang ingin aku tanyakan,” ucap Miranda perlahan.

“Apa, Neng? Tanyakan saja, jangan sungkan,” jawab Bi Mirna. Suaranya terdengar datar, tetapi tubuhnya tidak bisa menyembunyikan tekanan.

“Duduk dulu, Bi,” pinta Miranda.

Bi Mirna kembali mencuci tangannya, padahal baru saja melakukannya. Setelah itu ia duduk, mencoba tenang. Namun bibirnya tampak bergetar, napasnya tidak beraturan.

Miranda memandangnya lekat. Pandangan mereka bertemu sesaat, lalu Bi Mirna menunduk.

“Bi, ceritakan pada saya. Sebenarnya ada apa?” tanya Miranda lembut.

“Tidak ada apa apa, Neng,” jawab Bi Mirna cepat.

Miranda diam sejenak, menghela napas panjang.

“Bi, sejak kapan Nadia jadi baby sister Amora?” tanyanya hati-hati.

Bi Mirna mendongak. Wajahnya tampak heran, benar-benar heran.

“Nadia siapa, Neng?” tanyanya pelan.

Miranda terdiam.

“Bibi tidak tahu siapa Nadia,” ulang Bi Mirna dengan suara lirih.

Miranda hendak melanjutkan obrolannya dengan Bi Mirna ketika tiba-tiba Nadia datang mendekat.

“Nyony Yul…,” ucap bi Mirna namun ucapan itu segera dipotong oleh nadia

“Bi Mirna, perkenalkan, nama saya Nadia,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Miranda memusatkan perhatian pada wajah Bi Mirna. Mulut perempuan itu sedikit terbuka, seperti orang yang kebingungan. Sementara ekspresi Nadia tetap lembut dan tenang.

“Saya Bi Mirna,” jawab Bi Mirna singkat sambil menjabat tangan itu.

Nadia lalu duduk di samping Miranda. “Mba, popoknya sepertinya kekecilan. Harus ganti ukuran,” katanya hati-hati.

“Oh, maaf, aku lupa bilang sama kamu. Kalau popok ukuran L ada di lemari bagian bawah,” jawab Miranda sambil berdiri.

Ia melangkah menuju kamar Amora. Nadia mengikutinya dari belakang.

Miranda tertegun begitu membuka lemari. Popok bayi ukuran L sudah terbuka rapi. Dalam hati ia bertanya, jika Nadia sudah tahu, mengapa tadi masih bertanya.

“Mba, itu sudah ukuran L,” ucap Miranda pelan.

“Maaf, Mba, saya sudah tahu. Tadi mau langsung kasih tahu, tapi Mba keburu pergi ke kamar Amora,” jawab Nadia lembut.

Miranda terdiam. Banyak pertanyaan ingin keluar, namun tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama Rendi Sukmana, ayahnya, muncul di layar.

Miranda segera melangkah keluar dari kamar Amora, menuju kamarnya sendiri.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!