NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Mata yang Bersih.

[POV Xiao Lu]

Aku tidak punya waktu untuk berpikir.

Begitu tubuhnya menerjang dari balik tikungan batu, udara di gua seperti pecah. Angin dari ayunan cakarnya menghantam wajahku lebih dulu sebelum kuku itu sendiri menyapu ruang di kepalaku berada sedetik sebelumnya.

Zrak!

Aku memutar tubuh, telapak kakiku berputar di atas tanah lembap. Ujung cakar tetap menyentuhku. Kain bajuku terkoyak. Kulit di bahu terkupas. Rasa panas menyambar, lalu berubah jadi dingin menusuk saat darah mengalir deras membasahi lengan.

“RAWRRRR!”

Raungannya mengguncang dinding gua. Debu dan serpihan batu berjatuhan dari langit-langit. Bau anyir napasnya menerpa seperti gelombang.

Aku melangkah masuk, bukan mundur. Pedangku menyambar dari bawah ke atas, mengincar sendi kaki depannya.

Clang!

Bilah baja beradu dengan tulang keras. Percikan api kecil memercik di ruang gelap. Ujung pedangku tetap berhasil merobek daging. Garis merah terbuka di kaki hitam itu.

Ia meraung lagi. Kakinya menghentak tanah.

Dum!

Getarannya membuatku kehilangan keseimbangan sepersekian detik. Cukup untuk cakar keduanya menyapu dari samping.

Aku menjatuhkan tubuh, berguling di antara tulang-tulang berserakan. Sebuah tengkorak retak di bawah punggungku. Napasku tercekat oleh debu dan bau busuk.

Cakar itu menghantam dinding batu di belakangku.

BRAK!

Batu pecah. Serpihan tajam menghujani punggungku. Salah satunya menancap di betis. Rasa perih menyusul.

Aku bangkit lagi sebelum ia sempat berbalik penuh. Pedangku menusuk ke arah perutnya. Binatang itu memutar tubuh dengan kecepatan tak masuk akal untuk ukurannya. Ekor tebalnya menyapu.

Wham!

Aku terpental. Punggungku menghantam dinding. Udara keluar dari paru-paruku sekaligus. Pandanganku berkunang-kunang.

Ia tidak memberiku waktu.

Tubuh raksasanya melesat maju. Tanah bergetar di bawah setiap langkahnya. Matanya yang merah tanpa pupil terkunci padaku. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian. Hanya naluri makan.

Aku mengangkat pedang tepat saat cakar itu turun.

KRAANG!

Benturan itu membuat lenganku mati rasa. Lututku terdorong ke tanah. Cakar satunya lagi menyapu dari bawah, mengincar perutku.

Aku memutar pinggang, merasakan ujung kuku menyayat sisi tubuhku. Hangat merembes di bawah pakaianku. Darah lagi.

Ia membuka rahang.

Deretan taring panjang, dilapisi lendir dan sisa daging, mendekat ke wajahku. Nafasnya panas, busuk, bercampur darah basi. Air liurnya menetes ke pipiku.

Aku mendorong pedangku ke atas, menahan lehernya sejauh satu jengkal dari wajahku. Otot-otot lenganku gemetar. Kakinya menekan bahuku ke tanah.

Ini akhirnya.

Tanganku mulai turun sedikit demi sedikit. Bilah pedang bergeser. Taringnya makin dekat.

Tiba-tiba.

Sosok abu-abu melesat dari samping.

“Grrrrr!”

Abu menghantam kepala binatang itu dengan seluruh berat tubuhnya. Rahangnya mengunci telinga hitam kasar itu. Ia menggigit, menarik, mencakar mata merah yang terbuka.

Binatang itu mengamuk.

Kepalanya terayun liar. Tubuh Abu terhempas ke dinding, tapi ia tidak melepaskan gigitan. Darah hitam menyembur dari telinga yang terkoyak.

Aku terguling ke samping, batuk darah dan debu. Bangkit dengan kaki gemetar.

Binatang itu berputar, mencoba menjatuhkan Abu. Punggungnya membentur batu. Abu terlempar, menghantam tanah, berguling dua kali sebelum bangkit lagi, terhuyung tapi tetap berdiri di antara aku dan monster itu.

“Bodoh …” gumamku, tapi kakiku sudah bergerak.

Binatang itu mengangkat cakar, hendak menghancurkan Abu yang lebih kecil.

Aku berlari.

Dunia menyempit jadi satu garis lurus, punggung hitam dengan garis merah berdenyut itu.

Aku melompat. Kakiku menjejak batu yang menonjol. Tubuhku terangkat cukup tinggi untuk sejajar dengan lehernya.

Pedangku kutarik ke belakang.

Lalu kutusukkan.

Bilah baja menembus bulu, daging, otot. Tersendat sekejap di tulang. Aku mendorong lebih keras, berteriak tanpa sadar.

Masuk.

Sampai hulu pedang menghantam kulitnya.

Binatang itu menjerit. Raungan yang bukan lagi ancaman, tapi rasa sakit murni. Tubuhnya mengamuk, membantingku ke kiri dan kanan. Tanganku tetap mencengkeram gagang pedang.

Cakar belakangnya menyapu. Kuku tajam merobek punggungku. Rasa panas meledak di tulang belakangku.

“RAAAAAA!”

Ia melonjak, mencoba menjatuhkan tubuhku yang menempel di lehernya. Aku menarik pedang ke samping, memperlebar luka.

