Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Warisan Bernoda Darah
"Apa yang kau lakukan pada Cyntia?"
Inneke bangkit dari sofa dengan tungkai yang terasa lemas. Matanya menatap tajam ke arah William, berusaha menggali informasi sejauh mana putranya telah bertindak keji pada wanita yang sejak awal ia harapkan menjadi pendamping hidup William.
"Sesuatu yang gila, yang biasa kulakukan untuk orang-orang yang suka memaksaku," jawab William datar.
"Kau kehilangan akal sehat? Kau membunuhnya?" Inneke bertanya dengan napas tertahan.
"Hampir ... jika David tidak segera datang, mungkin wanita itu sudah lenyap. Wanita tidak waras yang selalu Mommy paksakan untuk berada di sisiku," tukas William tajam.
Monic yang sejak tadi menyimak, terkekeh pelan mendengar jawaban adiknya. "Bukankah itu bagus? Dua orang tidak waras bersatu," desisnya penuh sarkasme.
Inneke segera menepuk bahu putrinya agar tidak memperkeruh suasana. Ia sadar William masih dikuasai amarah yang meluap. Dengan langkah perlahan, Inneke mendekat, mencoba melunakkan hati sang putra sebelum ia bertindak lebih jauh.
"Cukup satu orang saja yang kau habisi sampai tak bernyawa. Mommy takut terjadi apa-apa padamu," ucap Inneke lembut sambil menyentuh bahu William.
William hanya menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang membuat Inneke tersentak. "Mommy takut aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Daddy?" desis William pelan namun mematikan.
"William! Jangan sebut itu lagi!" hardik Inneke. Luka lamanya berdenyut kembali jika mengingat suaminya tewas di tangan putra mereka sendiri.
"Karena itu, Mommy jangan pernah mengganggu pernikahanku dengan Vira. Dia satu-satunya orang yang tulus di sampingku, tidak memanfaatkan aku seperti kalian!"
William berbalik kasar dan melangkah pergi, meninggalkan ibu dan kakak perempuannya yang terpaku.
Inneke kembali teringat pada ambisinya yang hancur. Harusnya, kerajaan bisnis raksasa itu kini tegak berdiri jika William bersedia menikahi Cyntia sesuai kesepakatannya dengan ayah wanita itu.
Namun, William lebih memilih menjadi Art Director di bawah pimpinan pamannya, membangun dunianya sendiri dengan peluh dan bakat, jauh dari bayang-bayang bisnis ayahnya di Australia.
William enggan menyentuh warisan sang ayah karena ia tahu pundi-pundi uang itu terkumpul dari cara yang kotor. Mendiang ayahnya adalah pria yang memikat wanita kelas atas, menjadikan mereka tangga menuju kesuksesan, lalu menghancurkan mereka tanpa ampun.
William tak ingin Chika dan Anggi menanggung karma dari fondasi bisnis yang penuh darah dan air mata wanita. Itulah sebabnya, kemarahan William mencapai titik nadir saat Cyntia mencoba merusak rumah tangganya.
Monic mendekati ibunya dengan wajah pucat pasi. "Mom, benar William yang membunuh Daddy?" bisiknya dengan suara bergetar.
Inneke tidak menyahut. Ia menatap bercak merah yang tertinggal di lantai, tempat William berdiri tadi. Baginya, malam kematian suaminya adalah duka mendalam sekaligus pembebasan dari belenggu kekerasan yang selama ini ia terima.
.
.
William telah membersihkan sisa-sisa kemarahan dari tubuhnya. Dengan pakaian kasual dan aroma maskulin yang kini menggantikan bau amis yang sempat samar melekat, ia bersiap menuju rumah sakit. Namun, sebelum kaki itu menuruni tangga, ia berhenti di depan kamar Chika, putri sulungnya.
Pria itu mengetuk pintu kayu dengan pelan, seolah takut memecah keheningan malam. "Chika, sudah tidur?"
Suara knop pintu yang berputar pelan menjadi jawaban. Chika membiarkan pintu terbuka sedikit, memberi ruang bagi ayahnya untuk masuk.
