NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 1 bagian 7

Keesokan paginya Ilyas yang berangkat lebih pagi dari biasanya berhasil menangkap moment tidak terduga. Pintu kantor kepala sekolah tampak setengah terbuka, terdengar suara teriakan 2 orang laki-laki mengema dari dalam. Yang satu lebih berat dan yang satu terdengar sangat ngotot. Ilyas menyeringai kecil dan bergegas bersembunyi di balik meja lobi.

“Baiklah aku akan menjadi saksi hidup pertengkaran kepala sekolah dan anak haramnya, dan aku pastikan teman-temanku akan mendengarnya”

Dia mengeluarkan ponselnya dan merekam apa yang mereka katakan. Namun sayang ia tidak bisa merekam wajah mereka. Ia bersembunyi di balik meja lobi.

“Kau pikir dengan menambah masalah akan membuat gadis itu menyukaimu tentu tidak! Kau tahu apa yang terjadi karena ulahmu, dia memanggil polisi” teriak kepala sekolah.

“Sudah aku bilang bukan aku yang melakukannya!” jawab Ilyas berteriak.

“Lalu untuk apa kau meminta akses CCTV sebelum hari kejadian?”

“Itu tidak ada hubungannya dengan orang yang merusak motor Andre. Sekali lagi aku tekankan pak, aku tidak akan melukai seseorang yang tidak mengancam ku. Andre tidak mengancam ku dia juga tidak mengancam gadis yang aku suka dan kejadian pagi itu hanya lah ancaman kosong. Satu hal yang seharusnya bapak tahu, jika aku memang membuat masalah itu pasti ada penyebabnya, dan masalah yang aku buat sudah pasti tidak kecil” ucap Vito masih dengan amarahnya. Ia melangkah pergi, namun sebelum menutup pintu ia berbalik dan berkata,

“aku sama dengan dirimu pak, tidak suka berbohong dan tidak mentolerir pembohong dan penghianat.”

Vito menutup pintu dengan bantingan keras, ia pergi dengan menghentakkan kaki seolah menyalurkan semua emosi yang ada ke setiap langkahnya.

“Kau lihat apa yang anakmu lakukan sungguh luar biasa” teriak kepala sekolah dari balik pintu. Benar-benar tidak menyadari Vito sudah menguping sejak tadi.

Ilyas terdiam kaget mendengarnya, apakah ada orang lain di dalam ruangan itu? Mungkinkah ibu Vito juga ada disana, atau kepala sekolah hanya bermonolog? Ia ingin mencari tahu lebih jauh tapi semuanya telah selesai, diganti dengan gerombolan siswa yang mulai masuk ke lingkungan sekolah.

Merasa tidak lagi penting bersembunyi, dia bergegas pergi ke kelasnya untuk menceritakan kabar yang ia dapat. Sebenarnya ia sudah tahu bukan Vito yang merusak CCTV dan motor Andre, tapi mendengarnya langsung dari pihak yang bersangkutan benar-benar membuatnya percaya diri dengan  penelitiannya. Di masa depan ia pasti menjadi detektif yang hebat. Ia masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.

“Gaes kalian harus tau kabar apa yang aku dapat pagi ini. Ini bukan gosip” ucapnya begitu masuk ke kelas.

Kelas telah terisi setengah penuh ketika Ilyas masuk, padahal ketika ia berangkat belum ada satu pun siswa yang terlihat di dalam sekolah. Tidak menyangka menguping itu memerlukan waktu yang lama. Tentu saja itu sepadan dengan informasi yang ia dapat.

Memasak tanpa tambahan bumbu penyedap tentu tidak nikmat rasanya, begitu pula dengan cerita Ilyas. Sudah penuh dengan tambahan MSG dan berbagai macam rempah yang membuat teman-temannya makan dengan begitu bersemangat. Hanya bell masuk lah yang membubarkan cerita mereka.

Tidak seperti biasanya 4 jam mata pelajaran berlalu dengan begitu ringan. Tidak ada masalah, 2 guru yang mengajar hari ini tampak memberi mereka penghormatan baru. Entah itu rasa takut atau rasa sungkan. Mungkin mereka sudah mendengar tentang Andre yang membawa polisi ke sekolah. Tidak ada yang menyadari penemuan mayat di pondok belakang, mereka hanya tau pondok itu disegel karena kasus Mitha.

Satu hal yang Andre amati di pagi ini. Tidak ada satu pun siswa yang memandangnya dengan aneh. Sebagian dari mereka memilih untuk tidak berurusan dengannya dan sebagainya lainnya mencoba mendekat untuk menjilatinya. Tentu itu perubahan yang memuakan.

Hingga jam istirahat datang tidak ada seorang pun anggota kelas yang berniat untuk beranjak tempatnya duduk. Tidak tahu karena kebiasaan atau paksaan, semua orang membawa bekalnya masing-masing. Hampir tidak ada siswa yang pergi ke kantin untuk jajan atau makan siang, mereka hanya akan duduk di kelas dan memakan bekal.

