Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pelarian Yuki Bersama Bayinya
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Setiap tetes seakan memukul bumi dengan kekuatan yang sama dengan rasa putus asa yang menghantui Yuki. Angin malam menderu, membawa aroma tanah basah dan kenangan pahit yang sulit dia lupakan. Dengan bayi perempuannya, Ai Chikara, yang baru berusia tiga bulan, digendong erat di pelukannya, Yuki berlari menembus hujan. Kulitnya dingin, baju basah menempel di tubuhnya, namun rasa takut jauh lebih menguat. Nafasnya tersengal, tapi dia tidak berhenti. Setiap langkahnya adalah pertaruhan hidup dan mati. Jika tertangkap suaminya malam itu, hidupnya dan Ai Chikara bisa berakhir dalam sekejap.
“Shh… jangan menangis, Ai. Ibu ada di sini… aman, Nak,” bisik Yuki sambil menundukkan kepala, menutupi wajah bayi itu dengan tubuhnya agar tetap hangat. Suara tangisan kecil terdengar sesekali, tapi bayi itu perlahan tertidur lelap di pelukan ibunya. Ada rasa lega sesaat, namun ketakutan yang lebih besar menyelimuti hatinya. Hujan deras dan lampu jalan yang samar membuat jalannya menjadi licin. Setiap kali langkahnya tersandung, Yuki menahan napas, takut anaknya terjatuh.
Dia menoleh sesaat ke belakang. Tidak ada tanda penguntit, tetapi rasa waspada tetap menghantui. “Aku harus sampai ke sana… jauh dari dia… jauh dari semua ini,” batinnya. Matanya yang sembab dan basah karena hujan menyiratkan ketegangan dan kelelahan yang luar biasa. Ai Chikara tetap lelap, kepalanya mungil bersandar di bahu Yuki, tangan kecilnya menempel di baju ibunya. Keadaan itu membuat Yuki menangis perlahan, merasakan beratnya hidup yang harus dia hadapi sendirian.
Saat Yuki menyeberang jalan, lampu kendaraan yang melintas memantul di genangan air. Ia melangkah hati-hati, menunggu celah. Namun tiba-tiba, sebuah mobil hitam mendekat dengan cepat. Ban menabrak genangan, percikan air menyemprotkan sekitarnya. Dalam hitungan detik, tubuh Yuki terserempet, terhuyung ke belakang. Tubuhnya terasa berat, dan pandangan mulai gelap. Rasa sakit menjalar di dahinya, namun yang paling membuatnya panik adalah bayi di pelukannya. “Ai…!” teriaknya dalam hati, menekankan pelukan pada bayi yang kini membuka mata kecilnya.
Mobil itu berhenti. Pintu terbuka, dan seorang pria dengan wajah serius turun dari mobil. Dia mengenakan jas hitam rapi, ekspresinya dingin namun ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya saat melihat Yuki dan bayi itu. “Tuan… dia membawa anaknya,” kata supirnya, suaranya cepat tapi tenang. “Bayi ini menangis, tuan…”
Kai menatap Yuki dan bayi itu. Sesuatu dalam hati pria itu bergetar tanpa dia mengerti alasannya. Mungkin itu naluri, mungkin itu sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa kasihan. Hujan mengalir deras di rambutnya, membuat jasnya basah, tapi dia tidak peduli. Hanya ada satu hal di pikirannya saat itu: memastikan keselamatan Yuki dan Ai Chikara. Perlahan, dia melangkah mendekat. Pengawalnya segera mengangkat bayi itu dengan hati-hati, memasukkannya ke mobil lebih dulu. Kai kemudian meraih tubuh Yuki yang mulai kehilangan kesadaran karena benturan keras.
Dengan sigap Kai mengendong Yuki.“Tenang, aku akan membawamu ke tempat aman,” ucap Kai, suaranya rendah namun meyakinkan. Lalu masuk ke mobil. Supir segera menutup pintu, lalu mereka melaju meninggalkan hujan deras yang terus menimpa jalanan kota.
Perjalanan ke rumah mewah milik orang tua Kai terasa sunyi. Hanya suara hujan yang memukul atap mobil dan suara napas Kai yang berat terdengar. Yuki masih tidak sadarkan diri, kepalanya bersandar di bahu Kai. Kai menatapnya sesekali, memastikan setiap gerakannya aman. Bayi itu, Ai Chikara, tetap tertidur lelap, nyaman dalam genggaman pengawal yang duduk di samping.
Sesampainya di rumah, Kai membuka pintu mobil dan menggendong Yuki ke kamar kosong di sebelah kamar pribadinya. Cahaya lampu hangat menyelimuti ruang itu, menciptakan kontras dengan malam gelap di luar. Ibu Kai yang kebetulan berada di rumah melihat mereka berdua, matanya membesar karena terkejut melihat kondisi Yuki dan bayi itu. Tanpa berkata apa-apa, supir segera menyerahkan Ai Chikara ke pelukan Ibu Kai.
“Oh… cantik sekali…” bisik Ibu Kai sambil tersenyum lembut. Bayi itu membuka mata, menatap wajah Ibu Kai, lalu tersenyum sebelum kembali tertidur. Ibu Kai merasakan hangat di dadanya, seolah ada ikatan instan antara dirinya dan bayi yang baru ditemuinya itu. Dia segera memanggil asistennya, memberi arahan dengan cepat, “Bawakan pakaian hangat untuk ibu ini dan bayinya. Mereka pasti kedinginan.”