Darah panas menyembur deras. Mengenai wajahku. Masuk ke mulutku. Asin. Logam.

Kakinya melemah.

Ia menghantam tanah dengan keras.

DUUM!

Aku terlempar bersama pedang yang masih tertancap. Tubuhku menggelinding di atas tanah berlumpur darah.

Binatang itu berusaha bangkit sekali lagi. Kakinya gemetar. Matanya yang merah kini redup, satu sisi tertutup darah akibat gigitan Abu.

Abu, dengan napas tersengal, menerjang lagi dan menggigit tenggorokannya yang terbuka.

Aku memaksa diri berdiri. Setiap langkah seperti menginjak bara. Tanganku meraih gagang pedang yang masih tertanam.

Dengan sisa tenaga, kutarik dan kutebas melintang.

Bilah itu memotong lebih dalam luka yang sudah menganga.

Raungan terakhirnya menggema, panjang, lalu patah di tengah.

Tubuh raksasa itu ambruk.

Getaran terakhir merambat lewat tanah, lalu semuanya diam.

Hanya suara napas.

Napasku.

Napas Abu.

Aku terjatuh berlutut. Pedangku terlepas dari genggaman. Tanganku gemetar tak terkendali.

Abu terseret beberapa langkah sebelum berhenti di sampingku. Dadanya naik turun cepat. Ada goresan baru di bahunya, darah mengalir tipis, tapi matanya masih jernih.

Ia mendekat. Menyentuhkan kepalanya ke lenganku yang berlumur darah.

Aku mengulurkan tangan, mengelus bulunya yang kasar.

“Masih hidup …” bisikku, tak yakin itu untuknya atau untuk diriku sendiri.

Darah hangat terus mengalir dari bahuku, dari punggungku, menetes ke tanah yang sudah basah oleh darah monster.

Pandangan mulai bergetar. Dinding gua terasa menjauh.

Tapi di sampingku, Abu masih bernapas.

Dan binatang itu tidak lagi bergerak.

“Abu ...” bisikku.

Ia menjilat tanganku. Lalu matanya menatap ke belakangku.

Aku menoleh.

Ling Feng. Ia berdiri di sana, terpaku, matanya membelalak menatapku.

Atau lebih tepatnya, menatap darah di sekujur tubuhku.

“Aku ...” Aku mencoba berdiri. Gagal. Tubuhku terasa ringan. Terlalu ringan. "Aku baik-baik saja ..."

Tapi ketika aku melihat tanganku, aku tahu itu bohong.

Darah di mana-mana. Bukan hanya darah binatang. Darahku sendiri, mengalir deras dari bahu, dari punggung, dari luka yang tak kuhitung.

Ling Feng berlari ke arahku. Wajahnya pucat. Tangannya meraihku.

“Jangan bergerak!” suaranya pecah. “K—Kau—”

“Tenang ...” Aku tersenyum. “Aku hanya ... lelah ...”

“Jangan tidur! Xiao Lu, jangan tidur!”

Kenapa matanya selalu bersih?

Selama ini, aku hidup sebagai boneka. Shifu menyebutku murid. Tapi aku tahu ... aku alat. Senjataku bukan hanya pedang. Tapi tubuh ini. Caraku berjalan. Caraku tersenyum. Caraku membiarkan bajuku sedikit terbuka.

Aku hafal tatapan itu. Tatapan yang menghitung. Yang menilai. Yang mengambil tanpa bertanya.

Tapi dia—Ling Feng—tak pernah menatapku seperti itu. Dari pertama bertemu, matanya selalu ke mataku. Saat aku bantu ia naik kuda. Saat aku cerita tentang kucing.

Ia tak pernah melihat tubuhku. Ia melihat aku. Dan entah kenapa, itu lebih menakutkan daripada kematian.

“Xiao Lu! Xiao Lu, bertahan!”

Aku menatapnya. Di matanya, tak ada hitungan. Tak ada penilaian.

Hanya takut. Takut kehilangan.

“Ling Feng ...”

“Ya! Aku di sini!”

“Matamu ...”

“Apa?”

“Bersih.” Aku terbatuk. Darah di bibir. “Kau tak pernah ... menatapku ... seperti yang lain.”

Ia diam. Tangannya gemetar di atas lukaku.

“Terima kasih,” bisikku. “Karena ... melihatku. Bukan ... ini.”

Tanganku yang lemah menunjuk tubuhku. Luka. Darah. Bentuk yang selama ini kujadikan senjata.

“Aku tahu.” Suaranya pecah. “Aku tahu, Xiao Lu.”

“Aku ... punya rahasia. Misi. Aku dikirim—”

“Nanti.” Ia genggam tanganku. “Ceritanya nanti. Sekarang diam. Bertahan.”

Aku ingin bicara. Tapi gelap datang.

Sebelum tenggelam, kulihat wajahnya. Satu-satunya yang tak pernah melihatku sebagai objek.

Sayang sekali. Aku baru sadar sekarang. Mungkin terlambat. Hanya dalam hitungan hari, kau memikatku.

Tapi mataku sudah berat. Dunia mulai memudar.

Sebelum gelap total, kulihat wajahnya. Wajah itu. Wajah yang selama ini kuhindari. Wajah yang sekarang menatapku dengan ketakutan yang nyata.

Maaf.

Maaf sudah berbohong padamu.

Lalu gelap.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!