NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melihat Clara yang sebenarnya

Di dalam mobil, keheningan jatuh seperti hujan yang tak berniat reda. Clara duduk memandang jalanan aspal yang berkilau oleh genangan, lampu-lampu yang memantul lalu pecah menjadi garis-garis cahaya. Tangannya diam di pangkuan, pikirannya entah melayang ke mana.

Natan menyetir dengan tenang. Sesekali matanya melirik sekilas, ia ingin bertanya namun Natan menahan diri. Ada batas yang tak semua orang berhak melangkahi.

Ia berdehem pelan.

Clara tersentak kecil lalu menoleh.

Natan ragu sejenak, lalu berkata dengan suara yang dibuat seringan mungkin,

“Aku boleh minta nomor HP-mu?”

Clara diam sesaat seperti menimbang sesuatu yang tak terlihat.

"Siapa tahu nanti kamu mau kerja diperusahaan ayahku, jadi gampang untuk menghubungi." Lanjutnya.

Lalu Clara mengangguk kecil.

Natan tersenyum senang dan menyerahkan ponselnya.

Clara mengetik cepat. Jemarinya cekatan, seolah ia ingin segera mengembalikan benda itu dan kembali ke pikirannya sendiri.

“Sudah,” katanya pelan.

Natan menerima ponsel itu kembali.

“Terima kasih.”

Dan setelah itu, keheningan kembali duduk di antara mereka.

Clara terus bergelut dengan pikirannya sendiri.

Clara mengembuskan napasnya kasar, seolah ingin mengeluarkan sesak yang terlalu lama menetap di dadanya. Bertahun-tahun ia hidup dalam kemurungan menjalani hari demi hari dengan hati yang terus terluka. Hidup, tapi rasanya seperti mati perlahan.

“Clar… ini hadiah buat kamu,” ucap Noel Empat tahun lalu.

Clara mengambil paper bag dari tangan Noel.

“Ini apa?”

“Buku yang kamu inginkan, sayang...”

Mata Clara langsung berbinar. Ia membuka paper bag itu dan mengeluarkan dua buku bercover oranye Yang Tak Pernah Pergi Dari Kita, seri satu dan dua.

“Noel, yang seri dua ini kan susah buat dapetinnya,” Clara bingung. Buku itu best seller, nyaris selalu habis di mana-mana.

Noel tersenyum bangga.

“Tentu saja bisa. Dari jam tiga pagi aku sudah antre di depan toko buku,” dagunya terangkat sedikit seperti anak kecil yang berhasil melakukan sesuatu yang besar.

Kenangan itu membuat dada Clara terasa semakin berat. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Natan, yang sejak tadi memperhatikan Clara yang begitu pendiam, merasakan iba yang tak ia pahami sepenuhnya. lagi-lagi niat bertanya nya ia pendam.

Dulu kamu sangat periang, Clar, batinnya.

Natan berinisiatif membuka jendela mobil. Angin dingin langsung menyusup masuk, menyentuh wajah Clara. Refleks, Clara menoleh ke arahnya seakan baru kembali ke kenyataan.

“Kadang hujan cuma mau dipegang… bukan hanya dipelototin,” ucap Natan, disertai tawa kecil yang berusaha mencairkan sunyi.

Clara tersenyum tipis mendengarnya. Perlahan, ia mengulurkan tangan kiri nya ke luar jendela, membiarkan rintik hujan jatuh di telapak tangannya dingin, nyata, dan entah kenapa menenangkan.

Setelah menembus kemacetan Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, mobil Natan akhirnya memasuki sebuah gang tua yang tak sempit, tak pula megah. Gang itu masih cukup lapang untuk satu mobil melintas, diapit rumah-rumah lama yang berdiri tenang, seolah menyimpan ceritanya masing-masing.

“Kak Natan… itu rumahku,” ucap Clara sambil menunjuk ke sebuah rumah berukuran sedang di ujung gang.

Rumah itu bergaya minimalis, tak mencolok namun terawat. Halamannya luas dan asri, dihiasi pohon mangga dan jambu yang rindang, serta beberapa bunga yang tumbuh setia di sudut-sudut tanah. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, seperti rumah yang memilih bertahan di tengah waktu.

Natan memarkirkan mobil tepat di depan pagar besi rumah Clara.

“Sekali lagi terima kasih ya, Kak. Sudah ditraktir dan diantarkan pulang,” ucap Clara sambil menunduk sopan.

Natan tersenyum, senyum yang selalu mudah ia berikan pada siapa pun.

“Iya. Nanti kapan-kapan aku traktir lagi.”

“Nanti aku saja yang traktir, Kak,” balas Clara, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Belum sempat suasana itu mengendap, suara motor berhenti tepat di depan mereka.

“Eh, lu Natan?” sapa seorang pemuda yang masih duduk diatas motor.

“Lu lupa sama gue, Ton?” balas Natan sambil terkekeh.