Sementara itu, Kai menurunkan Yuki perlahan ke kasur, menatap wajahnya yang lemah. Sedikit luka di dahinya terlihat, namun tidak parah. Kai menghela napas panjang, perasaan yang aneh memenuhi hatinya. Ada ketegangan, ada keinginan untuk melindungi, dan ada rasa tidak ingin melepaskan. Malam itu, dia memutuskan untuk tetap di kamar, duduk di sofa dekat kasur Yuki, menjaga mereka berdua. Bayi itu tetap di pangkuannya, nyaman dan hangat. Setiap sesekali, Kai menatap wajah Yuki yang pucat dan basah, merasakan perasaan yang sulit diungkapkan.
“Dia akan baik-baik saja…” gumam Kai pada dirinya sendiri, meskipun hatinya tetap waspada. Ia menepuk punggung bayi itu perlahan, memastikan tidur mereka nyenyak. Hujan di luar mulai mereda, namun suara tetesannya di atap masih terdengar. Malam panjang itu diisi dengan keheningan yang hanya sesekali terpecahkan oleh napas bayi atau dengkuran ringan Kai yang tertidur di sofa.
Dokter pribadi Kai datang tak lama kemudian, memeriksa kondisi Yuki dan Ai Chikara. Setelah beberapa pemeriksaan, dokter memastikan bahwa bayi itu sehat, tidak ada luka sama sekali. Yuki hanya mengalami cedera ringan di dahinya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata dokter sambil tersenyum. Kai mengangguk lega, matanya tidak pernah lepas dari wajah Yuki.
Semalaman diisi dengan keheningan, perawatan, dan perhatian. Kai memastikan semua kebutuhan Yuki dan bayi terpenuhi. Bayi itu tetap hangat di pelukannya, dan Yuki tetap terbaring dalam tidur lelap, pulih dari trauma dan benturan malam sebelumnya. Kai tidur sebentar di sofa, menunggu Yuki bangun, menjaga keduanya seperti malaikat pelindung yang tidak ingin melepaskan.
Pagi mulai merayap, cahaya matahari menembus tirai. Yuki masih belum sadar, tetapi keadaan sudah jauh lebih aman. Kai menatapnya dengan cermat, tangannya tak lepas dari bayi yang tertidur di pangkuannya. Bayi itu membuka mata sebentar, menatap Kai, lalu kembali tersenyum dan menutup mata. Kai merasa sesuatu yang hangat membanjiri hatinya, sesuatu yang membuatnya lebih lembut dari biasanya.
Ibu Kai masuk membawa nampan sarapan ringan. Matanya tertuju pada Yuki yang masih terbaring tidak sadarkan diri, wajahnya pucat dan basah karena hujan semalam. Dengan lembut, ia menatap Kai yang duduk di sofa, masih memeluk Ai Chikara di pangkuannya.
“Kai, kamu terlihat sangat lelah… jangan khawatir, ibu akan mengurus semuanya,” ucapnya dengan suara lembut namun tegas, seolah ingin meyakinkan sekaligus menenangkan hati anaknya.
Kai menatap wajah Yuki sebentar lagi, merasakan ketegangan di dadanya perlahan mencair. Ia hanya mengangguk, masih menahan pandangannya pada Yuki sejenak, lalu menyerahkan bayinya ke tangan Ibu Kai.
Ibu Kai tersenyum, lalu berkata pada asisten rumah tangga yang ikut masuk, “Bantu ibu menyeka tubuh Yuki, lalu menggantikan pakaian nya.”
Asisten itu segera mendekat, membawa handuk hangat dan air hangat, sementara Ibu Kai menuntun Yuki ke kamar mandi kecil di samping kamar. Dengan hati-hati mereka membersihkan tubuh Yuki yang basah dan lelah, mengeringkan rambutnya, serta mengganti pakaiannya dengan pakaian hangat yang disiapkan sebelumnya. Ai Chikara tetap berada di pangkuan Ibu Kai, menatap ibunya yang baru ditemuinya dengan senyum kecil sebelum kembali tertidur.
Kai menutup mata sesaat, melepaskan ketegangan yang menumpuk sejak malam sebelumnya. Meskipun hatinya tetap waspada, ia merasa lega mengetahui Yuki dan Ai Chikara sekarang berada di tangan yang aman dan penuh kasih. Ia tahu malam itu adalah awal dari sesuatu yang baru—awal dari perlindungan, perhatian, dan mungkin… ikatan yang tak akan mudah hilang.
Malam hujan yang sebelumnya menakutkan kini menjadi kenangan yang membekas, penuh rasa lega, kasih sayang, dan awal dari hubungan baru yang akan terbentuk. Kai tahu, setelah malam itu, kehidupannya tidak akan pernah sama. Dan di sisi lain, Yuki dan Ai Chikara kini berada di tempat aman, terlindungi dari bahaya, meskipun tak sadar sepenuhnya siapa yang telah menyelamatkan mereka.
💚💚💚
Terima kasih telah melangkah sejauh ini.
Semoga setiap halaman menjadi teman, bukan beban.
Selamat membaca.