NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 BAHASA YANG TERASING

Aspal jalanan kota terasa panas dan kaku di bawah telapak kaki Abimanyu yang telanjang, sebuah kontras yang tajam dengan kelembutan embun dan kejujuran granit yang baru saja ia tinggalkan. Saat ia melangkah melewati gerbang perbatasan yang memisahkan keheningan gunung dengan hiruk-pikuk peradaban, ia merasa seolah-olah sedang menembus selaput tipis yang memisahkan dunia nyata dengan panggung sandiwara yang sangat besar. Di hadapannya, Lembah Nama membentang dengan segala kemegahannya yang rapuh—gedung-gedung beton yang dibangun dengan simetri yang membosankan, menara-menara universitas yang masih angkuh memamerkan spanduk akreditasi, dan kerumunan manusia yang bergerak dalam ritme yang terukur oleh detik jam tangan mereka.

Abimanyu berhenti di tengah persimpangan yang menuju ke "Pasar Besar Kehidupan", tempat di mana nilai-nilai diperdagangkan dan martabat manusia ditukar dengan selembar kertas pengakuan. Ia berdiri tegak, membiarkan pakaiannya yang compang-camping tertiup angin kota yang berbau asap dan kecemasan. Orang-orang mulai memperhatikannya. Awalnya hanya lirikan singkat penuh jijik, lalu berubah menjadi kerumunan yang menjaga jarak aman, seolah-olah ia adalah spesimen biologis yang berbahaya atau hantu yang bangkit dari tumpukan abu di alun-alun.

"Lihatlah dia," bisik seorang pria berpakaian rapi yang sedang memegang map tebal berisi laporan kinerja, sebuah prototipe dari Manusia Terakhir yang lebih takut pada kesalahan administrasi daripada kematian jiwanya sendiri. "Bukankah itu sang Profesor yang gila? Dia terlihat seperti pengemis yang tersesat di tengah pesta."

Abimanyu tidak menjawab dengan kata-kata yang mereka kenal. Ia menatap mereka dengan mata yang telah membasuh diri dalam kilat dan telah melihat dunia tanpa bayangan. Di matanya, mereka tidak lagi tampak sebagai individu yang merdeka, melainkan sebagai "Manusia Kertas" yang terbuat dari ijazah yang dibingkai, slip gaji bulanan, dan kutipan dari orang-orang yang sudah lama mati.

Ia berjalan memasuki pasar. Di sana, para cendekiawan dan birokrat saling menjilat demi angka sitasi dan mengejar h-index seolah-olah itu adalah tangga menuju surga. Mereka berdebat dengan bahasa yang rumit, menggunakan istilah-istilah teknis untuk menutupi fakta bahwa mereka telah berhenti berpikir sejak dua dekade lalu.

"Kalian sedang melakukan transaksi yang paling mengerikan!" suara Abimanyu tiba-tiba meledak, memotong kebisingan pasar dengan frekuensi yang belum pernah mereka dengar. "Kalian tidak sedang menjual barang; kalian sedang menjual detak jantung kalian demi selembar kertas pengakuan! Kalian menukar keheningan batin kalian dengan kebisingan tepuk tangan pasar!".

Pasar itu seketika sunyi. Orang-orang berhenti bertransaksi. Mereka menatap Abimanyu bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan ketakutan yang dingin karena ia baru saja menyentuh borok yang selama ini mereka tutupi dengan jubah akademis.

"Profesor Abimanyu," ujar seorang kurator data yang matanya merah karena terlalu lama menatap layar monitor. "Anda bicara dalam teka-teki. Apa gunanya tarian di atas gunung jika ia tidak bisa dimasukkan ke dalam tabel distribusi tenaga kerja atau proyeksi populasi penduduk usia kerja?".

Abimanyu tertawa, sebuah tawa yang sekeras granit dan sejernih fajar. "Kalian meminta statistik dari sebuah badai! Kalian meminta capaian pembelajaran dari sebuah kilat!".

Ia melangkah ke atas sebuah kotak kayu yang biasanya digunakan untuk mengumumkan harga saham atau peringkat universitas dunia. "Dengarlah, wahai Manusia Kertas! Aku membawa bahasa yang tidak mengenal tata bahasa birokrasi. Aku membawa bahasa yang dipelajari dari batu yang membeku dan angin yang menderu. Kalian tidak bisa memahami bahasaku karena telinga kalian telah tersumbat oleh debu naskah kuno dan janji-janji keamanan yang mematikan!".