“Kelas kita terisolasi” celetuk Jonatan.

“Bukan terisolasi Jo, cuman menghindari karma” sahut Ilyas..

Istirahat pertama hanya berlangsung selama 15 menit dan kantin terletak jauh dari kelas mereka. Untuk apa menghabiskan 15 menit untuk berjalan mencari makan dan kembali kehabisan tenaga?

Ketika waktu istirahat hampir habis suara ketukan pintu terdengar. Bagas muncul dari balik pintu tidak lama kemudian, membuat sebagian dari mereka merasa malas. Ada begitu banyak prasangka di kepala mereka, namun itu dipecahkan oleh kalimat sederhana Bagas.

“Andreas, dipanggil kepala sekolah” ucapnya dengan wajah malas.

“Ada apa?” tanya Andre.

“Tidak tahu lah itu urusanmu dan kepala sekolah. Aku akan menunjukan jalannya, dia tidak ingin ada orang yang tahu kalian akan berbincang apa” jawab Bagas, ia berjalan keluar dari kelas bersamaan dengan suara bell masuk yang berbunyi.

Mengapa kepala sekolah tidak memanggilnya ke kantornya? Andre yang merasa curiga dengan keadaan ini meminta Jonatan dan Ilyas diam-diam mengikutinya. Ia juga meminta Sora dan Daniel untuk memintakan izin pada guru di jam ini sebelum mengikuti Bagas yang sudah berjalan lebih dulu.

Daniel memandang Sora dengan ragu dan berkata,

“Kau punya bukti rekaman perusak motor Andre kan?” tanyanya.

Sora hanya mengangguk. Dia sudah mengirimnya ke beberapa temannya juga untuk mengantisipasi kehilangan data.

“Berikan padaku” ucap Daniel.

Sora tanpa ragu memberikan flashdisk berisi rekaman itu.

“Kau ingin membuat laporan?” tanya Sora.

“Tidak. Saat ini tidak ada satu pun orang yang akan percaya bahwa kita punya bukti. Aku akan membuat mereka melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Tugasmu adalah menutupi kepergian kami, bilang saja aku dan Ilyas ada urusan di UKS, dan Jonatan bersama Andre bertemu kepala sekolah” jawab Daniel.

Dia mengambil laptopnya, menerima flashdisk dari Sora dan pergi begitu saja. Dia mencari gedung tertinggi sekolah dan mulai menjalankan misinya. Di jam ini semua guru akan menggunakan proyektor untuk mengajar, dan ini adalah jam pelajaran, semua orang berada di dalam kelas dan dia akan memastikan semuanya melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia diam-diam membajak satu per satu proyektor yang ada di seluruh sekolah dan memasukan video yang diberikan oleh Hani.

Dalam video tersebut Bagas dan Sora masih terpantau CCTV berjalan menuju lahan parkir motor, dan video berpindah ke kamera lain yang tampak dirusak dengan pistol peredam yang tidak menimbulkan banyak suara. Video terakhir yang diunggah ke layar adalah hasil tangkapan kamera vlog yang terpasang di motor yang terparkir tepat di belakang motor Andre.

Kegemparan pun terjadi begitu video itu tayang di hampir setiap sudut sekolah. Di dalam rekaman terlihat jelas Sora dan Bagas melakukan kerja sama. Sora yang mengamati sekitar dan Bagas yang mengeksekusi motornya. Dari video itu juga terdengar suara Sora yang berkata,

‘rusak saja hingga tidak berbentuk, jika kamu hanya memotong tali remnya dia bisa mati. Aku masih memerlukannya hidup’

Sementara di tempat lain Andre tidak menyadari apa yang teman-temannya lakukan, ia masih mengikuti Bagas yang berjalan di depannya. Kecurigaan Andre semakin besar ketika Bagas mengarahkannya ke tempat yang tidak terpantau CCTV.

“Di mana tempatnya, aku bisa pergi sendiri” ucap Andre menghentikan langkahnya. Ia memastikan Jonatan dan Ilyas ada di belakangnya dan merekam semua kejadiannya.

“Aku sudah bilang kepala sekolah menginstruksikan untuk mengantarmu” jawab Bagas tanpa berhenti.

“Ke tempat yang tidak terpantau CCTV, kau tau jika aku mati setelah jam ini maka yang akan menjadi tersangka utama adalah kau. Apakah kau sebodoh itu hingga tidak menyadari kau telah menjebak dirimu sendiri” ucap Andre.

Bagas akhirnya berhenti, dia memandang Andre dengan remeh.

“Kau pikir dengan melibatkan polisi itu masalahmu akan selesai begitu saja?”

“Aku tidak ada masalah denganmu untuk apa kau melakukan ini?” tanya Andre kesal.

Bagas sangat marah mendengar kata-kata Andre. Jika emosi dapat keluar dari tubuh maka Andre yakin Naha api besar yang akan keluar dari tubuh Bagas. Tubuhnya bergetar dan matanya memerah marah.

