NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pagi baru saja merayap perlahan di ufuk timur. Di tengah aroma bangkai tikus percobaan yang sudah mulai menguat dan residu kimia yang membuat napas terasa menyesakkan, sebuah suara yang tidak pernah mereka duga mendadak membelah keheningan yang menusuk hati itu. Smelodi riang dan penuh dengan keceriaan dari ponsel milik Lusy yang tergeletak terlupakan di atas meja kerja Axel.

𝘌𝘰𝘮𝘮𝘢 𝘪𝘴 𝘤𝘢𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨...

Nama itu berkedip-kedip di layar, memancarkan cahaya biru muda yang seakan menjadi sirine bahaya bagi Axel yang sedang berada di dekatnya. Ia terpaku tidak bergerak sama sekali, tangannya yang masih mengenakan sarung tangan latex putih yang sudah bersimbah berbagai noda kimia berwarna-warni membeku di udara.

Samuel dan Doni yang berada di bagian lain ruangan juga pun terdiam seketika, mereka menatap ponsel kecil itu dengan pandangan penuh dengan ketakutan.

"Jangan pernah kau angkat panggilan itu, Xel." Bisik Samuel dengan wajah yang sudah mulai tampak pucat dan penuh kekhawatiran. Ia mendekat perlahan ke arah meja kerja, matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel yang masih terus berkedip-kedip itu.

"Kalau kamu berani bicara dengannya, suaramu yang penuh dengan kesedihan dan ketegangan pasti akan mengkhianatimu. Dia pasti akan tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Lusy dan dengan kita semua."

Panggilan itu akhirnya terputus dengan sendirinya setelah beberapa saat tidak diangkat, namun hanya berselang beberapa detik saja, melodi yang sama sekali tidak sesuai dengan suasana hati mereka itu kembali berbunyi dengan suara yang semakin terdengar gigih dan menuntut perhatian. Setiap nada yang keluar dari ponsel itu seolah menusuk hati Axel dengan sangat dalam, membuat hatinya berdebar dengan sangat cepat dan terasa seperti ingin keluar dari dalam dadanya.

Ia bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana Ibu Kim berada di seberang sana—mungkin sedang menyiapkan sarapan pagi yang penuh dengan cinta di dapur rumah mereka yang selalu terasa hangat, atau mungkin sedang merapikan kamar Lusy dengan cermat untuk menyambut putri tercintanya yang baru saja pulang dari perjalanan panjang ke Australia. Ia bisa membayangkan senyum ramah yang biasanya muncul di wajah Ibu Kim setiap kali menyebut nama putrinya, dan itu hanya membuatnya merasa semakin bersalah karena harus menyembunyikan kebenaran yang menyakitkan itu darinya.

"Kita tidak bisa membiarkannya terus berbunyi seperti ini tanpa ada penjelasan yang jelas. Dia pasti akan sangat curiga dan mungkin akan datang langsung ke sini untuk memeriksa kondisi Lusy sendiri. Atau yang lebih buruk dari itu—dia mungkin akan melapor ke polisi karena mengira bahwa putrinya telah diculik dan disembunyikan oleh kita." Desis Axel putus asa.

Dengan tangan yang terus bergetar dengan sangat jelas, Axel meraih ponsel milik Lusy itu dari atas meja. Ia menekan tombol tolak panggilan dengan hati yang berat, kemudian dengan jemari yang mulai terasa kaku dan sulit untuk dikendalikan, ia mulai mengetik sebuah pesan singkat yang ia harapkan bisa membuat Ibu Kim merasa tenang dan tidak curiga lagi.

Lusy: Eomma, maafkan aku ya tadi tidak bisa mengangkat panggilanmu. Aku benar-benar merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang. Kepalaku juga merasa sangat pusing, sepertinya efek jetlag yang kudapatkan ini sangat parah. Aku sedang istirahat di rumah Axel agar bisa pulih dengan cepat. Jangan datang kesini dulu ya, Eomma. Aku ingin tidur seharian penuh agar besok bisa merasa segar dan siap untuk bertemu dengan Eomma dan Papa. Love you so much.

Axel menatap layar ponsel itu dengan sangat lama sebelum akhirnya memiliki keberanian untuk menekan tombol kirim. Begitu pesan itu berhasil terkirim dan tanda centang biru muncul di layar, ia dengan cepat melempar ponsel itu ke atas meja.