“Lu ngapain di sini, Nat? Kangen Clara ya?” goda Anton tanpa dosa. Sebagai sahabat SMA Natan, Anton tentu tahu betul bagaimana riwayat hidup dan cinta temannya itu.

“Gue nggak sengaja ketemu Clara di Time Zone. Jadi gue antar pulang,” elak Natan cepat, melirik Clara sekilas. Ada rasa tak enak di dadanya karena ucapan Anton yang terlalu lepas.

Clara hanya tersenyum tipis. Ia sudah hafal betul gaya bercanda Anton.

Tak lama, Pak Yanto mendekat sambil membawa sebuah bingkisan.

“Ini, neng,” katanya sambil menyerahkan bungkusan itu pada Clara.

“Ini apa, Pak?” tanya Clara sopan.

“Maaf sebelumnya, bukan maksud menyinggung. Ini bantuan dari kelurahan. Mohon diterima ya, neng,” ucap Pak Yanto hati-hati.

Ia masih mengingat betul kebaikan almarhum dan almarhumah orangtua Clara. Dulu, keluarga itu termasuk yang berkecukupan, membantu tetangga tanpa pamrih tak terkecuali keluarga pak Yanto. Kini Clara hanya seorang yatim piatu yang bertahan sendiri. Saat Pak Yanto terpilih menjadi ketua RT, ia mengusahakan bantuan itu setidaknya untuk sedikit meringankan pundak yang terlalu muda untuk memikul semuanya.

“Ini berasnya, Clar,” celetuk Anton.

Belum sempat Clara bereaksi, Natan sudah lebih dulu menyambut karung beras itu. Anton mendecakkan lidah, memandang Natan dengan sorot mata curiga.

“Terima kasih banyak, Pak Yanto,” ucap Clara dengan senyum manis.

“Sama-sama, neng.”

Natan menyalami Pak Yanto. Karena lama tak bertemu, Pak Yanto tampak ragu-ragu mengingatnya. Setelah itu, Pak Yanto pamit dan berjalan pergi.

“Kak… sini berasnya,” pinta Clara pelan. Ia merasa tak enak melihat Natan mengangkat karung beras berdebu, sementara pakaiannya tampak begitu rapi dan bersih.

“Dibawa ke mana ini, Clar?” tanya Natan ringan, sama sekali tak menggubris permintaannya. Ia justru melangkah masuk ke pekarangan rumah Clara.

Anton yang berjalan di belakang sambil membawa bingkisan terkekeh kecil, menikmati pemandangan itu tanpa berkomentar.

Clara sibuk membuka pintu rumahnya. Di belakangnya, Anton sesekali menyikut lengan Natan sambil terkekeh, ingin meminta penjelasan atas apa yang terjadi saat ini. Natan hanya mendengus pelan tak menanggapi.

Begitu pintu terbuka, langkah Natan terhenti.

Rumah itu terlalu sunyi.

Bukan sunyi yang tenang, tapi sunyi yang dingin seperti ruang yang sudah lama belajar menahan napas. Perabotnya tampak usang, modelnya tertinggal zaman, namun bersih dan terawat. Tak ada barang berlebihan. Tak ada suara. Tak ada tanda kehidupan selain jejak seseorang yang bertahan sendirian.

Tenggorokan Natan tercekat.

Ia baru benar-benar menyadari, seperti apa hari-hari Clara berjalan selama ini.

“Nat, lu kenapa?” tanya Anton, yang menyadari sahabatnya masih berdiri mematung dengan tatapan sendu.

“Lu jangan kesurupan di sini lah, Ogeb!” teriak Anton sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Natan.

Clara menoleh, sedikit bingung. “Ada apa?”

Natan tersentak, kembali ke dirinya sendiri. “Gue gak budeg, Nton.”

“Lah, elu yang tiba-tiba ngelamun,” balas Anton sambil mendecak.

Tanpa menanggapi lagi, Natan melangkah mengikuti Clara masuk ke dalam rumah.

“Ini taruh di mana, Clar?” tanyanya sambil mengangkat karung beras.

“Di sini aja, Kak,” Clara menunjuk sofa lama di sudut ruang tamu.

Natan menurunkannya perlahan, seolah takut menimbulkan suara yang terlalu keras.

“Aku buatkan minum dulu,” ucap Clara pelan.

Natan menggeleng dan tersenyum. “Kapan-kapan aja. Aku mau ke rumahnya Anton.”

Bukan karena ia tak ingin tinggal lebih lama, tapi karena hari sudah terlalu sore dan ia takut mengganggu.

“Iya… makasih ya, Kak, atas bantuannya,” sahut Clara dengan senyum kecil.

Natan mengangguk singkat, lalu berpamitan. Anton mengikuti dari belakang, mengangguk sopan dan tersenyum sebelum mereka keluar.

Clara berdiri di ambang pintu, menatap mobil Natan yang perlahan menjauh dari pekarangan rumahnya.

Saat suara mesin itu menghilang, kesunyian kembali mengambil alih.

Rumah itu kembali seperti semula diam, dingin, dan setia menemani Clara seorang diri.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!