“Kau dan teman-temanmu membuat gadisku menangis dan itu artinya kau punya masalah denganku” ucap Bagas berapi-api.

Andre terdiam sejenak dan berpikir, gadis mana yang ia dan teman-temannya buat menangis. Daniel membuat Hani menangis kemarin tapi tidak mungkin gadis yang dimaksud Bagas adalah dia. Mereka tidak pernah bertemu. Sora tidak menangis dia pergi dengan angkuhnya kemarin.

“Kami tidak pernah membuat orang menangis, yang ada mereka lah yang membuat kami hampir menangis. Tentu saja termasuk kau, kau membuat kami terlibat dalam masalah yang kalian buat. Sungguh menjijikan”

“Sora, kalian membuat Sora menangis!” teriak Bagas kesal.

Andre terdiam dan sedikit tidak percaya dengan pendengarannya. Dia membuat Sora menangis? Yang ada dia lah yang mencari masalah dengannya.

“Bagaskara Ardian, kau boleh menyukai siapa pun orang yang menarik bagimu. Tapi menjadi buta karena rasa suka, seperti itu adalah hal ilegal. Tidak ada yang membuatnya menangis, perbuatannya lah yang membuatnya dalam kesulitan” ujar Andre kalem.

Bagas yang sudah dibutakan emosi tentu tidak mempan dinasehati. Dan seperti dugaan Andre sebelumnya, Bagas memang tidak sendirian. Tidak lama setelah kalimat Andre, Langga dan Bisma keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka lebih tinggi dari Andre dengan badan yang gempal dan sorot mata yang sadis. Andre tidak ingin mengakui rasa takutnya, tapi semakin mereka mendekat semakin besar keinginannya untuk mundur dan lari.

“Wow, aku dengar Vito tidak mentolerir penghianatan” ucap Andre.

“Kami tidak pernah sejalan dengan Vito, itu artinya kami tidak pernah menjadi pengkhianat. Kami dekat dengannya hanya karena dia adalah anak kepala sekolah, itu mempermudah kami dalam segala hal, dan saat ini ia sedang tidak berguna” jawab Langga.

“Kau pikir kau akan membuatku takut hanya karena kerabatmu polisi? Tentu tidak, keluargaku jauh lebih kaya dan berpengaruh dari keluargamu” ucap Bagas berapi-api.

Andre seketika lupa bahwa Ilyas dan Jonatan ada di dekatnya. Terkadang ia menyesal tidak mendengarkan saran ibunya untuk mengambil kelas silat, setidaknya itu berguna di saat seperti ini. Berkelahi bukan lah salah satu keahliannya, jangankan berkelahi ia bahkan tidak bisa berlari dengan benar.

“Andreas Dewanta, kau tidak bisa lari kemana-mana” ucap Bagas.

Langga dan Bisma mulai maju dengan tatapan beringas. Tepat sebelum bogem Langga menyentuh menyentuh wajah Andre, suara kepala sekolah telah lebih dulu terdengar.

"Apa yang kalian lakukan di tempat ini? Membuat masalah tambahan? Sudah baik aku tidak meminta kalian bertanggung jawab atas apa yang terjadi Mitha, bisa-bisanya kalian membuat keributan dengan siswa lain" ucap Kepala sekolah dengan emosi di wajahnya. Dia sudah melihat rekaman itu, terbesit rasa bersalah dalam dirinya karena sudah menuduh Vito.

"Kami tidak terlibat kasus Mitha pak, kami hanya membantu Bagas untuk balas dendam" jawab Langga tanpa rasa bersalah, Bisma yang berdiri di sebelahnya hanya mengangguk setuju. Meninggalkan Bagas yang pucat.

"Semester baru saja mulai, ada saja masalah yang kalian buat. Bubar dan segera temui guru BK kalian" ucap Kepala Sekolah masih dengan kemarahannya.

Bagas, Langga dan Bisma segera pergi setelah melirik Andre dengan tatapan tajam. Kepala sekolah tidak mengatakan sepatah kata pun pada Andre, dia hanya mengangguk dan berlalu pergi mengikuti ke-3 siswa yang sudah pergi terlebih dahulu.

"Sudah begitu saja?" tanya Ilyas setelah ke-4 orang itu tidak lagi terlihat.

" Ya mau bagaimana yang dapat masalah kita, bukan kita yang membuat masalah. Sudahlah ayo kembali ke kelas, aku dengar di sini ada arwah penasaran" ucap Jonatan. Ia sudah berjalan terlebih dahulu, ada rasa takut dalam dirinya.

" Badan saja besar takut pada hantu" jawab Ilyas yang menyusul langkahnya.

Andre tidak mengatakan sepatah kata pun dan menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu pergi.

Apakah hal wajar jatuh cinta di masa SMA? Dengan cinta segila itu pula, itu cinta atau obsesi?

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!