William melangkah masuk dan mendapati putrinya duduk bersandar di kepala ranjang dengan sebuah komik di pangkuan.
"Kamu belum tidur?" William duduk di tepi ranjang, tangannya terulur mengusap lembut kepala Chika.
"Aku khawatir, Pa ... Mama bagaimana kondisinya?" Suara Chika terdengar parau. Meskipun komik itu terbuka, pikirannya telah lama terbang ke bangsal rumah sakit, mengkhawatirkan Vira—ibu sambungnya.
"Mama akan baik-baik saja. Istirahatlah, besok kamu harus sekolah. Jika kamu bolos dan Mama tahu, dia pasti akan sangat kesal. Kau tahu sendiri kan, Mama Vira bisa mengomel tanpa henti jika Chika nakal," ujar William dengan nada jenaka yang dipaksakan untuk menenangkan.
Chika mengangguk, namun senyumnya terasa getir. Ia merindukan omelan itu—omelan yang lahir dari rasa peduli yang tulus.
"Papa mau ke rumah sakit sekarang. Tidurlah, jangan sampai besok pagi terlambat karena Papa akan menginap di sana menemani Mama. Oke?" William mencium kening Chika sebelum bangkit dan meninggalkan kamar itu.
Langkahnya kemudian berlanjut ke kamar sebelah, tempat putri bungsunya, Anggi, berada. Di dalam, sang pengasuh tersentak kaget saat melihat pintu terbuka. Wanita paruh baya itu hendak bangkit berdiri, namun William segera menempelkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar ia tetap diam.
"Saya hanya sebentar ingin melihat Anggi, tidak perlu keluar," bisiknya hampir tak terdengar.
William mendekat ke ranjang Anggi. Gadis kecil itu terlelap dalam mimpi yang tenang. William mengecup kening Anggi dan mengusap puncak kepalanya dengan kasih sayang. Baginya, kedua putrinya adalah alasan utama ia tetap menjaga akal sehatnya—sekaligus alasan mengapa ia bisa menjadi monster jika ada yang berani menyentuh mereka.
Saat ia hendak berbalik pergi, sang pengasuh menahan langkahnya. Wajah wanita itu tertunduk, tangannya saling bertautan dengan gemetar.
"Pak ... maaf, sebenarnya saya mau jujur," ucap sang pengasuh dengan suara yang bergetar karena ketakutan. Ia ingat bagaimana Bi Ijah dicerca habis-habisan tadi setelah mengatakan kebenaran yang dilihatnya, namun nuraninya tak bisa lagi bungkam.
"Tentang apa, Sus?" tanya William lirih, matanya menatap tajam namun tetap tenang.
"Anu ... Pak. Tadi ... saya lihat kalau Ibu didorong oleh Non Cyntia," ucapnya dengan bibir yang gemetar.
Dunia seolah berhenti sejenak bagi William. Meski ia sudah menduganya, mendengar pengakuan langsung dari saksi mata membuatnya bernapas lega, karena ia tak salah langkah saat menghabisi Cyntia.
"Terima kasih ya, Sus," ucap William tulus.
Sang pengasuh mengangkat kepala, merasa sedikit lega karena kejujurannya diterima dengan baik. "Semoga Ibu cepat sembuh ya, Pak."
William mengangguk pelan. "Iya, Sus. Saya titip Anggi dan Chika," pesannya singkat sebelum melangkah keluar dengan rahang yang mengeras.
"Jika sampai terjadi sesuatu lebih parah dengan Vira, aku akan benar-benar lenyapkan wanita itu," desis William.
Bersambung...
Cynthia mending lu oplas di korea aj sana biar balik muka lu🤣🤣
Tapii thor avah iya ineke sma monic lu kgk kasi shok terapi karma gt
itu, bapanya pun prnh lenyap si tangannya🥲
disiksa trs pemeran utamanya 🔪🔪🔪🔪
BTW.. Wil, lebih kenceng lagi c*kek nya.. sini aku bantuin...