Ia mulai menguraikan "Madu yang Pahit" yang ia cicipi di puncak. Ia bicara tentang Amor Fati—cinta terhadap takdir yang pahit sekalipun. Ia bicara tentang Eternal Recurrence—keberanian untuk menjalani hidup yang sama berulang-ulang tanpa satu titik pun diubah. Namun, bagi kerumunan itu, kata-katanya terdengar seperti raungan binatang atau igauan seorang pengidap gangguan saraf.

"Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya," gumam seorang dosen senior yang merasa bangga karena telah mencapai puncak klasemen sitasi. "Dia bicara tentang 'Ya' yang abadi, sementara kita sedang menghadapi tantangan nyata pendanaan riset dan akreditasi internasional.".

Abimanyu melihat bahwa "Manusia Terakhir" telah menemukan "kebahagiaan" mereka dalam tatanan yang rapi, dan mereka berkedip dengan mata yang kecil penuh kepuasan diri. Mereka lebih takut pada ketidakteraturan daripada kematian jiwa. Bagi mereka, Abimanyu adalah variabel pengganggu yang harus dihilangkan agar proses "mencetak komponen yang pas untuk mesin industri" bisa terus berjalan lancar.

"Kalian menyebut kesehatan adalah segalanya," teriak Abimanyu sambil menunjuk ke arah rumah sakit dan gedung administrasi. "Kalian berjalan dengan hati-hati agar tidak tersandung, namun kalian lupa caranya mendaki! Kalian mencintai tetangga kalian hanya karena kalian butuh kehangatan dari tubuh lain agar tidak merasa kedinginan di tengah kesunyian eksistensi!".

Seseorang dari kerumunan melemparkan selembar kertas naskah ke arahnya, sebuah tindakan simbolis dari badai kertas yang pernah ia hadapi di tebing. "Turunlah, wahai orang gila! Kami tidak butuh apimu! Kami punya lampu neon yang lebih stabil dan terjamin oleh negara monster dingin!".

Abimanyu tidak marah. Ia menatap mereka dengan belas kasihan yang kreatif—sebuah cinta pada potensi tertinggi manusia yang belum mekar. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa memaksa mereka untuk terbang jika mereka sendiri masih memuja cara merangkak. Ia adalah matahari yang turun (Untergang), dan matahari tidak butuh pengakuan dari orang-orang buta untuk tetap bersinar.

"Aku telah menjadi matahari kecil," bisiknya pada dirinya sendiri, merasakan kelimpahan yang menyesakkan di dadanya. "Mungkin telinga mereka terlalu kecil untuk gunturku, dan mata mereka terlalu rabun untuk kilatku. Namun, benih telah ditaburkan.".

Ia turun dari kotak kayu itu dengan langkah yang tetap ringan dan penuh lompatan kecil yang gembira, persis seperti seorang anak yang baru saja menyelesaikan sebuah permainan. Ia meninggalkan kerumunan yang masih berbisik-bisik dalam ketakutan dan penghinaan, berjalan menuju bagian lain dari Lembah Nama yang belum sempat ia ganggu.

Bab 32 ditutup dengan gambaran Abimanyu yang berjalan menembus kabut pasar, bayangannya kini tidak lagi bungkuk oleh beban sejarah, melainkan tegak dan menyatu dengan setiap langkahnya. Ia telah menggunakan bahasa baru miliknya, dan meskipun dunia menolaknya, ia telah mengafirmasi bahwa "Ya" yang ia ucapkan di puncak adalah satu-satunya hukum yang ia butuhkan untuk terus bergerak. Perjalanan mewartakan fajar baru baru saja dimulai, dan ia siap untuk menelan seluruh kebencian pasar ke dalam cintanya yang objektif.

1
Amiera Syaqilla
hello author 😄
MUXDHIS: Hallo 😄
total 1 replies
anggita
Abimanyu.... top👍
anggita
dukung like👍, bunga🌹, iklan👆 buat novel ini.
MUXDHIS: Thanks. 😍😍😍🙏
total 1 replies
Aisyah Suyuti
menarik
MUXDHIS: Thanks.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!