"Dinding kebohongan yang kita bangun untuk melindungi semua orang ini... baru saja kita tambahkan satu tingkat lagi yang lebih tinggi dan lebih sulit untuk dipertahankan." Gumam Axel dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, kemudian menatap langit-langit beton dengan mata kosong. Ia merasa seperti sedang terjebak dalam sebuah jeruji yang terbuat dari kebohongan sendiri dan tidak ada jalan keluar yang bisa ditempuh.

"Kamu melakukan semua ini hanya untuk melindunginya, Axel. Jangan pernah merasa bersalah karena melakukan sesuatu yang kamu yakini sebagai hal yang benar." Ujar Doni. Ia mendekat perlahan ke arah anaknya yang sedang tertekan itu, kemudian menepuk bahu Axel dengan lembut sebagai bentuk dukungan yang ia bisa berikan saat ini.

"Melindunginya?" Axel tiba-tiba tertawa getir. Ia menoleh untuk melihat wajah ayahnya. "Aku sedang menyekapnya di bawah tanah dalam sebuah ruang isolasi dan penuh dengan peralatan yang hanya bisa membuatnya merasa takut jika dia sadar akan keadaan dirinya sendiri. Dan aku bahkan harus berbohong pada ibunya sendiri yang selalu memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Berapa lama lagi kita bisa melakukan semua ini tanpa terdeteksi? Besok? Atau mungkin lusa saja? Keluarga Kim bukanlah orang-orang yang bodoh dan mudah untuk diperdaya. Mereka pasti akan menyadari bahwa apa yang terjadi pada Lusy ini bukanlah sekadar kelelahan akibat perjalanan panjang yang ia lakukan."

Jika ada satu orang saja yang merasa curiga dengan apa yang sedang terjadi di dalam rumah mereka—baik itu tetangga yang selalu suka mengintip aktivitas tetangga, kurir makanan yang biasanya sering mengantar pesanan untuk mereka, atau bahkan kolega dari rumah sakit yang pernah bekerja sama dengan Axel dan tahu betapa cermatnya dia dalam menangani setiap kasus pasiennya—seluruh sandiwara dan kebohongan yang mereka bangun dengan susah payah ini akan segera runtuh dan ia akan kehilangan Lusy selamanya, baik karena dia diambil oleh pihak berwenang atau karena dia sendiri tidak bisa lagi menerima dirinya setelah mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu.

Ia perlahan menoleh untuk melihat ke arah ruang isolasi yang terletak di sudut paling jauh dari laboratorium itu. Di balik kaca tebal yang memisahkan mereka dengan dunia luar, Lusy masih terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius yang diberikan padanya, namun dada dan perutnya naik turun dengan frekuensi yang terlalu cepat dan tidak normal.

Seolah-olah raga yang lemah itu sedang berjuang dengan sangat keras untuk bangun dari tidurnya yang dipaksakan itu dan mulai mencari mangsa yang bisa memberikan energi yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuhnya yang sedang dalam kondisi mutasi yang tidak terkendali. Setiap gerakan kecil yang terjadi pada tubuh Lusy itu membuat hati Axel semakin tertekan dan membuatnya semakin yakin bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi untuk menemukan solusi yang tepat.

"Kita harus bekerja lebih cepat dari sekarang ini, Sam." Ucap Axel yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.

Ia menoleh untuk melihat wajah sahabatnya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang luar biasa besar. "Kebohongan yang kita bangun ini memiliki batas kedaluwarsa yang tidak bisa kita abaikan lagi. Sebelum Ibu Kim benar-benar datang dan mengetuk pintu depan rumah kita dengan penuh kekhawatiran, penawar yang bisa menyembuhkan Lusy itu harus sudah ada di tangan kita dan siap untuk diberikan padanya."

Samuel hanya bisa mengangguk sangat pelan sebagai bentuk persetujuan terhadap apa yang dikatakan oleh Axel. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa mereka kini bukan lagi sekadar dokter yang hanya bertugas untuk menyembuhkan pasien mereka dengan cara yang benar dan sesuai dengan etika medis yang berlaku. Mereka sudah menjadi konspirator dalam sebuah tragedi yang tampaknya tidak memiliki akhir yang bahagia dan akan terus berlanjut selama mereka tidak menemukan cara untuk mengatasinya dengan benar.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!